Pergi Kuliah di Korea Selatan dengan Beasiswa, Pulang Bawa Gelar dan Tunangan

Pergi Kuliah di Korea Selatan dengan Beasiswa, Pulang Bawa Gelar dan Tunangan

Bermimpilah, maka mimpi itu akan jadi kenyataan !

Hai perkenalkan nama saya Olivia. Ini adalah kisah hidup saya, semoga bisa memberi inspirasi.

Sedari saya SMA, saya bermimpi untuk sekolah di luar negri. Alasannya sederhana: saya ingin jalan-jalan gratis! Maka dari SMA, saya bersikeras mencari beasiswa S1. Saat itu aku belum berani merantau jauh-jauh, jadi hanya satu negara Singapura yang masuk ke radar saya. Saya memilih Singapura karena lokasinya yang dekat dan statusnya sebagai negara tetangga. Saat akhir mendekati kelulusan SMA pada tahun 2002, sekolah saya menerima tawaran untuk mendaftarkan dua murid berprestasi-nya untuk ikut tes beasiswa dari Nanyang Technological University, Singapore. Saya pun merasa excited karena ternyata saya termasuk dari dua murid pilihan tersebut. Saya berusaha belajar siang dan malam, serta mulai berlatih mengerjakan soal sains dalam Bahasa Inggris yang tidak mudah, tetapi saya tetap optimis. Sayangnya, mimpi saya bersekolah di Singapura putus seketika karena ternyata saya dinyatakan tidak lolos pada tahap kedua. Sedih pastinya, namun saya tetap optimis dan percaya bahwa pasti ada jalan lain. Ada kemungkinan bahwa saat tersebut kurang cocok karena saya belum siap pergi sekolah jauh dari orang tua.

Saya pun akhirnya masuk ke Universitas Atmajaya, menjadi angkatan pertama di Fakultas Teknobiologi, fakultas berbasis ilmu bioteknologi pertama di Indonesia. Selama menjadi mahasiswa disana, saya aktif sebagai asisten penelitian proyek-proyek profesor dan asisten di beberapa laboratorium. Saya selalu mendapat beasiswa pengembalian uang kuliah karena prestasi di tiap semester. Empat tahun kemudian (2006) saya lulus sebagai lulusan terbaik dengan predikat Summa cum Laude dan dengan mudah mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia.

Impian saya untuk sekolah di luar negeri masih belum hilang. Sembari bekerja, saya mencoba memasukkan aplikasi-aplikasi beasiswa secara online. Saat itu negeri Sakura dan Benua Eropa menjadi incaran utama. Ternyata tindak tanduk saya “tercium” oleh atasan saya, untungnya saya bukan dimarahi, tapi malah ditawarkan beasiswa untuk master program di luar negeri oleh perusahaan dimana saya bekerja (tentunya dengan ikatan dinas setelah lulus). Karena saya sudah lama sekali bermimpi, mata saya langsung berkaca-kaca. Saya kesulitan membendung rasa senang dan langsung menyetujui perjanjian yang diberikan. Surat kontrak sekolah pun saya tandatangani dengan mantap, proses registrasi sekolah dilakukan segera, tes masuk wawancara pun dilakukan lewat telpon, dan akhirnya pengumuman keluar pada bulan Mei, tahun 2008. Akhirnya saya resmi diterima sebagai mahasiswa program S2 jurusan Biological Science di Seoul National University, sekolah nomor satu di Korea Selatan. Tiga bulan setelah pengumuman tersebut, saya pun tiba di negeri ginseng untuk memulai petualangan hidup saya yang baru.

Hidup jauh dari orang tua di tempat dengan budaya hidup yang benar-benar berbeda membuat hidup saya lebih berwarna. Kesulitan bahasa, lidah yang tidak cocok dengan makanan Korea, dan perasaan homesick sempat saya alami di semester pertama. Saya sempat hampir putus asa, merasa gagal beradaptasi dan mau memilih pindah ke negara lain, apalagi setelah saya dapat email pengumuman dari beasiswa yang sebelumnya saya daftar. Ternyata saya lolos tahap wawancara untuk penerimaan beasiswa sekolah di Jepang dari Panasonic. Selain itu saya juga diterima sebagai calon mahasiswa dengan beasiswa dari University of Amsterdam jurusan Oncology. Godaan-godaan beasiswa lainnya tentu sangat menggiurkan, namun dengan alasan profesionalitas terhadap perusahaan, saya memilih menyelesaikan studi saya di Korea Selatan.

Dua tahun saya sekolah disana, akhirnya saya pun lulus dengan gelar Master of Science, predikat Summa cum Laude dan langsung mendapatkan berbagai tawaran beasiswa untuk melanjutkan jenjang S3 di jurusan yang sama oleh profesor saya. Selain itu saya juga sempat menjadi salah satu penerima beasiswa dari Silk Road Scholarship untuk melanjutkan studi di Seoul National University, namun ikatan dinas dengan perusahaan yg telah membiayai saya sekolah membuat saya tidak punya kesempatan untuk langsung melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi pada saat itu.

Saya sempat merasa sedih dan menyesali pilihan yang saya ambil. Tetapi saya percaya kualitas diri juga ditentukan oleh attitude dan profesionalitas diri. Oleh karena itu, walau jalan untuk sekolah S3 terbuka lebar di depan mata saya, walau tawaran beasiswa itu sudah saya genggam, saya tetap kembali ke Indonesia demi janji yang sudah dibuat bersama dua tahun yang lalu. Saya percaya pasti Tuhan sudah menyiapkan rencana yang lebih indah dengan kepulangan saya ini.

Ternyata benar sebagai bonus atas “kesetiaan” saya, Tuhan menyiapkan hadiah yang lebih spesial dari gelar Ph.D, yaitu gelar Mrs. Setahun setelah kepulangan saya ke Indonesia, saya akhirnya dilamar oleh lelaki bekewarganegaraan Korea Selatan, seorang teman kuliah saat di Seoul National University. Kami sekarang hidup bahagia di Indonesia dengan dua anak lelaki yang berkewarganegaraan ganda. Puji Tuhan!

Mungkin banyak yang menyesalkan kenapa saya memilih stay di korea ketimbang mencoba peruntungan nasib di Amsterdam atau Jepang. Atau ada yg menyesalkan juga kenapa saya memilih pulang ke Indonesia ketimbang melanjukan S3 di Korea.  Secara jujur, saya katakan saya tidak menyesal atas pilihan itu, karena dengan memilih untuk diam di Korea saya akhirnya bertemu dengan lelaki yang ternyata adalah calon dari ayah anak-anak saya dan dengan memilih pulang ke Indonesia ternyata lelaki itu jadi terdorong untuk lebih cepat melamar saya dan memutuskan pindah ke Indonesia agar karir saya tetap berlanjut. Tuhan sudah menentukan jalan hidup kita, jadi bermimpilah dan jika sampe saat ini mimpimu belum jadi kenyataan, bersabarlah karena mungkin Tuhan sudah menyiapkan jalan cerita lain yang terbaik untukmu. Salam sukses!




===========================================
Olivia Mayasari Tandrasasmita earned her Bachelor Degree from Atmajaya University majoring in Biotechnology and Master Degree from Seoul National University majoring Biological Sciences. She is fortunate to have received full financial aid during her studies. Currently, she works as Associate Principal Scientist and Section Head of Molecular Pharmacology in Dexa Laboratories Biomolecular Sciences, Jababeka, Cikarang, Indonesia. Olivia can be reached at blue_dladera@yahoo.com
Posts | Website