Tips Aplikasi Beasiswa Chevening yang Jumlahnya Naik Tiga Kali Lipat Tahun Ini

Tips Aplikasi Beasiswa Chevening yang Jumlahnya Naik Tiga Kali Lipat Tahun Ini

Beasiswa Chevening merupakan beasiswa pemerintah UK untuk para mahasiswa dari negara-negara berkembang yang hendak mengambil studi S2 di universitas-universitas ternama di UK. Program yang telah berdiri sejak tahun 1983 ini membiayai sekitar 600 mahasiswa dari 118 negara di dunia (http://www.chevening.org/) tiap tahunnya. Kabar baiknya, untuk tahun akademik 2015-16, pemerintah UK akan menaikkan jumlah beasiswa sebanyak tiga kali lipat (https://www.gov.uk/government/news/chevening-scholarship-places-in-developing-countries-tripled-for-201516). Inilah saat yang tepat untuk membuat aplikasimu dan mengalami serunya belajar di UK. Berikut ini beberapa tips sukses berdasarkan pengalaman pribadi saya mendapatkan beasiswa Chevening pada tahun 2013-14 untuk studi MSc Environmental Sustainability di University of Edinburgh.

Bagi saya, proses aplikasi beasiswa ini seperti naik roller coaster, dari mencari universitas ibarat “online shopping”, merevisi esai aplikasi berulang-ulang kali, gagal mendapatkan beasiswa berulang kali, hingga akhirnya perasaan gembira saat Duta Besar Inggris memberikan saya sertifikat beasiswa Chevening di Kedubes Inggris, Jakarta. Mendapatkan beasiswa ini tidak mudah, pada tahun angkatan saya, hanya 21 orang yang berhasil dari 700 pelamar. Walaupun kompetitif, saya percaya dengan persiapan yang matang, mendapatkannya menjadi tidak sesulit itu. Intinya adalah konsistensi dan semangat, yang pada akhirnya merefleksikan karakter dan pribadi kita serta menguji apakah kita sudah siap untuk S2 di UK.

Tips 1: Ketahui Apa Visi dan Misi Program Beasiswanya

Tiap program beasiswa, baik beasiswa pemerintah atau organisasi, memiliki visi tersendiri. Pada intinya, penerima beasiswa merupakan “investasi” para pemberi beasiswa yang diharapkan memberikan nilai positif di masa depan, misalnya hubungan diplomasi dan kerjasama antar negara atau ikatan kerja. Ketahuilah visi tersebut sehingga profil yang kamu utamakan di dalam aplikasi beasiswamu segaris dengan apa yang diinginkan pemberi. Hal ini bukan berarti kamu harus mengubah profilmu secara total, ini adalah strategi untuk meningkatkan kemungkinan sukses. Misalnya, jika yang dicari adalah “future leaders” maka tonjolkan pengalamanmu menjadi “leader” di berbagai kegiatan kampus atau dalam pekerjaan. Pelajari visi dan misi, bacalah buku panduan dan situs web pemberi beasiswa dengan seksama, cari tahu hubungan antara Indonesia dan pemberi, dan jika mungkin, bicaralah dengan para alumni penerima beasiswa tersebut.

Tips 2: Tunjukkan Konsistensi dalam Aplikasimu

Aplikasi yang kuat adalah aplikasi yang menunjukkan konsistensi. Bukan berarti semuanya wajib konsisten, misalnya jika ingin ambil studi tentang Lingkungan Hidup, tidaklah wajib memiliki S1 atau pekerjaan yang mutlak bersinggungan dengan lingkungan hidup. Yang diperhatikan oleh para pemberi adalah bagaimana pengalamanmu sejauh ini konsisten dengan studi yang ingin kamu ambil, serta bagaimana studi ini akan membantumu di masa depan. Gelar S1 saya adalah S.Sos Hubungan Internasional (HI) dari Universitas Indonesia, dan pekerjaaan pertama saya adalah membantu pelatihan manajemen bencana alam, keduanya tidak berhubungan langsung dengan lingkungan hidup. Namun, dalam aplikasi beasiswa, saya menunjukkan bahwa dengan S1HI, pemikiran saya menjadi tajam dan kritis terutama mengenai isu internasional dari perspektif Indonesia selaku emerging economy yang akan merasakan dampak negatif perubahan iklim. Saya juga berargumentasi bahwa pengalaman kerja saya meyakinkan saya bahwa potensi seseorang untuk membuat perubahan sangatlah besar jika ia tahu bagaimana memanfaatkan kesempatan bekerja dengan organisasi internasional dan pemerintah, dan kemampuan inilah yang ingin saya tingkatkan dengan bekal S2 dari UK.

Tips 3: Revisi Esai Aplikasi Puluhan Kali

Saya sudah tidak lagi menghitung berapa kali persisnya esai aplikasi beasiswa saya dirombak, direvisi dan ditulis ulang. Dibatasi pada 1000 kata, seorang pelamar harus menunjukkan konsistensi, alasan khusus mengambil studi, rencana masa depan, pengalaman sebelum ini, serta karakter pribadi yang sesuai dengan visi misi pemberi beasiswa. Hal ini sangat menantang karena banyak yang perlu dikomunikasikan namun dengan jumlah kata yang sedikit. Menulis esai memerlukan waktu beberapa minggu, dari proses draft dan menulis hingga revisi dan memolesnya. Di tengah-tengah proses tersebut, pastikan esaimu dibaca oleh beberapa orang lain, misalnya teman, kerabat kerja, orang tua dan alumni. Masukan dari merekalah yang akan membuat esaimu semakin tajam dan kuat. Pastikan kamu memiliki waktu yang cukup untuk menulis esai; jangan menundanya sampai dekat dengan tenggat waktu.

Tips 4: Berikan Briefing Kepada Referees Aplikasimu

Program beasiswa akan meminta beberapa referee untuk memberikan testimoni mengenai kapasitas dan karaktermu, misalnya dosen S1 dan supervisor di pekerjaanmu. Pastikan kamu telah berdiskusi dengan para referees tersebut mengenai program beasiswa, studi yang ingin kamu ambil serta alasan dan motivasi pribadimu. Pastikan mereka paham seluruhnya agar testimoni yang mereka berikan konsisten dengan esai aplikasimu sehingga memperkuat keseluruhan aplikasi.

Tips 5: Lakukan Latihan Interview

Jika lolos tahap seleksi aplikasi pertama, yaitu ketentuan administrasi dan esai, tahap berikutnya adalah interview. Di sini kamu dapat lebih bebas menunjukkan kepribadianmu sambil bercerita mengenai motivasi mengambil studi. Pastikan kamu melakukan dua sampai tiga kali latihan dengan teman atau alumni. Pertanyaan yang umum ditanyakan adalah motivasi belajar, visi misi untuk 5 tahun dan 10 tahun ke dapan, alasan memilih universitas dan jurusan tersebut, pendapatmu tentang bidang studi tersebut di Indonesia (misalnya isu perubahan iklim di Indonesia), rencana riset serta rencana saat kembali ke Indonesia. Ingatlah kembali bahwa kamu adalah “investasi”, semakin tinggi value yang dapat kamu berikan dari segi potensi untuk masa depan, semakin tinggi kesempatanmu.

Tips 6: Kegagalan Adalah Sumber Pelajaran yang Berharga

Sebelum Chevening, saya telah gagal aplikasi beasiswa sebanyak 3 kali (AusAID); saya tidak putus asa dan belajar dari kekurangan saya sebelumnya: proses aplikasi yang mepet, esai yang lemah, pengalaman kerja yang masih kurang serta tidak ada konsistensi yang saya tunjukkan. Aplikasi Chevening kali ini jauh lebih matang dibandingkan aplikasi sebelumnya; saya bekerja penuh 2 bulan untuk mematangkan aplikasi ini dan akhirnya berhasil. Hal ini membuktikan bahwa memang kerja keras yang dibutuhkan, tidak ada resep lain.

Saya harap tips di atas dapat membantumu untuk mempersiapkan aplikasi Chevening 2015-16 yang akan dibuka sekitar bulan Juli atau Agustus tahun 2014. Ingatlah untuk tetap semangat dan tunjukkan konsistensi, dan yakinlah dengan kemampuanmu. Semoga berhasil!



===========================================
Siti Astrid Kusumawardhani saat ini tengah menulis disertasi untuk meraih gelar MSc Environmental Sustainability di University of Edinburgh, yang didukung oleh Beasiswa Chevening 2013-104 dari Pemerintah UK. Sebelumnya, Astrid berkeja sebagai konsultan untuk program lingkungan hidup di Unilever Indonesia dan program efisiensi energi untuk institusi publik dan bisnis dengan Danish International Development Assistance (DANIDA) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta program pelatihan manajemen bencana alam antara Kepolisian Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat. Astrid meraih gelar 3rd ESL World Best Speaker pada World Universities Debating Championship 2008 dan mewakili Indonesia pada ajang World Schools Debating Championships di Peru dan Jerman. Astrid juga menerima beasiswa PPKB Pemerintah Indonesia untuk studi S1 HI di Universitas Indonesia.
Posts | LinkedIn