S2 di Korea dengan Meraih Beasiswa Laboratorium

2
21

“Tak kenal maka tak sayang,” oleh karena itu saya memperkenalnya diri terlebih dahulu. Nama saya Oka Danil, berasal dari daerah Kerinci Jambi. Saya mengenyam pendidikan S1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro Semarang, dimana saya tinggal di kota lumpia ini sekitar 4,5 tahun (pertengahan 2008 sampai 2013).

Saya ingin berbagi cerita tentang bagaimana perjalanan hingga bisa sekolah S2 di Korea melalui beasiswa laboratorium, apa saja yang saya persiapkan, dan tantangan yang saya hadapi. Pertama, saya ingin mengenang kembali momen ketika bertemu dengan sosok ilmuan idola saya  yaitu BJ. Habibie. Beliau adalah sosok tokoh yang sudah saya kagumi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya merasa beruntung bisa bertemu dan bertatap muka secara langsung. Lalu apa hubungan antara saya bertemu dengan panutan saya dengan sekolah S2 di luar negeri?

Pada tahun 2011, saya mendapat kesempatan untuk belajar keluar negeri yang tidak kesampaian. Kesempatan pertama ini, ketika saya masih berstatus mahasiswa semester 6. Saat itu saya mengikuti seleksi untuk program pertukaran pelajar antara kampus saya dengan salah satu universitas di Belanda. Saya begitu bersemangat mengikuti kegiatan ini, dan mulai mempersiapkan dokumen yang diperlukan, seperti passport dan juga hasil medical check-up tapi saya gagal. Kegagalan ini disebabkan pihak universitas mensyaratkan bagi mahasiswa yang ingin bergabung kedalam program tersebut untuk mempersiapkan sejumlah uang sebagai biaya hidup nanti di Eropa dimana saya tidak bisa menyanggupi pada waktu itu.

Kegagalan ini memicu saya untuk mencari jalan lain untuk tetap bisa sekolah di luar negeri tanpa kesulitan finansial. Jadi pembiayaan menjadi tantangan pertama yang saya hadapi, karena tentunya pendidikan di luar negeri membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan salah satu solusinya saya harus mencara beasiswa yang dapat membantu serta menyediakan akomodasi ini sehingga saya tetap bisa melanjutkan pendidikan. Saya mencari informasi tentang beasiswa luar negeri baik itu melalui internet maupun bertanya langsung kepada teman yang pernah serta masih belajar di luar.

Tidak setiap waktu saya bersemangat untuk mencari informasi, terkadang saya merasa bosan, lelah dan merasa sangat sulit menemukan beasiswa yang cocok dengan keinginan serta kemampuan yang saya miliki. Rasa bosan dan redupnya semangat menjadi tantangan kedua yang harus saya hadapi. Menurut saya pribadi, mencari beasiswa itu bisa dikatakan susah-susah gampang. Pengalaman saya contohnya, saya pernah posting disalah satu mailing list scholarship kaitannya dengan bagaimana cara mendapat beasiswa, syarat apa saja yang perlu saya persiapakan. Setelah menjadi penerima beasiswa, saya sadar bahwa pertanyaan tersebut kurang tepat dan tidak menarik karena sering ditanyakan pemburu beasiswa lainnya serta jawabannya sangat mudah ditemukan di website universitas. Hal itu membuat saya merasa frustasi.

Dukungan dari orang tua, keluarga serta teman-teman menjadi faktor penentu yang membantu saya melalui masa-masa sulit, dan satu lagi foto bersama Habibie menjadi pemicu lain bagi saya untuk lagi dan lagi bersemangat. Dari foto tersebut membuat saya terbayang akan semangat luar biasaya yang beliau miliki. Beliau adalah salah satu figur yang membuktikan bahwa orang Indonesia itu mampu dan bisa, asal mau berusaha. Contohnya Indonesia mampu membuat pesawat pada tahun 1995. Hal ini menjadi inspirasi bagi saya untuk tetap semangat dan kerja keras untuk mencapai apa yang diingin. Sebagai penggemar beliau, novel “Habibie dan Ainun” jadi salah satu buku favorit dalam koleksi saya. Di salah satu bab dalam buku tersebut beliau bercerita tentang perjuangannya saat jatuh sakit di Jerman. Hal-hal itulah dari beliau memacu semangat saya untuk berusaha terus menerus.

Terakhir, “Fokus” . Saya memutuskan untuk lebih fokus. Niat ini saya tentukan pada hari memulai sekolah S2 di Korea Selatan. Tulisan di blog mahasiswa/i Indonesia, yakni kisah sukses mereka serta pengalaman pribadi teman manjadi alasan saya memilih negara K-Pop ini. Kebanyakan mahasiswa S2 atau S3 di Korea Selatan adalah anggota laboratorium, maka mereka sering berbagi cerita mengenai penelitian yang dilakukan, alat yang digunakan untuk menyokong kegiatan penelitian memadai. Hal yang paling dasar, di laboratorium kita adalah fokus pada penilitian dimana semua biaya hidup, karena uang sekolah sudah ditanggung. Hal-hal itu memantapkan keyakinan saya untuk memilih negara ini. Pertimbangan lain yang menjadi alasan saya memilih negara ginseng ini adalah kecepatan internetnya yang luar biasa.

Saya mempersiapkan CV, mempelajari dan menulis proposal riset, serta terus berselanjar informasi. Bagi teman-teman yang tertarik sekolah di Korea Selatan, saya sarankan untuk membuka website Perpika ( Persatuan Pelajar Indonesia di Korea).  Pada waktu melamar beasiswa, saya daftar ke empat laboratorium dan beasiswa KGSP (beasiswa pemerintah Korea). Jerih payah saya mengurus dokumen, merevisi proposal penelitian berbuah nyata setelah saya dinyatakan sabagai salah satu penerima beasiswa. Sekarang saya bisa mengenyam pendidikan yang telah saya impikan sebelumnya.

“Sekarang giliran teman-teman untuk menemukan jalannya!”

Terima kasih, semoga beruntung.

Photo credit to okadanil.com

*Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis. 

 




===========================================
Oka Danil is from Kerinci, Jambi. He did his undergraduate studies in Electrical Engineering at Diponegoro University Semarang and graduated in November 2012. Since September 2013, he has been working as a full-time researcher at Wireless and Emerging Network System (WENS) Laboratory, Kumoh National Institute of Technology, South Korea.
Posts | Website | Twitter | LinkedIn
  • amandajuliaisa

    Inspiratif banget kak! Satu hal yg paling menarik : fokus mencari scholarship yg sesuai dengan passion masing2! Sukses selalu ka oka! 😀

  • Dhenie

    Mau tanya apa saja yang harus dipersiapkan untuk bisa kuliah di luar negeri ? Makasih :)