Berpose di depan Kampus sekitar bulan Februari 2013. Salju hanya turun 1x per tahun di kota Nantes, untuk itu hari tersebut cukup spesial.

Menggapai Cita-Cita Berkat Beasiswa Unggulan Kemendikbud

Semenjak perkuliahan sarjana, saya bermimpi untuk melanjutkan ke jenjang S2 di luar negeri. Saya penasaran dengan kompetisi dan kualitas pendidikan yang notabene lebih unggul dari tanah air. Sayangnya, saya lulus tanpa predikat cum laude sehingga saya merasa ragu bahwa saya mampu mendapatkan beasiswa. Saya pun memilih untuk bekerja terlebih dahulu di sebuah perusahaan swasta selama hampir 3 tahun (2008-2011) sambil mendaftar kuliah S2 dan berburu beasiswa.

Saya mendaftar pada beberapa universitas di Eropa sambil mendaftar ke program beasiswa yang cukup populer seperti Chevening, DAAD, BGF, StuNed, dan beasiswa Total E&P Indonésie. Meski saya diterima di beberapa kampus namun sedihnya belum ada beasiswa yang saya dapatkan. Kebimbangan melanda karena usia yang semakin bertambah membuat saya tak bisa menunda keberangkatan terlalu lama. Lalu saya memutuskan untuk menggunakan seluruh tabungan saya untuk berangkat ke Perancis.

Jawaban Atas Usaha dan Do’a Saya: Beasiswa Unggulan

Agustus 2011, saya tiba di Perancis masih berstatus non-beasiswa. Supaya tidak ketinggalan info, saya langsung join milis Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Betul saja, tidak lama sekitar bulan oktober ada informasi bahwa Beasiswa Unggulan Kemendikbud masih terbuka. Lucunya, pada saat itu saya masih belum tergerak untuk mendaftar karena bingung apakah pendaftaran ini dimaksudkan untuk mereka yang masih di Indonesia, atau bagi mereka yang memang sudah di Perancis.

Pada akhir bulan Oktober 2011, saya secara tidak sengaja bertemu dengan ketua PPI Perancis saat itu yaitu Kang Ade Kadarisman. Saya lalu mendapatkan penjelasan langsung dari Kang Ade bahwa peluang beasiswa itu memang diperuntukkan untuk mahasiswa yang sudah diterima dan sudah berada di Perancis. Wah, pucuk dicinta ulam tiba! Saya rasa inilah cara Tuhan membalas usaha saya sebelum-sebelumnya karena jikalau saya tidak bertemu dengan Kang Ade kala itu, pasti saya tidak membulatkan hati untuk melalukan pendaftaran pada beasiswa unggulan.

Bersama empat teman dari kota Nantes yang juga belum berbeasiswa, kami melengkapi segala persyaratan pendaftaran. Diantara dokumen-dokumen yang perlu disiapkan beberapa sifatnya standar  seperti formulir, CV, transkrip akademis, surat rekomendasi dan sebagainya. Dalam formulir pendaftaran terdapat pertanyaan seputar rencana membangun negara ataupun memaksimalkan potensi bangsa. Tentunya hal ini wajar ditanyakan menimbang bahwa pemberi beasiswa ini adalah pemerintah. Untungnya saya sudah pernah beberapa kali mendaftar beasiswa sehingga hampir semua dokumen yang diperlukan sudah siap dalam arsip saya. Proses persiapan pada saat itu singkat sekali, kurang dari satu minggu!

Prasyarat yang paling sulit dipersiapkan kala itu adalah “proposal penelitian”. Sebagai mahasiswa yang baru saja akan memulai studinya tentunya diperlukan sebuah usaha lebih untuk membayangkan dan menuangkan ide penelitian dalam sebuah proposal. Saya pun menoleh ke dalam surat motivasi saya dahulu, untuk mengetahui bidang/teknologi yang ingin saya kuasai. Dikaitkan dengan wawasan yang saya miliki dan temukan dari internet saya pun langsung menyusun sebuah proposal singkat yang juga melibatkan Indonesia sebagai lokasi studi kasus. Saya rasa hal ini penting untuk menjawab kemauan pemerintah bahwa dana beasiswa yang dikeluarkannya memang akan bermanfaat kembali untuk masyarakat.

Beasiswa unggulan yang saya bahas ini dikelola oleh Atase Pendidikan (pejabat dari Kemendikbud yang ditempatkan di Kedutaan Besar RI), sehingga semua dokumen harus dikirimkan ke KBRI selain ke Jakarta. Hal ini mungkin berbeda dengan jenis beasiswa unggulan bagi para staf akademis dari perguruan tinggi di Indonesia. Dari informasi teman saya di UK dan Belanda, di sana pun terdapat pula beasiswa semacam ini. Oleh karena itu, sebaiknya teman-teman nanti setelah sampai di luar negeri cobalah aktif di PPI dan menjaga komunikasi yang baik dengan Atase Pendidikan.

Pada November 2011, Alhamdulillah kami berlima dinyatakan berhak mendapatkan beasiswa! Cakupannya adalah dana bantuan biaya hidup. Dengan skema “unggulan”, menjadikan prestasi yang pernah diperoleh ataupun ranking dari sekolah tempat berkuliah sebagai kriteria dasar seleksi penerima beasiswa.  Tidak ada ikatan dinas, namun kewajiban kami adalah untuk menulis artikel di media cetak/massa sebagai wujud Intellectual Social Responsibility yang diharapkan mampu mencerdaskan masyarakat luas. Karena ini pula lah saya hingga sekarang masih semangat untuk selalu berbagi informasi ataupun pengetahuan agar semakin banyak teman-teman yang bisa terbuka wawasannya.

Program Studi yang Saya Ambil di Perancis

Project Management for Energy and Environment (PM3E) – secara garis besar menantang untuk berpikir: “Bagaimanakah menghasilkan cukup banyak energi untuk masyarakat tanpa dampak lingkungan yang terlalu parah? Dan bagaimanakah menanggulangi limbah dan pencemaran tanpa mengkonsumsi terlalu banyak energi?” Program ini melatih kemampuan untuk merealisasikan solusi tersebut dengan memahami kendala-kendala teknis, politik, ekonomi, manajerial maupun sosial. Perkuliahan diwarnai banyaknya studi kasus dan tugas kelompok sebagai metode evaluasi selain ujian tertulis. Penulisan tesis pun diwajibkan sambil bekerja praktek di suatu perusahaan.

Beberapa perusahaan yang pernah ditempati kerja praktek sebelumnya: Ecofys, Technip, Cogenpower, Arcelor Mittal, Enerdata, Apricum, Total, Alstom, Albatern, Subatech, DNV, IRENA, UN, Wärtsilä dan masih banyak yang lain. Perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya berada di Perancis melainkan juga di berbagai negara Eropa lainnya. Ada yang bergerak di bidang fabrikasi ataupun instalasi perangkat konversi energi, konsultan penghematan energi, konsultan lingkungan, institut penelitian, industri proses kimia, maupun organisasi pemerintah. Bahkan, pada tahun 2012 ada sekelompok mahasiswa yang membuat perusahaan sebagai bahan penulisan tesis.

Yang menarik ialah penggabungan antara energi dan lingkungan, yang merupakan isu terpenting di dunia selain isu krisis pangan. Banyak dosen tamu dari berbagai negara yang memang diundang sesuai dengan bidang keahliannya dan sebagian juga dari kalangan praktisi. Program ini cukup populer dan biasanya diisi mahasiswa dengan 20 kewarganegaraan yang berbeda yang semakin memperkaya pengalaman selama berkuliah.

Peluang implementasi keilmuan di Indonesia sangatlah besar. Contohnya, potensi pemanfaatan gas alam sebagai bahan bakar industri domestik ataupun bahan bakar. Selain harus adanya sistem transportasi, diperlukan juga fasilitas pembersihan gas untuk menghasilkan nilai kalor yang lebih baik. Proyek semacam ini akan mengurangi ketergantungan negara akan minyak bumi sehingga pemerintah bisa menghemat pengeluaran subsidi. Masyarakat juga dapat menikmati manfaat dari BBM yang lebih murah dan bersih selain peningkatan kesejahteraan umum sebagai dampak dari giatnya industri nasional. Potensi implementasi lainnya adalah pada proyek pemanfaatan sampah sebagai penghasil energi sebagaimana praktek di negara maju. Melalui teknologi yang tepat permasalahan lingkungan dan energi dapat dijawab secara bersamaan.

kiri ke kanan: Carlos Ruiz (Mexico), Syawalianto (Indonesia), Florént Chazarenc (France), Serwaa Anaglate (Ghana)

Cita-cita saya akhirnya terwujud, yaitu bisa berkuliah di luar negeri dengan beasiswa. Sebagai bentuk rasa terimakasih, saya aktif berkontribusi di PPI Perancis sebagai ketua PPI Wilayah, Ketua Materi Konferensi Nasional, dan Koordinator Pelaksana Olimpiade PPI Perancis. Tentu saja manfaat dari beasiswa ini sangat besar, terutama saya tidak perlu bekerja paruh waktu sehingga waktu dan tenaga saya bisa dialokasikan penuh untuk perkuliahan. Alhasil saya pun lulus dengan nilai yang membanggakan. Saya sangat menikmati pengalaman berkuliah saya dan bisa dibilang bahwa itu adalah masa-masa paling indah dalam hidup saya sejauh ini. Tentu saja ini tidak terlepas dari anugrah Allah SWT, do’a dan dukungan dari sahabat-sahabat dan keluarga saya, dan yang utama juga adalah Beasiswa Unggulan Kemendikbud.

 




===========================================
Syawalianto is the awardee of Ministry of Education and Culture Unggulan Scholarship who completed his Master of Energy and Environment at Ecole des Mines de Nantes, France, in July 2013. Since 2014, he has been a business development engineer for Wärtsilä Gas Solutions in Norway.
Posts | Website | Facebook | Twitter | LinkedIn