Skor TOEFL 408 membawa saya kuliah di top-ranked university

Skor TOEFL 408 membawa saya kuliah di top-ranked university

Beasiswa merupakan salah satu jalan untuk kuliah di luar negeri, sekaligus travelling ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Awalnya ga pede buat apply beasiswa, karena IPK pas-pasan dan nilai TOEFL yang masih 408. Tapi karena keinginan yang kuat, akhirnya saya bisa melanjutkan S2 di Carnegie Mellon University (CMU) untuk jurusan IT yang konon salah satu yang terbaik di dunia. Sekarang saya akan cerita perjalanan saya mendapatkan beasiswa dan kuliah di CMU.

Beasiswa yang pertama kali saya daftarkan ialah beasiswa dari pemerintah Perancis (BGF) pada tahun 2008. Untuk mendaftar beasiswa ini, saya belajar bahasa Perancis di Pusat Kebudayaan Perancis, Salemba-Jakarta. Walaupun tidak ada persyaratan berbahasa Perancis, pendaftar beasiswa yang memiliki kemampuan berbahasa Perancis akan lebih diperhitungkan. Dan lagi, pada waktu itu saya mendaftar di salah satu universitas di Perancis untuk melengkapi aplikasi. Kemampuan berbahasa Perancis akan sangat membantu untuk berkomunikasi dengan pihak administrasi kampus. Berdasarkan pengalaman, menghubungi administrator universitas di Perancis dengan bahasa Inggris tidak ditanggapi dengan cepat. Berbeda bila berkomunikasi dengan bahasa Perancis, walaupun beberapa kalimat saya dapatkan dari translator, email saya dibalas dengan cepat. Saya gagal mendapatkan beasiswa BGF pada tahap seleksi administrasi. Saya anggap itu sebagai latihan dan mengurangi jatah gagal.

Saya kemudian melanjutkan pendaftaran untuk beberapa beasiswa lain seperti beasiswa Pemerintah Rusia, beasiswa Pemerintah Turki, beasiswa Pemerintah Republik Korea (KOICA) yang didaftar melalui universitas, Ford Foundation, Erasmus Mundus, beasiswa Norwegia, DAAD (Jerman), World Bank melalui GRIPS (Jepang), USAID, AusAID dan lain-lain, termasuk beasiswa internal di kantor tempat saya bekerja. Saya sampai lupa ada berapa beasiswa yang saya daftar saking banyak gagalnya. Selain mendaftar beasiswa saya juga harus mendaftar ke universitas karena beberapa beasiswa mensyaratkan pelamar untuk memiliki Letter of Acceptance. Ini saya lakukan dalam kurun waktu tiga tahun, 2008-2011. Dalam kurun waktu tersebut saya fokus untuk mengejar beasiswa dari belajar bahasa Inggris, mencari beasiswa yang cocok dengan IPK, background akademik dan pekerjaan, serta mencari jurusan dan universitas yang saya minati dan belajar dari pengalaman teman-teman yang sudah mendapatkan beasiswa. Saya tidak hanya mempelajari pengalaman sukses mereka saja, tapi juga mencari tahu apa yang membuat mereka gagal. Menurut saya yang paling penting ialah “mentoring”. Walaupun saya tidak memiliki direct mentor, tetapi saya aktif bertanya kepada penerima-penerima beasiswa baik yang saya kenal ataupun tidak. Pada umumnya penerima beasiswa akan senang bercerita pengalamannya dalam mendapatkan beasiswa. Tidak jarang saya meminta mereka untuk mereview proposal atau aplikasi beasiswa yang sudah saya tulis. Selain untuk mendapatkan penilaian mereka, reviewing ini juga saya gunakan untuk mengetes aplikasi yang sudah ditulis apakah mudah dibaca oleh orang awam (yang tidak memiliki bidang yang sama dengan saya). Berdasarkan pengalaman, interviewer dan scholarship committee belum tentu memiliki latar belakang atau perspektif yang sama dengan pelamar beasiswa. Oleh karenanya, saya selalu merubah tulisan dalam formulir aplikasi beasiswa sampai dapat dibaca dengan mudah. Ini memakan waktu yang cukup lama. Contohnya untuk beasiswa AusAID, saya memerlukan waktu kurang lebih satu bulan dari draft awal sampai formulir aplikasi siap untuk dikirimkan kepada pemberi beasiswa.

Dari beberapa beasiswa tersebut ada empat beasiswa yang berhasil saya lalui sampai tahap wawancara: beasiswa Pemerintah Republik Korea, beasiswa Pemerintah Rusia, USAID dan AusAID. Pertama, untuk beasiswa Pemerintah Republik Korea, sewaktu mendaftar TOEFL saya masih dibawah 500 tetapi yang disyaratkan adalah hanya memiliki score TOEFL saja tanpa minimal score sehingga saya kirimkan dokumen-dokumen melalui kurir ke universitas di Korea. Beberapa minggu kemudian saya mendapat email dari universitas untuk wawancara melalui telepon dengan Direktur International Admission, namun setelah wawancara, saya tidak lagi mendapatkan kabar dari universitas tersebut.

Kedua, untuk beasiswa Pemerintah Rusia, sebenarnya saya memiliki peluang yang cukup besar untuk mendapatkannya dikarenakan saya telah mengikuti kursus bahasa Rusia sebelum mendaftar beasiswa. Namun, saya salah memilih jurusan yang membuat saya tidak mendapatkan beasiswa. Saya gagal pada tahap akhir, dimana penentuan tahap akhir ini dilakukan oleh pihak pemberi beasiswa di Rusia. Kegagalan ini sempat membuat saya patah semangat, tapi untungnya tidak lama.

Beberapa bulan kemudian saya memutuskan untuk mengambil les bahasa Inggris (General English). Biaya kursus yang mahal membuat saya mengambil pinjaman dari bank. Saya mengikuti kursus General English karena pada waktu itu saya tidak yakin akan lulus placement test untuk mengikuti kursus IELTS. Setelah beberapa bulan, saya mendaftar untuk kursus IELTS. Tidak mudah saya mengatur waktu bekerja sambil mengikuti kursus bahasa Inggris di dua tempat. Namun karena keinginan yang kuat untuk bisa kuliah di luar negeri, saya menjalani kursus di kedua tempat yang berbeda tersebut.

Kenapa saya memilih IELTS dan bukan IBT TOEFL? Menurut saya IELTS lebih banyak digunakan oleh universitas-universitas dan pemberi beasiswa di Eropa, Australia dan Amerika sehingga saya memutuskan untuk fokus mempelajari IELTS. Pada tes pertama, overall score IELTS yang saya dapat ialah 5.5.

IELTS score 5.5 sudah lebih dari cukup untuk melamar beasiswa ADS (AAS). Namun saya tidak cukup puas dengan hasil tersebut sehingga saya mengambil IELTS sampai beberapa kali, dua dari tes IELTS tersebut disponsori oleh AusAID. Pada saat mengirimkan aplikasi beasiswa, saya baru memperoleh nilai IELTS 5.5 tetapi ADS memperbolehkan pelamar mengirimkan nilai IELTS terbaru setelah documents submission sehingga saya dapat mengupdate nilai IELTS saya dengan overall score 6.

Kembali lagi ke beasiswa, ADS (AAS) dan Prestasi memiliki karakteristik yang berbeda. Beasiswa ADS (AAS) memperbolehkan awardee untuk memilih jurusan yang sesuai dengan bidang yang dapat dikontribusikan untuk Indonesia. Namun, beasiswa Prestasi mengharuskan pendaftar untuk memilih bidang yang menjadi prioritas pembangunan dari USAID. Kedua karakteristik ini dapat dibaca dalam formulir aplikasi masing-masing beasiswa.

Saya mendapat panggilan interview untuk beasiswa Prestasi dan diwawancari oleh dua pewawancara dari USAID. Setelah diinterview saya tidak mendapatkan panggilan lagi untuk tahap selanjutnya. Untuk kesekian kalinya saya gagal mendapatkan beasiswa. Jatah gagal saya pun berkurang lagi.

Tidak lama setelah wawancara beasiswa Prestasi, saya mendapat email dari AusAID untuk tes IELTS dan wawancara. Setelah mengikuti beberapa proses seleksi, akhirnya jatah gagal saya habis dan saya mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Australia. AusAID memberikan pre-departure training untuk meningkatkan nilai IELTS dan memperkenalkan sistem pendidikan dan budaya Australia. Jumlah hari pre-departure training bergantung pada hasil tes IELTS. Karena pada tes IELTS yang saya peroleh pada saat tes untuk beasiswa ialah 6.5, saya mendapatkan pre-departure training selama 8 minggu. Setelah pre-departure training IELTS saya menjadi 7. Dengan score IELTS ini, saya bisa dengan leluasa memilih universitas di Australia karena pada umumnya batas minimum IELTS di universitas-universitas Australia untuk Master degree ialah 6.5.

Bagaimana dengan keinginan untuk kuliah di top American university?

Menonton video “Last Lecture”- Randy Pausch yang merupakan salah satu profesor di Carnegie Mellon University (CMU) membuat saya banyak mengexplore tentang CMU. Dari sini saya lebih mengenal konsep Global Research University dan mengetahui bahwa CMU membuka dua jurusan, IT dan Public Policy, di Australia. Namun, yang menjadi pertanyaan: “Apakah AusAID akan membiayai untuk kuliah di universitas Amerika?”.

Yup, AusAID membiayai awardee untuk kuliah di CMU. Akhirnya saya dapat kuliah di sebuah universitas Amerika dengan biaya dari Pemerintah Australia. An American degree with Australian experience.

Tapi sebenarnya yang membuat saya diperbolehkan memilih jurusan IT di CMU ialah korelasi dengan bidang pekerjaan saya di Indonesia, transportasi jalan. Pada saat ini belum banyak orang yang mendalami IT khusus untuk bidang transportasi jalan. Saya menjelaskan kepada pihak pemberi beasiswa poin-poin apa saja yang akan dikontribusikan untuk pembangunan Indonesia dengan mempelajari IT. Selain itu CMU juga memiliki IT Research Center untuk bidang transportasi jalan, Traffic21. Sepengetahuan saya, tidak banyak universitas yang memiliki research center di bidang Information Technology on Road Transportation. Research center inilah yang mendorong saya untuk kuliah di CMU.

Pada saat tulisan ini dibuat, saya sedang berada di kelas untuk first lecture on the first day di semester ketiga. Kalau ingat perjalanan mendapatkan beasiswa, saya banyak mendapatkan unexpected experiences – “something just happens when we believe“.

cp: rizki dot wijaya at yahoo dot com




===========================================
Rizki Wijaya is an Information Technology student at Carnegie Mellon University and an official at the Ministry of Transportation in Jakarta. He holds three different undergraduate degrees from three different universities in Indonesia. Studying abroad has been his dream since he was in high school. In his spare time, he enjoys traveling. Scholarship has enabled him to travel to other cities, countries and continents.
Posts | Facebook | LinkedIn