Ke Luar Negeri Bukanlah Mimpi

Ke Luar Negeri Bukanlah Mimpi

Siapa Saya?

Kalau ditanya siapa saya? Saya bukanlah siapa-siapa. Saya cuma perempuan yang lahir di desa di Jawa Tengah sebelum berurbanisasi ke Jakarta, namun punya impian bisa keliling dunia. Saya tumbuh di sebuah rumah kontrakan petakan, yang jika hujan besar akan kebanjiran. Saya kecil hidup dengan kondisi pas-pasan. Orang tua saya hanya mampu membelikan pakaian baru setahun sekali saat lebaran. Untuk menyekolahkan saya, orang tua saya harus gali lubang tutup lubang. SK PNS bapak saya yang cuma golongan 2, mungkin hampir tidak pernah ada di genggamannya karena dijadikan jaminan berhutang untuk membiayai sekolah saya.

Bagaimana dengan pendidikan? Dulu, saya bukan murid yang pintar. Bahasa Indonesia saja tidak saya kuasai dengan baik. Hasilnya, setelah pindah sekolah ke SD negeri di Jakarta, saya pun hanya bisa duduk di urutan terakhir ranking di kelas.

Akan tetapi, ternyata sifat kompetitif saya, apalagi ketika merasa iri atau direndahkan orang lain membuat saya bisa berprestasi. Iri saya terhadap guru yang lebih menyayangi murid lain dibanding saya, membuat saya merasa dianaktirikan dan berniat membalasnya dengan masuk ke sekolah unggulan. Selama dua bulan jelang ujian kelulusan, saya pun selalu bangun dini hari untuk belajar. Hasilnya, saya lolos ke sekolah terbaik di daerah tempat saya tinggal.

Bukan Murid yang Menonjol

Baik di SMP dan di SMA, saya bukan murid yang menonjol. Masuk ke 10 besar ranking pun tidak pernah. Saya juga sulit bergaul karena minder. Entah dari mana saya bisa tidak punya kepercayaan diri. Saya punya penyakit demam panggung, yang membuat saya menghindari segala bentuk kegiatan yang mengharuskan saya berbicara di depan orang banyak. Dari hanya sekedar menunjuk jari, sampai maju di depan kelas bisa membuat saya mau muntah.

Karena bukan murid yang pandai, saya pun gagal masuk ke jenjang kuliah sarjana negeri. Saya akhirnya “terpaksa” masuk kuliah diploma 3, jurusan Broadcasting. Jangan tanya saya waktu itu, jurusan apa Broadcasting ini. Yang saya tahu saat itu, teman-teman saya memberi informasi kalau kuliah Broadcasting akan melatih mahasiswanya untuk bekerja di belakang layar. Tidak akan ada presentasi atau maju ke depan kelas. Jadilah saya tertarik untuk mendaftar dan ikut tes.

Tapi ternyata…..

Bukan cuma saya harus presentasi di depan kelas, tetapi saya juga harus tampil di depan kamera. Akhirnya tidak ada lagi jalan untuk menghindar. Semua harus saya hadapi. Di sinilah, saya mulai belajar sangat tekun dan melawan ketakutan saya akan public speaking.

Namun demikian setelah lulus kuliah, saya masih orang yang sama. Masih takut berbicara di depan kelas, dan masih tidak percaya diri. Tetapi saya mulai bisa melihat potensi besar di dalam diri saya berkat ketekunan yang saya coba jalani.

Sebelum lulus, saya pun ditawari pekerjaan oleh sahabat saya, yang saat itu sudah menjadi presenter olahraga di sebuah televisi swasta. Bagi sahabat saya, saya adalah orang yang paling tepat untuk menjadi reporter olahraga, karena kecintaan saya terhadap sepakbola.

Ya, saya punya hobi yang jarang disukai wanita. Dulu, saya menonton hampir semua pertandingan sepakbola yang disiarkan langsung di televisi. Kecintaan pada sepakbola, ternyata membawa saya ke pekerjaan pertama, bahkan sebelum saya lulus kuliah. Kecintaan saya ini pula yang membawa saya menggapai cita-cita saya ke luar negeri.

London, Mei, 2008

Berkunjung Ke Inggris

Dulu, ke luar negeri tampak tidak mungkin bagi saya, karena kondisi ekonomi keluarga. Jangankan ke luar negeri. Kedua orang tua saya saja tidak pernah naik pesawat terbang. Namun, jika ada mimpi, maka akan ada kenyataan.

Saat itu tahun 2008. Saya sudah bekerja di stasiun televisi berbeda. Baru satu tahun saya bekerja, tiba-tiba Manajer saya mengatakan akan mengirim saya ke Inggris untuk meliput. “Hah? Inggrisssss? Impian saya!” teriak saya dalam hati.

Sebuah mimpi yang terlupakan, tiba-tiba terwujud tanpa harus membayar sepeserpun. Entah bagaimana caranya, tetapi hidup sepertinya memang bekerja demikian. Saat kita menginginkan sesuatu amat sangat, suatu saat nantinya keinginan tersebut akan terwujud.

Pengalaman pergi ke Inggris kurang lebih 2 minggu, membuka mata saya. Interaksi saya dengan orang di luar negeri, membuat saya ingin kembali. Saya tidak ingin lagi terkurung di dalam sangkar. Saya ingin sekali membuka diri saya, pola pikir saya, dan mengembangkan kemampuan saya. Saya ingin mengetahui apa yang ada di luar negeri dengan mata kepala saya. Saya ingin belajar budaya yang berbeda. Lalu muncul mimpi lainnya: Saya ingin merasakan tinggal di luar negeri selama satu hingga dua tahun.

Sarjana Adalah Pintu Awal

Bagaimana caranya bisa tinggal di luar negeri? Paling memungkinkan, ya, beasiswa. Tapi bagaimana bisa mendapat beasiswa jika saya hanya lulusan D3? Maka saya harus menunggu 4 tahun untuk bisa masuk kuliah S1 karena harus mengumpulkan biaya lebih dulu.

Saat itu, saya sudah berbeda. Saya sudah mengerti benar diri saya. Saya mulai percaya diri karena sudah menemukan potensi saya. Saya pun jadi gemar membaca, karena saya punya roomatte yang menggilai buku dan menularkannya pada saya. Teman itu bersamaan dengan saya ke Amerika, meraih beasiswa Chevening ke Inggris. Orang di sekitar kita punya pengaruh besar dalam mewujudkan cita-cita kita.

Setelah saya lulus kuliah S1 tahun 2011, saya mencari pekerjaan baru sambil iseng-iseng mencari informasi tentang beasiswa. Ternyata banyak beasiswa degree yang mengharuskan pelamarnya bekerja minimal satu tahun setelah lulus S1. Saya pun tidak masuk kualifikasi. Saat sahabat saya bisa mendaftar Chevening, maka saya harus menundanya.

Kemudian saya melihat ada pengumuman pembukaan fellowship tahunan bernama PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013, yang memberi lowongan bagi 2 orang fellows. Syaratnya tidak terlalu rumit. Saya pun mengunggah formulirnya saat beasiswa dibuka, dan pelan-pelan mengisinya.

Suatu hari di bulan Januari 2012, saya  ditelfon oleh Perhimpunan Persahabatan Indonesia Amerika, bahwa saya lolos seleksi administrasi dan diwawancara melalui telfon. Saya pun masuk masuk ke-10 besar kandidat yang akan menjalani proses wawancara panel dengan PPIA dan Voice of America. Saat wawancara, lagi-lagi saya menjawab dengan jujur dan semangat semua pertanyaan. Pada akhirnya, kerja keras pun terbayar. Saya resmi menjadi fellow PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013, yang akan bekerja dan tinggal di Amerika.

Jadi Intinya Bagaimana ke Luar Negeri?

Dari cerita panjang pengalaman saya, saya akan merangkumnya tentang bagaimana saya bisa bisa ke luar negeri. Pertama, adalah dengan cara bekerja. Kedua, adalah dengan cara beasiswa.

  • Berdasarkan pengalaman saya, carilah pekerjaan yang memungkinkan kita untuk berkunjung ke luar negeri secara gratis. Pekerjaan sebagai jurnalis, PNS, dosen, guru, pekerja sosial, pekerja NGO, dan peneliti, adalah beberapa pekerjaan yang berpeluang menghantar kita ke luar negeri. Pekerjaan berorientasi publik ini juga lebih banyak membuka kesempatan untuk mendapat beasiswa, karena pengetahuan yang kita dapat nantinya bisa kita sebarkan kepada masyarakat luas.
  • Tapi kan kita harus pintar? Ah, tidak juga. Contohnya saya. Yang penting adalah mimpi, keinginan, dan usaha keras. Akan selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha keras. Modal paling murah untuk jadi “pintar” adalah dengan membaca buku. Saat pengetahuan luas, semua sesi test akan dilalui dengan jauh lebih mudah. Apalagi sekarang internet menyediakan informasi dan pengetahuan yang nyaris tidak berbayar. Membaca berita atau buku gratis, bisa kita lakukan dengan mudah.
  • Jadikan ejekan dan pandangan miring orang menjadi motivasi. Karena rasa sakit hati, bisa menjadi motivasi terbesar untuk maju. Keinginan untuk membuktikan diri, bisa diarahkan menjadi hal yang positif.
  • Dan jika kita punya ketakutan, seperti ketakutan saya terhadap public speaking maka harus kita lawan, jangan dihindari. Siapa yang menyangka saya malah sempat menjadi presenter TV?
  • Cara lainnya adalah melalui beasiswa. Beasiswa bisa didapat siapa saja, bahkan orang yang tidak pernah mendapat nilai terbaik seperti saya. Beasiswa bahkan bisa didapat oleh orang dari kampung seperti saya dengan kondisi keuangan yang amat pas-pasan. Beasiswa juga mungkin sekali didapat oleh orang yang bahasa Inggrisnya lemah seperti saya dulu. Intinya, ketika ingin mencari beasiswa, jangan pernah berpikir: saya kan tidak pintar, nilai saya kurang, saya tidak punya pengalaman berorganisasi, saya kan tidak bisa berbicara di depan umum, kemampuan English speaking saya kan buruk. Stop judging yourself. Daripada berpikir yang belum terjadi dan menghawatirkan kemampuan diri, mengapa tidak mencoba? Set the goal, don’t think too much, and just do it! Kalau bahasa Inggris kurang, belajar dari buku-buku tanpa harus bayar juga bisa. Pinjam teman, ke perpustakaan, atau lewat internet bisa jadi pilihan.
  • Oh ya, jika punya hobi yang dibilang konyol atau ditertawakan orang, jangan berkecil hati. Karena itu bisa membawa kita ke tempat yang tidak akan pernah kita duga sebelumnya. Jadi penggemar drama Korea juga tidak mengapa. Siapa tahu bisa membawa Anda ke Korea, seperti hobi menonton sepakbola membawa saya ke Inggris dan Amerika. Something we love will bring us to something big in our life.

Drop Ball, NYE, at Time Square, 2013

  • Beasiswa tersebar di mana-mana. Aktif mencari di Google. Cari yang sesuai dengan kualifikasi kita. Atau, ya, dicoba saja meskipun kita berpikir kriteria kita tidak memenuhi. Karena pandangan pemberi beasiswa, bisa berbeda dengan penilaian kita terhadap diri sendiri. Seringkali kita terlalu rendah menilai diri kita sendiri.
  • Ketika menulis essay atau menjawab pertanyaan wawancara, tulis dan jawablah sejujurnya karena sepertinya para pewawancara bisa melihat passion dan visi kita dari kejujuran tersebut.
  • Aktiflah dengan berbagai kegiatan sosial atau organisasi sejak dini, karena akan bermanfaat untuk aplikasi. 
  • Kelilingilah diri kita dengan teman-teman yang punya orientasi prestasi yang sama. Seperti dua sahabat saya, keduanya mempunyai andil yang besar dalam prestasi saya. Orang terdekat mempunyai pengaruh yang besar untuk mewujudkan cita-cita kita.

Dan…yang paling pertama harus dilakukan sebelum melakukan proses di atas, menurut saya adalah: bermimpi.  Ke luar negeri nantinya bukan lagi menjadi mimpi, karena mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan.

Dreams will become reality!

*Foto disediakan oleh penulis




===========================================
Retno Lestari Ningsih earned her Bachelor Degree from University of Indonesia majoring in Mass Communication and Diploma from University of Indonesia majoring in Broadcast Journalism. She received PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2012-2013 to work as International Broadcaster in Voice of America, Washington, DC. At present, she works as Producer at Kompas TV. Send her an email to retnostudy@gmail.com
Posts | Website | Twitter | LinkedIn