Nilai saya tidak mencukupi – masihkah ada harapan?

4
3960

“Tragedi terbesar dalam hidup ini adalah saat manusia berhenti bercita-cita” – Sang Pemimpi

OK, cukup, saya mengerti, saya paham, belajar di luar negeri sangat seru, sangat menyenangkan, sangat berguna. Tapi masalahnya satu, dan itu sangat fundamental, nilai saya jelek, boro-boro dapat beasiswa, melewati tahap pertama seleksi universitas saja ga mungkin karena GPA atau IPK minimum yang diharuskan masih belum tercukupi oleh nilai saya.

Jika kamu adalah termasuk orang yang merasakan ini seperti saya dulu, maka izinkan saya untuk sedikit berbagi cerita tentang beberapa hal esensi yang saya kira perlu untuk dimiliki teman-teman yang IPK/GPA/Nilai sarjana-nya kurang dari cukup namun sangat ingin untuk melanjutkan sekolah di luar negeri.

Di artikel ini, saya ingin mengemukakan setidaknya 3 paradigma yang mendasar guna menembus batasan nilai yang telah menjadi norma seleksi pendaftaran/beasiswa sekolah luar negeri. Dalam eksposisi 3 kriteria ini, saya menyertakan pengalaman nyata tokoh, teman, dan keluarga sendiri. Pengalaman-pengalaman ini bukan cerita tentang bagaimana mendapat beasiswa atau bagaimana bisa diterima di perguruan luar negeri, melainkan pengalaman ini adalah tentang perspektif yang secara mendasar sama, dan erat hubungannya dengan perspektif yang perlu dimiliki guna mendapatkan beasiswa dan melanjutkan studi di luar negeri, terlepas nilai yang tidak mencukupi di pendidikan sebelumnya. Lebih dari sekadar melanjutkan studi di luar negeri, saya juga melihat paradigma ini secara umum dapat diaplikasikan dalam konteks lain yang serupa dalam kehidupan, di mana kita memiliki batasan yang sepertinya tidak memungkinkan kita untak mencapai cita-cita.

1. Distorsi realitas

Saat saya menulis artikel ini, 700 halaman buku tentang kehidupan Steve Jobs sedang saya baca. Menarik mengetahui, salah satu element kepribadian Steve Jobs yang berkali-kali diceritakan penulis adalah tentang distorsi realitas yang Steve Jobs miliki saat membangun perusahaan Apple. Dimulai dari perusahaan yang berkantor di garasi ayahnya, hingga akhirnya menjadi perusahaan yang bahkan lebih menguntungkan dari perusahaan terbesar di dunia Exxon, dan generasi kitapun akhirnya menjadi saksi sebuah perusahaan dapat mengubah dunia.

Untuk saya, klimaks dari cerita hidup Steve Jobs bukanlah di dasawarsa 2000-2010, di mana Apple berhasil menciptakan poros digital, dan mengubah teknologi dan gaya hidup manusia melalui produk-produknya. Epitomi dari cerita hidup Steve Jobs adalah saat dia berusia 28 tahun, saat perusahaan Apple pertama tumbuh cepat bersama dengan industri komputer lain, Steve muda akhirnya bertemu dengan John Sculley, direktur utama saat itu dari perusahaan Pepsi. Pepsi saat itu adalah perusahaan raksasa, stabil, menguasai pasar, dan dikagumi banyak orang melalui srategi pemasarannya yang terkenal “Tantangan Pepsi” di mana strategi ini adahal buah cipta pemikiran John Sculley sendiri. Steve Jobs muda berkesempatan berbincang dengannya dan meyakini bahwa John Sculley adalah seorang yang paling tepat untuk memimpin perusahaan Apple yang dirintisnya. Setelah melalui proses panjang bujukan dan negosiasi, John akhirnya tetap menolak pinangan Apple. Baginya walaupun Apple adalah perusahaan dengan masa depan yang cerah tapi tetap bukanlah Pepsi, perusahaan raksasa yang prestisius. Namun Steve Jobs tak bisa dan tak mau menerima kenyataan itu. Jawaban Steve berikutnya kelak akan menjadi sebuah cameo yg dikenal dalam sejarah komputer amerika dan dunia. Jawab Steve pada Sculley : “Sculley, apakah kau mau menghabiskan sisa hidupmu dengan menjual air bergula (Pepsi), atau apakah kau ingin memilki peluang untuk mengubah dunia bersamaku”.

Realita yang sama yang dilihat oleh John Sculley, dapat dilihat dalam pandangan lain oleh Steve Jobs, dan singkat cerita, pandangan ini meyakinkan John untuk bergabung dengan Apple dan meninggalkan kursi direktur utama di Pepsi.

Apakah gelas ini setengah kosong atau setengah penuh ?

Pertanyaan atau tepatnya pernyataan Steve Jobs, adalah contoh distorsi realitas yang anda perlu miliki untuk menembus keterbatasan. Jika anda menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban setengah kosong, maka mungkin anda tidak memiliki apa yang dibutuhkan untuk dapat mengalahkan keterbatasan nilai anda. Untuk rahasia kita bersama, ketahuilah ini, hal apapun di dunia ini selalu memiliki 2 sisi pandang yang berbeda, tugas pertama anda adalah untuk dapat melihat sebuah realitas keterbatasan anda dalam perspektif berbeda dengan apa yang orang lain lihat.

2. Persistensi

Salah satu cerita pertemanan kuliah yang saya ingat adalah cerita tentang teman saya Gideon. Gideon bukanlah orang yang akan kamu ingat dalam sekali berjumpa, mungkin bahkan setelah 4 tahun kuliah berlalupun, maka jika ditanya, apakah kamu kenal Gideon, maka jawaban kamu akan kering, seperti “ya, gw kenal si, tapi.. ga kenal-kenal banget..” atau seperti “hmm.. ya.. kayanya ada deh nama itu di kelas gw..”

Tapi di luar karakter itu, dia punya persistensi yang luar biasa dan saya beruntung pernah berbincang dengan dia tentang hal percintaan remaja. Kata Gideon kepada saya : “lo tau ga, cewe gw yang sekarang, itu udah gw kenal dari SMA kelas satu. Dari SMA kelas satu, sampai sekarang kuliah, total dia udah gw tembak 7 kali, dan ditolak 6 kali, tapi sekarang setelah 5 tahun kenal, baru sekarang gw diterima.. “

Ini contoh kecil tentang persistensi, tapi seorang laki-laki pasti tau rasanya ditolak, sakit!! Kebanyakan teman-teman yang saya tahu, setelah cintanya ditolak akan mulai memutar lagu-lagu patah hati, yang penuh dengan lirik melayu yang sedu sedan, dan mereka perlahan akan memilih untuk menyerah. Tapi tidak untuk Gideon, dia memilih untuk tetap ngotot. Ditolak untuk 2 kali, 3 kali, 4 kali, tetap tak membuat Gideon bergeming, apa yang dia inginkan jelas, dan dia tak berhenti untuk mengejar apa yang dia inginkan. 7 kali menyatakan cintanya, akhirnya Gideon berhasil menjadi pacar dari gadis beruntung (atau tidak beruntung?) itu.

Selang beberapa tahun, lama saya tidak mendengar kabarnya, sampai akhirnya 2 tahun yang lalu ada update di timeline Facebooknya. Dia sekarang melanjutkan studi di Skandinavia. Dan perlu diketahui, jurusan tempat Gideon belajar adalah salah satu jurusan yang terfavorit di dunia, di mana jurusan itu akan menyeleksi ribuan pendaftar, dan hanya menyediakan beberapa puluh kursi. Dan saya tahu, prestasi Gideon bukanlah luar biasa, tidak jelek, tapi sama sekali tidak luar biasa. Setelah ber-chatting dengannya, cerita persistensinya sekali lagi mengingatkan saya akan siapa Gideon. 3 tahun dia mendaftar ke jurusan di perguruan tinggi ini, dan setiap tahun dia ditolak. Dan perlu diketahui, untuk mendaftar ke perguruan luar negeri, proses yang dilalui itu tidak gampang sama sekali. Mulai dari harus menyertakan surat rekomendasi (yang harus diperbaharui setiap kali mendaftar), menulis essai ribuan kata yang menyita energi dan waktu, juga biaya pengiriman dokumen resmi yang harganya bisa setengah juta rupiah sendiri.

Tapi Gideon adalah Gideon, persistensi mungkin bisa menjadi nama tengahnya, di tahun ke 4 dia mendaftar, mungkin karena bosan menolak, mungkin juga kagum akan keras hatinya, perguruan tinggi ini akhirnya menerima Gideon. Saat ini Gideon telah selesai kuliah, dan bekerja dengan fasilitas dan bayaran luar biasa di tanah Skandinavia.

 3. Aturan itu akhirnya pun memiliki batasan

Saat lulus dengan IPK 2.73, terus terang impian adik saya tidaklah muluk-muluk, yang penting baginya adalah mendapat pekerjaan. Bagaimana tidak, background-nya adalah teknik yang sangat spesifik, di mana gelarnya hanya diterima oleh satu jenis industri saja, dan industri ini sangat kecil dan ekslusif. Syarat masuk perusahaan di industri ini kebanyakan adalah memiliki minimum IPK 3.20, perusahaan yang baik hati akan memiliki batas bawah IPK 3.00, dan satu atau dua perusahaan yang sangat baik hati memiliki batas masuk IPK 2.75, tapi itu pun tetap tak tercukupi dengan IPK-nya. Dalam perspektif itu, dia paham betul dia berada di tepi jurang di mana dia bisa-bisa akan menganggur selamanya.

Beberapa bulan setelah lulus adalah cerita klasik seorang mahasiswa yang mencoba mencari kerja di ibu kota. Dia memasukkan semua dokumen lamaran ke lowongan yang tersedia tanpa memilih-milih, dan sebagaimana ekspektasi saya, semua usaha yang standar itu gagal. Alih-alih akhirnya dia berusaha mencari cara yang lain, yang pertama adalah dia mencari informasi email orang-orang dalam di perusahaan, dan mengirimkan lamaran kerja ke mereka terlepas ada atau tidaknya pembukaan lowongan kerja. Yang kedua dia meng-copy dokumen lamaran pekerjaan sebanyak puluhan lembar, dan bersama saya dan teman, kami mencari alamat kantor perusahaan-perushaan ini di Jakarta dan berkendara bersama dan menitipkan dokumen lamarannya melalui receptionist, satpam, dll.

Selang beberapa bulan, akhirnya ada beberapa perusahaan yang menerima lamarannya melalui metodanya yang tak lazim itu. Singkat cerita, dari seorang mahasiswa yang posisinya seakan-akan mengemis untuk dapat bekerja untuk pekerjaan apapun di perusahaan manapun, dia berada di posisi di mana dia harus memilih perusahaan. Akhirnya diapun harus menolak pinangan beberapa perusahaan yang notabenenya adalah perusahaan multi-national yang sebenarnya memiliki batasan masuk IPK yang tidak tercukupi oleh IPK adik saya.

Beberapa cerita diatas, walau tak berhubungan langsung dengan pencarian beasiswa, ataupun seleksi masuk universitas, memiliki esensi yang sama.

Pertama: seseorang yang memiliki nilai yang menurut banyak orang adalah “jelek” harus dapat melihat sisi lain nilai itu, angka akhirnya hanyalah angka, bukanlah cerita utuh tentang kemampuan seseorang. Seseorang yang memiliki nilai yang “kurang” haruslah dapat melihat sisi “lebih” yang lain dari nilainya. Sebagai contoh: mungkin nilai yang “kurang” itu adalah representasi dari keberhasilan kegiatan yang menuntut perhatian lebih di bidang lain, seperti menjadi atlit olahraga, atau menjadi aktifis organisasi, dll. Anda harus dapat melihat nilai yang “kurang” itu sebagai “lebih” dari sisi yang lain.

Kedua: dalam keterbatasan nilai yang tak cukup, pahamilah bahwa penolakan itu akan ada, bahkan lebih dari sekadar ada, penolakan itu akan lebih dari sekali, mungkin lebih dari 5 kali, mugkin lebih dari 10 kali, entah. Tapi seorang yang persistent paham bahwa penolakan adalah bagian dari proses, dan dia tak akan menyerah dalam perjuangannya.

Ketiga: kriteria yang dibuat dalam seleksi masuk itu tidaklah selalu mutlak. Akan ada pertimbangan-pertimbangan yang lain yang bisa anda tawarkan kepada lembaga beasiswa, ataupun universitas. Berpikirlah di luar kotak batasan, berpikirlah kreatif. Jika dokumen nilai, sebagai syarat pertama tidak akan diterima, mengapa tidak langsung temui hadap muka dengan panitia seleksi beasiswa itu, yakinkan mereka bahwa anda layak mendapat beasiswa. Ini hanyalah contoh, anda dapat mencari model-model yang lain. Tapi pada dasarnya, pahamilah bahwa selama ada kemauan di situ selalu ada jalan.

Sebagai orang yang jelas tak memenuhi kriteria awal karena nilai yang cukup, anda perlu paham bahwa anda harus melakukan dan menunjukkan hal lain yang lebih dari teman-teman yang nilainya lebih tinggi. Dan proses dalam mengejar cita-cita belajar di luar negeri bukanlah cerita dongeng indah yang sederhana untuk anda. Anda akan berdarah-darah mengejarnya, anda akan sakit hati ditolak sana-sini, anda akan hampir menyerah. Sebagai penutup, saya ingin memberikan beberapa pertanyaan untuk anda jawab sendiri dengan jujur.

  1. Seberapa pentingkah studi di luar negeri ini untuk anda?
  2. Seberapa jauh anda ingin berusaha?
  3. Seberapa kecewanya anda dalam hidup anda, jika pada akhirnya anda tak bisa melanjutkan studi keluar negeri?

Jawaban pertanyaan ini adalah renungan untuk anda sendiri. Tapi jika anda ingin memulai proses ini, ketahuliah bahwa jika anda memutuskan untuk maju, saya adalah saksi bahwa proses mengalahkan keterbatasan adalah salah satu perjalanan terindah yang bisa dimiliki dalam hidup ini.

Photo Credit: Half what? via flickr

SHARE
Previous articleTHE “ROLLERCOASTER” EXPERIENCE AS AN EXCHANGE STUDENT
Next articleLiving in NTU – A Review
Bona Ritonga
Bona Ritonga is a PhD candidate in the Department of Petroleum Engineering at Heriot-Watt University, Edinburgh, UK. He earned his Bachelor degree from ITB, Indonesia and MSc. from Heriot-Watt University, UK, both in Petroleum Engineering. Bona had several years of experience in oil and gas industry, from being a field engineer to coordinator. Bona enjoys walking in the Scottish Mountains and he runs the Humber Bridge Half-Marathon in 2013 and Edinburgh Full Marathon in 2014. He also thinks he knows something about Jazz so his ambitious plan now is to get a slot for street concert in Edinburgh Fringe Festival 2016. Passionate to talk about football/basketball, travel, business prospect, and faith-philosophy, but ultimately how to help young Indonesian to get better education and careers, you can contact him at ritonga_bona@yahoo.com