Sebuah Jawaban: Apakah Bisa IPK dan Skor TOEFL Rendah Mendapatkan Beasiswa ke Luar Negeri?

138
3147

Tulisan saya ini ingin mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang sering muncul di forum para pemburu beasiswa. IPK pas pasan (< 3.0)? Nilai TOEFL rendah? Mungkinkah anda mendapat beasiswa ke luar negeri? Jawaban saya adalah tentu saja mungkin. Mengapa saya berani membuat pernyataan seperti itu? karena saya punya bukti nyata, yaitu saya sendiri. Bagaimana caranya? akan saya coba tuliskan pada tulisan ini. Namun yang saya tuliskan di sini adalah sebuah proses panjang perjuangan mendapatkan impian saya yang bukan proses “sekali jadi” namun akumulasi dari lebih dari 15 kali percobaan aplikasi selama 3 tahun berturut-turut. Tulisan ini tidak membahas tentang teknikal cara mendapat beasiswa namun lebih kepada memotivasi para rekan pemburu beasiswa bahwa semuanya mungkin jika anda berusaha…

Saya adalah salah satu lulusan “menengah ke bawah” yang dalam artian disini IPK-nya dibawah 3 dari Departemen Biologi IPB. TOEFL prediction pertama saya ketika lulus adalah 465. Pastinya banyak orang yang berasumsi bahwa mustahil dengan modal nilai rendah begini bisa dapat beasiswa. Bahkan mimpipun tidak pantas. Tapi masa depan anda bukanlah berasal dari pendapat negatif orang lain. Andalah penentu masa depan anda. Jika anda bertanya apa mimpi orang “pas-pasan” seperti saya ini setelah lulus, impian saya ada 2: menjadi peneliti sukses dibidang saya dan tentu saja mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Selang setahun dari kelulusan, Puji Tuhan saya diterima sebagai peneliti di salah satu institusi pemerintah. Itupun setelah tes CPNS sana sini (9 kali coba  di semua kementerian dan institusi riset yang ada formasi Biologi… dan hasilnya 8 gagal 1 diterima). Dari sini memang sudah terlihat bahwa saya ini termasuk ngotot kalau ingin mendapatkan sesuatu. Dari situ, saya mengabdi di Kalimantan Selatan sejak 2009. Sejak itulah saya mulai merealisasikan impian saya menjadi kenyataan. Tentu saja nilai TOEFL bisa ditingkatkan dengan belajar baik secara otodidak maupun melalui kursus. Tentu saja disini anda harus berkorban biaya dan waktu. Karena saya di sana menyambi kerja mengajar setelah jam kantor karena gaji CPNS itu sangat minim sekali, dan konsekuensinya  waktu benar benar terkuras. Disana jarang ada lembaga kursus yang bagus untuk TOEFL,  jadi jika anda berada di kota-kota besar, bersyukurlah dan jangan mengeluh tidak ada waktu. Saya berusaha semampu saya belajar otodidak namun ternyata skor saya mentok di 520. Dengan modal skor TOEFL ini saya mendaftar ADS dan short course StuNed dan Pre-StuNed (khusus luar jawa dan sekarang programnya sudah tidak ada lagi) untuk pertama kalinya dan semuanya gagal. Sedih, kecewa, marah dan tentu saja saya hampir menyerah waktu itu, namun satu kalimat penyejuk yang datang dari sahabat saya yaitu di mana ada keinginan di situ ada jalan. Kalimat itu selalu mengingatkan saya dan saya terus berusaha semampu saya. Saya tidak punya pilihan lain selain terus berusaha atau hanya bermimpi saja.

Selang beberapa waktu kemudian saya dikenalkan oleh empunya tempat saya bekerja dengan salah satu dosen universitas negri Lambung Mangkurat yang notabene alumni ADS. Saya beranikan diri saya kursus privat dengan beliau dan setelah 3 bulan akhirnya skor saya menembus 550. Itu juga tesnya saya sempat-sempatkan di Jakarta sewaktu saya dinas ke sana. Beliau jugalah yang mengajarkan saya tips-tips tentang beasiswa terutama ADS. Serunya lagi salah satu dari kedua guru saya di sana diterima beasiswa Fulbright dan akan berangkat ke AS semester depan… wajar saya, muridnya saja lolos pastinya gurunya pun lolos. Namun sekali lagi sebagai orang yang pas-pasan saya tidak memasang target alias saya daftar semua beasiswa yang tersedia di Indonesia. Di tahun 2010, saya coba semua beasiswa dalam dan luar negeri dari ADS, DAAD, NZ-Asean, Fulbright, StuNed, NFP, Monbukagakusho, VLIR-UOS, Erasmus Mundus, dan Bappenas. Hasilnya nol besar. Satu tahun berlalu dengan kegagalan yang bertubi-tubi. Di sini akhirnya saya berada di posisi di mana kegagalan adalah biasa dan satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah berusaha memperbaiki semua aplikasi mulai dari CV, essay, application form dan surat rekomendasi. Banyak blog para peraih beasiswa yang bisa anda baca di internet dan beliau-beliau itu orang baik dan pasti merespon pertanyaan anda jadi jangan sungkan untuk bertanya.

Satu hal positif yang saya tangkap dari pengalaman ini adalah bagaimana bijaksananya pimpinan kantor anda dan juga dosen pembimbing skripsi anda dulu dalam memberikan rekomendasi. Ingat, rekomendasi adalah faktor yang tak kalah penting dalam aplikasi anda. Puluhan surat rekomendasi yang saya minta belum berhasil menembus kerasnya seleksi beasiswa, namun mereka tetap menyemangati saya dan tanpa hentinya memberikan rekomendasi. Dosen pembimbing saya ini sudah saya anggap ibu saya sendiri. Beliau inilah yang menempa saya dulu, mengikuti Pekan Karya Mahasiswa Tingkat Nasional bersama rekan saya satu lab dan juga mengikuti satu seminar internasional untuk publikasi skripsi saya. Pengalaman ini juga menjadi tinta emas yang menutupi kekurangan saya dalam IPK. Pengalaman organisasi dan leadership juga menjadi pertimbangan dalam aplikasi anda, jadi berusalah bersosialisasi di kampus anda. Dan juga baik-baiklah anda terhadap pembimbing anda karena beliaulah yang akan menuliskan surat rekomendasi untuk anda. Tetap jaga komunikasi dengan beliau, mungkin di satu saat anda akan bekerjasama dengan beliau bukan sebagai pembimbing dan mahasiswa, namun sebagai kolega peneliti. Beliau pasti akan sangat bangga akan anda, dan tentu saja melihat ibu anda bahagia adalah kebahagiaan sendiri untuk anda. Di sisi lain, Kepala unit saya di kantor juga menasehati saya terus menerus. “Jangan menyerah nanti juga tembus”, kata beliau. Sungguh beliau-beliau ini adalah inspirasi saya untuk terus mencoba. Bahkan pada saat saya menyampaikan kegagalan saya, beliau hanya berkomentar, “OK, belajar dari kegagalan kamu lalu coba yang lain juga, ga usah dipikirin yang sudah gagal itu.”

Sambil terus memoles aplikasi saya, saya mencoba mengikuti tes TOEFL iBT dengan harapan jika saya mendapatkan skor yang cukup saya bisa memperluas aplikasi beasiswa tidak hanya terbatas pada kerjasama antar negara tapi juga bisa apply langsung di kampus tujuan (karena biasanya tiap kampus berskala internasional punya beasiswa sendiri untuk mahasiswa internasional). TOEFL iBT ini hanya bisa diakses di kota-kota besar, dan harganya mahal namun sekali lagi menurut saya pengorbanan itu diperlukan untuk mendapat hasil yang terbaik. Semua biaya dari tiket pesawat, voucher untuk tes, buku untuk belajar saya keluarkan dari kantong sendiri walau harus berhutang. Entah sudah berapa rupiah yang saya keluarkan untuk aplikasi saya, namun tidak satu rupiah pun yang saya sesali. Akhirnya nilai iBT itu pun keluar… berbekal belajar otodidak dan kursus privat hampir dua bulan lebih, puji syukur saya berhasil mendapatkan skor di atas 80. Permulaan yang bagus untuk aplikasi baru di tahun 2011 waktu itu. Sampai dengan bulan Juni 2011 saya kembali mendaftar beasiswa StuNed, NFP, ADS, Fulbright dan Monbukagakusho. Ada hal baru yang saya lakukan kali ini: saya mencoba mendapatkan satu surat rekomendasi dari seorang guru besar IPB yang namanya sudah go international dan pernah mengajar satu mata kuliah saya dulu dan terus terang saya kagum sama beliau ini. Tentu saja awalnya saya ragu namun akhirnya email saya dibalas kurang dari 24 jam dan beliau meminta saya membuat draft surat rekomendasi tersebut. Selama ini pemahaman saya terhadap para petinggi ini adalah mereka sangat sibuk dan tidak mungkin mereka akan peduli terhadap lulusan pas-pasan seperti saya ini. Namun opini itu musnah ketika saya mendapatkan balasan dan dukungan yang sangat positif dari beliau. Sungguh memang tidak ada usaha yang sia-sia. Pada akhirnya untuk pertama kali dalam sejarah, saya mendapatkan email dari AMINEF perihal jadwal wawancara di Jakarta untuk beasiswa Fulbright… dan juga disaat yang hampir bersamaan saya mendapatkan email penolakan dari StuNed dan NFP.

Waktu itu saya sampai membaca undangan wawancara tiga kali untuk memastikan bahwa email itu bukanlah email penolakan. Tapi ternyata benar, itu email undangan wawancara. Walaupun ada 2 email penolakan, namun 1 email undangan ini menutupi semua kesedihan saya. Berbagai usaha saya lakukan untuk mendapatkan hasil yang terbaik, mulai dari menyusun “skenario” jawaban dan perkenalan diri sampai dengan penelitian yang sudah saya lakukan dan apa yang akan saya teliti sewaktu di AS. Wawancara kali ini memang menitikberatkan pada esai yang sudah kita buat dan juga resume. Untuk beasiswa Fulbright ini, kandidat master degree dipersyaratkan untuk membuat 2 esai yaitu personal statement dan study objective. Saya kira sudah banyak tulisan yang membahas bagaimana membuat esai yang sempurna untuk aplikasi beasiswa jadi saya tidak akan membahas hal ini lebih lanjut di sini. Satu hal yang menarik, pewawancara sama sekali tidak menanyakan perihal banyaknya nilai C di transkrip saya. Mereka lebih menekankan visi misi ke depan, prospek penelitian saya, kampus tujuan saya dan bagaimana saya akan kembali ke Indonesia tercinta dan menerapkan ilmu yang sudah akan saya dapatkan nantinya. Pada saat wawancara ada 4 orang pewawancara dan mereka punya bidang keahlian yang berbeda-beda sehingga anda harus mengunakan bahasa yang dapat dimengerti semua orang dan jika ada istilah yang spesifik usahakan menjelaskan apa artinya. Sewaktu ditanya perihal kampus tujuan di AS, kebetulan pada saat wawancara saya sudah ada dua target kampus di AS, satu rekomendasi dari dosen saya dan satu lagi adalah satu profesor yang banyak membantu skripsi saya waktu S1 dulu. Secara garis besar saya cukup percaya diri sewaktu wawancara kala itu dan yakin saya akan lanjut ke proses selanjutnya.

Waktu pun berlalu… sampai awal agustus 2011, belum ada pengumuman sama sekali perihal hasil wawancara beasiswa Fulbright tersebut. Saya sudah mendengar gosip bahwa ada berberapa temannya teman saya yang sudah dinyatakan lulus wawancara dan lanjut ke tahap berikutnya. Saking penasarannya saya pun memberanikan diri menelpon pihak AMINEF dan menanyakan hasil interview tersebut. Tentu saja perasaan saya kala itu sangat gugup dan terus terang saya takut akan hasil tersebut. Akhirnya saya menelpon dan saya menanyakan apakah hasil interview sudah keluar dan pihak AMINEF menjawab sudah. Tentu berikutnya saya menanyakan apakah nama saya ada di daftar kandidat, dan ternyata hasilnya nama saya tidak ada. Sungguh saat itu perasaan saya hancur lebur. Rasanya seperti menjadi pecundang yang terlantar. Saya berusaha berpikir positif karena di saat yang sama saya sedang proses beasiswa Bappenas dan saya pun percaya diri akan lolos ke tahap berikutnya. Dua minggu kemudian pun saya mendapatkan pengumuman untuk beasiswa Bappenas dan saya dinyatakan gagal. September 2011 menjadi bulan kelabu untuk saya. Kekecewaan yang sangat dalam dan juga perasaan rendah diri karena kegagalan bertubi-tubi sangat mendera saya waktu itu. Saya sudah mencapai titik terendah dalam usaha saya mencapai impian saya. Saya berpikir cukup sekian usaha saya. Sepertinya hampir sebulan saya “cuek” dan menjalanin hidup apa adanya dengan kerjaan rutin di kantor. Nasehat para sahabat dekat saya agar saya tetap berusaha sepertinya hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan saja. Saya menjauh dari pergaulan dan berusaha menyendiri.

Sampailah saya di bulan oktober 2011, di mana saya kembali berani setidaknya mencoba bermimpi. Foto-foto teman saya yang sedang belajar di negeri orang kembali menggelitik naluri “scholarship hunter” saya. Saya putuskan kembali mencoba apply short-course untuk beasiswa StuNed walaupun hasil akhirnya adalah kegagalan pada saat itu. Selang seminggu kemudian, saya mendapatkan email dari AMINEF. Email yang cukup panjang, dan terus terang saya kurang paham apa isinya. Kala itu saya berpikir mungkin ini adalah email resmi penolakan dari Fulbright untuk beasiswa saya jadi saya cuekin saja karena siang itu kebetulan ada jadwal rapat di kantor. Ketika saya sedang rapat, ada telepon masuk ke HP saya. Saya lihat nomornya dari Jakarta, jadi saya keluar ruang rapat dan mengangkat telpon berikut. Ternyata yang menelpon saya adalah salah seorang staf dari AMINEF, dia mengabarkan kalau saya diterima sebagai alternate candidate Fulbright. Tentu saja saya kaget menerima berita tersebut. Walaupun setelah saya baca kembali email tersebut dengan detil, alternate candidate hanya diberangkatkan apabila ada dana tambahan dari Fulbright atau mungkin jika ada principal candidate yang mengundurkan diri. Terus terang saya masih takut kala itu dan sekaligus berapi-api mendapatkan beasiswa ini. Belakangan ini setelah saya bertanya-tanya saya baru tau bahwa ternyata setelah penolakan saya, pihak Fulbright mendapat jatah lebih. Jadi saya yang notabene adalah cadangannya cadangan ini berhak ikut seleksi lebih lanjut.

Ada satu cerita unik di sini dimana saya diminta membuat ulang surat rekomendasi yang sebelumnya telah saya mintakan ke dosen pembimbing saya namun belum dalam format yang diminta AMINEF. Sedikit panik kala itu karena saya tahu salah seorang profesor yang saya minta tanda tangannya ini sangat sibuk dan ketika saya email, beliau bilang akan pergi dinas ke luar kota dalam 2 hari jadi beliau menanyakan apakah saya bisa bertemu besok harinya di Jakarta untuk menandatangani surat tersebut (kala itu saya masih di kantor di Kalimantan Selatan dan besoknya masih hari kerja). Lalu bagaimana jawaban saya? tentu saja saya menyanggupi. Baru kali itu saya memesan tiket pesawat Banjarmasin-Jakarta PP untuk hari yang sama tanpa melihat harganya. Yang penting berangkat paling pagi dan pulang paling sore, lalu mengurus ijin satu hari kerja dari kantor. Hari itu benar-benar hari yang melelahkan, pagi-pagi buta ke Jakarta, lalu menemui profesor saya dan kembali ke kantor AMINEF untuk menyerahkan berkas dan kembali ke Banjarmasin. Profesor tersebut sempat bertanya kepada saya, “bukankah anda ini bekerja di luar Jawa?” Saya cuma tersenyum manis dan serasa seperti eksekutif muda yang berkunjung demi mendapatkan bisnis baru. Memang kalau menyangkut beasiswa, saya tidak pernah memeriksa isi rekening atau dompet sehingga tau-tau sudah ludes saja.

Untuk proses seleksi dari beasiswa Fulbright selanjutnya adalah tes TOEFL iBT dan GRE. Saya sudah sangat familiar untuk tes iBT namun GRE ini saya baru mendengar jadi saya putuskan untuk mencoba belajar dengan membeli beberapa buku. Sungguh melihat kosakatanya disana saja sudah membuat hati ini menangis tersedu-sedu. Skor kala itu jika ingin diterima di universitas di AS konon katanya 1000/1600. Saya langsung panik setengah mati, terlebih undangan dari AMINEFnya mengharuskan saya tes iBT dan GRE dalam dua hari berturut-turut. Terakhir saya tes iBT saja pulangnya sudah lemas terkulai tak berdaya, bagaimana caranya saya bisa melanjutkan tes GRE keesokan harinya? Waktu itu saya diberi waktu 3 minggu sebelum tes. Di Kalimantan Selatan tidak ada 1 lembaga apapun yang menyediakan kursus GRE dan alumni AS yang saya tanya pun hanya berkomentar, “baca baca saja bukunya”. Perlu saya ingatkan, saya ini bukan orang yang pintar, apalagi jenius… saya ini hanyalah orang yang “ngeyel” dan susah disuruh menyerah apalagi menyangkut impian saya. Entah kenapa ada saja jalan yang diberikan oleh sang Kuasa kepada saya. Pada saat itu saya ditugaskan oleh kantor untuk mengikuti diklat di Jakarta. Saya melihat ini sebagai kesempatan mencari “guru” untuk belajar. Setelah mengubek internet akhirnya saya menemukan beberapa institusi yang menawarkan jasa untuk kursus GRE namun waktunya tidak cocok karena dari pagi sampai sore saya ada training dan rata-rata tempatnya agak jauh dan dengan kondisi lalu lintas Jakarta setelah jam pulang kantor, hal tersebut menjadi mustahil untuk saya. Namun, setelah penyelidikan lebih dalam saya menemukan seorang native speaker yang memberikan private lesson. Tanpa berpikir biaya yang akan dikeluarkan saya memutuskan untuk les privat GRE. Saya melakukan semua hal ini semata-mata karena saya merasa bodoh dan baru dengan tes tersebut dan saya tidak akan mempertaruhkan impian saya dengan mencoba-coba, jadi apapun yang saya bisa lakukan walau harus banyak berkorban akan saya jalani. Dua minggu itu adalah dua minggu yang terberat dalam usaha saya mendapatkan beasiswa. Saya menjalani training selama dua minggu dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dan dilanjutkan les privat dari jam 7 sore sampai hampir tengah malam. Tiap hari senin-jumat dan sabtu minggunya saya juga les dari pagi sampai sore. Semuanya demi GRE. Sungguh saya sampai salut dengan diri saya sendiri kala itu bagaimana saya bisa belajar seserius itu karena saat kuliah S1 dulu saya ini terkenal malas. Bahkan guru GRE saya juga sampai geleng-geleng kepala kewalahan meladeni keinginan belajar saya.

Akhirnya tes pun dimulai dan hasilnya GRE langsung keluar. Puji Tuhan sesuai target, dan TOEFLnya pun di atas 85. Namun ternyata AMINEF kurang puas, saya mendapat email untuk mengulang kedua tes tersebut. Benar benar luar biasa. Dalam dua bulan, saya menjalani empat tes kemampuan bahasa Inggris yang sangat sulit. Tapi Puji Tuhan lolos semuanya. Perjuangan meraih pendidikan di AS dilanjutkan dengan proses aplikasi ke pihak universitas. Sebelum saya mendapatkan LoA, tetap saja saya tidak akan bisa berangkat ke AS. Akhirnya 2011 pun berlalu dan 2012 pun datang. Bulan-bulan awal dari Januari sampai April saya hanya bisa pasrah menunggu jawaban dari pihak universitas yang saya tuju. Kala itu saya mendaftar ke Michigan State University, University of California Davis, University of Arizona, dan Syracuse University. Surat pertama yang saya dapatkan adalah surat penolakan dari Michigan State University yang bertuliskan bahwa pihak universitas tidak yakin bahwa saya sanggup menempuh pendidikan di sana. Saya pasrah saja, karena memang dari segi nilai saya pas-pasan. Di kala itu, IIE meminta saya mengontak langsung profesor di Arizona. Puji Tuhan dari lima profesor yang saya hubungi, ada satu orang yang bersedia menampung saya dan empat lainnya menolak saya. Namun perjuangan belum berakhir. Dari aplikasi online saya belum mendapat jawaban dari pihak universitas. Saya berusaha menemukan mahasiswa Indonesia di Arizona untuk membantu saya dan di sanalah saya bertemu dengan mbak Sidrotun Naim yang kebetulan adalah mahasiswi PhD dan satu jurusan dengan saya. Tanpa beliau, saya pasti sudah ditolak dari Arizona. Ternyata pihak universitas masih ragu dengan status “alternate candidate” dan juga ternyata saya membuat kesalahan dalam pengisian aplikasi online. Akhirnya mbak Sidrotun Naim inilah yang mendatangi pihak departemen dan menjelaskan status Fulbright saya dan meminta saya mengirimkan ulang aplikasi saya. Kala itu saya mendapatkan LoA dari pihak Syracuse dengan shortfall sebesar $500. Saya belum membuat keputusan kala itu jadi status saya masih mengambang.

April 2012, saya mendapatkan email dari pihak Ghent University terkait dengan aplikasi beasiswa VLIR-UOS saya ke Belgia. Saya baru ingat kalau saya juga mendaftar beasiswa tersebut Desember 2011. Karena status yang belum pasti untuk beasiswa Fulbright saya putuskan tetap menjalani proses interview beasiswa VLIR-UOS ini. Namun mereka meminta jadwal interview ketika saya sedang dinas di Jogjakarta, dan tentu saja saya memerlukan koneksi internet dengan bandwidth yang besar untuk interview melalui Skype. Waktu itu saya bingung bukan kepalang. Saya minta pihak hotel untuk menyewa satu ruangan dengan high speed internet connection dan harganya sangat tidak realistis. Maka solusi kala itu adalah warnet atau kafe yang menyediakan wifi dengan kecepatan tinggi. Di dekat tempat saya menginap saya menemukan sebuah kafe yang menyediakan fasilitas wifi kecepatan tinggi dan sewaktu saya tes ber-skype ketika sendirian di kafe hasilnya cukup memuaskan. Namun, waktu interviewnya adalah peak time pelanggan datang sore hari. Tanpa berpikir panjang saya putuskan untuk mem“booking” satu lantai di kafe selama dua jam. Manager tempat tersebut sempat bingung dan kaget namun akhirnya bertanya ke ownernya dan mereka setuju. Tentu saja harganya jauh lebih ekonomis dibandingkan sewa ruangan di hotel. Sebelum berangkat ke AS pun saya berterima kasih kepada mereka dengan menelpon dan pihak kafe pun menyatakan selamat kepada saya. Nanti ketika saya kembali ke Indonesia dan sempat main ke Jogja, maka kafe inilah tempat pertama yang akan saya kunjungi. Saya masih ingat tempat saya “mojok” ketika interview berlangsung. Interview yang luar biasa, pertanyaan mereka sungguh detil dan visioner. Kala itu saya berada di posisi 30% dan untuk mendapatkan beasiswa saya harus berada di posisi 10% teratas. Pengumuman beasiswa ini akan dilakukan pada bulan Juni 2012. Mari kita lupakan dulu VLIR-UOS ini dan fokus ke beasiswa Fulbright.

Atas bantuan mbak Sidrotun Naim, saya mendapatkan LoA dari Universitas of Arizona dan akhirnya menerima undangan Fulbright Pre-Departure meeting di Lombok dari AMINEF. Status saya naik menjadi principal candidate dan dipastikan berangkat ke AS walaupun kala itu kampus tujuannya masih TBD (To be Determined). Ketika mendapatkan berita tersebut, sungguh gembira hati saya… tidak dapat diungkapkan dengan kata kata lagi. Jiwa raga saya berteriak kegirangan!!! Perjuangan tiga tahun lebih terbayar sudah… 16 kali kegagalan akhirnya ditutupi dengan 1 keberhasilan. Mungkin jika saya berhenti dan menyerah pada percobaan ke 10, 11 atau ke 12 maka hanya sampai disanalah saya… tidak akan menemukan keberhasilan yang kala itu masih berada di pintu jalan yang lain. Pada saat Pre-Departure pun saya bertemu dengan kandidat Fulbright yang lain. Mereka adalah pribadi yang sungguh luar biasa. Mereka adalah teman, sahabat dan keluarga saya sekarang. Sungguh kebanggaan bagi saya menjadi salah seorang kandidat. Ada satu momen bahagia lagi: saat sudah mendapatkan Term of Agreement (kontrak dari fulbright) untuk mendapatkan pre academic program di California Davis (salah satu kampus yang menolak saya), saya mendapatkan satu email dari pihak VLIR-UOS dan Ghent University yang menyatakan bahwa saya diterima beasiswa master di Belgia selama dua tahun dan saya diminta segera membuat passport dan apply Visa ke Belgia.

Perasaan saya kala itu sungguh tidak dapat diungkapkan dengan kata kata. Seseorang dengan IPK DIBAWAH 3 dan nilai TOEFL perdana hanya 465 bisa mendapatkan 2 beasiswa master degree ke luar negeri, impian saya tercapai dan justru saat itu saya malah kebingungan memilih karena kedua universitas adalah kampus yang terkenal dengan Environmental Science-nya dan publikasi risetnya sudah mendunia. Setelah bergumul, bertanya ke sana kemari dan membandingkan keduanya saya memilih belajar ke Universitas of Arizona. Namun perlu diingat, perjuangan ini belum selesai…. Sebagai manusia biasa yang kala itu baru pertama ke luar negeri dan belajar dalam bahasa inggris, tantangan itu masih sangat besar. Saya akan mencoba menuliskan hal tersebut pada tulisan lain, namun pesan saya disini untuk para pemburu beasiswa SEMUANYA ITU MUNGKIN!!! JANGAN PERNAH ANDA MENYERAH!!! LAKUKAN SEMUA YANG ANDA BISA!!! BEASISWA itu bukan mutlak milik orang JENIUS, tapi juga bagi orang yang terus BERUSAHA dan PANTANG MENYERAH!! Jangan pernah anda membatasi usaha anda untuk mencapai usaha anda. Materi itu bisa dicari kemudian, namun kesempatan beasiswa ke luar negeri mungkin hanya akan datang sekali seumur hidup. Penyesalan selalu datang kemudian, maka jangan pernah anda sesali apa yang anda tidak lakukan pada kehidupan anda sekarang. Bagi saya sekarang, impian saya adalah segalanya dan saya sekarang sedang berjalan di atasnya. Bagaimana dengan anda??

 

Andri Taruna Rachmadi
Soil, Water and Environmental Science
University of Arizona
andri.taruna@gmail.com

SHARE
Previous articleOn choosing Melbourne, Australia, to study
Next articleIndonesia Mengglobal Info Session
Andri Taruna
Andri Taruna is a Master's student studying Environmental Science at the University of Arizona, AZ. He holds a Bachelor's degree in Biology from Bogor Agricultural University and works as a researcher at Indonesia's Ministry of Industry. He received Fulbright Scholarship and VLIR-UOS in 2012 and decided to pursue the study in the United States.
  • Danny

    saya cuma bisa bilang Amazing buat tulisan mas Andri ini, saluto banget lah.

    kebetulan saya punya background yang mirip2, waktu s1 ipk saya 3 mepet, yg susah dpt beasiswa krn biasa mereka ambil yg cum laude. Beasiswa utk jurusan yg saya maui (Petroleum Engineering) juga sangat terbatas krn sekarang beasiswa lbh banyak utk jurusan environment, water management dll yg lebih “green” dan “sustainable”. jadilah saya kuliah s2 Petroleum Engineering dgn biaya sendiri. Masa kuliah adalah 2 tahun, awal2 saya sempet agak mikir apakah saya bisa bersaing dengan teman2 yg pintar2 disini termasuk bbrp teman yg dpt beasiswa. tapi ternyata dgn tidak mendapat beasiswa ini justru memotivasi saya utk mencari cara mencari dana utk funding kuliah. jadilah saya sangat aktif di kegiatan dan conference SPE (Society of Petroleum Engineering) dgn menjadi panitia maupun peserta. disana saya manfaatkan benar peluang itu untuk menjalin networking di oil and gas industry dan dari sana saya mendapat kenalan direktur international oil and gas company, jd saya dpt chance utk summer internship dan utk mengerjakan master thesis saya di perusahaan (2 perusahaan berbeda). Walaupun dgn segala kegiatan itu saya mengorbankan waktu saya utk travelling krn saya melihat biasanya mahasiswa yg kuliah di Eropa memanfaatkan waktunya untuk keliling Eropa mumpung dpt visa Schengen, saya jg sempet travelling tp tetap kalah dibanding teman2 yg laen.

    dari master thesis saya, saya mendapat gaji yg lumayan besar dan semua fasilitas di provide (tiket pesawat karena saya thesis di luar negara tmpt saya kuliah, apartemen even breeakfast lunch dinner di provide di kantor) sehingga bisa membayar uang sekolah tahun kedua saya dan saya bertemu orang2 nomor satu di oil and gas industry dimana saya belajar banyak ttg soft skill dan practical technical skill yg sangat berguna utk bekerja nanti.

    dari experience menjadi panitia SPE conference, summer internship dan master thesis ini saya bisa meningkatkan confidence level, build credible CV dan akhirnya saya bisa memastikan sudah mendapat pekerjaan sebagai reservoir engineer di salah satu oil and gas operator di Eropa 6 bulan sebelum lulus dgn package yg bagus di tengah krisis di Eropa dan susahnya mencari pekerjaan disini.

    bagi saya semua adalah step by step process, saya tidak yakin akan dapat pekerjaan saya kalau saya tidak melakukan summer internship dan master thesis di company yg sekarang jd message nya adl selalu ada jalan utk orang yg mau berusaha dan berserah pada Tuhan.

    Prinsip saya adalah “do your best and let God do the rest” dan “choose short term pain for long term gain”

    Danny

    sorry kalo comment nya panjang dan susah dibaca, sebenernya saya pengin share experience saya biar bs nambah motivasi temen2 sekalian dgn nulis artikel di forum ini tapi ga biasa nulis jd agak bingung juga nulis di forum formal kaya gini hahhaha

    • Guest

      Inspiratif sekali

      Perjuangan yang sangat LUAR BIASA. Ingin sekali memiliki naluri seperti anda terus berusaha untuk mewujudkan mimpi yang besar. Awesome.. :)))
      Semoga, Setelah selesai study di AS ilmu anda dapat bermanfaat untuk Bangsa ini, for the Better Future :)
      Ayoo Bangkit Pemuda Indonesia…!!!

    • andri taruna

      Terima kasih mas Danny… Prinsip yang luar biasa… Awalnya saya juga seperti mas Danny… pengen juga share disini… namun malu tapi akhirnya saya tulis juga. Para editor hebat siap membantu anda menulis di forum ini… silahkan bagi pengalaman anda yang luar biasa itu saya tunggu tulisan anda

      • Henry Kurniawan

        btw itu warnet di jogjanya “V*TO” bukan mas andri?

    • liz

      Kalau boleh meminjam istilah happening saat ini, anda sangat super! Cerita anda menunjukkan tidak ada hasil yang baik tanpa niat yang keras dan usaha yang sungguh-sungguh. :)

    • Henry Kurniawan

      super sekali, mas dani s1 n s2 nya dimana ya?

      • Danny

        hi Henry, sorry telat reply
        saya s1 di teknik kimia Unpar dan s2 di TU delft, Belanda

        • Abd Azis M Gunawan

          Super sekali mas.. saya juga background S1 nya di petroleum engineering.. pengen s2 di belanda juga ambil petroleum engineering juga.. ada kontak nya gak mas pengen tanya2 hehe

    • novie

      Salam kenal mas Dani boleh minta emailnya? Untuk mencari info seputar kuliah dan kerja di bidang petroleum.. thanks before

    • Dyatma

      mantap mas danny, sprtinya cerita kita hampir sama mas, cuma saya baru mau akan memulainya dan semoga juga bisa mendapatkan kesempatan yg mas danny dapatkan

  • Abigail

    Salut untuk Mas Andri.. Terimakasih untuk sharingnya yang menginspirasi. Bukti kongkrit bahwa there’s nothing impossible if you believe AND work hard! God bless your study there :)

    • Guest

      waaaah, congratulation kak. How great you are! hopefully, I could get what you have done. semangatnya itu :)

      saya juga orangnya pas-pasan loh, dibawa rata-rata malah -_-

      tapi kalau ada kemauan pasti ada jalan, prinsipku!

  • Wayan Agus

    Wah, saya sangat salut dan terinspirasi dengan perjuangan Mas Andri. Terharu dan ikutan menggebu-gebu. Terima kasih, Mas atas tulisan yang mencerahkan ini.

  • Novi

    Like this mas Andri perjuangannya,,,
    bener2 terharu saya membacanya,,
    semoga saya jg bs mendapatkan beasiswa ADS untuk program PHD di Melbourn Univ,,

  • Aninditia Sabdaningsih

    awesome :)
    sebagai sesama biolog semoga saya bisa mengikuti jejak mas andri untuk tetap mempertahankan passion.
    trims mas andri :)

  • Yunita Anggi

    Inspiratif Sekali..

    Perjuangan yang LUAR BIASA. Ingin sekali memiliki naluri seperti mas Andri, terus berusaha untuk mewujudkan mimpi yang besar. Awesome.. :)))
    Semoga, setelah selesai study di AS ilmu anda bisa bermanfaat untuk bangsa ini for the better future :)
    Ayooo.. bangkit pemuda indonesia!! think globaly 😀

  • mbahdiddo

    mas Andri, saya kagum dengan anda. Jujur saya terharu, salut…. terlalu banyak kalimat superlatif yang mungkin bisa saya masukkan di sini untuk menggambarkan betapa hebatnya perjuangan mas Andri.

    Ya, saya amat sangat terinspirasi dengan perjuangan mas Andri.

    Tulisan ini harusnya bisa menjadi pemicu supaya setiap orang di Indonesia, tidak hanya untuk penari beasiswa, tetapi ketika melakukan semua hal harus terus berusaha pantang menyerah.
    Ada yang berhasil di percobaan pertama, ada yang di percobaan 15, ada yang baru berhasil di percobaan ke 30.. Kuncinya adalah pantang menyerah.

    Mas Andri saat ini telah menjadi inspirasi saya pribadi dan banyak orang lainnya yang telah membaca ini.
    Teruskanlah perjuangan mas Andri agar kelak menjadi peneliti yang mampu membangun tanah air tercinta.

  • Syawalianto Rahmaputro

    keren euy! bagian favorit pas menyewa satu lantai warnet demi interview, mantabs!

  • James Oetomo

    Luar biasa, tadinya cuma baca-baca, tp untuk posting yang luar biasa seperti ini, mau tidak mau harus angkat jempol untuk perjuangannya. Selamat, dan selamat berjuang untuk studinya =)

  • Doddy

    Thanks for sharing, cerita yang luar biasa !. Seperti film the pursuit of happyness. Memang klo ada kemauan, ga ada yang ga mungkin. Semoga mas Andri sukses disana. Kalo rangkuman dari cerita diatas menurut saya, kita harus nekad, harus percaya diri, jangan lemah semangat untuk mencapai sesuatu. Kegagalan adalah suatu keberhasilan yang tertunda. Thanks sekali lagi untuk ceritanya yang inspiratif !!.

  • Busyra Oryza

    Ga sia-sia baca dari awal sampe akhir, perjuangan yang gigih akan berakhir dengan indah. Sangat inspiratif buat saya yang juga seorang scholarship hunter. Selamat Mas Andri!

  • Fransiska Renita

    Cerita yg pasti menggelitik jiwa2 muda yg haus meraih cita2 dan mimpinya.. Cerita yg serupa dengan perjuangan saya.. 5 tahun penantian, dengan apply 4x ADS, 3x Ford Foundation (yg terakhir, smp tahap akhir, interview), 2x AED – USAID (gagal total), dan sampai akhirnya saya diterima di PRESTASI Program USAID Scholarship. Puji Tuhan.. Kegigihan dan kesabaran tidak akan sia2.. Dan semua ini tidak lepas dari dukungan orang2 terkasih disekitar kita. Selamat melanjutkan perjuangan, Mas Andri.. GBU..

  • patta

    luar biasa perjuanganx mas. Tulisan yang inspiratif

  • Indra

    Luar biasa, Mas Andri! Anda memang Taruna yang hebat!

  • wulan

    keren… awalnya cuma baca sekilas, tapi jadi semuanya deh, sangat memotivasi. jadi semangat lagi. :)

  • Dian

    wow cerita yg meng inspiratif scholarship hunter…
    thanks alot mas andri atas sharingnya.

  • firda

    ya allah, bismillah…saya juga orang yang pas2an, bukan seorang jenius. tapi saya akan berusaha, sekuat seperti yang penulis bisa, terus berusaha dan berusaha…saya pasti bisa

  • Mas MJ

    Nilai saya juga pas-pasan mas..
    Pinter kaga,, jenius apa lagi,, hehe..
    Tapi saya salut mas ama perjuangan mas..
    Bener-bener “Bondo Nekat”!
    Salut pokok e..
    Salam kenal.. 😀

  • kevintfridianto

    Salut buat Mas Andri! Semoga sukses studinya di Amerika =]

  • Bunga

    Subhanallah Mas Andri,
    You made me brave to dream once more

  • Yogi Syafri Can Putra

    Subhanallh mas, Saya juga masih berstatus mahasiswa Matematika UGM dan punya impian dari sebelum masuk UGm untuk kuliah di Inggris, Cambridge University. permasalahn kita juga sama mas, IPK nampaknya jadi batu karang besar bagi saya yang gak sampai 2,5 dan TOEFL baru 450. saya termotivasi oleh kalimat dalam tulisan mas yg berbunyi ” beasiswa bukan hanya dipeuntukan bagi orang yang jenius, tapi juga bagi mereka yang punya impian dan ngotot mendapatkannya”. semoga kita bs ngobrol2 atau chatting bareng mas untuk bisa share banyak hal.

    • Jacky

      wah, IPK 2,5 berharap masuk cambridge?! o_O,, heu,, terus berusaha mas :)

      • Yogi Syafri Can Putra

        saya agak bingung nih, anda mencoba menyemangati atau merasa pesimis ya?

    • ferdi fitra

      Mumpung masih berstatus mahasiswa, ayo dikejar terus IPK-nya biar naik. “IPK tinggi bukan hanya diperuntukan bagi orang yang jenius, tapi juga bagi mereka yang punya impian dan ngotot mendapatkannya”
      Semangat.

      • Yogi Syafri Can Putra

        sip, terima kasih mas.

  • Retno

    Merinding saya bacanya mas…perjuangan saya tidak sekeras Mas Andri. Saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri pada saat my first application. Tapi saya masih punya cita-cita yg lebih besar, reading how hard your effort was, membuat saya lebih termotivasi lagi. Tidak ada yg tidak mungkin…Salam kenal mas Andri :)

    • ivana

      kak Retno, jika tidak keberatan, saya mau tanya-tanya tentang beasiswa yang kak Retno ambil,bagaimana saya bisa mengontak kakak? thanks :)

  • rita

    saya menitikkan air mata baca tulisanmu mas.. Subhanallah. tulisan ini sangat menginspirasi..

  • Sutinah ST

    tulisan kakak bikin saya semangat buat terus berusaha buat dapetin beasiswa soalnya nilai TOELF saya kecil banget >_<

  • Miftj Ajjah

    inspiratife but too long…

  • Ens

    Pada akhir cerita Anda, saya menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan penuh rasa lega. Very inspiring!

  • carl

    salut buat ceritanya, jadi semangat apply2 beasisawa lagi ni

  • suci ariyanti

    Saya juga alumni IPB dengan IPK pas-pasan di bawah 3.0. Saya merasa sangat senasib! Tulisan anda sangat inspiratif sekali, I wish I can know you further as a person biar bisa lebih banyak sharing-sharingnya secara personal, dan bisa nanya banyak hehehe. Thanks for sharing :)

  • Restu Khaerul Umam

    Perlu saya tiru nih… Semoga semangat juang dan nasib baiknya bisa saya miliki juga. Thanks for motivating.. …

  • bhre

    Luar biasa mas.. You deserved for what you have fought before.. betul betul inspiratif mas

  • Ariananda Hariadi

    hebaaat!!

  • Ari Wibowo

    Merinding saat membacanya. Dear Mr. Andri. You got it. Success for you, mas Andri. Great!

  • areski wahid

    waaaah, congratulation kak. How great you are! hopefully, I could get what you have done. semangatnya itu :)

    saya juga orangnya pas-pasan loh, dibawa rata-rata malah -_-

    tapi kalau ada kemauan pasti ada jalan, prinsipku!!

  • nanik

    makasih mas,,bener2 menyemangati saya yg sedang down ngejer beasiswa. kebetulan saya pada waktu S1 adalah mahasiswi yg males, lama lulusnya, ditambah IPK & TOEFL yg biasa2 saja…pas banget deh hehehe

  • windy

    keren mas bro butuh perjuangan tinggi tuh

  • Fauzan Zikri

    excited banget ceritanya. .
    patut unutk dicontoh, terima kasih info nya mas Andri. .

  • Aviandra Nurdea Putri

    Luar biasa perjuangannya. HEBAAAAAAATTT

  • ana

    Keren banget kak..sukses ya kak disana…jika tidak keberatan saya ntar tanya2 by email ya kak…

  • Risa Qania

    Tulisan yg sangat inspiratif. Saat baca tulisan mas Andri, sy ingat sempat kuliah 2 bulan di CESL, Unv of Arizona, AZ tahun 2008 lalu. Sukses buat masternya ya mas Andri..

  • Noor Manggolo

    Wooow.. It’s amazing story, I had 437 in my first TOEFL prediction test
    score, and I’d failed in 2 applications 1 interview. those happened for
    about 3 years ago. Can I reach what I dream like you did?

  • De Jamber

    gila saya sampai berdebar2 membacanya..saya jadi termotivasi lagi untuk hunting..

  • Suherman

    Amazing… menginspirasi mas…

  • dee

    wow…keren sekali…ini saya juga sedang berjuang cari beasiswa s2…doakan ya mas…

  • astiw

    merinding dan terharu membacanya..saya izin share ke beberapa teman, mas.

  • nelis suryani

    subhanallah ,kk sunguh aku jadi trmotivasi baca kisah kk d atas, mudah mudahan aku juga bisa amin, nothing imposible in this word , yakin bisa kk bener bener hebat mantappp lahh i like it

  • gadis pisces

    GREAT! Langsung speechless baca cerita di blog ini. ka, qu jg mau dpet beasiswa ke luar negeri, gimana caranya? ada akun kk yg bisa qu kontek ga? …

  • R A J I B

    JUJUR, saya Nangis baca ini mas. saya juga punya keinginan kuliah di luar negeri dan bahasa inggris saya di bawah rata2 mas. doa kan saya ya mas biar bisa mencapai impian saya.

  • cua kavita

    bner2 sharing yg memotivasi,,, smoga saya jg bisa lolos tuk dapatkan beasiswa fulbright sperti mas Andri….

  • endar utami

    Wooooooow…. amazing bgt mas. Jantung sampe berdebar2 ngebacanya. Thanks bgt inspirasinya. Memberi spirit baru bagiku buat trs nd trs berusaha mengejar beasiswa. Thanks mas brow. Gbu

  • Endang Setya

    Super sekali pengalaman dan usaha kerasnya Kak , sangat menginspirasi saya sebagai mahasisiwa tingkat akhir yang juga mempunyai keinginan untuk melanjutkan kuliah di US , boleh di jelaskan kan sumber- sumber informasi untuk mencari beasisiwa di US . Terimakasih ka

  • Palambas

    Luar Biasa
    😀
    Mudah-mudahan saya bisa seperti Andri
    😀

  • ita prasasti

    inspiratif sekali.. memberikan motivasi kepada saya yang mempunyai ipk yg pas2 an dan mempunyai cita-cita melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri. doain ya mas smoga harapan saya tercapai untuk kuliah di luar negeri. semoga ceritanya mas dapat saya tiru dan emotivasi saya untuk terus berusaha :)

  • Husnul

    cool…

  • Yogi Surya Syahputra

    saya ingin sekali kuliah di luar tapi selalu takut dengan persyaratan IPK yang outstanding.. negara impian tujuan saya Inggris mas.. cuma IPK 3 mepet.. -_-
    saya ingin memperdalam ilmu di bidang pendidikan.. terutama bahasa inggris…
    salam kenal sebelumnya..

  • David T

    Amazing, asli merinding ……….percaya tulisan Anda akan sgt menginpirasi ribuan bahkan jutaan org berikutx. Sy mengalami 7 kali kegagalan jg dlm berburu beasiswa, tp setelah membaca testimony Anda, perjuangan sy bukanlah apa2. Sy hamper pastika anda seangkatan dgn slh seorg shabat sy penerima Fulbright yg pre-departure di Lombok. Selamt, sukses studyx…GBU

  • jappy

    luar biasa! sangat inspiratif, membaca cerita dari Mas Andri serasa membaca novel laris yang penuh kejutan.. good job Mas! keep up the good work and let God do the rest

  • putri

    Pemantik semangat saya mendptkn beasiswa LN .. tks sharingnya.

  • Haniva Yunita

    Sangat terinspirasi dengan tulisan mas.. jujur tahun ini saya mengalami ‘masa-masa kelam’ seperti yang mas ceritakan karna lamaran beasiswa saya Fulbright dan NZ gagal.Sempat minder dengan teman2 yang berhasil karna sy sudah mencoba hampir 2 tahun ini, melamar ADS, NZ n terakhir Fulbright tapi blm dapat juga. saya bersyukur bisa baca tulisan ini. Ok, ssemangat saya kembali terbakar untuk mencoba tahun lagi. saya bertekad akan berjuang samapi dapat. Sukses buat mas. GBU

  • Argo D.C

    Luar biasa usahanya mas, sangat menginspirasi
    semoga saya juga bisa mengikuti jejak sampeyan melanjutkan pendidikan ke Luar Negeri

  • Yuli Asnian

    Man jadda wa jadda!!!!, salut dengan Keyakinan dan usaha Mas Andri, gak pernah nyerah walau berkali – kali gagal. Belajar dari orang sukses seperti Mas Andri, saya yakin, saya juga bisa menggapai Impian saya. Makasih :)

  • Riska

    sampe nangis bacanya…. so inspiring, semoga saya juga bisa tetep memburu beasiswa dengan keras kepala dan tidak mudah menyerah ya. thanks for posting this article!

  • indah

    waah luar biasa sekali mas perjuangannya, benar-benar menginspirasi.. sama persis problemnya dg saya,ipk saya dibawah 3 namun mimpi saya setelah lulus s1 cuma 1 melanjutkan s2 diluar negeri dengan beasiswa tentunya.. cerita mas andri benar-benar membuat semangat saya naik lagi. terima kasih mas

  • Yosef Cr

    Sangat memotivasi… berjuang sampai titik darah penghabisan. Pasti ada jalan keluar untuk setiap usahan yang dikeluarkan. Mas Andri hebat!

  • Tri Kanem

    Jujur membaca kisah ini saya meneteskan air mata. Saya menyadari bahwa saya tipe orang yg cepat putus asa ketika mengalami penolakan dalam mengejar beasiswa. Baru gagal satu kali saya sudah mengeluh & patah semangat…..Saya salut dengan perjuangan kaka…..Doakan saya yang sekarang sedang mengikuti Intensive English Program sebelum melanjutkan study S2 saya di NZ…..Salam kenal buat kaka….saya salutttttt…..mantap…..

    • Diah Arini

      Hallo kak, aku ari, bisa minta emailnya, sekedar unt sharing, aku juga tertarik unt melanjutkan s2 di NZ, senang jika bisa saling kenal 😀

  • Keren! Semoga kita semua selalu memetik hasil manis dari usaha kita..

  • dot

    saya lebih parah mas, pengangguran, lulusan univ swasta di palembang (tridinanti), ngelamar kerja sana-sini, luntang lanting, modal nekat, IPK 3,25 , toefl pertama 460. ke II 495 (tanpa belajar) , sekarang lontang lanting cari sponsor dana buat belajar TOEFL, IBT sama GRE, trus cari rekomendasi kemana ? saya berpikirnya saya datang saja ke univ di jakarta sini, mungkin UI, univ mana saja yang Professornya mau ngasih rekomendasi (udah gila saya kan). mau ke palembang lagi ongkos darimana, trus PhD dan professor electrical itu cuma 1 orang di palembang dan orangnya sama dan skrg tidak tau kemana. kmudian makan saja susah, tinggal numpang, tabungan 0. tapi minat saya dan ketertarikan saya di bidang Science & Technology sudah gila dan bulat. sekarang narik duit dari credit card ga tau bulan depan bayarnya gimana, yg penting usaha saya jalan. ini deadline Fullbright 15 April bulan depan, skrg saya berpikir lebih gila lagi untuk cari sponsor buat belajar TOEFL, dan IBT serta GRE serta cari rekomendasi. saya sudah email aminef, intinya kalau anda sesuai persyaratan dan melihat minat dan ketertarikan anda pada bidang science silahkan mendaftar. kehebatan anda mas, anda sudah bekerja dan sudah ada gaji dan itu modal dan niat dan tekad anda sudah bulat dan mantab sperti saya. dan btw, saya sudah 5 tahun bergulat di masalah yang sama, tidak ada sponsor, kmudian 3 tahun skrg saya memutuskan menyerah. mau kemana hidup ini membawa saya , bawalah. setelah melihat tulisan anda, skrg umur saya 30, mei nanti 31, sya berpikir ingin mencoba lagi sperti anda “naluri scholarship hunting” saya ingin maju lagi. tapi terpentuk di masalah yang sama terus. inilah suka duka saya. oh ya satu lagi, saya sudah melalui juga suka duka test CPNS, berkali2, PLN, TNI, Akpol, pertamina, dan bank-bank lainnya, serta ratusan prusahaan swasta mungkin. dalam kurun waktu 6 tahun. dan tidak ada orang yang membantu atau menyemangati saya. saya pikir orang biasa sudah nyerah dan gila. saya mulai berpikir untuk cara licik mencari uang buat ongkos mengejar impian saya. anda hebat mas dan beruntung. salam sukses untuk anda.

    • saya

      mungkin masih ada kesempatan untuk membuka usaha sendiri. karena usaha sekarang gak perlu modal udah dapet duit. #saran

  • Asti

    Saya lihat kalau untuk pure science & development, gender, social science memang masih banyak scholarship ke overseas walaupun kandidat receiver-nya dengan IPK bawah sekalipun (2.5-2.7) , tapi di jurusan saya Industrial Engineering sangat langka dibuka scholarship. Yang ada justru disarankan pakai uang sendiri atau via company scholarship. hehehee

  • Khrisna Putera

    Sangat menginspirasi, Mas. Doakan saya bisa gemilang seperti Mas Andri juga ya!

  • Hebat. Perjuangan yang sangat luar biasa kak :)
    tapi sungguh, sudah berapa besar biaya yang dihabiskan?
    maaf saya lancang bertanya. Apakah kakak orang yang berada? Memang benar uang bisa dicari kemudian. Tapi jelas itu beban bagi saya dan keluarga jika harus banyak berhutang disana-sini. Tapi semoga lewat tulisan ini, saya dapat mempersiapkan sedini mungkin. Semoga saya bisa meneladani semngat kakak yang luar biasa. Semoga sukses. Semoga banyak mimpi yang terkabul di hari, bulan, atau tahun berikutnya :)

  • Enggar Yudha Prasetyo

    Awesome…!!
    I hope you can succes in University of Arizona, Andri Taruna :)

  • Aqilatul Munawaroh

    keren, bisa jadi inspirasi juga 😀

  • Claudya Vravilyne

    apa yang kita tabur,itu yang kita tuai,
    luar biasa sekali perjuangan kak,,,

  • Pingback: Wawancara Indonesia Mengglobal dengan Andri Taruna – University of Arizona | Indonesia Mengglobal()

  • Baiq Siti R.H

    Kereeeen . perjuangan yg sangat keras dan tanpa menyerah.
    Bagaimna dgn saia. Yg ingin mndpt beasiswa . tpi ekonomi yg tidak mnjangkau ituu .

  • Surya Plonot

    perjuangan yang sangat luar biasa

  • Fadel Fauzan

    tulisan ini keren banget saya sangat termotivasi, ditulisan ini membuktikan bahwa kalo kita terus berusaha kita bakal dapet apa yg kita usahain, thanks bgt buat motivasinya semoga saya bisa seperti anda, jika saya bisa mendapat beasiswa di oxford dan jika ada kesempatan saya ingin berterima kasih langsung kpd anda :)

  • Athi

    perasaan campur aduk mas baca perjuanganmu yg super luar biasa, sukses untukmu selalu mas andri

  • Deasy Mutiara Putri

    Keren, terima kasih untuk tulisan dan energi di dalamnya.
    Awalnya saya masih ragu untuk mencari kerja atau study abroad setelah lulus kuliah. Tapi setelah membaca tulisan kakak saya jadi yakin untuk menempuh jalan yang kakak ambil.

    Sukses selalu kak Andri :)

  • Adit

    Mas, terima kasih sudah bersedia berbagi ceritanya. Perjuangan yang penuh lika-liku. Terima kasih sudah membuat kami, para pembaca belajar tentang kegigihan

  • Ulum

    terharu aku bacanya, sampai mau menetes air mata ini…

  • Yunita

    Ini bener2 kisah perjuangan yg luar biasa. Kegigihan akan proses panjang yg berbuah manis. Saya ingin melanjutkan ke LN jg seperti Anda.

  • Ruland Rudolf

    makasih ya, untuk kisahnya yang di sharing utk orang seperti kita yang berpikir gagal sebelum mencoba dan mencoba sebelum berpikir, thanks ini sangat berguna utk kedepannya..

  • Rizky Satria

    keren…

  • anis mc

    terima kasih uda share pengalamannya,,
    kira-kira mimpiku bisa terwujud seperti itu juga tidak ya???

  • novi

    luar biasa semangatnya mas andri…wah jd optimis bs meningkatkan toefl dan IELTS…..keep FIGHTING!!!

  • Dyah Rahmasari

    bohong pek artikelnya..
    aku aja bahkan nggak pakek tes toefl bisa. :p
    #jk #ngomongapasih

  • Dyatma

    wahh, luar biasa saya mas, usaha dan keyakinan mas itu yang membuat saya berpikir, ini sangat luar biasa..

  • Roudotul Jannah

    Allahu akbar, tulisan ini benar2 membangkitkan saya. salam kenal mas andri. sekolah ke LN memang cita2 saya. tapi karena toefl yang kurang, lambat laun saya terhanyut dalam kekurangan saya. tapi membaca tulisan ini, mental saya terbangun. tidaklah sebuah permata itu ada ditempat2 yang mudah. permata banyak ditemukan ditempat sulit bahkan untuk mendapatkannyapun perlu ditempa dan dipanaskan. terima kasih inspirasinya, anyway saya ingin bertanya2 lebih tentang beasiswa ke LN ke mas Andri. sekiranya mas Andri berkenan jika saya kontak email.

    regards

    Roudotul Jannah (Dotul/Dot)

  • sameplanet

    salut sama perjuangannya… PERSISTENCE…itu kunci sukses mas Andri..!!

  • riyan

    Man jada wa jada

  • rojab

    Salute

  • dino

    wow mantap, tapi saya mau tanya.. saya toefl 450 IPK 3.90 bagaimana bisa S3 ke luar negeri, trims

  • Nadira

    TriMakasih mas Andri,,,tulisan ini sangat memotivasi saya untuk mengejar beasiswa luar negri yg menjdi cita-cita dari dulu,,prinsip mas Andri yg pantang menyerah ini akan sya aplikasikan di diri sya. Smoga sya jg mndapat kesempatan untuk mencapai cita” itu :)

  • Jayanti Naibaho

    Sungguh, ini tulisan pertama (dari banyaknya tulisan pengalaman orang-orang pengejar beasiswa) yang sangat memotivasi. Terima kasih banyak mas Andri. Salam kenal.

  • Pebria Fadila

    Wow.
    Saya terbawa dalam perasaan haru. Serasa ikut berjuang. Semoga sema anak Indonesia juga punya kemauan dan semangat yang kuat. Amin
    Semoga <2th lg sya bisa segera menyusul walau perjuangannya lebih berat yang penting dilancarkan oleh yang maha kuasa amin.

  • desy

    Mas saya bacanya kagum banget. Salut bgt yg ga pernah berenti berusaha. Bener bgt kita ga akan pernah tau sampe brp kali kita gagal sebelum akhirnya berhasil. Semoga saya nanti juga pantang menyerah saat berburu S2 setaun lagi :)

  • Gung Ari

    maaf mas andi saya baru baca, sampai nangis nok bacanya T.T, salut banget saya, :)

  • Isma

    Hebat mas. saya belum mulai apa apa ni. padahal saya pengen banget bs study ke luar walau cuma shortcourse. stlh baca artikel mas jd berapi-api lagi

  • maze seven

    very very inspirational story of your life.. really. now i seek for job and scholarship too,, get many refusal eventho not as many as your.. but trully,, your story awaken my spirit.. that i can do more! thanks

  • Arundina Ditalystia

    waaah jadi faktor keberuntungan juga mempengaruhinya ya pak. saya ingin sekali dapat beasiswa ke jepang. tp sygnya ipk saya cuma 2,89. jadi itu jauh ga mungkin lagi klo saya bisa dapat beasiswa ke jepang. karena sayaratnya ipk min 3

  • Rina Wijaya

    kisahnya mirip2 daku.. TOEFL ga pernah tembus 550, paling gede 537..toefl ibt cuma 78 tapi tembus erasmus mundus 2x (exhange master plus PhD) heheheh

    • Tia Karina

      salam mbak rina,
      bisa share gimana cara nya bisa apply erasmus mundus dan akhirnya tembus? saya sedang mencoba dan toefl saya juga tidak pernah tembus 550. bisa sharing ke email aku: tiakarinaputri@gmail.com? terima kasih mbak :)

  • Nindi

    Keren… hari ini baru aja aku gagal beasiswa eramus… sedihnya..dan emang kayak ancur rasanya.. bingung musti gmn..

  • abigail yayu

    Keren perjuangan bang Andri Woww, betul sekali where there’s a will God open a way. Ora et Labora. Saya pun sudah mencoba beasiswa 3-4 kali. Puji Tuhan next scholarship yg saya apply saya lulus dan bulan July 2015 fly to USA☺

  • Bahrul Ilmi Zulkifli

    wow

  • Maria Zemima Sinaga

    terima kasih kak tulisannya sangat menginspirasi.se,oga dapat mengikuti jejak kakak. makasih kak,

  • Nadya

    Mas, terimakasih banyak sudah mau berbagi tulisan ini. Saya sempat gak yakin bisa lanjut s2 dengan beasiswa, tapi setelah baca perjuangan mas Andri saya jadi lebih termotivasi. Semua orang bisa sukses jika berusaha. Thank you so much, God bless you!

  • Îñdrãñõ Pêrmãdîñõ Ãfîfñõ

    Terharu aku bacanya.
    aku baca dari awal sampai selesai.
    Sunggu memotivasi.
    semoga saya bisa mengikuti jejak anda kelak.

  • Wenwen

    Kisahnya inspiratif banget kak,
    tapi ini juga membuat saya menyesal, saya tidak aktif selama kuliah. hmm psimis :(

    barusan saya lihat progam MBA di ASU, kabarnya gratis ya kak?
    oh ya kak, saya punya rencana liburan ke Tempe, kalau sekalian jalan2 ke ASU gitu boleh kira2 apa diizinkan ya kak? thanks

  • Nur Intan Indahsari

    Saya baca blog mas Andri setelah dapat penolakan dari AAS nih. Lumayan membangkitkan semangat utk terus berusaha :). Terima kasih mas sudah berbagi cerita dan semangat utk terus kejar impian. Semoga nantinya saya pun bisa mendapatkan kesempatan melanjutkan sekolah seperti mas Andri.

  • widia

    amazing…. smpai nangis bacanya ka’.. pengen seperti kakak,,, ap mungkin saya bisa?? saya kuliah di universitas terpencil di sulswesi tenggara,, dan berencana melanjtkan kuliah S2,, namun apa daya karena kterbatasan dana dan nilai yang pas-pasan, mungkin itu hanya akn jadi impian semata… semoga saya bisa sperti kakak:)

  • tiwi pratiwi

    Trimakasih tulisannya mas. Hari ini saya baru ditolak StuNed. Ini penolakan ke enam. Menyadarkan bahwa usaha saya belum ada apa-apanya dibanding usaha mas Andri. Inspiring dan sangat membangkitkan.

  • naruto hinata

    Wah saya jadi menitikkan air mata, yang saya kira perjuangan saya sudah berat, ternyata mas ini yg paling berat jatuh bangunnya, patut dicontoh ni mas

  • Messal Veronica

    Banjir deh… pas baca sampai bagian alternate candidate langsung nangis dah.. Hebat!!! Menginsipiratif!!!

  • diah

    You’re so amazing, andri nii-san. I hope you always be fine in there.

    Your article is so amazing motivation for me. I will try to make my dream come true.

  • Liliany Octoria

    seneng banget bacanya jujur inspiratif sekali mas Andri, memotivasi saya agar lebih giat belajar lagi untuk mendapatkat scholarship keluar. sukses terus mas!

  • Sischa Wahyuning Tyas

    sungguh menginspirasi. Terima kasih atas tulisan tulisannya yang memacu kami para pencari beasiswa 😀

  • Kakha Indonesia

    Bener bener membakar semangat saya untuk terus berjuang mendapat beasiswa. Thankyou, you’re inspiring me!

  • Kelvin Alfayed

    Terimakasih sangat menginspirasi sekali bagaimana Mas Andri berjuang secara mati matian demi mendapat beasiswa Master Degree di luar negeri. Sekarang saya di semester 2 jurusan Hubungan Internasional sekarang saya sedang berfokus di IELTS dan juga sembari aktif mengikuti social volunteer. Alhamdulilah tahun ini saya mendapatkan kesempatan ke luar negeri dengan biaya di tanggung meskipun baru sekedar Internatonal Conference tapi setidaknya ini memberikan saya suntikan semangat agar terus bisa berjuang mendapatkan Beasiswa Studi S2 nanti. Semoga Tuhan mengizinkan, Aamiin.

  • Lasro Kristina Fide Sinaga

    Mantap..
    Memang harus begini usahanya ❤
    Saya juga berniat..
    Saya jadi tergerak ketika membacanya..