Terdampar di Negeri Sakura: Sebuah Kilas Balik

Terdampar di Negeri Sakura: Sebuah Kilas Balik

Bersekolah di luar negeri secara gratis, alias dengan beasiswa, adalah impian saya sejak dulu dan demi cita-cita ini saya rajin mendatangi seminar-seminar serta pameran pendidikan internasional. Saat lulus SMP, saya berencana untuk mengikuti seleksi ASEAN Scholarship untuk masuk SMA di Singapura. Namun rencana itu harus pupus karena ada salah satu kebijakan dari pihak Singapura yang tidak sesuai dengan prinsip saya. Saat itu saya berpikir kejadian itu hanyalah sebuah awal dari tantangan-tantangan lain yang harus saya lewati untuk mencapai cita-cita saya. Saya tetap optimis karena saya percaya kesempatan lain masih ada. Karena itu, saat SMA saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri. Saat itu saya mendaftar program AFS Bina Antarbudaya dan sayangnya perjuangan saya harus terhenti sampai seleksi wawancara saja. Saya cukup sedih dengan hasil tersebut, namun dari pengalaman wawancara itu saya mengevaluasi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan berusaha mengingat kembali bagaimana saya menjawabnya. Apalagi bagi saya itu adalah wawancara resmi pertama yang menggunakan Bahasa Inggris sehingga saya masih perlu banyak belajar.

Karena kesibukan di sekolah maka masa SMA saya terlewati tanpa berhasil memenuhi target saya untuk bisa sekolah di luar negeri. Saya sudah bertekad pada diri sendiri bahwa mungkin memang belum rejekinya saat ini, tapi untuk kuliah nanti saya harus bisa keluar dan target saya adalah Jepang karena untuk program undergraduate setahu saya hanya Jepang yang menyediakan beasiswa penuh,apalagi saya sudah tertarik dengan budayanya sejak dulu. Ternyata Allah memberi kejutan di beberapa bulan terakhir saya di SMA. Saya tidak menyangka sekolah saya merekomendasikan nama saya untuk didaftarkan ke New York University Abu Dhabi. Karena saat itu target saya adalah mendapat beasiswa ke Jepang atau masuk ke universitas negeri di Indonesia, saya tidak memiliki keinginan untuk kuliah di universitas Amerika Serikat karena setahu saya belum ada beasiswa untuk level undergraduate disana. Tapi karena ini adalah sebuah kesempatan emas maka saya tidak boleh menyia-nyiakannya. Apalagi katanya yang diterima di universitas ini kebanyakan diberi beasiswa oleh universitas. Pengalaman mendaftar ke New York University adalah pengalaman pertama saya dalam rangka mendaftar ke perguruan tinggi. Saya tidak menyangka persayaratan yang dibutuhkan sangat banyak dan sangat ribet. Banyak dokumen yang harus diterjemahkan ke Bahasa Inggris seperti rapor dan sertifikat penghargaan (ijazah belum ada karena belum lulus). Lalu ada surat rekomendasi dari beberapa guru dan beberapa esai yang harus dibuat. Belum lagi mengisi form pendaftaran secara online yang isinya bermacam-macam. Saya tidak punya feeling apa-apa tentang New York University ini, mungkin karena ini bukan target saya yang sebenarnya jadi rasanya nothing to lose saja. Ternyata saya dapat undangan untuk menghadiri Candidate Weekend di Abu Dhabi langsung dan semua biayanya ditanggung oleh pihak universitas alias gratis!

Singkat cerita saat menghadiri wawancara disana saya bertemu banyak orang dari berbagai Negara dan menurut saya mereka sangat keren. Dari perjalanan ke Abu Dhabi ini saya belajar banyak bahwa saya termasuk masih sangat kurang pengalaman dibanding mereka dan melakukan kesalahan saat wawancara. Saya tidak terlalu memperhatikan kuliah umum yang disampaikan oleh President New York University, padahal pertanyaan pertama wawancara berkaitan dengan hal tersebut. Pada akhirnya saya mendapat pengumuman bahwa saya tidak diterima di New York University Abu Dhabi.

Abu Dhabi dengan latar belakang Sheikh Zayed Grand Mosque

Kecewa sudah pasti, tetapi hal ini justru membulatkan tekad saya untuk bisa kuliah di luar negeri bagaimanapun caranya. Meskipun saya sudah datang ke beberapa seminar pendidikan Jepang dan berusaha meng-update info terbaru tentang beasiswa disana, saya kehilangan kesempatan untuk ikut seleksi Mitsui Busan Scholarship. Rasa penyesalan luar biasa besar saat itu, tapi bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Saya harus mulai fokus persiapan untuk mengikuti seleksi Monbukagakusho Scholarship: beasiswa pemerintah Jepang yang terkenal susah.

Awalnya target saya kan bisa kuliah di Jepang harus dengan beasiswa namun melihat ketatnya kompetisi saya harus menyiapkan rencana lain. Setelah browsing sana-sini tentang pendidikan di Jepang akhirnya saya putuskan masuk Japanese Language School dulu lalu baru mendaftar kuliah disana. Disitu disebutkan ada beasiswa yang bisa didaftar setelah kedatangan meski awalnya harus menalangi biaya terlebih dahulu. Saya ragu-ragu awalnya melihat keadaan finansial sedang kurang bagus, walaupun demikian ayah saya mendukung keputusan untuk mendaftar beasiswa tersebut. Saya pikir kalau sudah didukung orang tua artinya saya sudah diberi kesempatan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Disaat yang sama paman saya menyarankan agar saya mengikuti seleksi SNMPTN karena menurut beliau lebih baik masuk PTN dulu sambil menunggu pengumuman Monbukagakusho. Syukur-syukur kalau dapat beasiswa itu, kalau tidak pun saya juga masih aman karena sudah kuliah dan mungkin nantinya saat S2 bisa mendaftar. Jadi saat itu di waktu yang hampir bersamaan saya lolos untuk mengikuti tes tulis Monbukagaksho Scholarship, ikut SNMPTN, dan menyiapkan berkas untuk mendaftar ke Japanese Language School. Hasilnya adalah saya tidak lolos ke tahap wawancara untuk Monbukagakusho, saya diterima di ITB, dan aplikasi saya di Japanese Language School sudah diterima. Saya sangat bersyukur, namun juga sedih dengan hasil tersebut. Saya sangat bingung harus memilih yang mana antara masuk di ITB atau tetap berangkat ke Jepang tanpa beasiswa.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk melepas ITB dan tetap pergi ke Jepang. Mungkin terkesan nekat sekali tapi saat itu saya yakin hal itu adalah keputusan terbaik yang bisa saya buat.

Saya mengikuti program selama  sembilan bulan di Japanese Language School sebelum akhirnya diterima di Nagoya University. Selama sembilan bulan itu saya harus bertahan hidup dalam kondisi keuangan yang pas-pasan. Dalam jangaka waktu tersebut rencana studi saya benar-benar berubah dari semula. Beasiswa yang  menurut informasi bisa saya ikuti ternyata tidak dapat dilamar dari sekolah saya. Banyaknya part-time job ternyata tidak serta merta membuat saya mendapat pekerjaan karena alasan kerudung yang saya pakai. Akhirnya saya mendapat pekerjaan paruh waktu di kantin sekolah selama tiga bulan. Selain itu saya merasa kondisi sekolah tidak kondusif untuk mengerjar target saya memenuhi persyaratan masuk universitas Jepang; menjawab pertanyaan tes masuk universitas yang berbahasa Jepang.

Kemudian saya mendapat info tentang G30 Program yang dibuka pemerintah Jepang dari teman-teman Indonesia disana salah satunya program kuliah untuk mengambil studi S-1 dalam Bahasa Inggris. Saat itu saya hanya bisa mendaftar di tiga universitas yaitu Osaka University, Kyushu University, dan Nagoya University. Syarat-syarat pendaftaran tiap universitas berbeda, namun secara umum yang dibutuhkan adalah nilai TOEFL atau tes kemampuan Bahasa Inggris yang lainnya, ijazah, rapor, surat rekomendasi guru, esai, serta mengisi form pendaftaran. Kalau lulus seleksi berkas ini maka akan dipanggil untuk wawancara dan tes tulis (untuk Nagoya University tidak ada tes tulis).  Pertanyaan yang diajukan saat wawancara bervariasi. Ada yang menanyakan lebih banyak tentang bidang ilmu pengetahuan yang akan dimasuki nantinya, ada juga yang lebih menitikberatkan pada personality dan latar belakang kepemimpinan, dan ada pula yang fifty-fifty. Saat mendaftar masuk universitas-universitas tersebut kita juga bisa mendaftar aplikasi beasiswa dari pihak kampus. Sehingga harapan saya saat itu diterima dimana saja tidak apa-apa asal bisa mendapat beasiswa.

Harapan memang tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Saya ditolak di Kyushu University, masuk waiting list di Osaka University, dan diterima di Nagoya University namun aplikasi beasiswa saya ditolak. Alhamdulillah sekali saya bisa diterima tapi saya juga bingung sekali bagaimana membayar uang masuknya saat itu. Pada akhirnya ada saudara yang mau membantu sehingga proses masuk kuliahnya bisa lancar. Saya bertekad bagaimanapun caranya setelah ini saya  tidak mau merepotkan orang tua atau saudara lagi.

Pada bulan Oktober 2012, Alhamdulillah saya resmi menjadi mahasiswi Nagoya University. Meski hingga saat itu harapan saya tidak persis seperti yang saya inginkan, tapi saya yakin Allah punya rencana yang terbaik. Saya terkejut  ketika pertama membaca sebuah email yang menyatakan bahwa saya menerima beasiswa dari JASSO selama enam bulan. Saya merasa tidak percaya mengingat saya merasa tidak pernah mendaftar ke JASSO. Ternyata setelah saya cari tahu, mahasiswa G30 yang tidak mendapat beasiswa apapun direkomendasikan oleh pihak universitas untuk mendapat beasiswa ini. Beasiswa JASSO jumlahnya tidak mencukupi untuk menutupi biaya hidup di Nagoya. Namun, saya sangat terbantu dengan beasiswa ini. Untuk SPP, saya mengajukan permohonan keringanan ke pihak kampus dan alhamdulillah mendapat keringanan sebesar 50%. Karena beasiswa dari JASSO hanya enam bulan sedangkan saya juga butuh untuk menabung demi membayar SPP, maka saya rajin mencari info untuk mendaftar beasiswa lain.

Satu hal yang saya temukan selama proses mencari beasiswa tambahan ini adalah belum banyak beasiswa untuk mahasiswa semester satu S1. Saya sadar bahwa peluang saya sangat kecil. Berkali-kali saya bertanya apakah beasiswa ini itu bisa didaftar atau tidak dan berkali-kali juga jawaban yang saya terima negatif. Di saat yang sama, ada kabar baik yang saya terima dari dosen pembimbing saya yang menawari saya kerja paruh waktu di lab beliau. Karena kerja di dalam kampus, saya bisa lebih fleksibel mengatur waktu dan gajinya juga lumayan. Biaya hidup bisa tercukupi dengan beasiswa JASSO  gaji part-time saya, namun tidak dengan SPP. Akhirnya karena hingga batas akhir pelunasan SPP saya belum bisa membayarnya, dosen pembimbing saya meminjamkan uang kepada saya. Rasanya saat itu campur aduk antara malu, lega, nggak enak, tapi yang pasti saya berterima kasih sekali kepada dosen saya ini.

Setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Benar sekali kutipan ayat itu. Berita yang saya tunggu-tunggu pun tiba juga pada bulan Februari 2013. Saya mendapat email dari department office untuk datang kesana karena ada beasiswa yang sepertinya bisa saya daftar,namanya adalah AEON 1% Club Scholarship. Beasiswa ini mencakup SPP tiap semester dan living cost tiap bulan yang jumlahnya cukup besar dalam jangka waktu dua tahun dan bisa diperpanjang. Saat membaca semua persyaratan dari AEON 1% Club Scholarship memang saya bisa mendaftar beasiswa tersebut, namun semua berkas yang harus saya isi harus ditulis dalam Bahasa Jepang. Jadi tantangan saya saat itu adalah menulis dalam Bahasa Jepang karena sebenarnya secara umum form pendaftaran itu tidak terlalu susah untuk diisi jika menggunakan Bahasa Inggris. Isinya data diri dan beberapa pertanyaan tentang studi sekarang, latar belakang mengapa mendaftar beasiswa ini serta rencana di masa depan. Berkas-berkas lain yang perlu dipersiapakan adalah rekomendasi dosen dan hasil studi semester kemarin. Akhirnya saya meminta bantuan tutor saya yang orang Jepang untuk mengoreksi tulisan saya dan alhamdulillah saya bisa mengirimkan persyaratan tepat waktu di bulan Maret. Saya mulai khawatir saat bulan Mei belum ada kabar apapun dari pihak AEON padahal pada bulan itu dijadwalkan akan ada wawancara bagi pendaftar yang lolos. Ternyata ada perubahan jadwal dari pihak AEON karena wawancara dilakukan di bulan Juni dan saya mendapat kabar bahwa saya dipanggil wawancara ke kantor cabang di Kyoto. Rasanya lega sekali mendapat kabar itu karena kata pihak kampus interview itu hanya formalitas, kalau saya sudah dipanggil wawancara artinya 90% saya sudah diterima. Meskipun begitu saya tetap agak gugup ketika hendak diwawancara dalam Bahasa Jepang. Namun ternyata wawancara dilakukan bersama dengan tiga calon penerima beasiswa yang lainnya dan pertanyaan yang diajukan juga umum sehingga saya bisa paham dan menjawab dengan Bahasa Jepang.

Saya resmi dikukuhkan sebagai penerima AEON 1% Club Scholarship pada bulan Juli 2013. Setelah itu uang beasiswa cair dan saya bisa melunasi hutang kepada dosen saya. Rasanya Allah menjawab doa-doa saya sebelumnya saat itu dengan jalan yang tidak terduga. Alhamdulillah saya masih bisa kuliah dan hidup dengan baik di Nagoya hingga sekarang. Maka dari itu sekarang ini saya sedang ganbatte untuk menjalani sisa dua tahun perjalanan hidup saya di Jepang,insyaAllah.

Intinya apapun impian kita bagaimana pun caranya harus kita perjuangkan agar tidak menyesal nantinya karena tidak pernah mencoba mencapai mimpi-mimpi itu. Asalkan kita selalu berusaha dan berdoa jalan itu pasti ada. Semua tantangan, kegagalan, dan keberhasilan semua harus diterima, disyukuri, dan dijalani 😀 Keep up the hard work!




===========================================
Izza Pranatasari is currently student at Nagoya University majoring in Biological Sciences
Posts