“The grass is always greener on the inside.”: Kultur dan Sastra

2
87

Perhatian: Artikel kali ini ditujukkan untuk semua kawan Indonesia Mengglobal yang mempunyai minat dalam membaca dan juga yang belum menyadari efek ‘candu’ dari membaca. Saya yakin, suatu hari akan ada saatnya kamu duduk di suatu kursi dan tidak mempedulikan kenyamananannya karena kamu terlalu sibuk menangani kata dan kalimat yang menari-nari dalam pikiranmu, dan kamu akan terkejut hal tersebut berasal dari sebuah buku yang kamu genggam.

“Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” – Goenawan Mohamad.

            Pernahkah kamu membaca atau sekian mendengar temanmu yang gemar membaca menyebutkan beberapa sastra dunia berikut ini: “The Great Gatsby” oleh F. Scott Fitzgerald, “Pride and Prejudice” oleh Jane Austen, “To Kill a Mocking Bird” oleh Harper Lee, “Anna Karenina” oleh Leo Tolstoy, dan juga naskah drama “Twelfth Night” oleh William Shakespeare. Saya yakin setidaknya kawan Indonesia Mengglobal mengetahui atau pernah mendengar dua buku dari daftar di atas.

            Nah, sekarang apakah kalian tahu beberapa sastra Indonesia berikut ini:  “Rumah Kaca” dan “Anak Semua Manusia” oleh Pramoedya Ananta Toer, kumpulan-kumpulan puisi oleh Joko Pinurbo atau pun Goenawan Mohamad, “Lelakon” oleh Lan Fang, juga naskah drama seperti “Panembahan Reso” oleh W.S. Rendra. Pernahkah kawan Indonesia Mengglobal mendengar atau lebih lagi membaca judul-judul tersebut?

            Saya memang bukan seorang ahli sastra, dan baru saja mengerti keajaiban dari membaca setelah 14 tahun hidup di dunia. Jujur saja, novel pertama yang saya lahap bukanlah buatan lokal melainkan sebuah novel oleh Paulo Coelho, “The Alchemist” yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dari bahasa Portugis. Kegemaran membaca sastra Indonesia saya timbul dua tahun yang lalu saat saya mulai bersekolah menengah atas dan mengambil pelajaran sastra Indonesia di Singapura. Kamu pasti akan terkejut melihat bagian buku sastra di perpustakaan sekolah saya (sebut nama sekolahnya) yang dapat dipastikan lebih beragam dan kaya dibandingkan toko-toko buku di Indonesia. Namun, mengapa kita tidak mengenal sastra-sastra Indonesia sejak muda yang sebenarnya tidak kalah dengan sastra-sastra dunia?

            Semua pasti mengenal peribahasa, “The grass is always greener on the other side.” Walaupun terdengar ironis, tetapi kita semua mempunyai kecenderungan untuk selalu melihat ke ‘luar’, mencari dan menjelajahi semua hal yang berbau kebarat-baratan. Hal ini dapat terlihat dari cara kita memilih pakaian, makanan, dan buku baccaan yang lebih ke arah eurosentris. Sejak muda, kita tumbuh dengan paradigma tersebut dan percaya dalam hal yang melenceng, bahwa buatan lokal cenderung lebih inferior.

            Kita semua patut malu pada diri dengan kebutaan terhadap sastra tanah air. Tahukah kamu bahwa banyak sekali novel-novel Pramoedya Ananta Toer  yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris seperti “The Fugitive”, “House of Glass”, “This Earth of Mankind” dan banyak lagi. Orang-orang Eropa dengan begitu antusiasnya mampu menemukan dan menyadari keindahan sastra Indonesia.

            Memang melihat ke ‘luar’ tidak salah sama sekali dan mempelajari sastra dan budaya luar negeri merupakan pilihan yang bijaksana. Banyak sekali yang dapat kita cuplik dari budaya Eropa dimulai dari musik-musik klasiknya Franz Schubert yang indah dan juga sastra seperti “The Great Gatsby” oleh F. Scott Fitzgerald, bercerita tentang American Dream, yang dapat memberi kita suatu pelajaran moral yang bermakna. Namun, sebelum mencoba melihat ke ‘luar’ ada baiknya kita terlebih dahulu melihat ke ‘dalam’ karena seseorang yang tidak mengenal budaya sendiri bak buku yang tidak memiliki jiwa.

            Salah satu cara untuk melihat ke ‘dalam’ adalah dengan mengenal budaya kita sendiri, dan hal tersebut dengan mudahnya dapat diwujudkan dengan membaca sastra-sastra Indonesia. Saya percaya di dalam sebuah sastra yang baik, terdapat nilai dan norma dasar yang menjadikan kita anak-anak Indonesia sejati. Jadi, di negara mana pun kawan Indonesia Mengglobal berada, ingatlah bahwa satu kaki kita berpijak di negara Indonesia. Dengan begitu, kita akan selalu ingat untuk melihat dan menjelajahi ke ‘dalam’ dan suatu hari kita akan sadar betapa hijaunya rumput dalam rumah kita. Percayalah: “The grass is always greener on the other side inside.”

 

*Foto disediakan oleh kontributor.

  • Prioutomo Revolusi

    sunnguuuh membaca kaya manfaat

  • Christian William M

    setuju, hidup sastra Indonesia :)