Google It!

15
195

Saya saat ini mahasiswa tingkat tiga di MIT. Dalam 2 tahun terakhir, saya membantu beberapa siswa SMA menyusun aplikasi universitas ke MIT. Saya rasa sangatlah perlu untuk sedikit berbagi pengalaman saya dalam proses ini. Dalam pengalaman saya, ada dua tipe anak SMA.

Tipe siswa SMA pertama

Teman saya “X” sekarang sedang berkuliah di MIT dengan beasiswa di atas 50%, hanya satu tahun di bawah angkatan saya. Berikut pengalaman saya ketika saya membantu teman saya ini membuat aplikasi ke MIT (akhir tahun 2011).

Sekitar 1 bulan sebelum saya berangkat ke MIT, saya menerima BBM dari X yang intinya mengatakan bahwa dirinya ingin melamar MIT. X mengajak saya bertemu di sebuah kafe untuk meminta saran saya. Saat kita bertemu, berikut contoh pertanyaan yang dia ajukan:

  • MIT memperbolehkan calon mahasiswa international (dalam kondisi tertentu) untuk mengirim nilai TOEFL saja sebagai ganti dari nilai TOEFL dan SAT. Adakah saran untuk tidak mengirim nilai SAT jika nilai dibawah batas tertentu?

  • MIT setiap tahun mengadakan interview untuk calon mahasiswa. Apa hal utama yang dilihat dari sisi interviewer?

  • Kebanyakan guru di SMA di Indonesia tidak terbiasa menulis surat rekomendasi. Saya takut, tidak sesuainya surat rekomendasi (dalam arti cara menulis / style) akan membuat saya gagal dalam aplikasi MIT. Ada saran?

Jika dilihat, tidak ada satu pun pertanyaan yang merupakan fakta yang bisa dicari di internet. Pertanyaan di atas ada di berbagai forum, termasuk di Indonesia Mengglobal, tapi jawaban yang ada adalah opini pribadi, bukan fakta.

X sungguh menakjubkan. Ketika bertemu, saya sangat terkejut bahwa dia membawa satu folder tebal (kurang lebih 5 cm) berisi hasil “riset” nya tentang aplikasi MIT. Dia mengetahui fakta – fakta tentang aplikasi MIT jauh lebih baik dari saya. Terus terang saya sangat kaget melihat usaha X.

Setelah dia menyelesaikan aplikasinya, saya bertaruh bahwa 90%, dia akan diterima. Dan, benar tebakan saya pada tanggal 14 Maret 2012, X diterima MIT.

Tipe siswa SMA kedua

Tipe yang ini sayangnya jumlahnya lebih banyak. Kalau saya sedang sibuk (misalnya exam week) terkadang pertanyaan seperti ini saya lewatkan. Sampai saat ini, saya belum pernah menemukan siswa SMA yang seperti ini diterima di MIT. Contoh – contoh pertanyaan yang ditanya:

  • Bagaimana cara apply ke MIT?

  • Tes apa saja yang harus diambil?

  • Apakah di MIT ada beasiswa?

  • Bagaimana cara apply beasiswa di MIT?

  • Tahun depan saya lulus dari SMA, kapan saya harus apply ke MIT?

Kalau kita lihat bersama, semua pertanyaan ini bisa dicari dengan mudah dengan menggunakan www.google.com. Semuanya bisa dijawab dengan fakta, bukan opini pribadi. Siswa yang memiliki pertanyaan seperti ini adalah siswa yang tidak melakukan PR nya.

Kesimpulan

Sepengetahuan saya, rata – rata mahasiswa (atau alumni) Indonesia dari kampus di Amerika, akan dengan sangat senang hati membantu siswa SMA untuk melamar kampus tersebut. Akan tetapi, sang siswa SMA tersebut juga harus memastikan bahwa dirinya siap untuk dibantu.

Jadi, untuk kamu yang tengah bersiap – siap melamar ke kampus di luar negeri, kamu haruslah mengerjakan PR kamu terlebih dahulu, dengan melakukan “riset” tentang kampusnya, dan tentu saja menggunakan  resources-resources online seperti Google dan Indonesia Mengglobal. Percayalah jika kamu sudah melakukan semua hal di atas, sang mahasiswa* (atau alumni) will make his/her best untuk membantu sebanyak – banyaknya (bukan hanya sebisanya).

*) Setidaknya 70 – 80% teman saya yang pernah / sedang bersekolah di Amerika, setuju dengan statement saya tersebut.

Photo credit: ThinkAOR

  • Ratnaganadi Paramita

    curhat ya miko, LOL

  • Emmanuel Jefferson

    I could not agree more with this post. As an alumni, I am more than happy to reply or to meet anyone who is interested on pursuing their study in US. But, after writing 2 articles in Indonesia Mengglobal, more often than not, I got email from the second type student.

    Is it become a culture these days to expect quick answers without a lot of effort spending hours doing research ya.

  • Dicky Wrn

    Hmm, saya tidak setuju benar-benar sepenuhnya.
    Anda mencoba untuk menggeneralisasi siswa-siswa SMA Indonesia sebagai orang yang memiliki Internet, Sumber Daya, Mindset.
    Padahal tidak seluruh siswa-siswa SMA kita di Indonesia memiliki itu semua. Memang siswa yang jenis pertama lebih “Nyaman” untuk Anda. Tapi justru siswa jenis kedua yang lebih “Membutuhkan” Anda.
    Banyak sekali siswa-siswa SMA di Indonesia yang tidak tahu bahwa banyak kesempatan sekolah di Luar Negeri, jangan kan MIT, Nanyang University saja mereka tidak paham, akan tetapi memiliki potensi yang tidak terbatas.

    Dari sudut pandang saya sebagai (alumni SMA bertahun-tahun yang lalu) dan sebagai Guru SMP dan SMA sekarang. Anda menilai siswa-siswa dari kenyamanan Anda sendiri. Maaf.

    • taufik akbar

      kalau begitu dia tahu MIT itu apa dan bagaimana pun dia tidak tahu dong? kasian kalau yang seperti itu mau daftar cuma biar ‘keren’ saja, saya setuju dengan penulis bahwa biarkan yang daftar itu yang benar-benar melakukan riset tentang univnya.

      kalau dibilang ga ada akses internet sih saya ga setuju, pasti ada tapi mungkin dari hp atau gimana. yang jelas kalau ada usaha untuk riset(warnet atau nebeng temen/sekolah) pasti ada jalan.

    • Donny Eryastha

      Dicky, Anda bilang penulis mementingkan ‘kenyamanan sendiri’ seolah-olah dia egois sekali. Penulis sudah membantu banyak pelamar, juga menulis beberapa artikel di Indonesia mengglobal, dan menjadi mentor di program mentorship. Ada puluhan ribu lulusan luar negeri di Indonesia ini, berapa banyak yang melakukan hal seperti ini?

      • Karem Benzema

        pak donny eryasthsa boleh saya minta bantuan anda??

      • Ni Kadek Mila Iswari

        Hallo kak Donny, aku Mila, boleh nanya tentang cara mengajukan proposal ke perusahaan perusahaan? Saya lagi dalam proses pencarian bantuan dana untuk kuliah di Netherland. Thank you kak

    • Kevin Soedyatmiko

      Pak Dicky,

      Pertama – tama saya ucapkan terima kasih untuk komentar nya. Saya selalu melihat bahwa ada selalu dua sisi dalam masalah ini.

      Pada intinya, buat saya, saya ingin membantu siswa agar yang bersangkutan dapat diterima di kampus yang di lamarnya. Yang saya garisbawahi di sini adalah membantu, bukan membuat. Ketika siswa tersebut di terima, bagi saya 90% adalah usaha yang bersangkutan sedangkan 10% adalah bantuan / masukan dari orang tua, guru, teman dan termasuk (mungkin) saya.

      Saya mengerti bahwa (mungkin) siswa tipe kedua mungkin lebih membutuhkan saya. Tapi, sayangnya saya bukan superman. Saya tidak bisa menjadikan seorang siswa diterima di MIT, jikalau yang bersangkutan tidak melakukan 90% bagian nya. Karena, saya ini juga ada kesibukan lain, dengan sangat terpaksa, saat saya dikontak seorang siswa SMA, saya akan “seleksi” apakah siswa ini sudah melakukan atau setidaknya menunjukkan adanya usaha untuk memenuhi 90% nya itu.

      Mungkin cerita ini sedikit membantu memberi gambaran. Teman saya mempunyai teman (di MIT) dari negara lain. Yang bersangkutan ini di rumahnya tidak ada internet, hanya ada line telepon rumah dan itu pun sangat terbatas. Dia bercerita bahwa, saat dia melamar MIT, dia pergi ke kota lain yang jaraknya 2 – 3 jam untuk menggunakan internet (diantaranya untuk membuat aplikasi dan mengontak beberapa alumni MIT). Saya salut akan orang ini.

      Terakhir, perlu dicatat bahwa melamar ke MIT dilakukan secara online. Bagi siswa SMA yang belum mempunyai internet (I feel sorry for them), mohon maaf, saya tidak punya cukup waktu dan energi untuk membuat siswa SMA ini bisa mengirimkan aplikasinya.

      Mungkin Pak Dicky sebagai guru SMA bisa membantu atau menyemangati siswa nya untuk mengakses internet, menggunakan google, serta membaca Indonesia Mengglobal seperti yang Pak Dicky telah lakukan.

      Sekali lagi, terima kasih Pak, sudah membaca tulisan saya dan memberikan komentar.

      Salam

  • Kahfi Maulana Iskandar

    I agree for this statement. because almost student who want to pursue their study abroad, never start to learn. Learn for what they desire to. If we want to get something for what we desire, we have to start loving it, then we will learn about it.

  • Rahmat Latif

    Setuju ama om Kevin, kadang-kadang biarpun sudah disediakan FAQ masih aja me-repost pertanyaan yang sudah ada di dalam FAQ. Saya yang sama2 perlu info scholarship juga jadi gak mood liat laman website yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang sudah dijawab atau eprtanyaan yang gak relevan sama topik -_-

  • Krystal Wan

    Membuka mata nih. Jadi lebih semangat riset universitas. Thanks for the article! :-)

  • Pingback: Just Google It | to Share to Inspire()

  • Edma Nadhif Oktariani

    saya ingin masuk MIT, membaca post ini, saya makin bersemangat, jadi makin pengen banyak tahu tentang MIT, terima kasih banyak! 😉

  • Akmalul Hilmi SN

    Mas, mau tau Info mahasiswa indonesia yang kuliah di MIT. Yg masih kuliah atau yang udah keluar tanpa keterangan. Atau semacam nya. Thanks

  • Silsy Bil Najla

    Maaf ? Aku silsy , ingin bertanya soal pendidikan di universitas yang ada di inggris ?