Bicara Karier: Bank Dunia

Bicara Karier: Bank Dunia

Pada Jumat, 7 Maret lalu, mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di DMV (District of Columbia, Maryland, dan Virginia) area, Amerika Serikat berkunjung ke kantor pusat World Bank (Bank Dunia). Kunjungan tersebut terlaksana atas inisiatif dari salah satu editor Indonesia Mengglobal, Heru Prama Yuda, dan sambutan positif dari Mohamad Al-Arief, Senior Communications Officer di Bank Dunia, yang berkebangsaan Indonesia. Agenda dari kunjungan ini adalah diseminasi informasi karier di Bank Dunia.

Sekilas tentang Bank Dunia

Satu fakta penting yang disampaikan Mohamad Al-Arief adalah Bank Dunia bukanlah bank sentral dunia yang bertanggung jawab mengenai kebijakan moneter internasional. Pada kenyataannya, Bank Dunia merupakan lembaga multilateral (berjalan atas kerjasama pemerintah 188 negara anggota) internasional dan merupakan badan khusus (specialized agency) dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Lembaga ini memiliki misi untuk mengakhiri tingkat kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan bersama seperti dikutip dari halaman situs resmi Bank Dunia: “End extreme poverty within a generation and boost shared prosperity” (http://www.worldbank.org/en/about).

Dalam mencapai misi tersebut, Bank Dunia beroperasi melalui lima (5) institusi utama yang berada di bawahnya, yaitu: “the International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), the International Development Association (IDA), the International Finance Cooperation (IFC), the Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA), dan the International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID)” (http://www.worldbank.org/en/about). Kelima institusi ini membentuk Grup Bank Dunia (World Bank Group) yang bermarkas di Washington, DC, Amerika Serikat. Lembaga ini memberikan dukungan bagi berbagai program pembangunan yang diidentifikasi oleh negara-negara anggotanya yang berada di berbagai wilayah, yaitu: Asia Timur dan Pasifik, Asia Selatan, Afrika, Timur Tengah dan Afrika Utara, dan Amerika Latin dan Karibia. Dari persebaran program tersebut dapat disimpulkan bahwa program-program pembangunan Bank Dunia tidak dilakukan di negara-negara maju di Amerika Utara, Eropa Barat, dan Australia. Hal ini karena yang dapat mengakses dana Bank Dunia adalah negara-negara yang berpendapatan rendah atau menengah. Disaat suatu negara menjadi negara berpendapatan tinggi, maka negara tersebut tidak bisa mengakses dana Bank Dunia dan menjadi non-borrowing member.

Sumber: WorldBank.org

Dari 188 negara anggota, lima negara tercatat sebagai pemegang saham terbesar di Bank Dunia: Amerika Serikat (16,05%), Jepang (8,94%), Republik Rakyat Tiongkok (5,76%), Jerman (4,73%), dan Perancis serta Inggris (masing-masing 4.22%).

 

Indonesia dan Bank Dunia

Indonesia tercatat sudah menjadi negara anggota Bank Dunia semenjak 13 April 1967 dan saat ini merupakan pemegang 1% saham di Bank Dunia. Selama lima dekade menjadi anggota, Indonesia sudah dua kali dinyatakan lulus dari status negara berpenghasilan rendah (low income countries—GDP per kapita kurang dari seribu dolar atau sekitar 11 juta rupiah per tahunnya–atau IDA countries). Saat ini, Indonesia berada di level kedua, yakni, middle income countries (IBRD countries)yang menjadi cerita sukses dari program-program Bank Dunia. Kesuksesan Indonesia dan negara lainnya dijadikan contoh kasus oleh Bank Dunia untuk membantu program pembangunan di negara-negara yang saat ini masih berada di level low income countries. Saat ini Indonesia mendaat suat  kehormatan karena  posisi kedua pejabat tertinggi di Bank Dunia ini (Managing Director & Chief Operating Officer) ditempati mantan Menteri Keuangan Indonesia, Ibu Sri Mulyani Indrawati, yang memulai tugasnya di Bank Dunia hampir empat tahun silam.

Walaupun demikian, jumlah diaspora Indonesia yang berkarier di Bank Dunia masih tergolong sangat rendah. Menurut informasi dari Mohamad Al-Arief yang juga Presiden Indonesia Diaspora Network Global, saat ini hanya ada 60 diaspora Indonesia yang bekerja di markas Bank Dunia di Washington, DC. Jumlah ini sangatlah kecil bila dibandingkan dengan warga Filipina yang tercatat lebih dari lima ratus orang. Angka ini menjadi semakin rendah bila Indonesia dan Filipina dibandingkan dalam hal populasi negara, kekuatan ekonomi, dan kepemilikan saham di Bank Dunia. Diskusi informal mahasiswa S-2 Indonesia di Washington, DC, menyimpulkan bahwa representasi diaspora Indonesia yang bekerja di Bank Dunia masih perlu ditingkatkan bila dibandingkan dengan negara lain seperti Filipina, India, dan juga negara-negara berbahasa Spanyol.

 

Berkarier di Bank Dunia

Pada diskusi Jumat lalu, Mohammad Al-Arief mencoba untuk memulai persebaran informasi berkarier di Bank Dunia bagi diaspora Indonesia saat ini dan di masa mendatang. Dari diskusi ini juga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada berbagai entry points atau jalur yang dapat dilalui untuk memulai karier di Bank Dunia.

Pertama, mengikuti program-program karier yang ditawarkan Bank Dunia seperti: Young Professional Program (YPP), Junior Professional Associates (JPA), dan program magang yang juga dibuka di Bank Dunia. Menurut Mohammad Al-Arief YPP merupakan pemasok utama calon manajer dan pimpinan di Bank Dunia dimana setengah dari jajaran pimpinan Bank Dunia saat ini datang dari jalur ini. Selama 50 tahun pelaksanaan program ini, baru ada satu Warga Negara Indonesia yang berhasil lolos seleksi YPP dan diterima bekerja di Bank Dunia melalui jalur ini. Sampai saat ini, YPP sepertinya masih berada dalam periode moratorium dimana rekrutmen terakhir dilakukan pada tahun 2013 untuk menyaring 40 lulusan program YPP yang akan mendapatkan pelatihan selama dua tahun. Informasi lebih lanjut mengenai YPP dapat dilihat disini. Sementara itu program JPA ditujukan kepada pemuda di bawah 28 tahun yang ingin memulai karier di entry level Bank Dunia melalui dua tahun kontrak (tanpa perpanjangan) yang bisa dijadikan stepping stone karier selanjutnya. Walaupun dianggap tidak sekompetitif YPP, JPA menerapkan pooling application system dimana para pendaftar akan diseleksi berdasarkan kebutuhan Bank Dunia saat rekrutmen dilakukan. Informasi lebih lanjut mengenai JPA dapat dilihat disini. Selain kedua mekanisme ini, ada juga program magang dan konsultan yang ditawarkan Bank Dunia bagi mereka yang ingin memiliki pengalaman berkarier di lembaga tersebut. Program magang berbayar (paid internship) ini diberikan pada mahasiswa master (S-2) atau doktor (S-3) di berbagai bidang ilmu diantaranya: ekonomi, keuangan, human development, pertanian, dan bidang studi terkait lainnya. Berlokasi di Washington, DC peserta program magang ini diseleksi dalam dua periode rekrutmen:Desember sampai Januari untuk program summer, dan September sampai Oktober untuk program winter. Informasi lebih lanjut mengenai program magang dapat dilihat disini.

Kedua, melamar di Bank Dunia yang beroperasi di Indonesia dan kemudian membangun karier di dalam salah satu lembaga yang didirikan pada Konferensi PBB di Bretton Woods pada tahun 1946 ini. Cara ini merupakan refleksi dari karier Mohammad Al-Arief yang berawal di kantor Bank Dunia di Jakarta sekitar 14 tahun silam. Dengan kinerja yang diatas rata-rata, beliau kemudian menduduki berbagai posisi di Kantor Perwakilan Tokyo pada tahun 2004, lalu menangani wilayah Asia Timur dan Pasifik di Washington, DC mulai tahun 2006, di kantor Perwakilan New Delhi pada tahun 2010, lalu kemudian kembali ke Washington, DC untuk menangani bidang Kesehatan, Pendidikan dan Pengamanan Sosial secara global. Menurut beliau, berkarier di Bank Dunia memotivasi para staff untuk terus-menerus meningkatkan kapasitas individu karena sukses bekerja di Bank Dunia ditentukan dengan kinerja yang baik. Seseorang bisa saja lulusan Universitas papan atas dunia, tapi bila kinerjanya dinilai sebagai ‘rata-rata’ maka karier yang bersangkutan akan stagnan. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa mekanisme kedua ini menitikberatkan pada bagaimana kinerja seseorang menentukan posisinya dalam kompetisi internal di Bank Dunia.

Lebih lanjut, mengingat sedikitnya jumlah diaspora Indonesia yang bekerja di Kantor Pusat Bank Dunia di Washington, DC, pada saat ini para pelamar Indonesia berada dalam posisi nationalities of focus list aplikasi posisi Bank Dunia. Artinya, bila ada dua kandidat yang setara dalam hal kompetensi dan penilaian lainnya, kandidat dari minority list ini akan mendapatkan preferensi untuk diterima karena negara tersebut kurang representasinya di lembaga ini. Namun demikian, list ini tidak dapat mengakomodasi kandidat yang memiliki skor lebih rendah dari para pesaingnya. Dengan kata lain, sistem rekrutmen adalah merit-based dengan tingkat kompetisi yang tinggi.

Bagi Mohammad Al-Arief dan Mehkta Waney (juga staff Bank Duna berkebangsaan Indonesia), bekerja di Bank Dunia memberikan sudut pandang yang lebih luas dalam melihat Indonesia. Salah satunya dengan melihat dan membandingkan tahapan pembangunan di negara-negara lain. Hal ini membangkitkan optimisme yang besar terhadap kemajuan bangsa, mengingat banyak pendekatan dan kebijakan yang telah berhasil diimplementasikan negara lain bisa diaplikasikan pada Indonesia; dengan atau tanpa adaptasi. Selain itu, beliau menyampaikan bahwa berkarier di Bank Dunia juga bisa dilihat sebagai bentuk pengabdian pada Indonesia melalui kinerjanya dalam program-program Bank Dunia yang berkaitan secara langsung dengan Indonesia, seperti rekonstruksi Aceh, maupun tidak langsung.

Dondhy Fahlensyah, mahasiswa S-2 di School of International Affairs (SIS) American University menganggap bahwa pemuda Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan untuk meningkatkan kapasitas secara professional mengingat pada tahun 2030 Indonesia diramalkan akan menjadi kekuatan ekonomi ke-7 terbesar dunia. Menurut Dondhy, tantangan ini harus disambut “Dengan cara memastikan kita adalah salah satu dari 113 juta skilled workers yang dibutuhkan Indonesia di tahun 2030”. Hal senada disampaikan Feitty Eucharisti, mahasiswa S-2 Hukum Internasional Georgetown University yang berharap segera melihat hari dimana representasi diaspora Indonesia di Kantor Pusat Bank Dunia lebih banyak lagi.

Kredit foto: Dondhy Fahlensyah

 




===========================================
Heru is an aspiring academician focusing on International Relations and is currently in his final semester at The Johns Hopkins School of Advanced International Studies (SAIS) where he also works as a research assistant at the school's Indonesia Corner.
Posts | Facebook | Twitter | LinkedIn