Suka Duka ASEAN Scholar di Singapura

Suka Duka ASEAN Scholar di Singapura

Siapa sih yang tidak senang diberi kesempatan untuk belajar dengan percuma? Bukan sekedar belajar; sebuah peluang untuk mendapatkan pendidikan kelas dunia di Singapura, negara termaju di Asia Tenggara.

Saat saya diberitahu bahwa Dinas Pendidikan di Singapura atau yang lebih dikenal dengan akronim MOE (Minister of Education) bahwa saya telah diterima sebagai salah satu penerima beasiswa ASEAN, saya tidak dapat menolak. Walaupun saat itu saya masih muda sekali – baru saja lulus SMP – saya merasa saya cukup berani untuk mengadu nasib di Singapura. Jadilah saya menempuh 4 tahun secondary education (setara SMP) di CHIJ Toa Payoh dan tertiary education (setara SMA) di Anglo-Chinese Junior College. Saya sangat bersyukur, sekarang sebagai mahasiswa di Singapore Management University (SMU), masih ditawari untuk menjadi penerima beasiswa ASEAN sekali lagi.

Tentu saja semuanya tidak semanis yang saya kira, ada suka dan duka menjadi pelajar di bawah naungan MOE; ini meliput juga penerima beasiswa di Singapura secara luas.

Apa saja sih faktor-faktor yang membuat penerimaan beasiswa sebagai tantangan, bukan sekedar berkah?

1. Standar performa akademik

Sebagai penerima beasiswa, biasanya ada standar tertentu yang harus diraih dalam pembelajaran. Standar ini menjadi semakin tinggi ketika siswa sampai pada tahap yang lebih tinggi: waktu dulu di Junior College, standarnya adalah rata-rata C (dan ini susah sekali untuk diraih kadang-kadang). Begitu sampai di universitas standar paling rendah adalah GPA 3.4[1] yang berarti rata-rata nilai per modul pelajaran adalah A-.

Saya merasa ini seringkali susah dicapai karena adanya keinginan untuk memiliki kehidupan mahasiswa yang aktif. (Mungkin juga karena saya kurang rajin belajar haha) Kehidupan mahasiswa di SMU sangat-sangat berwarna, dengan ratusan ekskul[2] yang tersedia menawarkan beragam aktivitas dan pengalaman yang berbeda-beda. Selalu ada kesukaran untuk mempertahankan nilai yang bagus kalau terlibat, seperti saya, di dua sampai tiga CCA yang berbeda.

2. Kultur yang berbeda

Ini saya peroleh dari teman-teman yang baru saja datang dari Indonesia waktu universitas, mereka lebih sukar beradaptasi dan berinteraksi dengan orang-orang Singapura karena perbedaan pola pikir dan kultur belajar di sini.

Mungkin para pembaca sudah pernah dengar betapa orang-orang Singapura sangat kompetitif atau julukan sayangnya “kiasu”. Tidak mudah bagi orang Indonesia yang belajar di Singapura untuk beradaptasi dengan keadaan kelas yang sangat kompetitif dan kadang-kadang teman makan teman.

Sebagai ilustrasi di SMU dicanangkan bahwa di setiap modul pelajaran mahasiswa harus aktif berpartisipasi di kelas: bertanya dan menjawab pertanyaan, bahkan kadang-kadang berargumen dengan sesama mahasiswa atau dosen yang mengajar; ini dinilai berdasarkan kualitas dan banyaknya partisipasi mahasiswa. Mahasiswa dari Indonesia mengaku sulit sekali kadang-kadang bagi mereka untuk mendapatkan nilai baik dalam hal ini karena kendala bahasa, kurangnya percaya diri dan tingginya tingkat kompetisi dalam partisipasi kelas.

3. Beban mental

Menjadi penerima beasiswa bisa mengakibatkan beban mental; terutama karena tingginya ekspektasi akademik. Ekspektasi ini seringkali bukan hanya dari pemberi beasiswa tetapi juga dari siswa-siswa sendiri dan teman-teman sebaya. Kurangnya efektifitas pembagian waktu, penggunaan bahasa Inggris (terutama untuk siswa baru di Singapura) atau kesulitan memahami pelajaran boleh mengakibatkan tekanan tambahan.

Saya pribadi sempat mengalami hal ini di semester kedua saya di SMU di mana saya memegang jabatan di komite SMU Komunitas Indonesia, aktif di AIESEC[3] dan juga berpartisipasi di pagelaran tahunan SMUKI, GAYA. Ini mengakibatkan saya mengorbankan pelajaran saya. Kegiatan-kegiatan saya di sekolah malah menjadi  prioritas. Ini menjadi beban mental karena saya tahu bahwa saya harus mempertahankan standar tertentu untuk tetap terkualifikasi menerima beasiswa dari MOE.

Tentu saja tidak semuanya pahit. Siapa yang tidak mau dibayari bersekolah di sekolah bergengsi? Masih diberi uang untuk biaya hidup lagi.

Memang ada dukanya menjadi siswa yang ditanggung beasiswa di Singapura, tetapi pengalaman dan pelajaran yang saya pelajari selama hampir 6 tahun mengemban beasiswa dari MOE sangat berharga.

Saya belajar untuk menjadi lebih bertanggung jawab atas keputusan saya sendiri; baik itu memastikan keseimbangan waktu yang dihabiskan melakukan kegiatan di sekolah dan belajar, ataupun memutuskan untuk berkampanye untuk posisi di komite CCA saya dan kegiatan di luar sekolah. Tidak mudah tentunya untuk berhasil dalam hal ini, tetapi saya masih terus belajar dan saya percaya saya menjadi lebih baik setiap harinya.

Selain itu, saya merasa tidak menjadi beban orang tua. Sebagai seorang siswa yang bersekolah di luar negeri saya tahu bahwa orang tua saya harus bekerja keras untuk menanggung biaya pendidikan saya dan dua saudara saya (kakak saya bersekolah di NUS). Mendapatkan beasiswa yang cukup untuk menyekolahkan diri sendiri tentunya membuat saya merasa bangga dapat meringankan beban finansial orang tua.

Untuk saya pribadi – jika saya tidak mendapatkan beasiswa ini, tidak akan saya mendapatkan teman-teman saya sekarang ini dan mendapatkan begitu banyak pengalaman yang sudah saya lalui. Bahkan mungkin saya tidak akan berpikir melanjutkan sekolah di luar negeri. 


[1] SMU memakai system penilaian Amerika, GPA yang paling tinggi adalah 4.3

[2] lebih dikenal sebagai Co-Curricular Activities di Singapura atau CCA singkatnya

[3] Sebuah badan internasional ditujukan untuk siswa-siswa di seluruh dunia, berpusat di universitas-universitas anggota. AIESEC bertujuan untuk mengembangkan potensi dan menanamkan kepemimpinan aktif kaum muda.

Photo Credit: Singapore Management University via Wikimedia Commons




===========================================
Mara Natasha is an ASEAN scholar and a penultimate year student, studying Economics and Finance at Singapore Management University. She was actively involved in SMU Komunitas Indonesia (SMUKI) as Arts and Culture Head of Department and its cultural brainchild, GAYA 2014, as Stage Manager. An avid traveller and reader, Natasha has travelled to more than 21 countries and has not had enough of her wanderlust. She is currently full-time Singaporean PR and part-time Indonesian. She's always looking forward to satisfy her incessant cravings for Indonesian food, especially so during her many overseas travels.
Posts | Facebook | LinkedIn