Membangun Hubungan Mentorship yang Produktif

1
60

Dalam empat tahun terakhir, saya beberapa kali mendapatkan email dari junior-junior di Indonesia tentang bagaimana cara diterima di universitas di Amerika. 90% email itu isinya bisa dikategorikan dengan 2 contoh email ini:

Pertanyaan di email kedua sangatlah luas dan mudah dicari di website Stanford, dan saya bingung bagaimana menjawab pertanyaan di email pertama. Email-email ini otomatis terbang ke tempat sampah email saya.

Di sisi lain, dalam enam bulan terakhir saya menjadi salah satu mentor dalam program Mentorship Indonesia Mengglobal, di mana saya dipasangkan dengan seorang siswa di Indonesia yang ingin mendaftar ke Amerika Serikat. Setelah sebelumnya pernah beberapa kali membantu junior-junior saya mendaftar ke Amerika Serikat, pengalaman mentorship saya kali ini menggarisbawahi elemen-elemen penting dalam hubungan mentorship yang efektif, produktif, bermanfaat buat mentee saya dan di sisi lain juga menyenangkan buat saya sebagaimentor. Tulisan ini (beserta screenshotsnya) ditulis dengan persetujuan mentee tersebut.

Mudah-mudahan pengalaman ini bermanfaat dalam memulai, membangun dan mempertahankan efektifitas dan produktivitas hubungan mentorshipmu – tidak hanya untuk mendaftar ke universitas tapi juga untuk urusan-urusan profesional.

 

Korespondensi pertama: Respek, Riset, dan Objektif Jelas

Ini email pertama dari mentee saya:

Email ini berbeda sekali dengan cuplikan-cuplikan email yang saya cantumkan di atas, bukan? Tidak sulit untuk berpikir email yang mana yang akan saya baca dan balas. Apa yang saya langsung tangkap dari email ini:

  • Bahasa Inggris yang rapi – jelas kalau dia tidak menulis e-mail ini dengan semena-mena / sambil lalu (sedikit hal yang lebih menjengkelkan daripada membaca e-mail Bahasa Inggris yang berantakan dan tidak bisa dimengerti).
  • Dia menaruh respek terhadap perbedaan jam saya dan menunjukkan keseriusan untuk meluangkan waktu demi hubungan mentorship ini.
  • Jelas bahwa dia sudah memikirkan tentang aplikasi ke Amerika Serikat dengan seksama – pertanyaan yang diajukan sangat spesifik dan (buat saya) menarik. Saya langsung tahu kalau dia tidak akan menghabiskan waktu saya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “bagaimana sih mendaftar ke Stanford?”

Hal-hal yang saya tangkap dari email pertama ini terbukti benar selama lebih dari enam bulan ke depan. Sebagai tambahan, mentee saya ini mahasiswi tingkat 1 di universitas; usia bukanlah suatu alasan untuk kurangnya profesionalisme dalam korespondensi dengan orang lain.

Korespondensi pertama ini sangatlah penting. Mentor-mentor yang ingin kamu cari biasanya punya kesibukan pribadi yang banyak. Mengapa sih mereka harus meluangkan waktu untuk membimbing kamu? Tunjukkan kalau kamu layak dibimbing – kalau kamu menghormati waktu mereka dengan cara meriset hal-hal yang bisa diriset, dengan membuat email kamu layak dan mudah dibaca, dengan menunjukkan keseriusan dan komitmen kamu.

Komitmen

Jangan mencari mentor atau orang untuk membantu kamu bila kamu tidak mau berkomitmen mengeluarkan waktu dan tenagamu sendiri. Mentor-mentor ini tidak bisa mendaftar ke universitas atas nama kamu, atau menuliskan esai-esai untuk kamu. Kamu harus siap mengeluarkan waktu dan tenaga setidaknya 10x waktu dan tenaga yang kamu harapkan dari mentor kamu, untuk urusan ini. Kamu mengharapkan mentor kamu untuk mendedikasikan 1-2 jam seminggu untuk kamu? Setidaknya kamu harus mendedikasikan setidaknya 10 jam untuk mempersiapkan, mengerjakan, dan menginternalisasi feedback dari mentor kamu.

Komitmen ini bisa dibuat dalam bentuk apa? Macam-macam.

Persiapan

Salah satu yang penting adalah persiapan. Sebelum menulis atau berbicara kepada mentormu, persiapkanlah agenda tentang apa yang ingin kamu tanyakan atau diskusikan. Tulislah beberapa draft esai atau ide-ide tema esai sebelum bertanya, “Sebaiknya saya harus buat esai tentang apa, ya?”Dengan mempersiapkan setiap korespondensi dengan baik, kamu menghormati waktu mentor kamu, dan membuat korespondensi kamu efektif.

Dalam program mentorship Indonesia Mengglobal tahun lalu, kami berusaha menstrukturisasi tahap persiapan ini dengan memberikan beberapa tugas / assignments kepada para mentees. Assignments ini bisa dilihat di “Forums”. Dalam pengalaman saya, assignments yang dikerjakan sangat tepat bisa sangat membantu korespondensi antara mentors dan mentee. Misalnya, setelah mengerjakan tugas pertama yang intinya meminta mentees berpikir / mem-brainstorm pencapaian dan prestasinya sejauh ini, saya jadi mengerti latar belakang dan kesulitan yang telah dilewati mentees saya. Saya jadi bisa membuat saran-saran yang lebih terarah untuk pertanyaan mentee saya.

Lebih konkretnya: bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan “Kak, saya harus menulis essay tentang apa, ya?” kalau saya tidak tahu apa-apa tentang si penanya? Di sisi lain, bila saya tahu kalau X adalah siswa yang menderita bullying di sekolah dasar, bertemu teman baiknya waktu tersesat di Roma, suka The Beatles, dan diam-diam bermain stock exchange di rumah, saya bisa memberikan saran yang terarah untuk X.

Internalisasi Feedback 

Cara lain menunjukkan komitmen adalah dengan menginternalisasi feedback yang diberikan mentormu. Saya pernah mendengar banyak cerita bagaimana teman-teman saya memberikan feedback esai kepada mentee mereka, namun e-mail feedback mereka tidak pernah dibalas. Di sisi lain, mentee saya menunjukkan progress yang jelas. Di awal mentorship kami, saya banyak mengkoreksi kesalahan-kesalahan grammar mentee saya. Menjelang akhir mentorship kami, saya mulai bisa fokus ke konten dan gaya bahasa, karena grammar mentee saya sudah tidak perlu dikoreksi. Kesalahan-kesalahan konsep yang sebelumnya ada, tidak lagi diulangi.

 

Untuk para mentor: sebisa mungkin, jelaskan konsep yang salah di balik koreksimu. Jangan sampai menteemu tahu kalau ia salah, tapi tidak tahu mengapa ia salah.

 

Konklusi

Hubungan mentorship, entah di dalam lingkungan pekerjaan atau luar pekerjaan (seperti contohnya dalam mendaftar universitas), bervariasi dalam kualitas. Hubungan mentorship yang produktif harus dibangun dengan komitmen, konsistensi dan profesionalitas dari kedua belah pihak.  Usia atau pengalaman bukan alasan untuk kurangnya hal-hal ini.

Semoga tips-tips ini berguna!

 

Kredit foto: Flickr, dari akun Wes Peck, digunakan dalam Creative Common License

 

  • Andy Primawan

    Cool! Nampaknya saya harus ikut program mentorship IM