Photo Credit: Sourced from Flickr website, picture taken and owned by Jirka Matousek.

Beradaptasi dengan Kehidupan Luar Negeri

Tinggal atau menjalani studi di luar negeri adalah kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga. Banyak hal-hal baru yang kita akan temui dan harus kita hadapi. Salah satu kunci sukses dalam menjalani studi di luar negeri adalah dapat beradaptasi dengan lingkungan, budaya, dan pergaulannya. Namun, bagi kita yang cukup lama tinggal di negeri sendiri dimana budaya dan kebiasaan negeri ini sudah sangat berakar dalam diri kita, bisa menjadi tantangan tersendiri untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Berikut adalah beberapa tips yang bisa diaplikasikan untuk dapat beradaptasi di luar negeri.

1. Pelajari Bahasa Lokal

Bahasa adalah sesuatu yang sangat esensial dalam menjalin komunikasi. Jika tidak dapat berkomunikasi dengan baik akan sulit untuk dapat bergaul dengan orang-orang lokal. Karena itu, penting untuk kita yang ingin tinggal di luar negeri untuk mempelajari bahasa lokal yang digunakan sehari-hari di negeri itu. Untuk negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris mungkin tidak terlalu sulit karena kita sudah belajar bahasa Inggris bahkan sejak sekolah dasar. Beberapa negara, seperti di Asia Timur, tidak banyak orang lokal yang menguasai bahasa Inggris, sehingga akan sulit bagi kita untuk berkomunikasi jika kita hanya menguasai bahasa Inggris.

Sebelum berangkat ke luar negeri, kita dapat mempelajari terlebih dahulu bahasa lokal. Caranya bisa mengikuti kursus bahasa asing, menonton film-film asing tanpa terjemahan, dan sebagainya. Biasanya di luar negeri juga ada kursus untuk mempelajari bahasa lokal khusus untuk mahasiswa asing, sehingga kita dapat melanjutkan pembelajaran bahasa ke tingkat yang lebih mahir.

 2. Lirik kanan-kiri

Tinggal di luar negeri berarti harus mengikuti kebiasaan, budaya dan aturan yang berlaku di negara tersebut. Cara yang paling mudah untuk mengenali kebiasaannya adalah dengan melihat bagaimana orang-orang lokal melakukan sesuatu. Sebagai contoh ketika berjalan di trotoar, kita melihat dahulu apakah orang lokal berjalan di sebelah kanan atau kiri, melihat bagaimana mereka menyeberang jalan, dan bagaimana menggunakan sarana umum. Kita tentu tidak mau terlihat aneh ketika semua orang berjalan di sebelah kanan dan kita di sebelah kiri (di Indonesia berjalan di sebelah kiri) ataupun dipanggil polisi karena melanggar aturan. Tentu saja, kita bisa bertanya dengan orang-orang lokal, namun bagi yang enggan bertanya melirik kiri-kanan bisa menjadi solusi.

 3. Beradaptasi dengan makanan

Adaptasi dengan makanan itu bisa berbeda-beda setiap orang karena menyangkut selera. Hal yang penting diperhatikan adalah ketika di Indonesia setiap makanan selalu ada label halal, namun tidak semua negara terdapat label seperti itu. Kita harus rajin bertanya dan mencari tahu sebelum membeli makanan apakah di makanan tersebut ada bahan-bahan yang tidak boleh kita makan.

Di negara-negara maju juga banyak sekali makanan-makanan instan dan cemilan, kalau kita tidak dapat mengontrol diri, kita akan pulang ke Indonesia membawa berat badan yang bertambah banyak.

 4. Beradaptasi dengan cuaca dan iklim

Jika tinggal di negara tropis tidak akan menjadi masalah, namun jika tinggal di negara yang mempunyai iklim berbeda maka itu akan jadi tantangan tersendiri. Kita harus mempersiapkan perlengkapan yang sesuai dengan iklim dan cuaca negara tersebut. Sebagai contoh, beberapa negara seperti Taiwan, sering dilanda typhoon, sehingga sering hujan disertai dengan angin yang kencang. Payung di Taiwan dibuat dengan rangka yang lebih kokoh untuk dapat menahan angin, payung yang ada di Indonesia tidak akan kuat menahan angin yang ada disana.

Tahun pertama akan terasa sulit untuk menjalani musim demi musim, namun tahun-tahun selanjutnya kita akan mulai terbiasa dengan iklim. Sebelum berpergian, selalu cek prediksi cuaca untuk dapat mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan.

 5. Membangun jaringan pertemanan

Bergaul dengan orang-orang lokal akan sangat banyak membantu kita. Sebagai contoh, ketika kita ingin melakukan survei untuk penelitian, maka teman-teman lokal akan dapat membantu dengan mencari lokasi atau bahkan berkomunikasi dengan penduduk lokal. Berteman dengan orang-orang lokal dan juga warga asing lain yang tinggal di negara tersebut akan memberi kesempatan kepada kita untuk membuka wawasan baru dari berbagai sudut pandang dan budaya. Hal ini akan memperkaya pengetahuan dan cara pandang kita.

 6. Beradaptasi dengan keuangan

Bagi yang memperoleh bantuan keuangan atau beasiswa dalam kurs negara tersebut akan lebih mudah. Namun jika memperoleh beasiswa dari Indonesia dalam rupiah atau biaya sendiri, maka kita harus rajin untuk cek nilai tukar mata uang setiap hari. Kita harus tahu kapan saat yang tepat untuk menarik uang atau menahannya dalam bank karena nilai tukar bisa berbeda-beda setiap saat.

Nilai suatu barang juga relatif berdasarkan mata uangnya. Karena itu, jangan membandingkan nilai barang yang ada di negara tersebut dengan di Indonesia.

 7. Taat pada hukum dan aturan yang berlaku

Peribahasa “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” berlaku secara umum di negara manapun. Jangan melanggar hukum dan tata tertib, apalagi dengan sengaja. Selain akan berakibat buruk pada kita, hal itu juga akan memberikan citra negatif pada negara kita. Jangan juga terlibat secara langsung maupun tidak langsung pada politik praktis di negara tersebut agar tidak ada konflik kepentingan bagi kita.

 8. Manfaatkan fasilitas dengan efektif

Negara-negara maju seringkali memberikan fasilitas-fasilitas yang banyak, seperti koneksi internet, perpustakaan, asuransi kesehatan, dan sebagainya. Sebagai warga/mahasiswa asing yang tinggal secara resmi di negara tersebut kita juga berhak menikmati fasilitas tersebut. Manfaatkan dengan baik untuk menunjang studi atau pekerjaan kita. Smartphone akan banyak berguna, karena di beberapa negara sudah menunjang fasilitas digital dan cloud service yang bisa kita manfaatkan.

Tinggal di negara asing juga akan membuat kita disebut sebagai “warga asing” atau “mahasiswa internasional”. Panggilan itu menjadi sensasi tersendiri ketika di Indonesia kita sering menyebut orang asing dengan sebutan “bule” maka kini kita yang menyandang panggilan tersebut. Dan penting untuk diingat bahwa ketika kita tinggal di luar negeri maka kita juga menjadi agen bangsa untuk budaya dan citra Indonesia di dunia internasional. Salam sukses!

 

Photo credit: Sourced from Flickr website, picture taken and owned by Jirka Matousek. The picture can be found here.




===========================================
Agus learned Industrial Management/Engineering. He earned MBA and M.Sc. in dual degree program from National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) and Universitas Gadjah Mada. Agus got scholarship from NTUST (Taiwan) and DIKTI (Indonesia) when pursued his degrees. He enjoys writing and reading.
Posts | Website | Facebook | Twitter | LinkedIn