Pemuda-Pemudi Meminta G20 Untuk Fokus Mengatasi Pengangguran Pada Pemuda

Pemuda-Pemudi Meminta G20 Untuk Fokus Mengatasi Pengangguran Pada Pemuda

120 pemuda dari negara anggota G20 berkumpul di Sydney pada Y20 Summit tanggal 12-15 Juli 2014 ini untuk merumuskan rekomendasi mereka dalam menghadapi permasalahan ekonomi dunia khususnya yang berdampak besar pada pemuda. Saat ini lebih dari 651 juta pemuda secara global berstatus pengangguran. Bahkan di setiap negara G20 tingkat pengangguran pemuda bahkan bisa mencapai dua atau tiga kali lipat dari tingkat pengangguran orang dewasa. Mengingat populasi dan peran pemuda yang amat besar, Y20 (Youth20) ini merupakan kerangka resmi dari G20 untuk memastikan adanya jalur resmi bagi suara pemuda untuk didengar dan dapat diakomodir. Banyak permasalahan regulasi, pendidikan, dan tantangan lainnya yang dihadapi oleh para pemuda tidak hanya dalam mengenyam pekerjaan yang layak di dalam negaranya tapi juga dalam menikmati berbagai kesempatan ekonomi dan sosial yang ada secara global.

Indonesia diwakili oleh lima orang pemuda dengan latar belakang berbeda, yaitu: Almag Pradana (mahasiswa program master di bidang ekonomi, kebijakan energi dan lingkungan di University College London), Donny Eryastha (konsultan Bank Dunia di bidang pengembangan sektor swasta), Dyah Ayunico Ramadhani (Asisten Muda di Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan/UKP4), Johannes Ardiant (mahasiswa program master kebijakan publik di Harvard University), dan Zeva Aulia Sudana (alumni progam master bidang keadilan sosial dan global di Nottingham University). Keberangkatan delegasi Indonesia telah mendapat dukungan dari Australia-Indonesia Institute, the Asia Foundation, Alumni Amerika Serikat, PT Semen Indonesia, dan pemerintah Indonesia.

Menariknya proses perumusan rekomendasi tidak hanya dilakukan selama 4 hari konferensi di Sydney tapi sudah dimulai sejak 3 bulan yang lalu melalui sebuah online platform. Para delegasi setiap negara mengajukan isu prioritas di negaranya dan bernegosiasi mengenai rekomendasi apa yang tepat untuk diajukan kepada kepala negara G20. Pendekatan yang diambil oleh para pemuda dalam menentukan rekomendasi kebijakan Y20 adalah melalui 3 kerangka kebijakan yakni dalam hal pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, kewarganegaraan global dan mobilitasnya, dan pembangunan berkelanjutan.

Dalam konteks Indonesia sendiri, pengangguran banyak dikarenakan oleh adanya skill gap yang dimiliki oleh para pemuda dan kebutuhan sektor privat. Di sisi lain tenaga kerja sektor agrikultur yang notabene menyumbang sebagian besar dari PDB Indonesia rata-rata berumur 40 tahun ke atas. Selain itu partisipasi perempuan dalam tenaga kerja masih tertinggal dibandingkan oleh partisipasi laki-laki. Padahal untuk mencapai target 2% pertumbuhan ekonomi G20 dibutuhkan partisipasi aktif oleh semua bagian masyarakat dan di seluruh industri strategis.

Oleh karena itu, delegasi Indonesia secara konsisten berhasil mendorong isu pengembangan keahlian pemuda, pemberdayaan perempuan, dan prioritas investasi pada area pedesaan dan sektor agrikultur masuk ke dalam isu prioritas di Komunike Y20 2014. Hasil akhir rekomendasi Y20 berupa sebuah Komunike juga sudah dipresentasikan kepada Menteri Keuangan Australia, Joe Hockey, setelah Y20 Summit kemarin selesai.

Satu hal yang secara jelas diamini oleh setiap delegasi yang hadir adalah adanya sebuah communiqué (pernyataan resmi) dari Y20 Summit 2014 bukan merupakan sebuah akhir tapi justru awal dari komitmen kami semua yang hadir untuk memperjuangkannya di negara kita masing-masing agar pada pertemuan G20 November nanti isu kepemudaan bisa menjadi prioritas. Lalu bagaimana kita semua bisa mengambil peran?

Ada dua hal krusial dalam waktu 3 bulan ke depan sebelum pertemuan pemimpin G20 pada tanggal 15-16 November di Brisbane, yakni: mengarus-utamakan prioritas kepemudaan dengan stakeholder yang terlibat dalam G20 yakni B20 (Business 20), C20 (Civil Society 20), dan L20 (Labour 20), dan mendorong lembaga pemerintahan terkait baik itu pemerintah daerah maupun pusat untuk mempertimbangkan rekomendasi Y20 dalam rancangan program kepemudaannya khususnya bagi pemerintahan yang terpilih nanti untuk lima tahun ke depan.

Kita semua harus yakin bahwa peran pemuda dalam ekonomi bukan saja masa depan bangsa tapi aktor dan isu yang perlu dilibatkan saat ini juga.

Hasil Komunike Y20 2014 dapat dilihat di http://www.indonesianyouthdiplomacy.org/ atau www.Y20Australia.com.

 

(Image of Sydney Harbour by MickiTakesPictures and can be found on Flickr link here)




===========================================
Dyah is master of public policy candidate at Harvard Kennedy School and research assistant for the Government Innovators Network at Harvard Ash Center for Democratic Governance. She has always been passionate and active on youth empowerment and reducing the gender gap in economic opportunities, specifically leading youth leadership-training programs, mentoring disconnected youth in Jakarta to gain employment, and as a youth advocate in the G20 engagement platform. Currently in graduate school, she is involved in an organization that empowers young Muslim women through self-defense, leadership and entrepreneurship, namely WISE (Women's Initiative for Self-Empowerment). Dyah started her professional career as a consultant at McKinsey & Company, assisting various companies in Southeast Asia. Subsequently, she decided to follow her passion and served as an Associate Director at the Indonesian President's Delivery Unit for Development Monitoring and Oversight (UKP4), conducting policy analysis and supervision in the field of education and also implementing the Open Government Partnership in Indonesia. She is trained in Indonesian traditional dances and has a BA in International Relations from the University of Indonesia.
Posts