Indonesia Mengglobal Bandung Outreach Event

Indonesia Mengglobal Bandung Outreach Event

Pada tanggal 28 September 2013 lalu Indonesia Mengglobal mendatangi kota Bandung untuk menggelar acara outreach event. Bandung outreach event ini terbagi menjadi dua sesi, dimana sesi pagi terselenggara di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jalan Ganeca, Bandung, dan berpindah ke Universitas Padjadjaran (UNPAD) di Jatinangor untuk sesi siang. Outreach event merupakan offline event dari Indonesia Mengglobal yang bertujuan untuk mendekatkan kontributor dengan para pembaca sekaligus berbagi informasi dan pengalaman. Acara ini  merupakan salah satu program kerja dari Campus Representative dan Outreach Manager Indonesia Mengglobal, Monica Simarmata dan Ashila Reza.

Para Pembicara:

  • Martin Kurnadi (BSc jurusan Mechanical Engineering dari UC Berkeley dan MSc jurusan Mechanical Engineering, Georgia Institute of Technology)
  • Imam Santoso (Master of Metallurgical Engineering, Queensland University Australia, penerima Australia Development Scholarships)
  • Donny Eryastha (Master of Public Administration in International Development, Harvard Kennedy School)
  • Syawalianto Rahmaputro (Master of Energy and Environment, Ecole des Mines de Nantes France, penerima beasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

Indonesia Mengglobal ITB Outreach Event di ruang kelas TVST C

Pembicara pertama, Martin Kurnadi, memiliki latar belakang di bidang teknik di Amerika Serikat. Martin memberikan gambaran umum tentang persiapan komponen aplikasi untuk melamar di perguruan tinggi di Amerika Serikat seperti esai, transkrip nilai, nilai tes standarisasi seperti TOEFL dan GRE, dan surat rekomendasi. Martin juga membagikan informasi opsi untuk membayar uang sekolah dan biaya hidup seperti menjadi asisten peneliti (research assistant), asisten dosen (teaching assistant). Secara spesifik, Martin membagikan pengalaman menjadi research assistant (RA) di Georgia Tech. Sebagai RA, uang sekolah Martin gratis dan ia mendapat stipend setiap bulan. Tanggung jawabnya sebagai RA antara lain: melakukan penelitian secara mandiri, rapat mingguan dengan profesor, menerbitkan jurnal ilmiah, datang dan mengisi konferensi ilmiah, dan membuat laporan kemajuan di akhir semester.

Pembicara kedua, Imam Santoso, memiliki latar belakang di bidang teknik di ITB (pendidikan S-1) dan di Australia (pendidikan S-2). Imam menceritakan keunggulan kuliah di Negeri Kangguru seperti kualitas perguruan tinggi dengan reputasi global yang sangat baik dan penelitian yang unggul. Kuliah di Australia pun membuka banyak opsi beasiswa menarik seperti beasiswa dari universitas, pemerintah Indonesia, industri, dan pemerintah Australia. Imam pun menjelaskan pilihan program yang bisa diambil: course work dan higher degree by research (Master of Philosophy). Program course work menggunakan sistem kredit, terdiri atas kuliah, dan mempunyai ujian tengah semester dan akhir semester. Mengikuti program course work berarti lulus dengan IPK. Program higher degree by research menggunakan sistem milestone dan tidak ada kuliah (tapi boleh mengambil kuliah dan tetap gratis). Menariknya, menurut Imam: “Kamu hanya tugas akhir saja. Full 100% tugas akhir.”

Pembicara ketiga, Donny Eryastha, memiliki latar belakang kuliah pada jurusan ilmu sosial. Dalam presentasinya, Donny bercerita mengenai persiapan aplikasi S-2nya dan bagaimana ia berhasil melawan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Mitos-mitos yang selama ini beredar adalah bahwa untuk dapat diterima pada sekolah terbaik haruslah berpredikat cum laude dan merupakan lulusan terbaik, anak orang terkenal, mengantongi surat rekomendasi dari orang terkenal seperti presiden, memiliki pekerjaan sesuai jurusan yang dilamar, mendapat beasiswa/punya uang sendiri, ikut les TOEFL/GRE dan sudah pernah berkunjung ke sekolah tersebut. Namun, pada kenyataannya, Donny bisa diterima di Harvard tanpa memenuhi satu pun mitos di atas. Jadi, mitos-mitos yang tidak mendukung produktivitas persiapan aplikasi seyogyanya dilupakan dan pelamar fokus untuk diterima di sekolah bagus, bukan untuk menerima beasiswa terlebih dahulu.

Pembicara keempat, Syawalianto Rahmaputro, memiliki latar belakang dari teknik di ITB (S-1) dan Project Management for Energy and Environment Engineering dari Perancis. Syawalianto memiliki pengalaman diterima dan ditolak di berbagai perguruan tinggi di Eropa dan program beasiswa. Hal unik dari pengalaman Syawalianto adalah upayanya menuliskan appeal letter yang menyatakan ia layak untuk diterima setelah ditolak sekolahnya, EMN. Upayanya ini didorong atas saran saat ia datang ke European Higher Education Fair (EHEF). Ternyata, upayanya berhasil dan ia diterima di Ecole des Mines de Nantes. Syawalianto menekankan bahwa persiapan kuliah di luar negeri memakan waktu dan pertolongan dari orang lain cukup penting. Strategi untuk dapat diterima di perguruan tinggi impian di luar negeri antara lain: buatlah rencana, hubungilah perguruan tinggi yang kamu bidik, lamarlah sesegera mungkin, dan jangan menyerah.

Selain memberikan pemaparan satu arah, Indonesia Mengglobal juga memformulasikan sesi interaktif dimana para peserta diinstruksikan untuk menganalisa tulisan-tulisan untuk keperluan aplikasi sekolah dalam Essay Clinic. Sejumlah esai disajikan di layar, lalu peserta diajak melakukan case study dan bersama-sama mengidentifikasi kelemahan dan keunggulan masing-masing esai. Dalam sesi ini, Donny menjelaskan bahwa seringkali Pelamar terjebak untuk tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan dan format yang diminta, seperti melebihi jumlah maksimal kata-kata yang dapat dipergunakan dan kurang to the point sehingga terlalu teknis ataupun bertele-tele. Dengan adanya sesi essay clinic, maka diharapkan agar peserta dapat mempertajam kemampuan menulis sekaligus menyesuaikan konten tulisan sedemikan rupa sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan oleh admissions committee.

Indonesia Mengglobal UNPAD Outreach Event di Balai Sawala, Kampus Jatinangor

Keterbatasan ruangan tidak menyurutkan semangat ratusan teman-teman yang hadir pada kedua sesi Bandung Outreach Event Indonesia Mengglobal. Hal ini ditunjukkan dengan antusiasme dari pendengar saat sesi tanya jawab. Informasi dan mitos ‘katanya ini katanya itu’ tentang kuliah di luar negeri yang selama ini mungkin hanya bersifat selintingan dan sayup-sayup akhirnya diverifikasi dari pengalaman nyata dari lulusannya. Besar harapan Indonesia Mengglobal agar dapat menyelenggarakan Outreach Event di masa mendatang dan diselenggarakan di wilayah lainnya. Jika kamu berminat mengundang Indonesia Mengglobal bicara di kampusmu, silakan isi formulir ini. Selamat mengejar impian teman!

Berikut ini materi presentasinya dari acara tersebut.
Materi presentasi Martin Kurnadi

Materi presentasi Imam Santoso

Materi presentasi Donny Eryastha

Materi presentasi Syawalianto Rahmaputro




===========================================
Monica Raphita Simarmata is a Chemical Engineering graduate from Institut Teknologi Bandung (ITB). Monica is the first ITB Campus Representative of the Indonesia Mengglobal Team. Now embarking a career in the public sector in the Directorate General of Oil and Gas in the Ministry of Energy and Mineral Resources, Monica dreams to pursue higher education in the United States. In her spare time she enjoys blogging, cooking, and watching movies.
Posts | Website | Facebook | Twitter