Memilih Beasiswa: Fulbright, Chevening, ADS, atau LPDP?

10
5215

“Ah gila kali lo pake milih-milih! Masih untung dapet!” Eits, tunggu dulu! Meskipun nama-nama beasiswa di atas terdengar sangar, namun selayaknya nahkoda kapal harus tahu ke mana kapalnya berlayar, anda pun seyogyanya tahu ke donor mana anda melemparkan jaring-jaring peruntungan beasiswa. Kenapa? Selain karena masing-masing beasiswa punya tujuan dan prioritas pembiayaan yang berbeda, mengetahui kelemahan dan kelebihan masing-masing beasiswa akan membantu Anda menghindari kejutan fakta-fakta memusingkan dikala sang donor telah memilih anda. Tiga hal penting yang perlu anda pahami adalah pembiayaan, kerapihan administrasi donor, dan tujuan pemberian beasiswa.

Hal yang paling signifikan dalam memilih beasiswa adalah pembiayaan. Loh, kalau beasiswa bukannya sudah pasti dibiayai? Memang benar, namun belum tentu anda akan dibiayai seutuhnya. Maksudnya? Fulbright, Chevening, ADS dan LPDP memang merupakan beasiswa penuh, artinya, komponen beasiswa akan menanggung tuition fee, tiket pulang-pergi, dan biaya hidup selama masa studi. Yang membedakan: bagaimana sumber pendanaan beasiswa penuh tersebut? Dalam hal ini ada 2 tipe: Fulbright dan Chevening menggunakan mekanisme fix grant + cost sharing (terminologi yang digunakan Fulbright) atau bursary (terminologi Chevening). Untuk program Master, Fulbright berkontribusi US$32,500 (total) dan menegosiasikan cost sharing dengan universitas tujuan, sementara kontribusi maksimum Chevening untuk tuition fee  adalah £13,000 dengan mekanisme serupa. Biasanya, Fulbright maupun Chevening memiliki universitas partner yang kerap memberikan tuition waiver – dan sayangnya beberapa universitas bergengsi terkenal enggan memberikan cost sharing, misalnya UC Berkeley. Jika universitas tujuan memberikan tuition waiver yang cukup, anda dapat berlega hati. Jika tidak, maka anda harus siap mencari tambahan pendanaan secara mandiri. Fulbright dan Chevening juga berhak menolak aplikasi anda ke universitas tertentu jika anda dinilai tidak prospektif mendapatkan cost sharing dari universitas tersebut. Untuk Fulbright, seluruh proses aplikasi ke sekolah akan dilakukan oleh staff AMINEF sehingga proses pemilihan kampus ini terjadi pasca anda terpilih sebagai penerima beasiswa. Anda tetap berhak untuk mendaftar secara mandiri ke kampus idaman dengan surat pengantar dari Fulbright. Sementara untuk Chevening, mengingat semua proses aplikasi diurus sendiri oleh penerima beasiswa, dan kampus yang dituju telah harus ditetapkan sejak awal proses aplikasi, maka jika anda ingin tetap mendaftar semua keputusan ada di tangan anda. Namun, jika ujung-ujungnya masih nombok, Fulbright dan Chevening tidak akan mengkonfirmasi LoA dari kampus idaman tanpa bukti kecukupan dana dari Bank.

Jenis kedua adalah pembiayaan total, seperti LPDP dan ADS. Begitu anda telah diterima sebagai penerima beasiswa, maka anda berhak menerima beasiswa penuh berapapun biayanya. Hal ini menjadi signifikan karena LPDP menyasar Top 200 universitas, dan beberapa universitas top mematok tuition fee yang sangat besar, yang dalam skema Fulbright maupun Chevening sudah hampir bisa dipastikan melampaui skema platform tetapnya. Pssst, Top 200 universitas ini tidak berlaku mutlak, lho! Salah satu preseden diskresi LPDP adalah Portland State University, yang meskipun ranking THE-nya antah berantah, namun memiliki ranking Business School yang baik di AS. Sementara, ADS memang terkenal sebagai beasiswa yang paling royal: selain semua biaya telah ditanggung, jumlah biaya hidup yang diberikan cukup signifikan dibandingkan Fulbright, Chevening, maupun LPDP. Lebih menggoda lagi, ADS mengizinkan penerima beasiswa untuk bekerja (di luar Teaching & Research Assistanship) dan mendapatkan gaji di Australia, yang notabene tidak bisa dinikmati Fulbrighter maupun Cheveners yang hanya diizinkan bekerja sebagai TA/RA.

Selain itu, penting mempertimbangan baik buruknya kerapihan administrasi donor. Fulbright, Chevening, dan AusAid merupakan donor yang sangat rapih dan terstruktur, dengan timeline yang pasti dan deadline yang ketat. Dengan demikian, penerima beasiswa dapat tenang selama proses aplikasi maupun studi, karena administrator donor selalu proaktif memberitahukan dan memastikan anda melakukan semua proses yang dibutuhkan. Bahkan, Fulbright dan ADS mengurus semua proses aplikasi penerima beasiswa ke sekolah-sekolah yang dipilih. Keterlambatan pengiriman dana hibah hampir tidak pernah terjadi. Jika dibandingkan dengan donor-donor ini, LPDP masih menuai banyak kritik dari penerimanya: dimulai dari surat elektronik yang mendadak atau tidak sampai sama sekali, miskomunikasi, sampai pengiriman dana hibah yang terlambat atau tidak sesuai jumlahnya. Walau demikian, patut diakui LPDP bekerja semakin baik dari hari ke hari, meskipun progressnya dapat lebih maksimal.

Hal terakhir yang penting untuk dipertimbangkan adalah apa yang diharapkan pemberi beasiswa dari anda. Tentu semua beasiswa mengharapkan anda kembali dan berkontribusi ke Negara asal anda. Namun ingat, beasiswa adalah salah satu bentuk soft diplomacy, dan Fulbright, Chevening maupun ADS adalah donor. Maka, jika anda mengajukan aplikasi Fulbright, Chevening, ataupun ADS, anda dapat memperkirakan bahwa tujuan utama pemberian beasiswa adalah menumbuhkan “cultural understanding,” – dan kesempatan akademis merupakan “cara,” bukan “tujuan.” Dengan demikian, ketika anda berada di Negara penerima, di samping performa akademis (yang cukup ketat), anda diharapkan dapat menyerap sebanyak mungkin pengalaman kebudayaan dari Negara tersebut, serta menjadi “duta kebudayaan” Negara penerima anda ketika anda pulang. Melihat visi, misi, dan tujuan dari masing-masing website resmi beasiswa tersebut akan membantu anda dalam proses wawancara, karena pemahaman dan kesediaan anda untuk berfungsi sesuai dengan visi, misi dan tujuan mereka merupakan salah satu hal penting yang dipertimbangkan oleh para donor. Sehubungan dengan tujuannya, ketiga beasiswa ini memiliki network alumni yang sangat kuat dan berbagai kesempatan networking yang berhubungan dengan Negara donor.

Jika anda memiliki sensitivitas donor atau profesi anda mengharuskan anda ekstra hati-hati terhadap konflik kepentingan yang melibatkan negara, maka tak ada salahnya memilih LPDP. LPDP menekankan pada ke-Indonesia-an, sehingga kewajiban anda cenderung satu arah dan berfokus pada kepentingan Indonesia. Selain itu, anda akan digembleng selama 7 hari, yang selain bertujuan mempersiapkan anda, juga cukup keras menanamkan nilai-nilai nasionalisme.

Demikianlah sekilas mengenai pertimbangan-pertimbangan positif dan negatif sekitar Fulbright, Chevening, ADS dan LPDP. Selamat memilih!

 

SHARE
Previous articleSearching for that first job? Boost your online presence first!
Next articleBeasiswa LPDP: Pergi Untuk Kembali
Margaretha Quina
Margaretha Quina menghabiskan 75% waktu kuliahnya di Fakultas Hukum UI untuk jalan-jalan, naik gunung, dan "berkegiatan yang seru-seru" seperti pengabdian masyarakat (yang lagi-lagi karena satu motif: jalan-jalan). Ia pun belum bertaubat pasca kelulusannya, dan sembari menjalankan profesi hariannya sebagai peneliti hukum lingkungan di Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Quina tetap fokus berkelana dari satu lokasi pencemaran ke lokasi lainnya, ngeband bersama @paroehwaktoe (http://soundcloud.com/paroeh-waktoe), dan blogging sebagai Qutuqupretty. Kini Ia sedang melanjutkan S2 hukum lingkungan di Lewis & Clark Law School, Portland, Oregon. Hal yang paling Quina banggakan adalah tato peta Indonesia di punggungnya.
  • Nurir Rohmah

    Mbk, this is very nice writing. Walopun masih kurang sih. Kurang banyak maksudnya. Sy mau tanya, misal dalam waktu bersamaan mbk Quin keterima (sebutlah LPDP dan Fulbright) yang jelas-jelas beda, apa pertimbangan utama yang akan mbk pakai untuk memilih diantara dua itu?
    Thank you mbk..

    • Margaretha Quina

      Hahaha thanks! Kalo saya, pertimbangan utamanya: yang mana yang bisa mendanai secara penuh sekolah idaman saya 😉 Tapi ini subjektif yaaa.

  • Herdiani Hidayanti

    Artikelnya menarik sekali, Mbak :) thank you for the writing.

  • Sulaiman Sujono

    Oh ini toh hasil obrolannya Quin 😀

    • Margaretha Quina

      Iyaaa bang Sule! Thanks a bunch info”nya 😉

  • Felix Degei

    Terima kasih byk atas artikel yg sgt menarik!. Karena mengulas sisi positif dan negatif dari keempat donatur beasiswa ternama. Smoga dgn tulisan ini akn membantu kami pembaca spy tdk slh memilih.

  • Amadhan Takwir

    thx alot, nice info min.. btw perbandinganx dgn DAAD gimana??

  • Prita

    Makasih byk, insya Allah artikel ini bermanfaat bagi yg membacanya. 😀

  • Medina

    halo para pejuang beasiswa,

    Mau tanya-tanya boleh yaaa.. apabila saya sudah pernah ambil S2 di Indonesia, kemudian mau mengambil S2 dengan jurusan lainnya di UK berharap mendapatkan beasiswa Chevening, apakah bisa? Kalau di LPDP kan ada di salah satu persyaratan nya tidak bisa apabila sudah pernah S2 baik didalam maupun di luar negeri, apakah berlaku sama di Chevening?

    Mohon pencerahannya :) :)
    Terima kasih :)

  • Ïndra

    PLease tolong dijawab, misalnya sudah Lulus s2 melalui beasiswa chevening, itu harus kembali ke Indonesia atau bisa mencari pe kerjaan dan tetap tinggal di inggris ? Terimakasih