Kuliah di Universitas Nomor Satu di Turki, Siapa Takut

Kuliah di Universitas Nomor Satu di Turki, Siapa Takut

Pengalaman kuliah di luar negeri  tentu merupakan suatu pengalaman yang luar biasa di mana kita akan merasakan hidup yang sangat berbeda dari Indonesia. Terutama yang beriklim subtropis, kita bisa merasakan hidup 4 musim, musim panas, gugur, dingin dan semi. Kali ini saya ingin ngeshare beberapa pengalaman saya berkuliah di salah satu universitas di Turki yang bernama Middle East Technical University (METU) dengan berbeasiswa dari lembaga PASIAD Indonesia-Turki.

Tentang METU

Dalam Bahasa Turkinya ODTU (Orta Doğu Teknik Üniversitesi)  atau juga yang dikenal dengan METU (Middle East Technical University) adalah universitas milik pemerintah yang didirikan pada tahun 1956. METU  menampung lebih dari 1.500 mahasiswa asing dari 80 negara yang berbeda. METU memiliki 40 program S1 dalam 5 fakultas, 5 program pascasarjana dengan 97 program master dan 62 program doctoral yang dilengkapi kelas persiapan Bahasa inggris. METU juga mempunyai 13 program sarjana termasuk 1 program kelas internasional yang ditawarkan dalam bentuk kerjasama dengan kampus ODTU yang terletak di Cyprus Utara. Bahasa inggris menjadi Bahasa pengantar di semua program sarjana sehingga membuat METU berhasil dalam mengakomodasi keinginan dari mahasiswa internasional dan para peneliti. The Times Higher Education World Reputation Rankings 2014 yang diikuti oleh seluruh universitas dan instititut pendidikan di dunia merilis METU masuk dalam jajaran 80 top universitas di dunia dan masuk dalam list “Most Reputable 100 Universities of the World”

Pemandangan sekitar kampus

METU pun juga universitas yang memiliki reputasi yang sangat baik di bidang teknik seperti ITB, NTU, MIT dan sebagainya. Gak heran orang Turki sekalipun sangat susah untuk bisa keterima di kampus ini sama halnya UI, UGM, dan ITB. Minimal score SAT untuk masuk METU ialah 1100 dari 1600 dan bisa juga menggunakan transkrip nilai UAN dengan minimal rata-rata 9,0 dari 10 serta memiliki nilai toefl IBT minimal 75 dari 120 atau nilai IELTS 6,0. Jika tidak memiliki nilai TOEFL maupun IELTS, METU juga menyediakan English Proficiency Exam yang mana minimal score untuk lulus 60 dari 100. Jika tidak lulus, METU menyediakan persiapan bahasa inggris selama setahun.

METU Landmark

Kuliah di METU tidaklah begitu mahal dibandingkan dengan universitas-universitas top di Indonesia. Untuk undergraduate student :

Fakultas teknik                                          1529 TL (Rp 8.333.050,00)
Fakultas sains murni                               1289 TL (Rp 7.025.050,00)
Fakultas ekonomi dan bisnis               1155 TL (Rp 6.294.750,00)
Fakultas social                                            962 TL (Rp 5.242.900,00)
ultas pendidikan                                         1027 TL (Rp 5.567.150,00)

Di samping itu, kampus pun juga menyediakan asrama bagi yang ingin tinggal dengan harga rata-rata perbulan 200 TL (Rp 1.090.000,00).

Karena termasuk salah satu universitas terfavorit dan nomor 1 di Turki, tak heran banyak mahasiswa asing yang memilih berkuliah di METU. Selain itu ada hampir 70 anak mahasiswa Indonesia dari berbagai program berkuliah di METU. Dikarenakan prestasi mahasiswa/mahasiswi Indonesia sendiri yang berkuliah di METU, pihak universitas memberikan kuota 2 orang Indonesia untuk 1 jurusan tiap tahun, kecuali jurusan matematika dan fisika hingga 5 orang dari Indonesia tiap tahun.

METU juga turut berpartisipasi mengadakan event tahunan kampus yang salah satunya adalah spring festival METU. Event ini mempertunjukkan suatu pameran dari berbagai Negara di METU untuk memperkenalkan budaya mereka. Indonesia adalah negara paling aktif mengikuti event tahunan ini seperti stand Indonesia, pertunjukkan angklung, tari saman, tari daerah, film Indonesia, dan pameran makanan khas Indonesia.

Salah satu acara spring festival METU di Stand Indonesia

 

Rutinitas sebagai mahasiswa METU

Karena saya tinggal di flat bukan asrama kampus maka saya harus menggunakan sarana transportasi untuk sampai ke kampus. Untungnya tersedia berbagai macam sarana transportasi langsung menuju kampus METU seperti Bis, mobil servis dan kereta bawah tanah jadi tidak perlu khawatir terlambat masuk kelas. Sesampai di kampus hal pertama yang biasa saya lakukan adalah pergi sarapan di kantin fisika. Mengapa kantin fisika? karena harganya yang terjangkau seperti 1 buah pogaca (sebutan roti manis yang beraneka rasa) dan 1 gelas teh khas Turki semuanya 1.25 TL atau dirupiahkan kurang lebih 7 ribu rupiah serta banyak bertemu teman-teman sejurusan maupun beda jurusan.

Tampak ruangan kelas

Setelah sarapan, saya masuk kelas contohnya masuk pelajaran kalkulus. Ruangan kelas yang sangat lengkap dalam menunjang pengajaran seperti komputer, OHP, audio visual dan lain-lain. Setelah masuk kelas, biasanya kita memiliki waktu senggang antar jam kuliah. Banyak teman-teman yang menghabiskan waktu senggangnya untuk belajar di tempat-tempat yang nyaman. Salah satu tempat favorit anak-anak METU belajar ialah di balik pohon yang rindang atau di rerumputan sambil berdiskusi dan bercerita. Tetapi saya lebih memilih di perpustakaan, kenapa? Karena saya gak kuat dingin hehe, mereka udah biasa kali dingin-dinginan di luar. Di perpustakaan sendiri udah lebih dari nyaman yang saya rasakan. Sangat lengkap dan amat banyak referensi-referensi dan buku-buku yang ada di perpustakaan METU gak heran banyak mahasiswa-mahasiswa di luar kampus METU terutama mahasiswa PhD datang untuk mencari bahan riset dan referensi. Karena begitu banyak buku-buku di perpustakaan ini, METU memiliki aplikasi di playstore android bernama “METU Library” agar memudahkan mahasiswa mencari buku serta bisa mengetahui status peminjaman buku secara online. Untuk pelajaran lab, laboratorium-laboratorium di sini sangatlah lengkap dan instruktornya baik-baik. Karena saya jurusan teknik kimia, maka lab kimia menjadi tempat rutinitas saya selama berkuliah.

 

Tempat biasa belajar dan berdiskusi

Untuk masalah lunch and dinner, kampus sudah menyediakan kantin official buat mahasiswa-mahasiswa METU yang harganya sangat murah. Satu paket makan siang maupun makan malam termasuk makanan utama, lauk, sup dan desert cuma seharga 1.65 TL atau sebanding 9 ribu rupiah (mungkin kalau harga di luar dengan menu yang sama bisa mencapai 5 – 7 TL). Saya paling banyak menghabiskan waktu di kampus terutama di perpustakaan ketimbang di flat karena suasana belajar di perpustakaan yang bener-bener menunjang dan sangat nyaman. Jika bosen belajar mulu, kita juga di sini berkesempatan mengikuti klub-klub sosial yang sangat lengkap sesuai dengan minat kita seperti math club, chemistry club, robotic club, pecinta alam, skydiving, berbagai klub musik dan banyak masih lagi. Kalau saya mengikuti klub METU International Student Association. Selain mengikuti klub, kita bisa juga berkesempatan mengikuti seminar-seminar kuliah yang biasanya membawa tamu dari dosen-dosen universitas di Eropa. Tentunya kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Begitulah rutinitas saya sebagai mahasiswa disini. Fun and enjoyable !!

 

METU International Student Association

 

Winter and Autumn in METU

Bedanya kuliah di METU dan universitas-universitas di Indonesia ?

Lebih dari 1 tahun saya studi di sini, saya merasakan adanya perbedaan yang sangat mencolok dengan beberapa teman saya yang kuliah di Indonesia. Salah satu perbedaannya adalah tugas. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa waktu malam itu sangat berharga daripada siang karena hanya waktu itu lah bisa mengerjakan segudang tugas-tugas yang tak pernah berhenti dari dosen bahkan hidup mereka menjadi terbalik malam jadi siang  dan siang jadi malam. Selama saya kuliah di sini bener-bener tidak pernah dihantui dengan tugas-tugas yang susah dari dosen maksimal yaa tugas essay bahasa Inggris dan laporan lab itupun dikerjakan langsung di lab sehari selesai. Saya masih bisa merasakan nonton film dan main game tiap malam di flat. Dan juga dari mereka mengatakan dosennya neranginnya sangat tidak jelas dan bla bla. Sedangkan saya merasakan dosen-dosen di sini menerangkannya dengan jelas bahkan jika mahasiswa-mahasiswa di sini kurang mengerti dengan mapel yang dijelaskan, dosennya dengan senang hati memberikan tambahan kuliah kepada mahasiswa-mahasiswanya. Kita pun juga bisa bertanya mapel yang kurang jelas dengan dosen maupun asisten dosen kapanpun atau melalui appointment. Jadi sangat terbuka bagi mahasiswa di sini untuk bertanya. Mungkin tantangan yang saya bener-bener rasakan berkuliah di sini ialah ujian mid dan final yang benar-benar sukar dan tentu persaingannya yang ketat dengan mahasiswa-mahasiswa internasional lainnya. Asalkan ada tekad kelak untuk membangun Indonesia, tantangan tersebut tidak ada apa-apanya karena jika kita fokus dengan tantangan maka tujuan kabur, sebaliknya jika fokus dengan tujuan maka tantangan tantangan kabur.

Ada satu quote yang saya buat untuk kalangan mahasiswa-mahasiswi yang biasanya merasakan hal serupa supaya mereka tidak jatuh dari rasa tersebut. “GALAU NO | PRESTASI YES” @R_ervaldi

Sekian Terima Kasih, semoga menginspirasi




===========================================
Resky Ervaldi Saputra. Bachelor student of Chemical Engineering at the Middle East Technical University, Turkey. He is a scholarship awardee of PASIAD. His motivations is keep doing the best at the max point like entropy of the system tends to the max in 2nd law of thermodynamics
Posts | Facebook | Twitter | LinkedIn