Magang untuk Masa Depan

0
88

“Emang perlu punya pengalaman internship ya?” pertanyaan itu muncul dibenakku, walaupun aku sudah berdiri beberapa langkah dari tenda dimana Job and Internship Fair tahun ini diselenggarakan. Seperti banyak mahasiswa lainnya, hari-hariku dipenuhi dengan kelas, kegiatan klub dan juga tugas sekolah. Mencari waktu untuk bertemu dengan teman atau menjelajahi New York City saja sudah susah, apalagi ikut serta dalam program magang. Pelan-pelan aku menelusuri berbagai stand dengan beraneka ragam perusahaan dan organisasi, seperti NBC, yakni sebuah perusahaan televisi terkenal di Amerika; Penguin Group, salah satu penerbit buku terbesar di dunia; serta beberapa yayasan nonprofit. Walaupun pada saat itu, aku memiliki latar belakang menulis, global health, psikologi, dan juga teater, aku tidak memiliki tujuan profesional yang jelas. Kata ‘internship‘ saja sudah membuatku merasa risih, apalagi kata ‘job‘. Akhirnya, kutinggalkan tenda itu dengan beberapa brosur dan kartu nama.

Beberapa minggu kemudian aku memutuskan untuk melamar di Michael Kors, sebuah design house di Manhattan. Tahun berikutnya aku melamar di (RED), organisasi nonprofit yang didukung musisi Bono dan juga perusahaan teknologi besar, Apple. Sekali lagi lamaranku ditolak. Tanpa arah yang jelas dan juga back-up plan aku berusaha untuk tidak memikirkan konsekuensi dari pengalaman pada karirku yang terbatas.

Pada umumnya, pengalaman magang memiliki nilai tambah dalam melamar pekerjaan atau meneruskan ke program S2. Kebanyakan perusahaan dan sekolah mencari murid-murid yang telah memiliki pengalaman kerja. Selain itu, banyak siswa/i yang mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan dimana mereka menjalankan internship. Kompetisi global terus meningkat, mengakibatkan syarat-syarat melamar baik untuk bekerja atau meneruskan studi semakin sulit. Masa magang biasanya diselenggarakan pada liburan tengah tahun atau setahunan penuh. Banyak siswa/i Indonesia di luar negeri yang pulang ke Indonesia, biasanya ke kota besar seperti Jakarta, untuk magang pada masa ini.

Tetapi selama musim panas, kuhabiskan waktuku di dalam kelas. Tahun lalu, aku belajar di New York University, dimana aku mendapat kesempatan menarik untuk ikut serta dalam tim riset di NYU: Child Study Center. Pekerjaan ini kudapat dari salah satu dosen di NYU selama summer school. Pada saat itu, beliau tidak sedang mencari intern, aku mengambil inisiatif dengan bertanya beberapa minggu sebelum program musim panas berakhir. Berdasarkan kinerja yang telah kuperlihatkan di kelas, dosen tersebut menerima lamaranku dengan serius.

September 2013, kumulai masa magang dengan kondisi tidak dibayar karena status visaku sebagai siswa internasional. Tetapi, lewat negosiasi dengan ketua tim riset atau Primary Investigator (PI) aku berhasil menjadi last author atau penulis terakhir untuk beberapa publikasi.

Walaupun perjalanan pulang pergi dan makan siang tidak dibiayi oleh NYU, aku berhasil meraih prestasi yang akan berguna untuk bekerja di dunia riset, serta untuk masuk ke graduate school. Salah satu strategi bernegosiasi adalah memperlihatkan skill serta antusiasme untuk belajar. Sebagai bagian tim yang selalu siap diberi tugas, apapun bentuknya, aku dipercaya untuk mengolah data dan menulis untuk artikel yang nantinya akan diterbitkan. Selain itu, aku bertugas untuk menyiapkan poster untuk konferensi psikologi.

Magang biasanya membutuhkan banyak waktu dan juga komitmen. Berusahalah untuk mempertahankan nilai dan juga kegiatan diluar sekolah agar bisa menjadi dasar untuk mencari opportunity magang. Carilah internship yang menarik dan menantang, sebab keuntungan serta tujuan dari magang adalah untuk belajar sambil menguji coba lapangan kerja tertentu. Usahakan agar pekerjaan yang dilakukan cocok dengan ambisimu, tapi tetaplah terbuka untuk tugas-tugas baru yang belum kau kuasahi. Jangan segan untuk berbicara dengan atasan atau mentor mengenai sasaran profesionalmu.

Persiapkan diri untuk melamar dengan menulis resume/CV yang rapi dan menarik. Seringkali, universitas akan menyiapkan siswa/i dengan workshop atau job/internship fair. Ada beberapa sekolah yang memiliki jaringan dengan alumni serta organisasi untuk menghubungkan siswa dengan kesempatan magang. Lakukan research tentang pekerjaan dan perusahaan yang akan kau lamar. Cari tahu kualitas-kualitas yang dicari oleh perusahaan tersebut dengan melihat latar belakang serta staff yang sedang bekerja disana. Setelah mengirim aplikasi, seringkali organisasi akan menghubungi para pelamar dalam beberapa minggu. Selain ditolak, anda bisa mendapatkan tawaran pekerjaan secara langsung atau diundang untuk interview. Berlatihlah dengan teman, guru atau career advisor di sekolah anda untuk mempersiapkan diri. Coba pikirkan hal-hal yang mungkin akan ditanyakan. Setelah itu datanglah ke wawancara dan lakukan sebaik mungkin. Ada baiknya untuk mengirim follow up, via email beberapa hari setelahinterview.

Sebenarnya ada banyak cara untuk mendapatkan kesempatan magang, dari bekerja sebagai research assistant dosen, volunteer di SMA alma mater, mengirim email secara langsung ke orang tertentu, misalnya pendiri sebuah start-up, dan sebagainya. Koneksi juga sangat penting dalam melamar internship. Bicaralah dengan teman sebangkumu atau kakak kelas yang bisa memberi rekomendasi. Berdiskusi dengan dosen atau mentor lainnya juga bisa membuahkan hasil menarik.

Magang bukanlah kegiatan wajib, tetapi dengan meningkatnya kompetisi global, ada baiknya untuk mempersiapkan diri untuk masa depan dengan menjalani internship. Berdasarkan pengalamanku, magang telah memberikan kesempatan untuk belajar, serta mencapai beberapa aspirasi yang telah membantuku untuk melanjutkan sekolah S2. Semoga tips diatas berguna untuk anda! Good luck!

 

Foto disediakan oleh kontributor.

SHARE
Previous articleNarasi Beasiswaku
Next articleMeraih Beasiswa Short-course Study of The U.S. Institutes
Tiffany Robyn Soetikno
With one foot in Jakarta, Indonesia and another in London, U.K., Robyn spends her time maintaining KisahJika.com, her own blog and other publications. In May 2014, Robyn received a Bachelors of Arts degree from Sarah Lawrence College, NY, where she studied Global Health and Theatre. During the summer of 2012 and 2013, Robyn studied in Boston University and New York University, respectively. Currently, she is pursuing a postgraduate degree in International Health Management at Imperial College Business School, London. A traveler at heart, she enjoys going on new adventures, tasting unique cuisines, and sharing conversations with various people.