Seberapa Pentingnya Sih Reputasi Universitas Pilihanmu?

2
1526
Bingung mau sekolah dimana? Takut pilihanmu akan menjadi bahan gossip satu kampung? Takut reputasimu akan dipengaruhi reputasi sekolah pilihanmu?

Daftar nama berbagai universitas menjulur di depanku. Yang mana yang harus kupilih? Apa kriteria yang perlu kuikuti? Setelah mencoret-coret dan menghapus papan tulisku beberapa kali, akhirnya aku membuat pilihanku, sebuah sekolah kecil di luar kota New York yang terkenal sebagai salah satu sekolah paling mahal di Amerika Serikat.

Pada saat itu aku sudah tidak mempertimbangkan reaksi keluarga, teman-teman, guru, maupun kenalan dekat karena aku yakin bahwa Sarah Lawrence, nama sekolah yang telah kupilih, adalah sekolah yang cocok bagiku. Biaya sekolah untuk anak internasional juga hampir sama dengan sekolah-sekolah lain yang aku dapati. Terkenal untuk program teater dan juga program menulisnya, sekolah ini menjadi tujuanku karena program intensive writing-nya, jumlah murid per kelas yang termasuk sedikit, serta interaksi dengan para dosen.

Keunikan sekolahku juga menjadi amunisi bagi banyak orang untuk mengkritik prestasi dan juga ambisiku. Sebagai contoh, sanak saudaraku mengomentari sekolahku, “Pasti kalian punya waktu banyak untuk bersenang-senang ke kota, kan kalian ga ada ulangan dan jumlah kelas yang kalian ambil hanya sedikit.” Beberapa bulan setelah itu seorang teman keluarga bertanya mentah-mentah, “Jadi menurut kamu Sarah Lawrence lebih bagus dari Brown?” Aku tak habis tertawa mendengar tanggapan-tanggapan tersebut, karena dengan polosnya kukira orang zaman sekarang sudah tidak lagi memikirkan reputasi atau ranking sekolah. Selebihnya, aku baru sadar bahwa pilihanku termasuk urusan orang lain.

Pengalaman ini membawaku ke sebuah pertanyaan yang menurutku patut dijawab oleh siswa/i yang tertarik untuk kuliah dan juga orang-orang yang memberikan masukan bagi mereka yang sedang mencari sekolah: apakah reputasi adalah sebuah variabel penting yang perlu diperhitungkan saat memilih sekolah?

Pertama-tama, bagiku urusan memilih sekolah bersifat intim karena pada akhirnya, teman ayahku dan teman dekat keluarga yang berkomentar itu tidak memiliki tanggung jawab untuk pergi ke sekolahku, tapi aku tetap harus datang ke kelas tepat waktu, menyelesaikan pr-ku, dan menggunakan waktuku seoptimal mungkin. Tetapi, jangan membuat kesalahan polos seperti yang telah aku lakukan beberapa tahun lalu. Sadarilah bahwa orang-orang akan memberikan pendapat mereka mengenai keputusan besar seperti pilihan universitasmu.

Kedua, seperti yang telah aku jelaskan, pada akhirnya kita bertanggung jawab pada diri kita sendiri. Pada saat aku membuat keputusan aku mengerti kebiasaan-kebiasaanku, ambisi dan tujuanku untuk sekolah di AS, preferensiku, dan juga kelebihan dan kelemahanku. Aku sadar bahwa aku membutuhkan sekolah dimana aku bisa mengembangkan bakat menulisku, meneruskan minatku di bidang teater sambil mendalami psikologi dan neuroscience, serta mengadakan penelitianku sendiri. Untuk itu, kubuang sekolah-sekolah besar dari daftar tersebut dan memusatkan perhatianku terhadap sekolah kecil, yang bersifat intensif menulis, dan tidak terlalu jauh dari kota besar. Tak kusangka bahwa aku akan jatuh ke kolam sekolah liberal arts. Kesadaran akan sifat dan cita-citaku membantuku dalam memilih sekolah yang cocok.

Ketiga, kukira pentingnya reputasi sekolah sangat terpaut dengan aspirasi profesional dan juga lingkungan sosial seseorang. Selebihnya, masukan dari guru dan tingkat persiapan saat fase aplikasi juga sangat mempengaruhi penilaian kita atas reputasi sekolah yang kita pilih. Bagi orang-orang tertentu, sukses hanya bisa dioptimalisasikan di institusi tertentu. Contohnya, siswa yang ingin menjadi tentara, anggota badan intelijen, atau bagian dari kementerian pertahanan mungkin lebih tertarik untuk masuk sekolah militer ternama di AS, seperti West Point. Siswa yang ingin berkiprah di dunia teater sebagai pemain sandiwara seringkali mendaftar ke sekolah konservatori seperti Juilliard di New York atau Royal Academy of Dramatic Arts (RADA) di Inggris. Individu yang belum beraspirasi matang ada baiknya mendaftar ke sekolah besar atau ternama yang memberikan keamanan untuk menjajaki berbagai subyek, seperti New York University, University of Michigan, kebanyakan UCs, dan University of Wisconsin Madison.

Salah satu argumen kuat yang mendukung pentingnya reputasi atau ranking sekolah adalah kesempatan yang dapat diraih sebagai murid di sekolah tersebut. Setelah berbincang-bincang dengan beberapa ketua perusahaan, mereka berkata bahwa hal terpenting adalah pengalaman dan kinerja. Reputasi sekolah adalah icing on the cake, sebuah faktor sekunder dalam memilih calon karyawan. Contohnya, ada teman yang bersekolah di salah satu Ivy League dan pada akhirnya lulus dengan prestasi yang cukup baik, tetapi ia kalah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan fresh graduate lainnya dari sekolah kecil yang tidak ingin diikutsertakan dalam ranking.

Pada intinya reputasi sekolah bukanlah faktor yang semata-mata harus disertakan dalam memilih sekolah. Pengertian terhadap diri sendiri yang matang seringkali merubah daftar sekolah yang kita tuju. Contohnya, siswa yang tertarik untuk melakukan dua hal yang sangat berbeda seperti teater dan public health pada waktu bersamaan akan memprioritaskan sekolah-sekolah liberal arts atau sekolah yang tidak begitu banyak memiliki course requirements. Selanjutnya, sebagai siswa/i yang terdaftar di sekolah itu, kitalah yang perlu menjalani masa-masa menyenangkan dan juga menyebalkan. Pengalaman dan juga performa adalah dua hal utama yang bisa kita dapati dari masa kuliah. Saat anda memilih sekolah perguruan tinggi, jadikan reputasi atau ranking sekolah tersebut sebagai variabel kedua, pusatkan perhatianmu kepada tingkat keserasian antara sekolah tersebut dan dirimu, dan jangan hiraukan suara bising orang-orang yang tidak akan melalui masa kuliah tersebut untukmu. Sebenarnya, reputasi sekolah itu tidak penting, dan pastinya tidak sepenting kecocokan antara dirimu dengan sekolah itu!

SHARE
Previous articleMengenal Beasiswa Erasmus Mundus Action 2
Next articleFirst Semester: That’s A Wrap!
Tiffany Robyn Soetikno
With one foot in Jakarta, Indonesia and another in London, U.K., Robyn spends her time maintaining KisahJika.com, her own blog and other publications. In May 2014, Robyn received a Bachelors of Arts degree from Sarah Lawrence College, NY, where she studied Global Health and Theatre. During the summer of 2012 and 2013, Robyn studied in Boston University and New York University, respectively. Currently, she is pursuing a postgraduate degree in International Health Management at Imperial College Business School, London. A traveler at heart, she enjoys going on new adventures, tasting unique cuisines, and sharing conversations with various people.