Kuliah Di Luar Negeri: Persoalan Motivasi Atau Kendala Akses Informasi?

13
258

Ketika seorang teman di sebuah milis beasiswa menuliskan mengenai betapa banyaknya kaum pelajar atau orang-orang di Indonesia, terutama yang tinggal atau berasal dari daerah di luar Jakarta atau Pulau Jawa, yang kesulitan untuk mendapatkan akses informasi tentang beasiswa belajar ke luar negeri, saya merasa berada di tengah-tengah antara perasaan “setuju” dan “tidak setuju”. Saya “setuju”, karena barangkali daerah-daerah yang tidak dekat dengan kota besar memang jarang dikunjungi organisasi-organisasi pemberi beasiswa semacam AMINEF, ADS,  DAAD, Erasmus Mundus Indonesia, dan juga para agen pendidikan di luar negeri. Saya merasa “tidak setuju”, karena pada dasarnya informasi tersebut dapat digali oleh siapapun, di manapun melalui fasilitas dunia maya. Nah, dalam hal ini, akses internet, baik yang lambat maupun yang cepat, sudah menjalar begitu pesat ke pelosok-pelosok Indonesia.

Untuk yang terakhir ini, saya mencontohkan kampung halaman saya, bernama Kabun. Sampai hari ini, di kampung halaman saya ini belum juga masuk listrik. Ia berjarak sekitar delapan kilometer dari ibu kota Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Anda mungkin membayangkan delapan kilometer itu sekitar sepuluh menit perjalanan. Namun tidak begitu halnya bagi kami.

Kalau cuaca lagi baik, kami membutuhkan minimal 30 menit dengan kendaraan roda dua. Jalannya yang masih tanah dengan tekstur jalan penuh lubang dan banyak turunan serta pendakian terjal, membuat kami harus ekstra hati-hati untuk menempuh perjalanan tersebut. Kalau hari hujan, kami harus memilih antara berjalan kaki selama dua jam atau memberanikan diri memakai sepeda motor dengan resiko terjatuh dan bertarung dengan tanah liat yang licin. Anda bisa membayangkan betapa bedanya pola pikir dan tingkat pendidikan kampung saya dengan daerah-daerah lain.

Pendapat sederhana saya, yang membedakan bukan jarak dalam kilometer namun waktu dan cara tempuh antar satu daerah dengan daerah yang lain. Jika situasi tersebut diletakkan dalam konteks tinggal di Eropa, well, akan menjadi contoh yang akan sedikit ekstrim :-) Situasi yang sama dapat diletakkan pada kondisi saya yang saat ini tinggal di Saarbrucken, Jerman. Dalam waktu tempuh satu jam naik bus saya sudah sampai di Luxembourg, ibukota sebuah negara kecil di Eropa, dengan kondisi sosial ekonomi dan bahasa yang sangat berbeda.

Kembali ke cerita mengenai kampung saya, sekalipun kondisi di kampong saya ini sangat berbeda dengan Jakarta atau kota-kota kecil di Eropa sekalipun, namun anak-anak muda di kampong saya saat ini pun rata-rata memiliki akun facebook. Nah, artinya mereka bisa mengakses internet, bukan?

Jauh sebelum berkenalan dengan Indonesia Mengglobal dan dalam rangka ingin membagi informasi mengenai kesempatan beasiswa dan belajar ke luar negeri dengan saudara-saudara sekampung, saya kemudian menginisiasi sebuah grup di facebook (Kabun Insitute, https://www.facebook.com/groups/152008251601495/?fref=ts) yang selalu mem-posting informasi-informasi beasiswa luar negeri yang saya peroleh, baik melalui milis, maupun dari hasil browsing. Saya bahkan kadang-kadang memilih beasiswa yang persyaratannya relatif mudah, seperti beasiswa ke Malaysia, Brunei Darussalam, dan Korea Selatan. Mudah dalam artian, persyaratan bahasa Inggrisnya lebih fleksibel dibanding negara-negara berbahasa Inggris atau negara-negara lain yang mensyaratkan bahasa asing selain Inggris, seperti Jerman dan Perancis.

Hasilnya,setelah saya tanya anggota grup yang berpotensi untuk melamar, kurang menggembirakan. Mereka tertarik namun tetap terkendala dengan bahasa.

Kemudian saya juga ikut menjadi anggota di grup Masyarakat Peduli Sijunjung. (https://www.facebook.com/groups/196335501690/) Kalau di grup yang saya inisiasi sebelumnya anggotanya sekitar enam puluh orang, karena memang berasal dari masyarakat kampung kami yang kecil, maka grup yang kedua ini beranggotakan sekitar 1.400 orang karena diasumsikan sebagai wadah bagi masyarakat Sijunjung, baik yang di kampung ataupun yang di rantau. Saya kemudian mem-posting lebih banyak tawaran beasiswa luar negeri. Sebagian dikomentari, sebagian barangkali dilihat saja, sebagian lagi didiamkan. Rata-rata komentar mereka adalah:

  1. Mereka tertarik namun terkendala dengan persyaratan bahasa
  2. Mereka mendukung posting-an saya dan berharap semoga bermanfaat untuk anggota yang lain
  3. Mereka tidak tertarik untuk belajar ke luar negeri karena berbagai alasan.

Itulah diantara tiga besar respon mereka. Ada beberapa orang yang tertarik, kemudian menghubungi saya secara ppribadi tentang bagaimana menindaklanjuti informasi yang saya berikan. Saya sampaikan hal-hal yang saya ketahui. Setelah itu tidak ada berita lagi.

Kadang saya kesal. Begitu banyak informasi yang saya sampaikan namun tidak ada yang mengatakan, paling tidak, sekedar sudah mencoba mendaftar beasiswa atau belajar ke luar negeri. Ya, bahkan saya tidak memperoleh umpan balik bahwa sudah ada yang mendaftar beasiswa yang saya posting di grup. Sejujurnya saya tidak yakin bahwa ada yang mendaftar diam-diam tanpa harus menyampaikan ke saya atau melalui komentar di facebook. Tentu saja saya berharap, mudah-mudahan saja ada yang mendaftar tanpa harus memberitahu saya. Namun, sekali lagi saya tidak yakin.

Jadi kalau begitu, kembali kepada tulisan seorang teman yang saya sampaikan di awal tulisan ini, masalahnya bukanlah akses informasi, melainkan motivasi. Saya juga membaca beberapa komentar dari beasiswa yang saya posting. Sebagian mereka menyampaikan alasan-alasan untuk tidak sekolah keluar negeri. Saya memang harus menghormati pilihan mereka untuk itu. Namun di sisi lain saya tidak melihat motivasi yang besar, yang diikuti paling tidak dengan tindakan melamar ke informasi beasiswa yang saya berikan. Ingin rasanya saya menghentikan informasi-informasi tersebut karena toh kurang diminati. Sebagai seorang yang sering aktif di facebook, tentunya saya secara psikologis cukup terpengaruh dengan jumlah respon sebuah status atau postingan. Bukankah salah satu yang kita inginkan dalam posting di facebook adalah untuk mendapat sebanyak-banyak komentar? Selain tentunya tindak lanjut dari apa yang kita sampaikan.

Nah, postingan saya tentang beasiswa kalah jauh oleh postingan facebook teman-teman yang lain tentang politik dan rupa-rupa kekeruhan di dalamnya. Beasiswa kalah populer dengan informasi warna warni isu politik. Bahkan saya juga pernah menawarkan supaya anggota-anggota lain, terutama anak-anak muda terdidik, mendatangi sekolah-sekolah di Sijunjung untuk menyampaikan informasi beasiswa ke luar negeri. Saya akan membantu menyuplai data yang diinginkan. Namun sudah enam bulan sampai tulisan ini ditulis, belum ada juga tindak lanjutnya.

Saya ingat sebuah peristiwa yang membuat teman-teman di grup tersebut begitu ingin melakukan gerakan nyata. Hal itu karena ada postingan tentang pegawai honorer yang tidak mendapat perhatian pemerintah daerah. Mereka menghimpun kekuatan melalui grup tersebut. Lalu mereka mengadakan demonstrasi di depan kantor bupati dan melakukan audiensi dengan pejabat-pejabat berkepentingan. Saya tentunya sangat bangga dengan kepedulian semacam ini. Karena banyak orang yang hanya berkoar-koar tanpa aksi nyata. Namun sekali lagi, postingan saya tentang beasiswa, dan ajakan saya untuk juga melakukan aksi nyata melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah, jauh kalah populer dibanding isu-isu yang lain.

Seperti saya sampaikan, saya sempat ingin menyetop posting-posting tersebut. Namun setelah saya pikir-pikir, saya ingat pepatah lama kampung saya yang mengatakan, kadang berbuat baik itu seperti melempar tahi kerbau untuk merobohkan tembok yang kokoh. Mungkin temboknya tidak bisa diruntuhkan, namun baunya pasti melekat di sana. Pepatah inilah yang terus menyemangati saya.

Saat tulisan ini dibuat barangkali saya hanya bisa membantu lewat postingan informasi. Sebab saya sedang tidak berada di Indonesia. Paling tidak sampai 2014. Namun apa yang saya mulai saat ini tentunya akan bisa menjadi lebih nyata kalau saya mampu mengajak langsung teman-teman bersama saya untuk sosialiasi ke sekolah-sekolah dan paguyuban mahasiswa di Kabupaten Sijunjung, tempat saya berasal.

Saya semakin bersemangat ketika saya tahu bahwa di Jerman, anak-anak muda yang umumnya berasal dari Jakarta, datang untuk kuliah dengan biaya sendiri. Hebatnya, tidak sedikit yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja secara ekonomi. Karena memang biaya kuliah dan biaya hidup di Jerman dalam beberapa hal relatif lebih murah dari negara lain.

Di kampus saya misalnya, Saarland University (Universitat des Saarlandes), biaya kuliah per semester 159 Euro. Memang ada peningkatan mulai Winter Semester (2013/2014) menjadi 182 euro. Namun bukankah kalau dikalkulasikan biaya tersebut baru sekitar Rp. 2.400.000? Biaya tersebut sudah termasuk free semester ticket yang bisa dipakai untuk menggunakan bus, tram, dan kereta api gratis ke seluruh tempat di dalam wilayah negara bagian Saarland.

Sedangkan untuk biaya hidup, rata-rata teman-teman S1 di sini menghabiskan 350 euro atau sekitar Rp.4.600.000 per bulan.  Silahkan bandingkan dengan Indonesia. Saya yakin kesimpulannya bahwa biaya kuliah di sini jauh lebih murah dari biaya kuliah rata-rata perguruan tinggi di Indonesia.

Sepanjang yang saya tahu teman-teman S1 di sini misalnya memang tidak semuanya berasal dari keluarga mampu. Barangkali biaya yang saya sebutkan di atas akan menjadi tanggungjawab orangtua selama mereka ikut kelas persiapan bahasa maksimal satu tahun. Setelah mereka diterima di program studi setingkat S1, maka banyak diantara mereka yang diterima bekerja part-time. Sebab di visa ijin tinggal untuk student memang disebutkan bahwa kita bisa bekerja selama 120 hari dalam setahun. Sederhananya, kita bisa mendapat penghasilan sekitar 400 euro per bulan tanpa dikenakan pajak. Lebih dari itu memang penghasilan kita dipotong pajak. Namun bukankah besar peluang untuk kuliah sambil bekerja sehingga tidak tergantung pada orangtua?

Kalau bisa disederhanakan, biaya yang dibutuhkan cukup satu kali. Kapan dan mengapa? Biaya tersebut dibutuhkan ketika mengurus visa di kedutaan Jerman di Jakarta. Salah satu persyaratan mengajukan visa ke Jerman adalah bahwa kita wajib mempunyai dana di bank di Jerman (biasanya Deutsche Bank) sekitar 8000 Euro. Ketika sampai di Jerman dana tersebut bisa kita pakai untuk biaya hidup selama satu tahun.

Adapun pengalaman saya, karena saya melanjutkan studi S2 dengan Beasiswa Luar Negeri (BLN) dari Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI ), maka saya cukup memperlihatkan surat jaminan (Guarantee Letter) yang menyatakan bahwa keberangkatan saya ditanggung sepenuhnya oleh DIKTI. Di surat tersebut sudah disebutkan bahwa saya ditanggung mulai dari tiket keberangkatan, biaya kuliah, biaya hidup, asuransi, sampai pada biaya buku dan biaya “special program” (kalau ada). Jadi saya tidak perlu membuka rekening di Jerman dulu sebelum berangkat.  Bagi yang berminat melamar beasiswa ini bisa melihat informasinya di http://www.dikti.go.id/.

Setelah studi saya selesai maka saya akan kembali menjadi dosen Politeknik Negeri Batam karena dalam skema beasiswa disebutkan bahwa saya wajib kembali ke kampus dimana saya sebelumnya mengajar. Untuk DIKTI kewajiban tersebut dikenal dengan 2n+2. N adalah lama masa studi. Misalnya, studi saya di dalam kontrak adalah dua tahun. Maka saya wajib mengabdi di kampus tempat saya bekerja 2 x 2+1 atau selama lima tahun. Saya kira wajar sebab yang mengajukan beasiswa adalah kampus saya. Adapun selama saya studi saya masih digaji oleh kampus saya karena status saya adalah dosen dengan tugas belajar.

Beasiswa dari DIKTI memang diperuntukkan untuk dosen dan calon dosen. Namun ada beasiswa lain yang relatif baru dari KEMENKEU yang bisa diikuti oleh dosen dan non-dosen. Nama beasiswanya adalah LPDP. Informasi lengkapnya ada di sini http://www.beasiswalpdp.org/

Saya yakin banyak yang setuju kalau saya mengatakan, bahwa bagi kita yang berkesempatan kuliah di luar negeri, kita ingin sekali membantu saudara-saudara kita dari negeri Indonesia tercinta untuk memperoleh kesempatan yang sama. Keinginan tersebut bahkan mengalahkan rasa kesal karena minimnya dukungan. Indonesia Mengglobal sudah mengambil peran penting di sini.

Indonesia Mengglobal juga bisa mengajak komunitas-komunitas penerima beasiswa tertentu untuk ikut berkontribusi. Misalnya, untuk Beasiswa Luar Negeri Dikti ada grup Facebook Beasiswa Dikti-S2/S3 Luar Negeri (https://www.facebook.com/groups/beasiswa.ln.dikti/). Sedangkan untuk Erasmus Mundus Program ada juga group Facebook Erasmus Mundus Indonesia (https://www.facebook.com/groups/59848373277/).  Saya kira komunitas-komunitas seperti DAAD, ADS, Fullbright, ADB, dan lain-lain juga memiliki media on-line untuk saling berbagi, memotivasi, dan menguatkan satu sama lain.

Dengan memperluas jaringan melalui hubungan antar komunitas tentunya Indonesia Mengglobal bisa menjadi komunitas tempat referensi bagi anak-anak Indonesia yang ingin kuliah di luar negeri terlepas dari apapun latar belakang ekonomi mereka.

Bagi teman-teman yang ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri, cobalah pikirkan baik-baik motivasi anda. Pakailah akses informasi yang tersedia, pergunakan situs-situs internet mengenai beasiswa dengan baik, misalnya sudah ada forum Indonesia Mengglobal yang memiliki informasi sangat lengkap mengenai berbagai kesempatan yang ada dan cara-cara untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri, dan tentunya berbagai sumber informasi lainnya yang telah saya sebutkan di atas. Nah, yang diperlukan hanyalah motivasi yang kuat untuk mempergunakan berbagai akses informasi ini dengan sebaik-baiknya! Good Luck!

  • Maria Elvani S

    saya jadi sadar bahwa bkn persyratan yg membuat kita sepenuhnya ragu utk mengejar beasiswa ke luar tpi kurangnya motivasi utk berani mengambil keputusan..^^
    atau malas mengejar beasiswanya..
    ^^saya jga sedang berusaha utk bisa menimba ilmu diluar..

  • Pingback: Kuliah Di Luar Negeri: Persoalan Motivasi Atau Kendala Akses Informasi? | from Success to Success()

  • Rido Imam A.

    Nice one:) i have never thought that studying in Germany can be that affordable…

  • Nesha Chang

    Saya bisa merasakan spirit Uda Condra Antoni yg kuat untuk ‘menghasut’ anak muda Imdonesia buat berani nyoba.. sy sbgai orang minang bangga :) I’m currently running out by my thesis for my bachelot in UNP, uda.. have the same dream like u did.. relly want to continue master in UK or Holland.. wish me luck :)

    • Nesha Chang

      Mf typo bgt :”)

    • Dellon

      kakak sekarang kuliah dimana?

  • nurul45

    kak Antoni, cara daftar diUniv Jerman gimana caranya ? apa harus test B.Jerman ?

  • Dellon

    bener ya biaya kuliah nya sekitar gitu? seperti yg kak Antoni bilang?

  • armanketigabelas

    ada yang kurang nih, grup untuk motivasi beasiswa: https://www.facebook.com/groups/motivasibeasiswa/ kebetulan inisiatornya dosen saya,

  • Ferdiansyah

    subhanallah semoga terus semangat dan saya berharap bisa melanjutkan study di luar negeri juga setelah lulus SMA Aamiin..

  • deroh

    thanks buat artikelnya. saya jd mkin semangat. walaupun sekarang msih terkendala sama bahasa, tp saya akan terus berusaha dan belajar. mudah musahan saya juga bisa dapat. amin

  • Khansa

    Makasih banyak yaa buat artikel2 dan bantuannya dalam membantu para pelajar indonesia dan mempermudah sekolah lanjut keluar negri,nice^^

  • Nez

    Apakah Anda, keluarga atau teman baik Anda mempunyai IPK 3.0, lulusan S-1 yang terakreditasi, dari jurusan apapun, memiliki rencana untuk membangun Indonesia dan dibawah 35 tahun?

    Kami mendidik anak didik kami untuk memperoleh IELTS 7.5 & menjamin mereka akan mendapatkan beasiswa 100% di luar negeri. 3000+ alumni kami sejak 1996, bersekolah di 4 benua.

    Apakah Anda, keluarga atau teman baik Anda akan jadi bagian dari alumni sukses kami berikutnya?

    JAMINAN UANG KEMBALI*

    Untuk test institusional IELTS gratis & info beasiswa,
    contact: 0813 1663 4102