Millennial Trains Project 2014, Perjalanan 10 Hari Berkereta dari Portland ke New York

0
107
Millennial Trains Project railcars stationed at Whitefish, MT
Image Source: http://threadglobal.co/mtp-media/#top

Menerka ukuran sebuah negara bukan hal yang mudah. Ketika pertama kali tiba di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2013 untuk melanjutkan studi, secara instan terlintas di benak saya untuk mengunjungi kota-kota dan berbagai ragam khazanah geografis negara ini. Namun seiring waktu, saya sadar bahwa Amerika Serikat adalah negara dengan cakupan geografis yang amat besar sehingga target tujuan travel pun mesti saya pangkas satu per satu. Syukurlah, melalui program Millennial Trains Project 2014, saya tidak hanya mendapatkan kesempatan memenuhi angan-angan berpetualang, lebih dari itu saya sangat beruntung dapat terlibat dalam upaya membentuk komunitas dan belajar bersama 25 inovator muda Amerika Serikat; 4 rekan Fulbrighter dari Kolombia, Pakistan, Rusia, dan Yaman; on-train mentors; serta sosok-sosok inspirasional yang kami temui di 7 kota tempat singgah selama perjalanan kolosal sejauh 5,000 km dimulai dari kota Portland, negara bagian Oregon, hingga kota New York — atau kurang lebih setara dengan jarak dari Aceh ke Papua.

Dome Car, ruang kelas bergerak selama perjalanan Millennial Trains Project 2014 (Image source: http://threadglobal.co/mtp-media/#MTP)

Ide Millennial Trains Project (MTP) berawal dari pengalaman Patrick Dowd, Founder & CEO MTP, berkereta mengelilingi India dalam program Jagriti Yatra pada tahun 2011. Dia berujar daripada menggunakan sebagian stipend Fulbright U.S. Student untuk membayar sewa tempat tinggal, Patrick memilih memperkaya pengalamannya dengan berpetualang menyusuri India, salah satunya dengan mengikuti program Jagriti Yatra. Pertengahan tahun 2013 kemudian menjadi momen bersejarah perjalanan MTP pertama dengan rute dari San Francisco menuju Washington D.C. Pada pertengahan tahun 2014 ini, MTP menyusuri kota-kota di sisi utara Amerika Serikat: Portland, OR; Seattle, WA; Whitefish, MT; St. Paul/Minneapolis, MN; Milwaukee, WI; Chicago, IL; hingga New York, NY. Selaras dengan visi perjalanan pertama, MTP 2014 menawarkan platform bagi anak-anak muda (i.e., millennials) untuk memahami permasalahan aktual dan menggali solusi di berbagai lokasi sebagai basis untuk turut serta berkontribusi secara kolektif demi masa depan Amerika Serikat, atau bahkan, dunia. Relevan dengan visi tersebut dan seiring dengan semangat MTP mengubah paradigma travel sebagai kesempatan untuk belajar dan bukan dalam rangka turisme saja, kegiatan-kegiatan selama perjalanan dipenuhi dengan aktifitas edukatif. Gerbong kereta adalah kelas bergerak tempat berdiskusi dengan on-train mentors, antar peserta, dan Tyler Metcalfe, reporter National Geographic yang turut serta; maker space dalam gerbong merupakan inkubator kreasi dengan fasilitas 3D printing; dapur 2×3 m dalam kereta menjadi wahana untuk menyaksikan bahan-bahan lokal di setiap kota diolah menjadi sajian untuk 40 individu; dan waktu singgah di setiap kota adalah momen berharga untuk mengerjakan proyek sesuai agenda masing-masing peserta dan juga untuk belajar dari tokoh-tokoh setempat. Sebagai ilustrasi, di Portland kami menyimak paparan Nancy Hales, First Lady of Portland, tentang transformasi Portland menjadi ’The Mecca of Urban Planning’; di Seattle kami berdiskusi dengan Eric Liu, Founder Citizen University; di Whitefish, negara bagian Montana, kami berdiskusi dengan Chad dan Susan Waite yang menanggalkan riuh rendah hidup berkota di Seattle dan memilih menghidupkan usaha kecil menengah melalui Earthstar Farms; di Milwaukee kami disambut oleh Wali Kota Milwaukee, Tom Barrett.

Sebagaimana halnya peserta yang lain, MTP merupakan kesempatan memperdalam proyek yang telah direncanakan sebelum perjalanan dimulai. Selama perjalanan, saya mengerjakan proyek bertajuk “Millennials and Future Cities” dengan tujuan untuk menggali preferensi anak-anak muda terhadap fasilitas dan karakteristik kota dan berdiskusi dengan perencana kota di setiap kota tempat singgah sebagai basis mendapatkan gambaran kota di masa mendatang. Di samping mengerjakan proyek individu, menyimak paparan rekan-rekan peserta MTP tentang proyek-proyek yang mereka kerjakan juga membuka wawasan saya tentang upaya inovator-inovator muda merespons kondisi aktual di Amerika Serikat, e.g., mitigasi bencana, segregasi rasial, imigrasi, isu-isu lingkungan hidup,  transportasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan. Mengingat spesialisasi keilmuan yang saya tekuni saat ini, keragaman topik tersebut sangat menyegarkan.

Keikutsertaan saya bersama 4 Fulbrighters dan pengalaman yang kami dapat selama berbagi gerbong dengan millennials Amerika Serikat kemudian membawa Fulbrighters menjadi panelis di kantor U.S. Mission to the U.N. di New York dalam sesi panel bersama Institute of International Education, U.S. Department of State, dan beragam audiens. Dua hari kemudian pada 20 Agustus 2014, bersama dengan partisipan MTP dari Amerika Serikat, kami mengikuti sesi panel serupa di White House, Washington D.C. Sungguh, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya perjalanan berkereta MTP dapat membawa diri ini dalam forum-forum tersebut.

Perjalanan lima ribu kilometer dari Portland ke New York akan selalu menjadi bagian dan momen penting dalam hidup saya, akan tetapi lebih dari itu, perjalanan MTP telah mendefinisi ulang makna travel bukan hanya sebagai sarana ’seeing things’ tetapi untuk ‘doing and making things’ sesuai paparan salah satu on-train mentor, Robert Reid — Digital Nomad, National Geographic Travel. Terlebih, sejauh saya menikmati pengalaman luar biasa ini, perjalanan MTP juga membuat saya sadar bahwa saya sendiri pun justru belum mengeksplorasi Indonesia. Begitu kembali ke tanah air, saya ingin lebih memahami Indonesia melalui perjalanan dengan ‘tujuan’, bukan sebagai turis saja.

Catatan:

Rekam perjalanan Millennial Trains Project 2014 dari sudut pandang saya dapat dilihat di akun Instagram (@abiwidita), Vimeo, dan blog Fulbright Millennial Trains Project. (Sumber Featured Image di atas: http://threadglobal.co/mtp-media/#MTP)

SHARE
Previous articleTertarik Magang di Silicon Valley? Daftar Mentorship Program Indo2SV!
Next articleShould you choose to go to college or university in the United States?
Alyas Abibawa Widita is a Fulbrighter 2013 from Yogyakarta, currently pursuing a Master of Science in Urban and Regional Planning at the University of Iowa. Graduated with Bachelor of Engineering in Architecture from Indonesia’s Gadjah Mada University, as well as attended a one year academic exchange during his senior year at Escuela Tecnica Superior Arquitectura y Geodesia, Universidad de Alcala, Spain. Widita’s research interests focus on the dynamic transformation of built environment and its influence on the way people live, move and behave both in domestic and international settings.