Resident Advisor 101

0
1025
Penulis (kedua dari kanan) bersama teman-teman sesama RA di Wesleyan University, CT membantu memindahkan barang mahasiswa baru (Move-in Day, Musim Gugur 2007). Foto diambil oleh Alex Cabal.

Buat banyak mahasiswa internasional di kampus-kampus Amerika, hidup di asrama atau residential hall menjadi suatu bagian integral dari pengalaman bersekolah di luar negeri. Tinggal di dalam kampus, tak jauh dari kelas, dosen, dan banyak lagi fasilitas kampus seperti perpustakaan, lab komputer, pusat kebugaran, dan aula makan all-you-can-eat, tentu dapat memudahkan mahasiswa dalam menuntut ilmu. Selebihnya, tinggal di asrama juga memudahkan mahasiswa bersosialisasi dan belajar bersama. Banyak teman-teman sekamar, selantai, atau satu asrama menjadi sahabat-sahabat terbaik kita di masa yang akan datang, jauh sesudah kita lulus kuliah.

Pengalaman tinggal dalam suatu lingkungan komunal seperti kehidupan asrama tentu juga memiliki tantangan tersendiri. Bagaimana kalau ternyata teman sekamar kita super jorok dan slebor? Mungkin tetangga sebelah hobi main gitar keras-keras pukul 2 pagi ketika kita berusaha tidur sebelum bangun untuk ujian jam 9 pagi? Kalau kita tinggal di suatu single room, apa yang mesti kita lakukan ketika kita menyadari kunci dan kartu identitas kita tertinggal di kamar? Solusi dari pertanyaan-pertanyaan di atas biasanya melibatkan bantuan seorang Resident Advisor atau Resident Assistant (RA).

Jadi, siapa sih RA itu?

Dalam beberapa hal, seorang RA mungkin bisa diibaratkan sebagai seorang Bapak/Ibu Kos atau Ketua Rukun Tetangga (RT). RA bertanggung jawab akan terciptanya kehidupan berasrama yang tenang, aman, dan sesuai peraturan kampus. Biasanya RA adalah mahasiswa lebih senior yang ditempatkan di bagian tempat tinggal mahasiswa-mahasiswa yang lebih junior. Dalam tugasnya sebagai RA, mereka biasanya mendapatkan stipend atau fasilitas akomodasi gratis dari pihak universitas. Mereka juga mendapatkan pelatihan dan sumber daya yang cukup dari pihak kampus, sehingga mereka bisa menjalankan tugasnya dalam membantu mahasiswa-mahasiswa tingkat bawah dengan baik.

Tugas-tugas para RA bervariasi dari satu sekolah ke sekolah lainnya, tetapi pada umumnya setiap RA memiliki peran amat penting di awal tahun ajaran baru ketika mahasiswa mulai menempati kamar mereka masing-masing. RA mengumpulkan para “warga”-nya untuk membuat acara perkenalan, membahas aturan-aturan yang mesti ditegakkan di lingkungan asrama, serta memperkenalkan beragam fasilitas dan sumber daya yang tersedia bagi para mahasiswa. Dalam acara perkenalan ini, RA seringkali menekankan bahwa dirinya adalah orang yang dapat diandalkan para mahasiswa sebagai orang pertama yang dituju 24/7 ketika mahasiswa menghadapi masalah, baik masalah asrama, akademik, maupun sosial. Perbedaan usia yang tidak begitu jauh serta pengalaman sebagai warga asrama tahun-tahun sebelumnya seringkali membuat RA menjadi seseorang yang efektif sebagai tempat “curhat” para mahasiswa baru.

Ketika tahun ajaran baru sudah berjalan, para RA aktif mengecek keadaan para warganya lewat surat elektronik dan interaksi secara langsung. Seorang RA biasanya mengorganisir acara-acara sosial untuk warganya. Ketika saya menjadi RA di kampus, misalnya, saya mengadakan kegiatan pemutaran film dan makan es krim bersama. Kadang, saya mendatangkan salah satu profesor untuk mendiskusikan persoalan aktual menarik bersama warga saya di aula asrama. Selain itu, saya juga bertanggung jawab mendekorasi lorong-lorong dan pintu-pintu kamar asrama. Di kampus saya, para RA bahkan bertanggung jawab memberikan permen dan kondom secara gratis bagi yang menginkan. Pendeknya, RA ditugaskan untuk menciptakan suasana kehidupan berasrama yang tidak hanya layak huni, tetapi juga nyaman.

Apa untungnya menjadi RA?

Menjadi RA memang tidak terlalu mudah. Seorang RA harus siap dibangunkan pukul 3 pagi ketika salah seorang warganya membutuhkan bantuan yang sifatnya mendesak. Jangka waktu liburan seorang RA biasanya berkurang, karena biasanya para RA harus mengikuti pelatihan yang diselenggarakan pihak universitas seminggu sebelum kelas dimulai. Ketika semester sudah berjalan pun, seorang RA memiliki pertemuan rutin dengan sesama RA dan dengan staf kampus yang bertanggung jawab mengawasi kerja para RA. Tentunya, seorang RA juga harus menjadi orang terdepan yang menegakkan peraturan, meskipun peraturan tersebut mungkin membuatnya tidak disukai warga asrama. Pihak kampus memiliki harapan tinggi pada para RA, karena mereka dianggap bisa menjadi teladan bagi warga asrama, khususnya mahasiswa-mahasiswa baru.

Lantas, apa yang membuat mahasiswa senior tertarik menjadi RA? Dari pengalaman saya maupun obrolan dengan teman-teman lain yang pernah menjadi RA, kebanyakan dari kami ingin menjadi RA karena pengalaman kepemimpinan yang bisa kami dapatkan dari dalamnya. Sebagaimana pekerjaan lain di kampus, tentu ada kompensasi yang diterima para RA (dalam bentuk uang saku atau bebas biaya kamar dan makan). Tetapi kami memilih mendaftar menjadi RA utamanya bukan karena kompensasi yang diberikan, melainkan karena kami menyenangi proses interaksi dengan berbagai macam mahasiswa dan berperan sebagai mentor atau konselor bagi mereka.

Bagi saya sendiri, selalu ada rasa bahagia yang timbul ketika persoalan warga asrama saya teratasi. Saya pernah beberapa kali mendapatkan kado dan kartu ucapan terima kasih tak terduga dari warga saya. Betapa senangnya saya ketika itu! Selain itu, saya dan teman-teman eks-RA juga setuju bahwa pengalaman memecahkan masalah yang timbul dalam interaksi sosial, besarnya tanggung jawab yang kami miliki, serta kemampuan manajemen waktu kami yang cukup baik selama menjadi RA menjadi hal yang dilirik oleh potential employer dalam proses mencari kerja. Buat mahasiswa internasional, pengalaman menjadi RA tentunya membuat pengalaman berkuliah dan tinggal di luar negeri menjadi semakin kaya dan bermakna.

Foto disediakan oleh kontributor.