Banyak Jalan Menuju “Roma”, Jalan Mana Yang Kita Pilih?

0
97

Apa yang akan kamu lakukan jika;

Bermimpi melanjutkan kuliah ke jenjang Master / PhD. Selama tiga tahun, kamu telah mendapatkan tujuh surat tanda terima (Letter of Acceptance – LoA) dari 7 kampus di Eropa. Akan tetapi beasiswa masih belum didapat untuk menebus LoA tersebut. Akankah kamu bertahan mencari beasiswa atau mengubur mimpi itu?

Hidup adalah Pilihan

Pilihan melanjutkan kuliah ke jenjang Master dan PhD bagi saya adalah sebuah keharusan, bukan hal yang mudah ketika kita memilih sesuatu. Tetapi yang selalu ditekankan oleh ayah saya adalah

“Bagian dari menjadi dewasa itu adalah menentukan sebuah pilihan dan menerima semua konsekuensi atas pilihan tersebut”

Pesan ini sama seperti yang disebutkan oleh Samuel L. Jackson dalam film Coach Carter yang saya yakini ayah saya belum pernah menonton film ini sama sekali.

“Part of growing up is making your own decisions and living with the consequences.”

Saya beruntung mempunyai orang tua yang sama sekali membebaskan saya untuk menentukan pilihan hidup saya dengan syarat bertanggung jawab atas semua pilihan dan konsekuensinya. Disaat kebanyakan teman-teman saya berkarir di sektor swasta (baik perbankan, property, pasar saham) dan juga yang berkarir di pemerintahan (BKPM, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dsb.). Selepas lulus kuliah, saya mendapatkan tawaran untuk bekerja di Center for Economics and Development Studies (CEDS) oleh Pak Arief Anshory Yusuf, beliau adalah dosen pembimbing saya pada S1 dan juga menjabat sebagai Direktur CEDS.

Tawaran ini adalah sebuah kesempatan besar untuk saya untuk terus meningkatkan kemampuan saya di bidang penelitian yang akan menjadi salah satu modal saya untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang Master dan PhD.

Pentingnya Prinsip Hidup

Salah satu prinsip yang saya pegang dalam menentukan sekolah/kampus untuk pendidikan saya adalah

“Tidak akan pernah mundur selangkahpun dari sekolah/kampus saat ini, harus terus maju baik dari sisi jarak dan juga peringkat sekolah/kampus”

Secara gamblang ini artinya sekolah/kampus harus membuat saya berjalan maju, bukan mundur meskipun hanya selangkah baik dari jarak maupun peringkat. Sebagai contoh selepas SMA di International Islamic Boarding School Republic of Indonesia (SMA IIBS RI) di Lippo Cikarang, maka untuk S1 pilihan saya harus di daerah yang berada di bagian timur SMA IIBS RI, artinya Universitas Indonesia (UI) bukan pilihan saya.

Saya pernah berdebat dengan Safaruddin Dt. Bandaro Rajo (kakak dari Mama (Mamak)) saya tentang S2. Dia mengatakan sebaiknya saya mengurungkan niat untuk kuliah S2 di luar negeri, lebih baik di UI saja, kan toh UI adalah salah satu kampus terbaik di Indonesia. Kuliah di Luar Negeri disimpan untuk S3 saja. Tetapi saya tetap pada prinsip saya bahwa saya tidak boleh kuliah di UI karena Universitas Padjadjaran (UNPAD) lebih jauh dari UI. Bagi saya, kuliah S2 / S3 di luar negeri hanyalah satu pilihan saya.

Tiga Tahun, Tujuh LoA di Tujuh Kampus di Eropa

Semenjak bekerja di CEDS pada tahun 2011 saya langsung apply beasiswa dan juga kampus untuk jenjang S2. Pengalaman saya pernah tinggal dan berkeliling Benua Eropa selama sebulan (ketika acara konferensi UNFCCC tahun 2009) dan juga sempat berkunjung ke Amerika Serikat pada tahun 2008 (program Harvard National Model United Nations – HNMUN) memudahkan saya untuk menentukan pilihan bahwa Benua Eropa menjadi pilihan utama saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Master.

2011-2013 Seven Universities in Europe

2011-2012

Mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari University College London (UCL) untuk kuliah tahun 2012, salah satu kampus terbaik di dunia dan selalu masuk 10 besar dunia dan 5 besar di United Kingdom. Beasiswa Erasmus Mundus untuk program International Masters in Economy, State and Society (IMESS) belum saya dapatkan karena saya belum memiliki sertifikat Bahasa Inggris. Karena secara administratif saya sudah lolos, maka LoA bisa didefer ke tahun 2013.

2013

Mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari 6 kampus di Eropa;

  1. Environmental Sustainability at University of Edinburgh, Scotland, United Kingdom
  2. Environment and International Development at University of East Anglia (UEA), United Kingdom
  3. Agricultural Economics and Management at Swedish University of Agricultural Science (SLU), Sweden
  4. Climate Studies at Wageningen University and Research Centre, Netherlands
  5. Agricultural Economics at Universität Hohenheim (University of Hohenheim), Germany
  6. International and Development Economics at Hochschule für Technik und Wirtschaft Berlin (HTW Berlin), Germany

Perjuangan mendapatkan dana untuk melanjutkan kuliah juga tidak mudah. Saya berpikir kalau sudah dapat kampus pastilah dapat beasiswanya. Eh, ternyata tidak juga. Di Wageningen saya dapat beasiswa Wageningen University Fellowship Programme (WUFP) untuk dua tahun kuliah, saya hanya perlu mencari biaya hidup, tetapi aplikasi beasiswa NFP tidak ada kabar juga. Di Hohenheim dan HTW Berlin masuk shortlist calon penerima beasiswa, eh gagal juga dapat beasiswanya. Aplikasi beasiswa Bank Dunia untuk University of East Anglia juga mentok. Lagi dan lagi aplikasi beasiswa Swedish Institute (SI) untuk SLU juga menemukan jalan buntu.

Pada akhirnya saya mendapatkan beasiswa dan saya memutuskan untuk melanjutkan program master saya di University of Edinburgh pada program Environmental Sustainability. Persiapan yang sangat mepet membuat saya gagal mendapatkan visa tepat waktu sehingga kampus juga menyarankan saya untuk defer ke tahun akademik 2014. Paling tidak di kantor saya, mungkin saya masuk rekor mendapatkan LoA terbanyak pada satu tahun ajaran. :-)

2014

Beasiswa yang saya dapatkan memungkinkan saya untuk pindah kampus dan pada akhirnya di tahun 2014 ini saya memutuskan untuk pindah dari University of Edinburgh ke King’s College London (KCL). Baca “Kenapa saya memilih King’s College London” disini.

Banyak Jalan Menuju Roma (All Roads Lead to Rome)

Apakah kita masih ingat dengan pepatah kuno tersebut? Jika kita coba gali lebih dalam, pada kenyataannya memang “Banyak Jalan Menuju Roma”. Yang suka backpacker mungkin akan memilih berjalan-jalan ke beberapa negara terlebih dahulu sebelum akhirnya sampai di Roma. Bagi para business traveller, mungkin sebaiknya langsung terbang menuju Roma. Jika yang suka berkelana dengan motor atau mobil sepertinya akan memilih jalur darat sehingga lebih merasakan adrenalin ketika akhirnya sampai di Roma.

Jika kembali ke pertanyaan pada awal pada tulisan ini, saya meyakini bahwa untuk mencapai “Roma” saya, saya harus mendapatkan gelar Master dan atau PhD. Bekerja pada CEDS adalah jalan yang saya pilih untuk menuju “Roma” saya. Memang tidak mudah untuk terus bertahan dengan “Roma” tersebut karena banyak tantangan dan juga ujian yang harus dijalani. Saya meyakini ketika saya terus dan bertahan pada “Roma” saya maka pada saatnya saya akan mendapatkan “Roma” saya tersebut.

Sekarang pertanyaanya adalah “Apakah kita sudah mempunyai Roma kita masing-masing?” dan “Seberapa besar kita ingin sampai di Roma tersebut?”. Jika kita sudah menentukan Roma kita, maka kita bisa memilih jalan mana yang akan kita tempuh untuk sampai di Roma tersebut.

Tulisan ini diadaptasi dari blog penulis di www.yangkiimadesuara.com

Picture All Roads Lead to Rome was provided by the author, copyright of Cascade Symphony.