Sebuah Jawaban: Apakah Bisa IPK dan Skor TOEFL Rendah Mendapatkan Beasiswa ke Luar Negeri?

140
12965

Tulisan saya ini ingin mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang sering muncul di forum para pemburu beasiswa. IPK pas pasan (< 3.0)? Nilai TOEFL rendah? Mungkinkah anda mendapat beasiswa ke luar negeri? Jawaban saya adalah tentu saja mungkin. Mengapa saya berani membuat pernyataan seperti itu? karena saya punya bukti nyata, yaitu saya sendiri. Bagaimana caranya? akan saya coba tuliskan pada tulisan ini. Namun yang saya tuliskan di sini adalah sebuah proses panjang perjuangan mendapatkan impian saya yang bukan proses “sekali jadi” namun akumulasi dari lebih dari 15 kali percobaan aplikasi selama 3 tahun berturut-turut. Tulisan ini tidak membahas tentang teknikal cara mendapat beasiswa namun lebih kepada memotivasi para rekan pemburu beasiswa bahwa semuanya mungkin jika anda berusaha…

Saya adalah salah satu lulusan “menengah ke bawah” yang dalam artian disini IPK-nya dibawah 3 dari Departemen Biologi IPB. TOEFL prediction pertama saya ketika lulus adalah 465. Pastinya banyak orang yang berasumsi bahwa mustahil dengan modal nilai rendah begini bisa dapat beasiswa. Bahkan mimpipun tidak pantas. Tapi masa depan anda bukanlah berasal dari pendapat negatif orang lain. Andalah penentu masa depan anda. Jika anda bertanya apa mimpi orang “pas-pasan” seperti saya ini setelah lulus, impian saya ada 2: menjadi peneliti sukses dibidang saya dan tentu saja mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Selang setahun dari kelulusan, Puji Tuhan saya diterima sebagai peneliti di salah satu institusi pemerintah. Itupun setelah tes CPNS sana sini (9 kali coba  di semua kementerian dan institusi riset yang ada formasi Biologi… dan hasilnya 8 gagal 1 diterima). Dari sini memang sudah terlihat bahwa saya ini termasuk ngotot kalau ingin mendapatkan sesuatu. Dari situ, saya mengabdi di Kalimantan Selatan sejak 2009. Sejak itulah saya mulai merealisasikan impian saya menjadi kenyataan. Tentu saja nilai TOEFL bisa ditingkatkan dengan belajar baik secara otodidak maupun melalui kursus. Tentu saja disini anda harus berkorban biaya dan waktu. Karena saya di sana menyambi kerja mengajar setelah jam kantor karena gaji CPNS itu sangat minim sekali, dan konsekuensinya  waktu benar benar terkuras. Disana jarang ada lembaga kursus yang bagus untuk TOEFL,  jadi jika anda berada di kota-kota besar, bersyukurlah dan jangan mengeluh tidak ada waktu. Saya berusaha semampu saya belajar otodidak namun ternyata skor saya mentok di 520. Dengan modal skor TOEFL ini saya mendaftar ADS dan short course StuNed dan Pre-StuNed (khusus luar jawa dan sekarang programnya sudah tidak ada lagi) untuk pertama kalinya dan semuanya gagal. Sedih, kecewa, marah dan tentu saja saya hampir menyerah waktu itu, namun satu kalimat penyejuk yang datang dari sahabat saya yaitu di mana ada keinginan di situ ada jalan. Kalimat itu selalu mengingatkan saya dan saya terus berusaha semampu saya. Saya tidak punya pilihan lain selain terus berusaha atau hanya bermimpi saja.

Selang beberapa waktu kemudian saya dikenalkan oleh empunya tempat saya bekerja dengan salah satu dosen universitas negri Lambung Mangkurat yang notabene alumni ADS. Saya beranikan diri saya kursus privat dengan beliau dan setelah 3 bulan akhirnya skor saya menembus 550. Itu juga tesnya saya sempat-sempatkan di Jakarta sewaktu saya dinas ke sana. Beliau jugalah yang mengajarkan saya tips-tips tentang beasiswa terutama ADS. Serunya lagi salah satu dari kedua guru saya di sana diterima beasiswa Fulbright dan akan berangkat ke AS semester depan… wajar saya, muridnya saja lolos pastinya gurunya pun lolos. Namun sekali lagi sebagai orang yang pas-pasan saya tidak memasang target alias saya daftar semua beasiswa yang tersedia di Indonesia. Di tahun 2010, saya coba semua beasiswa dalam dan luar negeri dari ADS, DAAD, NZ-Asean, Fulbright, StuNed, NFP, Monbukagakusho, VLIR-UOS, Erasmus Mundus, dan Bappenas. Hasilnya nol besar. Satu tahun berlalu dengan kegagalan yang bertubi-tubi. Di sini akhirnya saya berada di posisi di mana kegagalan adalah biasa dan satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah berusaha memperbaiki semua aplikasi mulai dari CV, essay, application form dan surat rekomendasi. Banyak blog para peraih beasiswa yang bisa anda baca di internet dan beliau-beliau itu orang baik dan pasti merespon pertanyaan anda jadi jangan sungkan untuk bertanya.

Satu hal positif yang saya tangkap dari pengalaman ini adalah bagaimana bijaksananya pimpinan kantor anda dan juga dosen pembimbing skripsi anda dulu dalam memberikan rekomendasi. Ingat, rekomendasi adalah faktor yang tak kalah penting dalam aplikasi anda. Puluhan surat rekomendasi yang saya minta belum berhasil menembus kerasnya seleksi beasiswa, namun mereka tetap menyemangati saya dan tanpa hentinya memberikan rekomendasi. Dosen pembimbing saya ini sudah saya anggap ibu saya sendiri. Beliau inilah yang menempa saya dulu, mengikuti Pekan Karya Mahasiswa Tingkat Nasional bersama rekan saya satu lab dan juga mengikuti satu seminar internasional untuk publikasi skripsi saya. Pengalaman ini juga menjadi tinta emas yang menutupi kekurangan saya dalam IPK. Pengalaman organisasi dan leadership juga menjadi pertimbangan dalam aplikasi anda, jadi berusalah bersosialisasi di kampus anda. Dan juga baik-baiklah anda terhadap pembimbing anda karena beliaulah yang akan menuliskan surat rekomendasi untuk anda. Tetap jaga komunikasi dengan beliau, mungkin di satu saat anda akan bekerjasama dengan beliau bukan sebagai pembimbing dan mahasiswa, namun sebagai kolega peneliti. Beliau pasti akan sangat bangga akan anda, dan tentu saja melihat ibu anda bahagia adalah kebahagiaan sendiri untuk anda. Di sisi lain, Kepala unit saya di kantor juga menasehati saya terus menerus. “Jangan menyerah nanti juga tembus”, kata beliau. Sungguh beliau-beliau ini adalah inspirasi saya untuk terus mencoba. Bahkan pada saat saya menyampaikan kegagalan saya, beliau hanya berkomentar, “OK, belajar dari kegagalan kamu lalu coba yang lain juga, ga usah dipikirin yang sudah gagal itu.”

Sambil terus memoles aplikasi saya, saya mencoba mengikuti tes TOEFL iBT dengan harapan jika saya mendapatkan skor yang cukup saya bisa memperluas aplikasi beasiswa tidak hanya terbatas pada kerjasama antar negara tapi juga bisa apply langsung di kampus tujuan (karena biasanya tiap kampus berskala internasional punya beasiswa sendiri untuk mahasiswa internasional). TOEFL iBT ini hanya bisa diakses di kota-kota besar, dan harganya mahal namun sekali lagi menurut saya pengorbanan itu diperlukan untuk mendapat hasil yang terbaik. Semua biaya dari tiket pesawat, voucher untuk tes, buku untuk belajar saya keluarkan dari kantong sendiri walau harus berhutang. Entah sudah berapa rupiah yang saya keluarkan untuk aplikasi saya, namun tidak satu rupiah pun yang saya sesali. Akhirnya nilai iBT itu pun keluar… berbekal belajar otodidak dan kursus privat hampir dua bulan lebih, puji syukur saya berhasil mendapatkan skor di atas 80. Permulaan yang bagus untuk aplikasi baru di tahun 2011 waktu itu. Sampai dengan bulan Juni 2011 saya kembali mendaftar beasiswa StuNed, NFP, ADS, Fulbright dan Monbukagakusho. Ada hal baru yang saya lakukan kali ini: saya mencoba mendapatkan satu surat rekomendasi dari seorang guru besar IPB yang namanya sudah go international dan pernah mengajar satu mata kuliah saya dulu dan terus terang saya kagum sama beliau ini. Tentu saja awalnya saya ragu namun akhirnya email saya dibalas kurang dari 24 jam dan beliau meminta saya membuat draft surat rekomendasi tersebut. Selama ini pemahaman saya terhadap para petinggi ini adalah mereka sangat sibuk dan tidak mungkin mereka akan peduli terhadap lulusan pas-pasan seperti saya ini. Namun opini itu musnah ketika saya mendapatkan balasan dan dukungan yang sangat positif dari beliau. Sungguh memang tidak ada usaha yang sia-sia. Pada akhirnya untuk pertama kali dalam sejarah, saya mendapatkan email dari AMINEF perihal jadwal wawancara di Jakarta untuk beasiswa Fulbright… dan juga disaat yang hampir bersamaan saya mendapatkan email penolakan dari StuNed dan NFP.

Waktu itu saya sampai membaca undangan wawancara tiga kali untuk memastikan bahwa email itu bukanlah email penolakan. Tapi ternyata benar, itu email undangan wawancara. Walaupun ada 2 email penolakan, namun 1 email undangan ini menutupi semua kesedihan saya. Berbagai usaha saya lakukan untuk mendapatkan hasil yang terbaik, mulai dari menyusun “skenario” jawaban dan perkenalan diri sampai dengan penelitian yang sudah saya lakukan dan apa yang akan saya teliti sewaktu di AS. Wawancara kali ini memang menitikberatkan pada esai yang sudah kita buat dan juga resume. Untuk beasiswa Fulbright ini, kandidat master degree dipersyaratkan untuk membuat 2 esai yaitu personal statement dan study objective. Saya kira sudah banyak tulisan yang membahas bagaimana membuat esai yang sempurna untuk aplikasi beasiswa jadi saya tidak akan membahas hal ini lebih lanjut di sini. Satu hal yang menarik, pewawancara sama sekali tidak menanyakan perihal banyaknya nilai C di transkrip saya. Mereka lebih menekankan visi misi ke depan, prospek penelitian saya, kampus tujuan saya dan bagaimana saya akan kembali ke Indonesia tercinta dan menerapkan ilmu yang sudah akan saya dapatkan nantinya. Pada saat wawancara ada 4 orang pewawancara dan mereka punya bidang keahlian yang berbeda-beda sehingga anda harus mengunakan bahasa yang dapat dimengerti semua orang dan jika ada istilah yang spesifik usahakan menjelaskan apa artinya. Sewaktu ditanya perihal kampus tujuan di AS, kebetulan pada saat wawancara saya sudah ada dua target kampus di AS, satu rekomendasi dari dosen saya dan satu lagi adalah satu profesor yang banyak membantu skripsi saya waktu S1 dulu. Secara garis besar saya cukup percaya diri sewaktu wawancara kala itu dan yakin saya akan lanjut ke proses selanjutnya.

Waktu pun berlalu… sampai awal agustus 2011, belum ada pengumuman sama sekali perihal hasil wawancara beasiswa Fulbright tersebut. Saya sudah mendengar gosip bahwa ada berberapa temannya teman saya yang sudah dinyatakan lulus wawancara dan lanjut ke tahap berikutnya. Saking penasarannya saya pun memberanikan diri menelpon pihak AMINEF dan menanyakan hasil interview tersebut. Tentu saja perasaan saya kala itu sangat gugup dan terus terang saya takut akan hasil tersebut. Akhirnya saya menelpon dan saya menanyakan apakah hasil interview sudah keluar dan pihak AMINEF menjawab sudah. Tentu berikutnya saya menanyakan apakah nama saya ada di daftar kandidat, dan ternyata hasilnya nama saya tidak ada. Sungguh saat itu perasaan saya hancur lebur. Rasanya seperti menjadi pecundang yang terlantar. Saya berusaha berpikir positif karena di saat yang sama saya sedang proses beasiswa Bappenas dan saya pun percaya diri akan lolos ke tahap berikutnya. Dua minggu kemudian pun saya mendapatkan pengumuman untuk beasiswa Bappenas dan saya dinyatakan gagal. September 2011 menjadi bulan kelabu untuk saya. Kekecewaan yang sangat dalam dan juga perasaan rendah diri karena kegagalan bertubi-tubi sangat mendera saya waktu itu. Saya sudah mencapai titik terendah dalam usaha saya mencapai impian saya. Saya berpikir cukup sekian usaha saya. Sepertinya hampir sebulan saya “cuek” dan menjalanin hidup apa adanya dengan kerjaan rutin di kantor. Nasehat para sahabat dekat saya agar saya tetap berusaha sepertinya hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan saja. Saya menjauh dari pergaulan dan berusaha menyendiri.

Sampailah saya di bulan oktober 2011, di mana saya kembali berani setidaknya mencoba bermimpi. Foto-foto teman saya yang sedang belajar di negeri orang kembali menggelitik naluri “scholarship hunter” saya. Saya putuskan kembali mencoba apply short-course untuk beasiswa StuNed walaupun hasil akhirnya adalah kegagalan pada saat itu. Selang seminggu kemudian, saya mendapatkan email dari AMINEF. Email yang cukup panjang, dan terus terang saya kurang paham apa isinya. Kala itu saya berpikir mungkin ini adalah email resmi penolakan dari Fulbright untuk beasiswa saya jadi saya cuekin saja karena siang itu kebetulan ada jadwal rapat di kantor. Ketika saya sedang rapat, ada telepon masuk ke HP saya. Saya lihat nomornya dari Jakarta, jadi saya keluar ruang rapat dan mengangkat telpon berikut. Ternyata yang menelpon saya adalah salah seorang staf dari AMINEF, dia mengabarkan kalau saya diterima sebagai alternate candidate Fulbright. Tentu saja saya kaget menerima berita tersebut. Walaupun setelah saya baca kembali email tersebut dengan detil, alternate candidate hanya diberangkatkan apabila ada dana tambahan dari Fulbright atau mungkin jika ada principal candidate yang mengundurkan diri. Terus terang saya masih takut kala itu dan sekaligus berapi-api mendapatkan beasiswa ini. Belakangan ini setelah saya bertanya-tanya saya baru tau bahwa ternyata setelah penolakan saya, pihak Fulbright mendapat jatah lebih. Jadi saya yang notabene adalah cadangannya cadangan ini berhak ikut seleksi lebih lanjut.

Ada satu cerita unik di sini dimana saya diminta membuat ulang surat rekomendasi yang sebelumnya telah saya mintakan ke dosen pembimbing saya namun belum dalam format yang diminta AMINEF. Sedikit panik kala itu karena saya tahu salah seorang profesor yang saya minta tanda tangannya ini sangat sibuk dan ketika saya email, beliau bilang akan pergi dinas ke luar kota dalam 2 hari jadi beliau menanyakan apakah saya bisa bertemu besok harinya di Jakarta untuk menandatangani surat tersebut (kala itu saya masih di kantor di Kalimantan Selatan dan besoknya masih hari kerja). Lalu bagaimana jawaban saya? tentu saja saya menyanggupi. Baru kali itu saya memesan tiket pesawat Banjarmasin-Jakarta PP untuk hari yang sama tanpa melihat harganya. Yang penting berangkat paling pagi dan pulang paling sore, lalu mengurus ijin satu hari kerja dari kantor. Hari itu benar-benar hari yang melelahkan, pagi-pagi buta ke Jakarta, lalu menemui profesor saya dan kembali ke kantor AMINEF untuk menyerahkan berkas dan kembali ke Banjarmasin. Profesor tersebut sempat bertanya kepada saya, “bukankah anda ini bekerja di luar Jawa?” Saya cuma tersenyum manis dan serasa seperti eksekutif muda yang berkunjung demi mendapatkan bisnis baru. Memang kalau menyangkut beasiswa, saya tidak pernah memeriksa isi rekening atau dompet sehingga tau-tau sudah ludes saja.

Untuk proses seleksi dari beasiswa Fulbright selanjutnya adalah tes TOEFL iBT dan GRE. Saya sudah sangat familiar untuk tes iBT namun GRE ini saya baru mendengar jadi saya putuskan untuk mencoba belajar dengan membeli beberapa buku. Sungguh melihat kosakatanya disana saja sudah membuat hati ini menangis tersedu-sedu. Skor kala itu jika ingin diterima di universitas di AS konon katanya 1000/1600. Saya langsung panik setengah mati, terlebih undangan dari AMINEFnya mengharuskan saya tes iBT dan GRE dalam dua hari berturut-turut. Terakhir saya tes iBT saja pulangnya sudah lemas terkulai tak berdaya, bagaimana caranya saya bisa melanjutkan tes GRE keesokan harinya? Waktu itu saya diberi waktu 3 minggu sebelum tes. Di Kalimantan Selatan tidak ada 1 lembaga apapun yang menyediakan kursus GRE dan alumni AS yang saya tanya pun hanya berkomentar, “baca baca saja bukunya”. Perlu saya ingatkan, saya ini bukan orang yang pintar, apalagi jenius… saya ini hanyalah orang yang “ngeyel” dan susah disuruh menyerah apalagi menyangkut impian saya. Entah kenapa ada saja jalan yang diberikan oleh sang Kuasa kepada saya. Pada saat itu saya ditugaskan oleh kantor untuk mengikuti diklat di Jakarta. Saya melihat ini sebagai kesempatan mencari “guru” untuk belajar. Setelah mengubek internet akhirnya saya menemukan beberapa institusi yang menawarkan jasa untuk kursus GRE namun waktunya tidak cocok karena dari pagi sampai sore saya ada training dan rata-rata tempatnya agak jauh dan dengan kondisi lalu lintas Jakarta setelah jam pulang kantor, hal tersebut menjadi mustahil untuk saya. Namun, setelah penyelidikan lebih dalam saya menemukan seorang native speaker yang memberikan private lesson. Tanpa berpikir biaya yang akan dikeluarkan saya memutuskan untuk les privat GRE. Saya melakukan semua hal ini semata-mata karena saya merasa bodoh dan baru dengan tes tersebut dan saya tidak akan mempertaruhkan impian saya dengan mencoba-coba, jadi apapun yang saya bisa lakukan walau harus banyak berkorban akan saya jalani. Dua minggu itu adalah dua minggu yang terberat dalam usaha saya mendapatkan beasiswa. Saya menjalani training selama dua minggu dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dan dilanjutkan les privat dari jam 7 sore sampai hampir tengah malam. Tiap hari senin-jumat dan sabtu minggunya saya juga les dari pagi sampai sore. Semuanya demi GRE. Sungguh saya sampai salut dengan diri saya sendiri kala itu bagaimana saya bisa belajar seserius itu karena saat kuliah S1 dulu saya ini terkenal malas. Bahkan guru GRE saya juga sampai geleng-geleng kepala kewalahan meladeni keinginan belajar saya.

Akhirnya tes pun dimulai dan hasilnya GRE langsung keluar. Puji Tuhan sesuai target, dan TOEFLnya pun di atas 85. Namun ternyata AMINEF kurang puas, saya mendapat email untuk mengulang kedua tes tersebut. Benar benar luar biasa. Dalam dua bulan, saya menjalani empat tes kemampuan bahasa Inggris yang sangat sulit. Tapi Puji Tuhan lolos semuanya. Perjuangan meraih pendidikan di AS dilanjutkan dengan proses aplikasi ke pihak universitas. Sebelum saya mendapatkan LoA, tetap saja saya tidak akan bisa berangkat ke AS. Akhirnya 2011 pun berlalu dan 2012 pun datang. Bulan-bulan awal dari Januari sampai April saya hanya bisa pasrah menunggu jawaban dari pihak universitas yang saya tuju. Kala itu saya mendaftar ke Michigan State University, University of California Davis, University of Arizona, dan Syracuse University. Surat pertama yang saya dapatkan adalah surat penolakan dari Michigan State University yang bertuliskan bahwa pihak universitas tidak yakin bahwa saya sanggup menempuh pendidikan di sana. Saya pasrah saja, karena memang dari segi nilai saya pas-pasan. Di kala itu, IIE meminta saya mengontak langsung profesor di Arizona. Puji Tuhan dari lima profesor yang saya hubungi, ada satu orang yang bersedia menampung saya dan empat lainnya menolak saya. Namun perjuangan belum berakhir. Dari aplikasi online saya belum mendapat jawaban dari pihak universitas. Saya berusaha menemukan mahasiswa Indonesia di Arizona untuk membantu saya dan di sanalah saya bertemu dengan mbak Sidrotun Naim yang kebetulan adalah mahasiswi PhD dan satu jurusan dengan saya. Tanpa beliau, saya pasti sudah ditolak dari Arizona. Ternyata pihak universitas masih ragu dengan status “alternate candidate” dan juga ternyata saya membuat kesalahan dalam pengisian aplikasi online. Akhirnya mbak Sidrotun Naim inilah yang mendatangi pihak departemen dan menjelaskan status Fulbright saya dan meminta saya mengirimkan ulang aplikasi saya. Kala itu saya mendapatkan LoA dari pihak Syracuse dengan shortfall sebesar $500. Saya belum membuat keputusan kala itu jadi status saya masih mengambang.

April 2012, saya mendapatkan email dari pihak Ghent University terkait dengan aplikasi beasiswa VLIR-UOS saya ke Belgia. Saya baru ingat kalau saya juga mendaftar beasiswa tersebut Desember 2011. Karena status yang belum pasti untuk beasiswa Fulbright saya putuskan tetap menjalani proses interview beasiswa VLIR-UOS ini. Namun mereka meminta jadwal interview ketika saya sedang dinas di Jogjakarta, dan tentu saja saya memerlukan koneksi internet dengan bandwidth yang besar untuk interview melalui Skype. Waktu itu saya bingung bukan kepalang. Saya minta pihak hotel untuk menyewa satu ruangan dengan high speed internet connection dan harganya sangat tidak realistis. Maka solusi kala itu adalah warnet atau kafe yang menyediakan wifi dengan kecepatan tinggi. Di dekat tempat saya menginap saya menemukan sebuah kafe yang menyediakan fasilitas wifi kecepatan tinggi dan sewaktu saya tes ber-skype ketika sendirian di kafe hasilnya cukup memuaskan. Namun, waktu interviewnya adalah peak time pelanggan datang sore hari. Tanpa berpikir panjang saya putuskan untuk mem“booking” satu lantai di kafe selama dua jam. Manager tempat tersebut sempat bingung dan kaget namun akhirnya bertanya ke ownernya dan mereka setuju. Tentu saja harganya jauh lebih ekonomis dibandingkan sewa ruangan di hotel. Sebelum berangkat ke AS pun saya berterima kasih kepada mereka dengan menelpon dan pihak kafe pun menyatakan selamat kepada saya. Nanti ketika saya kembali ke Indonesia dan sempat main ke Jogja, maka kafe inilah tempat pertama yang akan saya kunjungi. Saya masih ingat tempat saya “mojok” ketika interview berlangsung. Interview yang luar biasa, pertanyaan mereka sungguh detil dan visioner. Kala itu saya berada di posisi 30% dan untuk mendapatkan beasiswa saya harus berada di posisi 10% teratas. Pengumuman beasiswa ini akan dilakukan pada bulan Juni 2012. Mari kita lupakan dulu VLIR-UOS ini dan fokus ke beasiswa Fulbright.

Atas bantuan mbak Sidrotun Naim, saya mendapatkan LoA dari Universitas of Arizona dan akhirnya menerima undangan Fulbright Pre-Departure meeting di Lombok dari AMINEF. Status saya naik menjadi principal candidate dan dipastikan berangkat ke AS walaupun kala itu kampus tujuannya masih TBD (To be Determined). Ketika mendapatkan berita tersebut, sungguh gembira hati saya… tidak dapat diungkapkan dengan kata kata lagi. Jiwa raga saya berteriak kegirangan!!! Perjuangan tiga tahun lebih terbayar sudah… 16 kali kegagalan akhirnya ditutupi dengan 1 keberhasilan. Mungkin jika saya berhenti dan menyerah pada percobaan ke 10, 11 atau ke 12 maka hanya sampai disanalah saya… tidak akan menemukan keberhasilan yang kala itu masih berada di pintu jalan yang lain. Pada saat Pre-Departure pun saya bertemu dengan kandidat Fulbright yang lain. Mereka adalah pribadi yang sungguh luar biasa. Mereka adalah teman, sahabat dan keluarga saya sekarang. Sungguh kebanggaan bagi saya menjadi salah seorang kandidat. Ada satu momen bahagia lagi: saat sudah mendapatkan Term of Agreement (kontrak dari fulbright) untuk mendapatkan pre academic program di California Davis (salah satu kampus yang menolak saya), saya mendapatkan satu email dari pihak VLIR-UOS dan Ghent University yang menyatakan bahwa saya diterima beasiswa master di Belgia selama dua tahun dan saya diminta segera membuat passport dan apply Visa ke Belgia.

Perasaan saya kala itu sungguh tidak dapat diungkapkan dengan kata kata. Seseorang dengan IPK DIBAWAH 3 dan nilai TOEFL perdana hanya 465 bisa mendapatkan 2 beasiswa master degree ke luar negeri, impian saya tercapai dan justru saat itu saya malah kebingungan memilih karena kedua universitas adalah kampus yang terkenal dengan Environmental Science-nya dan publikasi risetnya sudah mendunia. Setelah bergumul, bertanya ke sana kemari dan membandingkan keduanya saya memilih belajar ke Universitas of Arizona. Namun perlu diingat, perjuangan ini belum selesai…. Sebagai manusia biasa yang kala itu baru pertama ke luar negeri dan belajar dalam bahasa inggris, tantangan itu masih sangat besar. Saya akan mencoba menuliskan hal tersebut pada tulisan lain, namun pesan saya disini untuk para pemburu beasiswa SEMUANYA ITU MUNGKIN!!! JANGAN PERNAH ANDA MENYERAH!!! LAKUKAN SEMUA YANG ANDA BISA!!! BEASISWA itu bukan mutlak milik orang JENIUS, tapi juga bagi orang yang terus BERUSAHA dan PANTANG MENYERAH!! Jangan pernah anda membatasi usaha anda untuk mencapai usaha anda. Materi itu bisa dicari kemudian, namun kesempatan beasiswa ke luar negeri mungkin hanya akan datang sekali seumur hidup. Penyesalan selalu datang kemudian, maka jangan pernah anda sesali apa yang anda tidak lakukan pada kehidupan anda sekarang. Bagi saya sekarang, impian saya adalah segalanya dan saya sekarang sedang berjalan di atasnya. Bagaimana dengan anda??

 

Andri Taruna Rachmadi
Soil, Water and Environmental Science
University of Arizona
andri.taruna@gmail.com

SHARE
Previous articleOn choosing Melbourne, Australia, to study
Next articleIndonesia Mengglobal Info Session
Andri Taruna
Andri Taruna is a Master's student studying Environmental Science at the University of Arizona, AZ. He holds a Bachelor's degree in Biology from Bogor Agricultural University and works as a researcher at Indonesia's Ministry of Industry. He received Fulbright Scholarship and VLIR-UOS in 2012 and decided to pursue the study in the United States.