Hari-hari Biasa di NTU: Nikmati yang Baik

2
623

Pengalaman berkuliah di Nanyang Technological University (NTU) tidak lepas dari pengalaman-pengalaman kecil dan sederhana yang membuat hari terasa nyaman dan indah untuk dijalani. Di pos ini aku akan memberi sedikit gambaran seperti apa rasanya berkuliah di NTU dari sudut pandangku.

Hal pertama yang aku lakukan untuk memulai hari adalah bangun pagi. Sesudah bangun pagi, aku bisa saja tidur lagi, bangun lagi, dan mendadak kelas sudah hampir dimulai (dan terjadi beberapa kali), lalu ambil tas dan barang-barang yang diperlukan, langsung berangkat. Tapi, sesudah bangun pagi hal terbaik yang baik dilakukan menurutku adalah sarapan dengan menu yang dijual di kantin asrama (kopi atau teh susu dalam cangkir kecil, 2 butir telur setengah matang, dan roti bakar dengan selai dan mentega, seharga S$1.50, sekitar Rp 14.000,00). Boleh dipercaya atau tidak, itu sudah hampir sama mengenyangkan dibandingkan dengan nasi campur yang (hampir) pasti lebih mahal, jadi set sarapan menjadi pilihan yang sangat populer untuk memulai hari.

Kantin asramaku (kantin 14), pada saat makan pertamaku di Singapura sesudah aku tiba di sini untuk pindah. Tidak berpendingin udara, tetapi bukan masalah. Di atas lapak-lapak ada ruang komputer, ruang belaajr tambahan, dan ruang permainan untuk penghuni asramaku.
Set sarapan sesudah gigitan pertama. Biasanya mereka menyajikan telur setengah matang, tetapi kamu bisa meminta telur yang benar-benar matang. Ada juga beberapa kedai yang hanya menyediakan wadah berisi air panas dan telur mentah – hanya kamu yang tahu seberapa lama kamu mau menunggu hingga telurnya matang.
Telur disajikan setengah matang karena sesudah isi telur ditaruh di dalam cawan, lada dan kecap asin (sesuai selera) dicampur dengan telur, lalu diminum seperti waktu meminum kopi di warung. Aku sendiri lebih suka mencelup roti panggang ke dalam telur sebelum meminum kelebihannya, sama seperti nasi dan lauk. Terkesan menjijikkan? Minta saja telur yang benar-benar matang.

Sesudah sarapan, toilet dengan pancuran sudah siap menanti. Satu lagi yang aku suka di sini, air yang keluar dari pancuran bisa diatur suhunya (jadi tidak mandi air dingin terus). Ruang pancurannya memang sederhana, tetapi bisa dikatakan cukup bersih dan memadai.

Sudah waktunya berangkat! Aku terbiasa berangkat dari asrama sekitar 30 menit sebelum kelas pertama dimulai. Ada beberapa pilihan untuk pergi ke kompleks akademik: bis umum (berbayar tetapi praktis dan nyaman), bis internal NTU (gratis, tetapi kadang agak merepotkan), atau jalan kaki, semuanya memerlukan waktu sekitar 15 – 20 menit (termasuk waktu tunggu untuk bis).

Ada beberapa cara untuk menuju ke kompleks akademik utara, tempat aku belajar. Aku biasanya menggunakan jalur ungu muda (bis umum) dan jalur hijau (jalan kaki).

Bis umum: aku tinggal di asrama 14, jadi ada perhentian bis di depan ruangan umum asrama 14 dan 15 (perhentian bis dipakai bersama dengan asrama 15) dimana ada bis umum yang berhenti disana. Perjalanan dari asrama 14 ke kompleks akademik utara (tempat aku berkuliah saat ini) memerlukan S$0.77 (sekitar Rp 7.000) walaupun hanya berjarak sekitar 1 km (rute bis memutar lewat NIE, sekolah gurunya Singapura), tapi frekuensi bisnya cukup bisa diandalkan. Bisnya terawat dan biasanya tidak terlalu sulit untuk mendapatkan tempat duduk.

Interior salah satu bis umum. Mungkin agak mahal untuk jarak pendek seperti dari asrama ke kompleks akademik, tetapi nyaman, bersih, dan bisa diandalkan.

Bis internal NTU: Ada 2 opsi untuk pergi ke kompleks akademik: perhentian bis seberang asrama 14 kalau mau ke kompleks akademik selatan (misalnya bagi rekan-rekan di sekolah bisnis atau sekolah ilmu sosial dan kemanusiaan) atau perhentian bis asrama 12 dan 13 (jalan hampir 400 meter) kalau mau ke kompleks akademik utara. Layanan bisnya tidak serutin bis umum (walaupun itu mungkin karena gratis), jadi aku lebih memilih bis umum, atau opsi lain lagi yang juga gratis:

Foto salah satu bis internal NTU pada salah satu pagi di akhir pekan (jadi cukup sepi). Tidak seperti bis umum yang relatif terstandar, bis internal NTU bisa cukup bervariasi. Ada yang lantainya rendah, ada yang punya pegangan tangan untuk penumpang berdiri, dan sebagainya.

Jalan kaki: Pilihan yang cukup cerdas (apalagi sesudah sarapan dalam porsi yang agak besar). Di sini jalan kaki menjadi pilihan yang cukup populer, bahkan bisa dikatakan olahraga yang paling sering dilakukan di sini adalah naik turun tangga. Kenapa naik turun tangga? Medan NTU sendiri cenderung naik dan turun (apa itu mungkin kenapa kampus NTU dikatakan sebagai salah satu yang paling indah di dunia?). Jadi bisa dikatakan jalan kaki ke dan dari kompleks akademik merupakan salah satu bentuk olahraga. Ini salah satu hal yang paling menantang: menaiki tangga dari NIE ke jembatan penyeberangan antara NIE dan kompleks akademik utara.

Tangga dari NIE ke jembatan penyeberangan, difoto dari sisi NIE. Apa kamu sudah siap untuk tantangan ini?

Pada saat di perjalanan, aku juga memeriksa jadwal kelasku di telepon genggam (untuk apa jadwal dicetak kalau bisa cukup dilihat?), terutama karena lokasi kelas berbeda-beda bahkan untuk mata kuliah yang sama (contoh: kelas CZ1004 bisa diadakan di LT19 (Jumat 0930 – 1030), TR+7 (Senin 1430 – 1530), atau HWLAB1 (Hardware Lab 1, Rabu 0830 – 1030, tiap 2 minggu sekali)).

Jadwal kuliahku untuk semester 1. Urutan membacanya seperti ini: Kode kelas – jenis kelas (lecture/tutorial/lab) – grup kelas – ruangan (LT: lecture theatre, TR: tutorial room)- keterangan (misal waktu berlaku, kalau ada). Istilah TGIF tidak berlaku karena di hari Jumat ada 7 jam pelajaran, lebih banyak daripada hari-hari lainnya, tapi adanya terima kasih karena setiap hari di sini aku masih bisa menikmati hidup yang berkecukupan.

Sesudah sampai di kompleks akademik, aku kemudian mengikuti kelas-kelas yang sudah terjadwal. Di sini, satu mata kuliah bisa sampai 3 kelas tiap minggu, walaupun itu berarti tiap kelas hanya berlangsung selama 1 jam (untuk kebanyakan kelas) atau 2 jam. Ini tiga jenis kelas di NTU:

  • Lecture: Pada dasarnya kelas jenis ini bertujuan untuk memberikan ceramah tentang konsep-konsep yang perlu dipelajari. Karena sifatnya berupa ceramah, kelas bisa diadakan dalam kelompok besar dan di ruangan-ruangan yang cukup. Kelas-kelas lecture tidak diabsen, jadi ada kelas-kelas tertentu di mana ada banyak siswa terdaftar tetapi sangat sedikit yang datang untuk kelas lecture. Contoh kejadian seperti itu yang pernah aku alami yaitu di kelas prinsip-prinsip ekonomi waktu 19 September, kelas pilihan yang sangat populer untuk anak-anak teknik dan diadakan di salah satu teater lecture yang cukup besar (kapasitas maksimum lebih dari 500 orang), tetapi hanya kurang dari 100 orang yang datang pada kelas itu (aku menghitung jumlah siswanya karena ruangannya terasa benar-benar sepi dan dosennya terkesan kurang menggugah, apalagi itu kelas terakhir sebelum akhir pekan, di jadwal tertulis HE9091, Jumat 1630 – 1830). Kalau diperlukan, dosen bisa memanfaatkan alat pengeklik (clicker) untuk membuat pelajaran lebih interaktif, seperti untuk kuis. Hal ini memudahkan dosen dan siswa karena siswa tidak perlu menggunakan lembar jawab untuk kuis dan hasil bisa tercatat hampir seketika.
Suasana di teater lecture 19A, salah satu teater lecture yang cukup besar di NTU, sekitar 10 menit sebelum kelas dimulai. Biasanya baru ada banyak siswa datang sekitar 5 menit sebelum kelas dimulai.
Alat pengeklik (berwarna abu-abu) bisa digunakan untuk absensi di kelas laboratorium tertentu dan kuis di teater lecture atau ruang tutorial. Takut hilang? Gantung saja bersama dengan kartu dan kunci.
Partisipasi di kelas ide-ide hebat dalam komputasi di mana siswa diminta untuk mengambil foto dan mengunggahnya di situs pembelajaran online. Diambil di LT19, salah satu teater lecture berukuran relatif kecil.

Update (Agustus 2016):

Mulai tahun ajaran 2016/2017 mahasiswa baru tidak disediakan alat pengeklik fisik lagi dan mulai berpindah ke aplikasi pengeklik ResponseWare.


  • Tutorial: Kelas jenis ini biasanya bertujuan untuk membahas soal-soal latihan dan diskusi, walaupun ada yang juga membahas konsep (karena tidak ada lecture, seperti komunikasi teknik (HW0188 di jadwal)). Kelas-kelas ini biasanya diajar oleh mahasiswa yang sedang melakukan pascasarjana di NTU di jurusan yang bersesuaian, namun ada beberapa kelas yang diajar langsung oleh dosennya (yang juga mengajar di lecture untuk kelas tersebut entah di paruh semester tersebut atau paruh semester lainnya). Contoh: pak Jones akan mengajar di lecture mata kuliah ide-ide hebat dalam komputasi di paruh kedua semester ini. dan mengajar di tutorial untuk mata kuliah tersebut. Tutorial banyak bersifat interaktif, sehingga ruang-ruang tutorial yang sudah direnovasi di NTU (biasanya disebut TR+, dan sudah ada cukup banyak TR+) juga didesain agar kami bisa berkolaborasi dengan rekan-rekan di kelas menggunakan berbagai fasilitas yang ada. Menurut pandanganku, hal yang paling menyenangkan dari TR+ adalah banyaknya stopkontak dan layar yang tersedia, sehingga aku bisa mengisi baterai laptop dan HP sesuka hati dan ke arah manapun aku menghadap aku masih bisa melihat materi yang disampaikan di layar (penting karena kami duduk melingkar). Kelas-kelas tutorial terkadang diabsen, terkadang tidak, tergantung kebijakan pengajar.
Ruang tutorial yang sudah direnovasi (biasa disebut TR+) dengan kertas-kertas yang ditempelkan di papan tulis sebagai salah satu bentuk partisipasi siswa pada saat kelas komunikasi teknik (itu kelasku!) beberapa jam sebelum foto diambil.
Apa yang tampak berwarna merah muda di papan tulis tersebut: jawaban dari pertanyaan “Apa itu cinta?”, yang boleh dijawab secara teknis (kertas putih) atau non-teknis (kertas merah muda).
Salah satu jawaban yang paling aku suka karena mudah dipahami dan bermakna (ada yang menjawab pertanyaan yang sama dengan jawaban, “Aku cinta kamu. Aku juga cinta kamu.”, yang cukup jelas menyimpang).
Jawabanku untuk pertanyaan yang sama. Aku bingung apakah ini termasuk definisi secara teknis atau non-teknis, dan ada satu kesalahan fatal yang baru disadari: cinta adalah sebuah perasaan, bukan sejenis perasaan. Tulisanku di sini terasa lebih mudah dibaca daripada tulisanku sehari-hari.
Pak Jones, salah satu dosen kelas ide-ide hebat dalam komputasi yang juga mengajar di kelas tutorial. Beliau salah satu dosen yang paling bersemangat yang aku tahu selama aku berada di NTU.
  • Laboratorium: Kelas laboratorium atau kelas peragaan untuk kelas-kelas inti (MH1812 dan semua kelas yang berawalan dengan CZ di jadwal) di jurusanku dilakukan tiap 2 minggu sekali, masing-masing sesi 2 jam. Salah satu hal yang aku suka dari laboratorium di sini adalah laboratorium-laboratorium di sini menyediakan waktu-waktu tertentu untuk bebas mengakses laboratorium (malah bebas mengakses laboratorium selama minggu istirahat, asalkan ada pengawas lab). Ini sangat membantu ketika aku belum bisa menyelesaikan eksperimen dalam waktu kelas biasa atau aku perlu lebih banyak pengalaman dalam hal tertentu, misalnya untuk menyusun rangkaian sirkuit logika. Semua kelas laboratorium diabsen, dan terkadang ada kuis di akhir sesi lab, dilakukan secara online.
Foto ruang kerja pada saat eksperimen pertama kelas logika digital di salah satu laboratorium pada saat kelas sudah berakhir.

Berkuliah di NTU belum lengkap tanpa urusan makan. Di kompleks akademik dan asrama-asrama terdapat berbagai jenis makanan tersedia untuk dibeli, termasuk makanan cepat saji (Pizza Hut cabang NTU akan buka sesaat lagi di dekat KFC cabang NTU). Waktu periode makan siang (12.00 – 13.30), pasti ada antrean cukup panjang di hampir semua tempat makan di kompleks akademik. Itu alasan kenapa aku kadang mengganti pola makan dari makan pagi – makan siang – makan malam menjadi gabungan makan pagi dan siang (10.30 – 11.30) – makan sore (16.30 – 18.30) – makan larut malam (22.30 ke atas, opsional dan buat sendiri di kamar) untuk menghemat waktu mengantre. Patut diperhatikan juga bahwa makanan di NTU hampir selalu lebih murah daripada makanan di luar kampus, termasuk di kedai makanan cepat saji dan warung kopi (seperti Starbucks yang sekarang sudah tutup dan The Coffee Bean & Tea Leaf, di mana keduanya memberikan diskon sekitar 10%). Walaupun rasa makanan di Singapura pada umumnya tidak sekuat di Indonesia dan harganya jauh lebih mahal (mulai dari 2 kalinya di Indonesia), tetap saja pengalaman makan di NTU masih cukup memuaskan. Kalau kamu mungkin merasa kurang terbiasa dengan rasa yang mungkin sedikit hambar, ada satu tips sederhana: jangan mengonsumsi terlalu banyak makanan Indonesia (terutama mi instan dari Indonesia) di sini. Sejak aku tiba di Singapura pada 1 Agustus, aku belum pernah makan mi instan buatan Indonesia.

Set ayam goreng untuk salah satu makan sore di KFC cabang NTU. Tidak seperti di Indonesia, jangan berharap ada nasi di KFC untuk set ayam goreng. Pilihannya hanya 2: kentang dihancurkan atau kentang goreng keju (tambah biaya lagi). Selain itu, saos sambalnya tidak sepedas dan rasa ayam gorengnya tidak sekuat di Indonesia.
Nasi campur dengan berbagai macam lauk di kantin kompleks akademik selatan.

Sesudah aku selesai mengikuti kelas-kelas yang dijadwalkan atau ada jeda antarkelas yang panjang (seperti di hari Selasa di mana ada jeda antarkelas hingga 3 jam), aku biasanya pergi ke perpustakaan Lee Wee Nam. Perpustakaan yang didedikasikan untuk bacaan-bacaan sains dan teknik ini merupakan salah satu bangunan yang menurut pandangan pribadiku merupakan salah satu bangunan yang sentral sebagai pusat informasi di NTU dan tampak demikian dengan desainnya yang tampak unik tanpa mengorbankan keseragaman desain yang tampak sangat jelas di kompleks akademik. Lokasi favoritku di perpustakaan adalah di lantai 2 di mana banyak komputer tersedia untuk berselancar di internet, mengerjakan tugas, dan mencetak (toko percetakan ada di situ) dan lantai 5 di mana ada zona hening yang kondusif untuk belajar (tidak benar-benar hening, tapi setidaknya sudah cukup tenang). Di situ sejumlah kebutuhan untuk belajar sudah tersedia, sehingga kami tidak perlu sering keluar masuk perpustakaan. Sama seperti ruang tutorial tadi, ada cukup banyak stopkontak tersedia dan koneksi internet kabel (kalau saja tidak suka atau memiliki masalah dengan koneksi internet nirkabel). Di samping itu, di perpustakaan juga tersedia pancuran air minum di setiap lantai, sejuk atau panas. Hal terpenting yang unik untuk hal ini menurutku adalah kursi empuk gaya kantor yang bisa direbahkan dan lantai karpet. Ketika kursi-kursi di asrama dan ruang kelas semuanya dari plastik dan logam, bisa duduk di kursi berbusa tebal sambil melepas alas kaki (sejuk!) sudah merupakan salah satu kenikmatan sederhana.

Perpustakaan Lee Wee Nam (bangunan melingkar di tengah) tampak sebagai objek sentral di kompleks akademik utara.
Perpustakaan Lee Wee Nam lantai 2 sampai 4 (tidak ada lantai 1 karena dipakai untuk ruangan lain) tampak dari lantai 3.
Perpustakaan Lee Wee Nam lantai 5, dengan suasana yang lebih tenang dan hangat untuk belajar dibandingkan di lantai 2 sampai 4 seperti di gambar sebelumnya.

Sesudah aku mengakhiri seluruh kegiatan ekstrakurikulerku dan aktivitas belajarku di kompleks alademik, aku pulang ke asrama dengan menggunakan bis internal NTU (kalau cuaca kurang mendukung atau merasa agak malas) atau jalan kaki. Karena jalan dari kompleks akademik utara ke asrama cenderung menurun, aku biasanya berjalan menyusuri jalan antara asrama 16/3 dan 12/13 (garis hitam tebal kedua dari atas), lalu turun sedikit ke kamarku di asrama 14 untuk menghemat energi daripada menyusuri jalan melewati asrama 12/13/14 dan naik lagi untuk ke kamar (energi potensial?).  Di asrama, aku biasanya belajar di ruang belajar asrama atau beristirahat (aku kurang suka belajar di kamar karena kasurnya menggoda). Ruang belajar di asrama masih bisa dikatakan kurang nyaman dibandingkan zona hening perpustakaan, tetapi buka sampai jam 2 pagi. Haus? Turun satu lantai (ruang belajar asramaku ada di gedung umum asrama 14 dan 15 lantai 2) dan ada air dingin yang bisa dinikmati sepuasnya (di gedung umum asrama 14 dan 15 lantai 1), atau minuman-minuman kaleng dari grup Coca Cola (tidak semuanya bersoda, tetapi jelas berbayar) di depan ruang belajar.

 

Ruang belajar asrama 14. Kalau perpustakaan buka sampai jam 2 pagi (waktu mendekati masa ujian nanti pun perpustakaan cuma buka sampai jam 12 malam) seperti ruang belajar, tentu aku lebih memilih di perpustakaan karena kursinya lebih empuk dan suasananya lebih nyaman.

Kembali ke kamar tidur berarti aku bisa menikmati beberapa hal yang aku rindukan waktu aku masih di Indonesia. Pertama, pendingin udara. Walaupun berbayar (1 sen tiap 2 menit, sekitar Rp2800/jam), pendingin udara memberi kesan seperti kembali ke kamar tidurku di rumah orang tuaku. Sesudah itu, internet sepuasnya juga cukup memberikan kemudahan. Di kamar disediakan internet kabel, jadi di sini cukup beli router WiFi, pasang, atur password (siapa mau akses internet dinikmati orang lain tanpa izin?), dan siap dipakai untuk komputer dan HP (paket internet di sini agak mahal, jadi perlu sedikit lebih hemat). Memang akses internet di sini tidak bisa dibilang sangat cepat (dengan lebih dari 10000 orang tinggal di 20 asrama, jelas tidak mudah untuk menyediakan akses internet dengan kecepatan sangat tinggi), tetapi masih bisa diandalkan. Ketiga, tempat pribadi. Di NTU, mendapatkan tempat pribadi bukan urusan mudah, jadi kamar tidur di asrama bisa menjadi pelarian yang bagus. Dihuni oleh maksimum 2 orang tiap kamar (3 kalau ada yang menumpang sesuai aturan), kamar tidur memberikan cukup privasi. Pengalaman pribadiku untuk masalah rekan sekamar, aku tidak menyarankan mencari mahasiswa internasional (termasuk rekan dari Indonesia) untuk rekan sekamar kalau benar-benar memerlukan waktu sendiri untuk beberapa harikarena mereka lebih jarang tidak menghuni asrama. Aku sekarang tinggal di kamar asrama untuk 2 orang dan dengan rekan sekamar orang lokal (karena dulu aku punya pikiran untuk memilih rekan sekamar acak). Hasilnya? Dia pulang ke apartemen orang tua dia di Tampines (beberapa kilometer ke arah barat dari bandara Changi) tiap akhir pekan, jadi setiap akhir pekan aku bisa menikmati masa-masa sendiriku. Bonus: dia baru datang waktu bulan September, jadi aku sudah menikmati masa sendiri selama 1 bulan tanpa mem

Jalan pulang, tergantung cuaca dan apa aku merasa malas bergerak (seperti kata beberapa orang “mager”).

bayar tarif kamar untuk hunian 1 orang (sekitar 30 – 40 persen di atas tarif untuk kamar untuk dihuni 2 orang).

Kamar tidurku di asrama 14, salah satu asrama yang sudah direnovasi di NTU, sebelum rekan sekamar datang (barang sempat ditaruh di kedua sisi kamar).

Terdengar menarik?

Jangan hanya membaca. Nikmati pengalaman berkuliah di sini secara langsung. Pendaftaran NTU untuk program S1 tahun penerimaan 2015/2016 sudah dibuka. Mau main ke sini buat lihat secara langsung? Tidak masalah juga (kecuali karena jarak dari pusat kota), karena kampusnya terbuka.

Butuh bantuan?

Salah satu komitmenku adalah membantu mereka yang masih belum bisa mendapatkan akses informasi, terutama untuk rekan-rekan dari Indonesia yang hendak melanjutkan pendidikan di NTU untuk S1 waktu penuh, jadi jangan segan untuk bertanya melalui komentar, email, atau media sosial lainnya. Aku tidak menggigit (keras). :p

SHARE
Previous articleS2 di Korea dengan Meraih Beasiswa Laboratorium
Next articleBrainstorming Tips: Personal Statement for Civil Engineering Program at Princeton
Eric Valega Prawirodidjojo
Hailing from Madiun, Eric is currently a final year computer science student at Nanyang Technological University. His interests on community service brings him to be an English teacher on winter 2014 in Cambodia as well as a certified first aider in Singapore. When he doesn't work on his coursework or community service, he works on his final year project on big data, travels around Singapore as well as overseas, listens to classical choral musics, and reads on topics from airports, air transport, all the way to data. He can be contacted at ericvalegap@gmail.com
  • Aiueo

    Halo ganteng

  • Adi Putra

    Selamat pagi kak
    Mau tanya, untuk SMK apakah harus tes UEE di Singapura? Boleh saya meminta referensi buku persiapan tes UEE NTU?