Narasi Beasiswaku

Narasi Beasiswaku

Tidak pendek, tidak mudah, dan tidak dalam waktu singkat, bahkan hampir putus asa dalam mengejar angan untuk melanjutkan studi S2 di Belanda, atau yang dikenal dengan Negeri Tulip, Kincir Angin, atau (untuk saya) negeri yang letaknya ribuan kilometer dari tanah air, Indonesia. Benar-benar sebuah pencapaian yang sangat besar ketika bulan Agustus 2011, saya pertama kali nya menginjakkan kaki di sana.

2008: Vision Searching

Setelah dinyatakan lulus dan resmi menyandang gelar S.TP (Sarjana Teknologi Pertanian) tahun 2008, saya bekerja menjadi seorang asisten dosen di jurusan yang sama. Ketika itu, saya yakin bahwa pada akhirnya memang inilah jalan yang harus saya tempuh, yaitu dunia pendidikan. Ada perasaan senang ketika saya bisa berbagi sedikit ilmu untuk teman-teman mahasiswa dan membuat mereka mengerti apa yang saya sharing-kan. Namun, saya tahu ilmu yang saya miliki sebagai seorang asisten dosen belum lah cukup untuk dapat membantu mereka mencapai mimpi-mimpi mereka. Saat itu, saya berpikir, apa yang harus saya lakukan?

Sebagai mahasiswa, dosen-dosen pengajar merupakan salah satu pintu gerbang utama untuk mempersiapkan mereka sebelum masuk dan terjun ke dunia kerja, karena dosen-dosen inilah yang akan berbagi pengalaman baik di dunia pendidikan atau pun di dunia kerja yang pada akhirnya akan menginspirasi para mahasiswa. Ibaratnya, para dosen memiliki helicopter view. Saya pribadi merasa sangat terinspirasi oleh 2 orang dosen saya ketika di UPH (sebut saja Ibu JR dan Bapak IS), keduanya memiliki kesamaan yaitu mereka sangat cinta dunia pendidikan, mereka punya gelar Master, dan juga mereka punya pengalaman di industri makanan sebagai praktisi. Ketika mereka mengajar, sangat terasa sekali mereka mampu membagikan cerita cerita riil dan nyata yang terjadi di industri makanan. Ketika soal ujian dibagikan pun, mereka seringkali memberikan berbagai contoh kasus yang tentunya membuat saya ketika itu berpikir “Oh, ini yang terjadi ya di industri, ada kasus yang menyimpang yang perlu diselesaikan dengan trik dan bukan hanya dengan teori ideal di buku“. Seketika itu pula, saya memutuskan saya harus masuk ke dunia industri makanan sebelum melanjutkan studi S2 saya karena memiliki gelar Master umumnya adalah syarat minimum untuk menjadi dosen di universitas saya.

2009: Entering Industrial World

Untuk mencapai visi itu, akhirnya pada tahun 2009, saya memutuskan untuk keluar dari tim pengajar universitas dan bergabung dengan salah satu perusahaan makanan lokal yaitu Nutrifood Indonesia di Divisi Nutrifood Research Centre. Takjub! Itulah kesan yang pertama kali saya dapatkan ketika saya bekerja disana dan ini adalah kesempatan saya untuk bisa bekerja, sambil belajar, dan tentunya mendapatkan pengalaman industri secara langsung untuk berbagi kelak. Singkat cerita, tahun 2010, saya memutuskan untuk mulai melamar studi S2. Dan disinilah lika-liku itu dimulai.. 

2010: Finding a Scholarship: Challenging Processes

Mengapa Belanda?

Banyak teman yang melamar ke sana termasuk sesama asisten dosen dan teman-teman kantor dengan rate keberhasilannya 100% (How cool are they?!). Semua yang melamar, saat itu juga mereka langsung diterima plus mendapat beasiswa, sebut saja Beasiswa NFP, Beasiswa Wageningen, Beasiswa StuNED, etc. Saya pun memiliki keyakinan bahwa saya akan diterima dengan mudah plus dengan beasiswa, namun ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Penolakan itu terus datang dengan berbagai alasan, terutama kalah saing dengan kandidat yang lain (nilai IPK, TOEFL, essay, dll). Tahun 2010, saya melamar ke Wageningen University, hasilnya: diterima tapi tidak berhasil dapatkan beasiswa. Beasiswa lain pun saya coba jajal seperti Erasmus Mundus, dll, juga tidak dapat. Saya akhirnya mencoba untuk di negara lain seperti Belgia, yaitu VLIR-UOS, dan ketika itu saya tidak diterima, dengan alasan saya kerja di sektor swasta. Saat itu, banyak sekali cerita yang saya dapatkan yang sedikit banyak meluluh-lantakkan semangat saya untuk berkuliah di luar, misalnya beberapa beasiswa memang lebih diutamakan untuk teman-teman dosen dari sektor pendidikan (sedangkan saya bukan dosen), ada juga beasiswa yang mengutamakan teman-teman pegawai negeri (saya di swasta), ada juga yang mengatakan KTP nya dari Jakarta jadi lebih sulit, dll. Sementara beberapa teman terus saja ada yang diterima dan berangkat, saya masih saja mengalami penolakan.

Putus asa? YA, tentunya.. however, it is not the end

Kampus Universitas Maastricht. Foto diambil oleh penulis.

Beginning of 2011: The New Era  

Awal tahun 2011, saya mencoba lagi, kali ini saya mencoba lamar beasiswa yang sama dari Wageningen University, dari Belgia VLIR UOS, dan tambahan kali ini dari ADS (Australia Dev. Scholarship), and guess what? Yes, I got rejected.

Sampai suatu hari, saya mendapat informasi dari adik kelas saya dulu sewaktu di S1, tentang jurusan Health Food Innovation Management di Maastricht University, The Netherlands. Jurusan yang sangat menarik karena jurusan ini dirancang untuk mempersiapkan lulusannya untuk bisa bekerja di industri makanan sehat di semua bidang utama, seperti Food Business & Marketing, Food Science & Technology, Food Nutrition, dan juga Food Regulatory. Cocok!! Karena saya  memang ingin belajar sebanyak mungkin tentang seluk beluk industry makanan supaya pengalaman ini nantinya bisa dibagikan jika saya kembali menjadi seorang dosen. Tanpa basa basi, saya kembali semangat, bangkit kembali, dan mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkan, dengan totalitas 200% dan tanpa memikirkan penolakan-penolakan yang lalu.

June 2011: FINALLY!!!

Singkat cerita, Juni 2011, saya mendapatkan email dari Maastricht University, yang menyatakan bahwa saya diterima di jurusan ini dengan beasiswa dari XL High Potential Scholarship Maastricht University. Beasiswa yang diberikan berdasarkan potensi akademik dan juga motivasi saya ketika melamar jurusan. Sungguh, that day is one of the best days that ever happened in my life!!

Di depan kincir angin khas Belanda di kota Leiden. Foto diambil oleh penulis.

EPILOGUE

Setelah berbagai macam penolakan dan cerita-cerita tentang sulitnya dapatkan beasiswa, akhirnya saya bisa membuktikan bahwa konsistensi, persistensi, motivasi yang kuat, visi yang jelas, dan juga berkat Tuhan memampukan saya menggapai angan berkuliah di negeri luar, dan tak tanggung-tanggung, di Belanda, negara yang seumur-umur tidak pernah saya mimpikan bisa ke sana.

Saya tahu beberapa teman bahkan mengalami waktu menunggu dan penolakan yang mungkin lebih banyak dari saya, tapi saya percaya, teman-teman sekalian juga dapat menggapai cita, asalkan selalu percaya pada kemampuan diri, berusaha, serta berserah pada Tuhan.

Salam inspirasi!!




===========================================
Awarded a UPH Platinum Scholarship, Fendy Susanto earned his B.Sc in Food Technology in 2008 from Universitas Pelita Harapan (UPH). He then worked for the university as an Assistant Lecturer for 1 year before joining the Nutrifood Research Centre of PT Nutrifood Indonesia from 2009 to 2011. Fendy continued his study for an M.Sc. in Health and Food Innovation Management at the University of Maastrich (Maastricht Universiteit), the Netherlands. He was also an awardee of the XL High Potential UM Scholarship. He spent 6 months working as an intern at Nestle Product Technology Centre in Orbe, Switzerland, before his final graduation in September 2013. Currently, Fendy works as Global Regulatory Affairs Support at the headquarter office of Nestle Health Science in Vevey, Switzerland. He's set to work at the company for a year and he plans to return to Indonesia after. Fendy is very passionate about anything related to education. He believes it is one of the most basic pillars necessary in bringing positive changes to the lives of people in every country around the world, including Indonesia.
Posts | Twitter | LinkedIn