BEASISWA RUSIA: MENCIPTAKAN JALAN SUKSESMU SENDIRI

38
156

Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail.
Ralph Waldo Emerson

Masih teringat betul kegelisahan yang saya rasakan 10 bulan yang lalu, masa di mana sebentar lagi masa studi strata 1 (S1) untuk saya akan berakhir karena saat itu skripsi sudah hampir selesai dan entah harus ke mana langkah ini terus berjalan. Pada saat itu, saya membagi fokus perhatian saya untuk skripsi dan apa yang akan saya lakukan setelah ini. Membahas tentang apa yang akan dilakukan setelah skripsi membuat saya melihat berbagai kesempatan yang ada hingga mengerucut kepada dua hal utama yaitu bekerja dan melanjutkan studi S2. Akhirnya, dengan berbagai dialektika saya memutuskan untuk ingin belajar lagi sebelum nantinya bekerja dan mengabdi untuk Indonesia. Ternyata, permasalahan dalam memilih apa yang harus dilakukan setelah mendapatkan sarjana tidak berhenti pada jalan memilih bekerja atau belajar dulu, tapi juga tentang dimana tempat kamu akan menimba ilmu selanjutnya. Saya menyadari bahwa di saat ini kita dihadapkan pada momentum di mana kita mempertimbangkan segalanya, mulai dari “gengsi” universitas, Negara, jurusan, program beasiswa hingga biaya hidup.

Sama seperti kebanyakan pelajar Indonesia yang lainnya, saya dengan mudah mengenal dan mengetahui skema beasiswa yang sudah akrab di masyarakat umum, seperti beasiswa Erasmus Mundus, Fullbright dan berbagai program untuk melanjutkan kuliah ke Australia, Eropa dan Amerika. Saat itu juga saya mengetahui ada beasiswa LPDP yang kelihatannya cukup menjanjikan dan menawarkan kesempatan yang tak sesulit program beasiswa yang lainnya. Banyaknya informasi tentang betapa menariknya kuliah di belahan dunia bagian barat itu membuat saya mengidam-idamkan betul untuk merasakan kualitas pendidikan di Amerika, Inggris atau Belanda. Hingga akhirnya, saya diterima di University of Manchester dengan bersyarat, karena pada saat itu saya belum menyerahkan hasil IELTS terbaru. Mengetahui hal tersebut, saya langsung daftar beasiswa LPDP sambil menunggu hasil IELTS untuk melengkapi syarat dari University of Manchester agar saya benar-benar diterima.

Dalam masa menunggu pengumuman ini, tidak sengaja rekan sekelas saya semasa kuliah memberikan informasi Beasiswa Russia untuk pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi S1/S2/S3 disana. Sekilas membaca kabar ini, saya tak terlalu menaruh perhatian dan pikiran saya hanya fokus menunggu kabar dari LPDP yang menentukan apakah saya dapat beasiswa atau tidak, karena jika tidak maka saya tak mungkin belajar di luar negeri. Setelah semua usaha yang saya lakukan untuk diterima di University of Manchester dan LPDP, akhirnya hari pengumuman tiba dan ternyata saya belum diterima. Melihat hasil ini tentu saya sangat kecewa sekali karena saya tak mungkin membiayai kuliah saya diluar negeri dengan biaya sendiri dan kembali membebankan pada orangtua.

Masih dalam suasana sendu dan memikirkan bagaimana kelanjutan arah hidup saya saat itu, entah mengapa saya teringat tentang pengumuman Beasiswa Rusia yang menawarkan program beasiswa selama 3 tahun untuk S2, yang terdiri dari 1 tahun Podfak atau kelas persiapan yang diisi hanya dengan belajar bahasa Rusia dan 2 tahun masa studi S2. Namun ketika saya mulai membaca informasi tersebut kembali, batas akhir pendaftaran hanya tinggal seminggu lagi. Akhirnya saya mencoba mendaftarkan diri untuk beasiswa Rusia, teringat betul saya tak bercerita kepada siapapun tentang ini, karena saat itu saya merasa bahwa tak ada yang spesial disana apalagi untuk saya yang seorang mahasiswa Hukum yang mayoritas lulusannya memilih belajar di Amerika, Inggris atau Belanda. Saya tak ingin ada orang berkomentar tentang betapa payahnya tempat yang saya pilih dan saya harus menanggung malu atas pilihan saya sendiri. Mempertimbangkan hal tersebut, saya memilih diam dan mengikuti prosesnya dalam kesunyian. Tak disangka, hambatan muncul beberapa hari setelah saya mengumpulkan berkas pendaftaran pada awal Maret 2014. Pusat Kebudayaan Rusia (PKR), selaku instansi yang menangani proses administrasi dan seleksi beasiswa Russia, mengatakan kepada saya bahwa berkas saya belum lengkap karena saya belum menyerahkan Ijazah S1 atau setidak-tidaknya surat keterangan lulus dari Universitas Gadjah Mada. Memang pada saat itu, saya belum lulus, belum pendadaran dan bahkan skripsi saya masih 80 persen. Mereka mengatakan bahwa saat itu berkas saya belum bisa diproses lebih lanjut. Kenyataan tersebut membuat saya tertegun dan mencoba memikirkan apakah ada alternatif lainnya atau menerima saja fakta ini dan tak usah berpikir tentang belajar di luar negeri. Dengan segala dinamikanya, saya berdiskusi dengan pihak PKR hingga akhirnya muncul satu kondisi dimana berkas saya dimungkinkan untuk diproses oleh pihak mereka. Mereka mengatakan bahwa akhir bulan Maret adalah batas akhir untuk mereka menyerahkan kepada tim yang akan memproses seluruh berkas pendaftar beasiswa. Oleh karena itu mereka memungkinkan berkas saya untuk diproses dengan syarat saya mampu melengkapi Ijazah atau SKL sebelum bulan Maret 2014 berakhir, dimana itu artinya saya hanya memiliki sekitar 2,5 minggu lagi untuk menyelesaikan skripsi, melakukan seminar skripsi dan pendadaran serta menunggu hasil akhir lalu mendapatkan SKL. Mengetahui kondisi seperti ini, saya memutuskan untuk mengambil tantangan mereka dan mencoba untuk lebih serius dan fokus dalam mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri.

Kondisi ini pula yang akhirnya memaksa saya menceritakan kepada beberapa dosen dan rekan seperjuangan di kampus untuk meminta saran serta bantuan untuk menyukseskan misi ini. Setelah melalui berbagai perjuangan, tepat tanggal 26 Maret 2014, saya berhasil menyelesaikan pendadaran skripsi dan menerima SKL serta transkrip nilai di hari yang sama. Bantuan dan dukungan dari pihak kampus memang saya rasakan sekali perannya dalam kehidupan saya di momen ini, meskipun ketika mereka mendengar saya pertama kali ingin ke Rusia, tak sedikit yang mempertanyakan dan meremehkan. Berat memang saat itu, selain harus berjuang untuk segera menyelesaikan skripsi dalam waktu singkat juga mempersiapkan mental, alasan dan respon yang tepat terhadap banyaknya komentar negatif atas niat saya belajar di Rusia.

Menunggu pengumuman beasiswa Rusia ternyata menghabiskan waktu lumayan lama, hampir 6 bulan lebih sejak wisuda saya pada bulan Mei. Oleh karena itu, ditengah masa tersebut saya mencoba mengikuti salah satu ujian masuk S2 di salah satu kampus negeri ternama di Indonesia yang berlokasi di Salemba dan Depok. Tak terlalu lama menunggu, hasilnya keluar dan saya diterima di kampus tersebut. Pikiran saya mulai kembali bimbang, apakah saya harus mengambilnya dan memutuskan untuk tak lagi menunggu pengumuman beasiswa Rusia, serta melupakan impian belajar di luar negeri. Saat itu saya merasa zona aman saya untuk tetap berada di Jakarta dengan segala fasilitasnya dan menempuh pendidikan yang sudah jelas akhirnya bagaimana. Hingga satu hari sebelum periode daftar ulang di kampus negeri tersebut seharusnya dilakukan, PKR mengirimkan saya kabar. Perjuangan saya berujung manis. Setelah berkas saya diterima dan beberapa bulan setelahnya saya dipanggil untuk wawancara dengan Pak Direktur Pusat Kebudayaan Rusia. Saya termasuk dari beberapa orang yang dinyatakan secara resmi menerima Beasiswa dari Pemerintah Federasi Rusia untuk belajar bahasa rusia (Podfak) selama satu tahun di Russian State Hydrometeorological University dan melanjutkan pendidikan S2 atau master selama dua tahun dalam bidang Hukum di Saint Petersburg State University.

Mengeras badan saya tak bisa bergerak, bingung harus merespon seperti apa. Diterima di salah satu kampus terbaik di Rusia dan akan satu almamater dengan para tokoh besar di Rusia, seperti Lenin, Putin dan Medvedev yang ternyata mereka dulu menimba ilmu sebagai mahasiswa hukum di kampus yang sama seperti saya. Mungkin ini memang tak terlalu berkilau seperti apabila kamu diterima di Harvard atau Cambridge, tapi yang jelas ini akan mengantarkan kamu menjadi sosok yang berbeda karena kamu ditempa di tempat yang beda dan memiliki perspektif berbeda dalam melihat dunia. Namun, saya masih takut harus meninggalkan tanah air dan menghadapi sesuatu yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Membayangkan saya untuk hidup di Negara yang dipimpin Putin, belajar di kota Lenin dan mengalami segala dinamikanya di negara yang dulu Stalin pernah berkuasa, membuat saya memikirkan kembali akan jadi apa saya kelak nanti selesai studi dari sini. Alumni saya belum pernah ada yang menimba ilmu di sini, kawan-kawan saya hampir sebagian besar meremehkan dan mempertanyakan alasan saya ke sini. Jika berbicara soal “gengsi”, maka menimba ilmu di Rusia menjadi suatu hal yang pasti ditanggapi dengan pertanyaan “mengapa atau kenapa” bukan pujian, seperti yang dialami oleh kawan-kawan saya yang menimba ilmu di Inggris, Belanda atau Amerika. Mendapati situasi ini, hampir dipastikan, saya akan melepas beasiswa Rusia dan memilih untuk hidup nyaman di Indonesia dan menjalani rutinitas seperti biasa.

Namun Tuhan selalu saja menunjukkan kuasanya di saat yang tepat. Ia sang maha membolak-balikkan hati manusia, mampu mengubah perspektif dan keyakinan saya menjadi sangat berubah dalam waktu singkat. Dari saya yang merasa inferior hingga sekarang dengan senang hati mengatakan saya belajar di Rusia dan mengajak pemuda Indonesia melakukan hal yang sama. Seperti kata Ralph Waldo Emerson dalam quote di awal tulisan ini, saya memutuskan untuk menentukan jalan hidup saya bukan dengan mengikuti jejak orang lain atau berjalan di jalan yang sudah jelas akan mengarahkan hidup saya ke mana. Namun sebaliknya, saya memilih membuka jalan baru dan meninggalkan jejak saya di sana. Bagaikan mendaki gunung, saya memutuskan untuk mendaki ke atas, melewati jalan yang terjal dan gelap. Mengambil resiko selama 3 tahun ke depan dan sekaligus menghabiskan masa muda saya untuk ini. Dibalik ini semua, saya percaya bahwa dalam setiap pendakian, pada akhirnya kita akan diantarkan kepada sang puncak di mana kita berada lebih tinggi dari posisi kita sebelumnya. Kita akan melihat keindahan yang luar biasa dari puncak dimana kita bisa melihat dunia. Hidup ini memang sebuah pertaruhan, kita tak mungkin memenangkannya apabila kita bahkan tak memperjuangkannya. Jadi, untuk kalian pemuda Indonesia, ayo nyalakan semangatmu, jangan takut untuk menjadi berbeda. Berhenti mengikuti jalan orang lain dan segera buat jalan sukses dalam hidupmu sendiri. Rangkai kisah perjuanganmu dan tinggalkan jejakmu untuk yang lain agar bisa menjadi cahaya bagi yang lain. Semangat berjuang pemuda Indonesia, Go and Make Your Own Success Path!.

  • Gigih Prakasa

    selamat mas bisa kuliah di universitas no 1 di rusia, satu almamater dengan medvedev, putin dan lenin.. jangan dengarkan apa kata orang.. benar kata mas buka jalan buat kita sendiri maju terus pantang mundur!

    • terimakasih atas ucapannya dan dukungannya.. semoga mas Gigih juga bisa membuat jalan suksesnya sendiri :)

  • yudha

    Selamat Mas, sudah mendapatkan Beasiswa Pemerintah Federasi Rusia.
    Kalo ndak salah beasiswa rusia itu gak menanggung biaya hidup, cman sbtas biaya bljar bhasa rusia trlebih dahulu lalu biaya kuliahnya,
    Apa slain dpat beasiswa rusia, mas rahmat dpat bantuan biaya hidup dri lmbaga lainnya?
    mohon info nya/

    • Rahmat Dwi Putranto

      terimakasih atas ucapannya, iya betul sekali itu. tapi inshaAllah akan ada bantuan dari pemerintah Indonesia. untuk detailnya, saya akan tulis di esai saya selanjutnya :)

  • ahdoy

    Saya ingin mengikuti beasiswa LPDP dengan tujuan langsung universitas di Rusia. Bisakah tanpa mengikuti alur beasiswa Rusia (dari Pemerintah Rusia) yang melalui Pusat Kebudayaan Rusia tersebut?

    • Tentu mas bisa langsung lewat LPDP. tapi perlu diingat, hanya sekitar 2 universitas rusia yang masuk dalam list LPDP, dan dua univ tersebut memang top nya di Rusia. Monggo, silahkan dipilih mau ke Saint Petersburg State University atau Lomonosov – Moscow State University.

      • ahdoy

        Pertanyaan lainnya mas: Apakah LoA bisa didapatkan dengan meminta bantuan pihak PKR atau harus mengontak sendiri secara langsung ke pihak kampus yang dituju?

  • Arief Fauzi

    saya mau apakah bisa mendaftar LPDP tapi kita belum lulus/menjelang mau lulus,, ? kalau iya prosedurnya gimana?

  • Dewi Khornida

    Selamat mas, akhirnya perjuangannya membuahkan hasil yang manis
    Mas, saya sekarang baru saja menyelesaikan SI, tetapi belum wisuda
    kira2 apa saja mas yang perlu dipersiapkan untuk untuk mendapakan beasiswa S2 di Rusia.
    thanks Mas

  • Dinita Samanta

    kuliah di luar itu suatu keinginan tapi kadang merasa ciut untuk melangkahnya..
    gmna ya caranya biar brani?

    • Halo Dinita,
      Tenang aja, harus berani :) Kenapa? Karena hakikat pemuda sudah seharusnya menjadi pemberani dalam mengambil langkah masa depannya.
      Caranya sederhana, Jangan terlalu banyak berpikir dan segera lakukan langkah untuk melengkapi berkas pendaftaran untuk mendapatkan beasiswanya atau langsung ke universitas yang dituju. Semangat dan Yuk Langsung Bergerak :)

  • sshsjs

    Selamat mas, atas perjuangannya mendapatkan beasiswa, mau tanya ya mas, sebelum mendaftar kuliah bukankah semua dokumen harus di terjemahkan ke bahasa rusia terlebih dahulu? saya juga ingin mendaftar, tetapi belum menemukan notaris tersumpah untuk menterjemahkan dokumen kebetulan didaerah saya tidak ada notaris yg bisa menterjemahkan, apakah mas bisa memberi referensi untuk hal ini?

    Terima kasih

  • Wahyudio Mahesa

    Tulisan yang sangat bagus dan informatif, saya mahasiswa yang sedang menempuh S1 dan sejak dahulu sangat ingin bisa mendapatkan S2 di Russia.

    Saya ingin bertanya mas Rahmat, apakah beasiswa yang mas Rahmat terima sudah termasuk living cost? atau hanya tuition fee saja?

    • Halo mas Wahyudio Mahesa, sekarang ini beasiswa pemerintah rusia hanya membiayai tuition fee dan mensubsidi biaya asrama, bahkan di beberapa universitas dibebaskan biayanya. untuk living cost, mereka hanya kasih beberapa saja, namun tenang hidup di Rusia itu sangat murah dibandingkan negara eropa yang lainnya :)) serta, pengalaman seumur hidup yang luar biasa pernah belajar di Rusia :)

      • Lutfi Khoerudin

        Mas sy ngebet nih pgn ambil beasiswa s2 di Univesity of Manchester..
        Sy mau tanya gimana sih cara pendaftarannya biar sy bisa dapet LOA untuk melengkapi syarat dr LPDP..
        Kalau boleh minta CP Mas @Rahmat Dwi Putranto..
        soalnya ada banyak hal yg mau sy tanyakan ke mas Rahmat sbg org yg pernah diterima di manchester
        Warm regards..
        Lutfi

  • careen dwi f

    mas kebetulan saya baru masuk di universitas padjadjaran sastra rusia, langkah apa yang harus di ambil dari sekarang supaya bisa meneruskan s2 di rusia dg beasiswa? terimakasih:)

    • Kuliah yang baik, dapat nilai bagus dan pengalaman non akademik yang luar biasa, lalu bersiap diri karena setiap awal tahun, beasiswa Rusia dibuka :))

  • aku juga lg bimbang nih…

  • Tya Asril

    Haii kakak, aku tya dari Medan. Aku mahasiwi hukum pidana juga, aku mau tanya tentang perbedaan matakuliah hk pidana di rusia dan indoneseia. Apa hal tersebut gk menyulitkan kakak selama belajar?? Dan bagaimana karir kedepannya kalau melanjutkan S2 hukum pidana disana? Kebetulan aku juga pengen lanjut S2 hukum pidana di rusia kak, karena adik aku sekarang sedang kuliah S1 di rusia jurusan fisika. Mohon penjelasannya ya kak, Terima Kasih :)

  • Kemal Mustofa

    Maaf mas boleh minta sarannya engga ya, saya pengen ngambil s1 fisika, di Rusia, tapi apa yg harus saya lakukan ya, yang harus di pelajari apa saja, terimakasih

  • Denny Salim

    Dear Mas Rahmat yang baik, bolehkah Mas Rahmat berbagi cara mendaftar beasiswa S3 di Rusia? Kebetulan saya juga tamatan Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara yang ingin mencari beasiswa di luar negeri, namun berada di Medan. Apakah saya harus ke Jakarta untuk mempermudah pendaftarannya?Terima kasih atas infonya

  • Maryam

    Hallo kak..
    Tulisan nya sangat menginspirasi
    Tahun ini aku jg lg berjuang kak utk kuliah disana.
    Namun, di pertengahan jalan saya menjadi ragu.
    Bagaimana kehidupan disana nanti.
    Mengingat bahwa beasiswa yg diberikan oleh pihak PKR hanya sebatas uang kuliah. Lalu dengan bagaimana dengan living cost, biaya transport dll.Sebab yg saya tahu, biaya hidup disana tidaklah murah.
    Mohon kak bisa berbagi cerita, agar lebih memantapkan pilihan saya
    Terima kasih

  • Wang Mei Lie

    Kak, saya bener2 terinspirasi dan termotivasi dari cerita kakak.
    Saya masih maba sih kak di fakultas hukum dan saya rencana mau S2 di sana tapi yang saya mau tanyakan kalau kita mau beasiswa dibidang “hukum” harus nunggu dari sana ya? Maksudnya kaya disana ada beasiswa hukum/tidak atau kita langsung kirim dokumen gtu kak? kalo ipk kita bagus kita layak dapet beasiswa? atau gimana?
    Hehe mohon pencerahannya kak.

  • shilvy andini sunarto

    Insporing banget ka! Saya baru mau ikutan LPDP edufair 2017 nih mau tau gimana caranya. Saya buta banget tentang LPDP dan saya jg mau banget kuliah di Rusia. Saya bentar lg lulus dr jurusan Komunikasi di univ swasta Depok. Emang ga percaya diri banget buat daftar diluar negeri :(

  • alenda

    Mas rahmat mohon infonya untuk biaya hidup di rusia, gimana cara dapat beasiswa lain? Saya mau coba daftar beasiswa pemerintah rusia tahun ini tapi bingung dpat beasiswa untuk biaya hidup dan lainya.. Terimakasih

  • choerunnisa choerunnisa

    Mas, beasiswa di sana termasuk biaya hidup ngga? Terima kasih.

  • farin horsley

    hello.
    my name is farin horsley.

    thumbs up for you :)
    may you would reach your success :)

    are you in st pietersburg now ?
    would you mind if i reach you by emails ?

    regards,

  • shilvy andini sunarto

    Selamat mas atas kesuksesannya! Saya jg ingin dapat beasiswa ke rusia. Sebentar saya lg saya lulus S1 tapi saya urungkan niat dulu krna kebentur biaya. Smoga dilain waktu saya bisa seperti mas mendapatkan beasiswa! Amin

  • Memang kemiskinan terkadang membawa pd penderitaan dan tertundanya sesuatu. Semisal anak kita sakit dan harus dirawat di rumah sakit, dan itu butuh biaya, bagaimana kalau tdk ada biaya? Ini terjadi pada bayi ini. Sialhkan baca selengkapnya ya: http://www.santri.co/2017/09/tidak-punya-biaya-bayi-baru-lahir.html