Visiting Harvard!

Visiting Harvard!

Ketika seseorang menyebutkan kata Harvard, apa yang terlintas di pikiran Anda?

Bulan Februari lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu universitas terbaik di dunia: Harvard University. I was on a mission: menjadi jurnalis Indonesia Mengglobal yang berjumpa dan mewawancarai mahasiswa-mahasiswa Indonesia untuk akhirnya dikemas dalam bentuk video. Tim Indonesia Mengglobal menghubungkan saya dengan Brigitta Ratih Aryanti, atau yang saya panggil Kak Ratih, seorang mahasiswa Harvard Kennedy School yang juga bekerja di Bappenas.

Sejujurnya saya cukup deg-degan ketika akan bertugas. Selama dalam perjalanan di subway dari hotel saya di Boston ke Cambridge pikiran saya dipenuhi oleh excitement dan juga rasa nervous. Saya merasa seperti butiran debu jika disandingkan mahasiswa perguruan tinggi terbaik dunia. Bagaimana caranya supaya saya bisa nyambung? Apakah saya akan terlihat bodoh atau membosankan? Dugaan-dugaan saya dipatahkan oleh Kak Ratih yang begitu ramah dan rendah hati.

Waktu itu saya kali pertama saya ke Harvard University. Kesan pertama ketika melihat Harvard University adalah: cantik. Ya, kampus ini memang cantik, ditambah lagi dengan taburan salju di atasnya. Pada bulan Februari memang masih musim dingin dan area Boston dan Cambridge belum lama terkena badai salju. Bangunan-bangunannya begitu cantik. Pusat kota di dekat Harvard, yaitu Harvard Square dikelilingi toko buku, restoran, dan kafe yang semuanya terpisah dengan jarak jalan kaki. Kesan kedua yang saya rasakan adalah hawa akademis yang begitu kental. Orang-orang terlihat berjalan membawa tas ransel dan buku cetak tebal-tebal. Bahkan ketika saya masuk ke salah satu kafe, anak-anak muda terlihat sibuk dengan laptop masing-masing atau mengerjakan tugas.

Saya dibawa Kak Ratih berkeliling area kampus Harvard dan area Harvard Kennedy School. Di area kampus Harvard, kami hanya berkeliling di area luar kampus. Saya dibawa ke patung John Harvard dan berpose dengan memegang kakinya. Konon, jika memegang kakinya akan kembali lagi ke Harvard. Setelah berkeliling, saya dibawa Kak Ratih ke tempat ia menuntut ilmu: Harvard Kennedy School.

Harvard Kennedy School terletak agak terpisah dengan kampus Harvard untuk undergraduate. Di Harvard Kennedy School, kami masuk ke dalam kampus. Di area tengah disebutkan sebagai The Forum lokasi seminar-seminar dan ceramah dari tokoh-tokoh kelas dunia. Saya kagum melihat bentuk interior kampusnya yang berundak-undak, di mana pada setiap undakan terdapat area duduk yang dilengkapi colokan listrik untuk belajar dan diskusi. Yang terbayang dalam pikiran saya: seandainya kampus saya di Indonesia seperti ini, mungkin tidak perlu ke kafe untuk cari tempat belajar yang nyaman. Kak Ratih menuntun saya ke lantai paling atas di mana banyak mahasiswa sedang berdiskusi atau istilah anak sekolahnya: kerja kelompok. The level of energy there was amazing. Ketika melihat antusiasme dan keseriusan mahasiswa-mahasiswa menatap laptop dan mengerjakan tugas memberi kesan kepada saya bahwa memang, kampus ini untuk orang-orang pilihan. Pantas saja, perguruan tinggi ini menjadi kampus impian banyak orang.

Semoga semakin banyak putra-putri Indonesia berani untuk menuntut ilmu sampai ke Harvard!




===========================================
Monica Raphita Simarmata is a Chemical Engineering graduate from Institut Teknologi Bandung (ITB). Monica is the first ITB Campus Representative of the Indonesia Mengglobal Team. Now embarking a career in the public sector in the Directorate General of Oil and Gas in the Ministry of Energy and Mineral Resources, Monica dreams to pursue higher education in the United States. In her spare time she enjoys blogging, cooking, and watching movies.
Posts | Website | Facebook | Twitter