Kuliah di Turki

Kuliah di Turki

“Kenapa bisa kuliah ke Turki?”, itu pertanyaan standar yang sering ditanyakan oleh banyak orang; baik orang Turki sendiri, maupun teman-teman dan keluarga di Indonesia karena selama ini Turki sering kali hanya dikaitkan dengan objek-objek wisatanya saja.

“Kamu belajar teologi ya di sana?”, pertanyaan kedua yang ditanyakan oleh mereka seusai saya menjawab pertanyaan pertama. Pertanyaan yang wajar, karena di Indonesia, hubungan antara Turki sangat erat dengan Islam. Bagi kebanyakan orang Indonesia, Turki termasuk dalam bangsa-bangsa Arab, padahal Turki sendiri adalah sebuah negara sekuler. Tidak, saya tidak sekolah teologi, sewaktu menempuh pendidikan S1, saya memilih jurusan Teknik Kimia dan sekarang saya sedang menjalani program master di Universitas Koc dengan jurusan Teknik Mesin.

Oleh karena itulah, saya ingin berbagi tentang pengalaman saya kuliah di negeri yang terletak di dua benua ini.  Pada kesempatan ini, saya ingin membahas kehidupan di Turki dari sisi manusianya.

Saya pertama kali datang ke Turki tahun 2008, jumlah mahasiswa Indonesia di Turki belum sebanyak sekarang; bisa dihitung dengan jumlah jari 2 orang lah kira-kira. Saat ini ada sekitar 500 mahasiswa Indonesia di Turki yang menerima beasiswa dari berbagai sumber, salah satunya yang paling populer adalah beasiswa pemerintah Turki (YTB). Jumlah mahasiswa asing di Turki yang meningkat tajam beberapa tahun belakangan ini disebabkan oleh inisiatif dari pemerintah Turki untuk meningkatkan kuota penerima beasiswa YTB.

Pendidikan di Turki sendiri sudah tergolong maju, hal ini dibuktikan dengan jumlah universitas Turki yang masuk dalam 400 besar universitas terbaik dunia menurut Times Higher Education (THE). Tiga universitas terbaik di Turki menurut THE adalah Bogazici University, Istanbul Technical University, dan Middle East Technical University – ketiganya merupakan universitas negeri kebanggaan Turki. Bilkent University dan Koc University adalah dua universitas swasta yang namanya juga tercantum dalam peringkat 400 besar dunia.

Sudah hampir enam tahun saya berada di Turki untuk menempuh jenjang pendidikan S1 dan S2 dan kini menjadi mahasiswa Indonesia di Turki adalah sebuah pengalaman yang sangat menarik karena interaksi antara kita dan orang-orang Turki dan juga interaksi di antara mahasiswa/i Indonesia itu sendiri.

Orang-orang Turki menilai orang Indonesia menarik. Biasanya kalau kita bertemu dengan orang Turki yang sudah agak tua dan bilang kita berasal dari Indonesia, mereka akan mengajak kita minum teh dan mengajukan banyak pertanyaan tentang Indonesia. Tak lupa juga mereka akan bercerita tentang bagaimana ramahnya orang-orang Indonesia yang mereka temui kala mereka berangkat haji. “Orang-orang Indonesia kecil-kecil, tapi mereka ramah-ramah dan sering memberi jalan dan tempat bagi kami, orang Turki”, begitu cerita yang sering saya dengar.

Kebanyakan orang Turki tidak bisa berbahasa Inggris, oleh karena itu wajar jika saat-saat awal sampai di Turki mereka terasa sangat dingin. Selain itu, orang Turki juga cenderung lebih ceplas-ceplos mengutarakan pendapatnya dibandingkan orang Indonesia. Jika menemui hal – hal yang tidak berkenan di hati, dipikirkan secara objektif saja, toh jika mereka berbuat yang kurang menyenangkan pun kita bisa langsung mengungkapkannya.

(kampus saya – Koc University)

(a surprise party)

Jangan heran juga jika di masa – masa ujian, teman serumah yang orang Turki menjadi sangat sensitif dengan suara sekecil apapun. Mereka yang biasanya senang menari-nari dan berteriak-teriak berubah menjadi pendiam dan hanya keluar kamar seperlunya saja. Entah mereka hobi sks (system kebut semalam) atau itu sudah tradisi di Turki. Enam tahun berbagi tanah dengan mereka, saya masih belum bisa memecahkan misteri itu.

Kesempatan untuk mengamati perbedaan budaya ini adalah sesuatu yang terlalu asik untuk dilewatkan. Karena jarang sekali kita memiliki kesempatan untuk mengamati budaya keseharian Turki di tv series, tidak seperti Amerika dan Inggris, misalnya.

Selain interaksi antara kita dan orang-orang Turki, interaksi dengan sesama orang Indonesia di perantauan pun tak kalah menarik. Apalagi jumlah orang Indonesia di Turki saat ini sudah cukup banyak. Kalian yang akan datang ke Turki tak akan merasa kebingungan untuk mengurus segala sesuatunya untuk pertama kali karena banyak teman-teman PPI Turki yang siap membantu. Jika sehari-hari suntuk pun bisa langsung mengajak kawan-kawan Indonesia untuk nge-cay (meminum teh seraya berbincang). Di samping itu, PPI Turki dan PPI wilayah kerap mengadakan kegiatan-kegiatan, mulai dari seminar, kompetisi, hingga sekedar nonton bareng.

(piknik di Goksu Park, Ankara)

(barbeque di Golbasi, Ankara)

Pengalaman hidup di negeri yang relatif tidak banyak orang Indonesianya inilah yang menjadikan kehidupan kemahasiswaan di Turki menjadi menarik. Kamu masih punya kesempatan untuk jadi pioneer dalam berbagai hal di Turki. Jadi, ga perlu ragu, langsung saja ambil kesempatan untuk belajar di Turki!




===========================================
Shabrina Virta Inmas graduated from Chemical Engineering Dept. at Middle East Technical University in Ankara, Turkey. She had also tried to pursue a master degree in Computational Science and Engineering Department at Koc University before she decided to change direction and worked for CNN Indonesia for a year.
Posts | Website | Twitter | LinkedIn