means, Welcome to Japan!

Flying to Japan with Monbukagakusho

From: Stella (from Japan with love)

しょうがくきん
I. 奨学金 (Beasiswa)

Tidak dapat dipungkiri, banyak anak-anak dari negeri kita, Indonesia, yang cerdas, rajin dan memiliki cita-cita yang tinggi. Banyak di antara mereka yang berangan-angan untuk bisa menimba ilmu yang lebih tinggi di negeri orang. Selain menambah pengalaman, pelajar yang berkesempatan belajar di negeri orang akan menjadi lebih mandiri dan wawasannya akan terbuka lebih luas. Namun, bagaimana caranya sekolah ke luar negeri? Bagaimana pula mendapatkan beasiswa atau bantuan ekonomi lainnya? Sejauh ini Indonesia Mengglobal sudah banyak membantu menyuguhkan informasi tentang program studi, terutama ke AS. Untuk memperkaya informasi, saya ingin menambahkan 1 negara lain yang menurut saya layak untuk dipertimbangkan, Jepang.

Program Monbukagakusho/ MEXT Scholarship (文部科学省の奨学金). Program ini menawarkan beasiswa untuk S-2, S-3 (research students), S-1 (undergraduate), D-3 (college of technology), D-2 (professional training college), teacher training dan Japanese studies. Informasi lengkap mengenai program ini, seperti jangka waktu belajar di Jepang, jumlah uang beasiswa, waktu aplikasi, dsb, bisa langsung dilihat di website berikut ini. http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html

Hal paling menarik dari program ini adalah tidak adanya ikatan dinas (bond). Jepang, dengan niatnya yang tulus, ingin sekali membantu negara-negara lain untuk berkembang dan maju. Mungkin karena alasan itu, maka tidak ada ikatan dinas atau apapun yang mengikat kita untuk “mengabdi” kepada Jepang. Ini adalah salah satu alasan yang membuat saya pribadi mengagumi negara ini. Cukup wajar rasanya bila penerima beasiswa (100% gratis), harus berjuang untuk mendapatkannya. Sekedar gambaran, untuk program S-1, dari ribuan orang yang mengirimkan aplikasi, sekitar 600 orang terpanggil untuk tes tertulis. Hasilnya, hanya 25 orang yang lolos untuk menjalani tes wawancara akhir dan 3-7 orang saja yang mendapatkan beasiswa setiap tahunnya.

Jangka waktu sejak langkah pertama (pengiriman dokumen) hingga terakhir (pengumuman penerimaan) adalah sekitar 6 bulan. Waktu yang cukup panjang, cukup untuk membuat sebagian peserta bahkan lupa bahwa mereka sedang dalam masa penantian. Ditambah lagi, pihak penyelenggara tidak memberi tahu secara pasti kapan langkah berikutnya akan dilaksanakan. Jadi yang bisa dilakukan benar-benar hanya menunggu telepon berdering, menyatakan keberhasilan peserta melewati satu tahapan. Proses menunggu dalam ketidakpastian ini merupakan pengalaman yang cukup “mengesankan”, layak untuk dicoba.

Ada perubahan jadwal dari tahun ke tahun, namun sebagai acuan, berikut adalah jadwal langkah-langkah yang saya lalui. *beasiswa untuk keberangkatan tahun 2014 sudah dibuka dan akan ditutup pada 14 Juni 2013

April: pengambilan formulir dan pengiriman dokumen ke Kedutaan Besar /Kedubes
May: pengumuman lulus seleksi dokumen
Juni: tes tertulis (Jakarta, Medan, Surabaya, Makassar)
Agustus: pengumuman lulus tes tertulis
September (tengah): wawancara di Kedubes Jakarta
September (tengah): pengumuman lolos tes wawancara
Desember (awal): pengumuman penerimaan (melalui telepon)
Januari-April: briefing dan upacara penerimaan di Kedubes Jepang
April (awal): keberangkatan ke Jepang

りゅうがくせいのせいかつ
II. 留学生の生活 (kehidupan sebagai pelajar asing)

Kehidupan di Jepang (menurut sebagian besar teman dan kakak kelas) mempunyai kesenangan tersendiri. Ya, setidaknya cukup untuk membuat hampir semua penerima beasiswa bertahan selama setidaknya 5 tahun di negeri sakura ini. Mulai dari berbagai festival, makanan (yang asli Jepang 10x lebih enak), sampai budaya anak-anak Jepang (misalnya karaoke =)) adalah contoh kegiatan yang menarik. Selain itu, berbagai pengalaman lain pun dapat diperoleh. Misalnya merasakan kehidupan asrama, bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara, juga melatih kemandirian.

Tetapi semua itu juga tidak terlepas dari satu kata: belajar. Dalam satu tahun anak-anak penerima beasiswa ini dituntut untuk tidak hanya menguasai bahasa Jepang untuk kehidupan sehari-hari (日常生活・にちじょうせいかつ) tetapi juga kemampuan berbahasa untuk dapat memahami kuliah dalam bahasa Jepang.

So, at the end of the day, in the midst of studying, you should try to enjoy yourself as much as possible, thus making the whole experience a worthwhile one.

ひとこと
III. 一言 (sepatah kata)

Susah pasti, tapi dengan perjuangan dan tekad yang kuat, apa pun yang kita inginkan mungkin bisa terwujud. Kendala bahasa, mungkin merupakan salah satu faktor yang menyurutkan tekad. Tetapi dengan ketekunan, 1 tahun diberi pembekalan materi bahasa Jepang di sekolah bahasa, membuat diri ini seolah tidak percaya, kita benar-benar mampu untuk masuk kuliah dengan pengantar bahasa Jepang! Ajaib…

Mengenai “Culture shock”, tidak perlu kuatir. Budaya mereka sama dengan budaya kita yang menjunjung tinggi nilai sopan santun.

So anyway, it requires you to work, maybe twice as hard, but the rewards you get are doubled as well. I am very grateful to be able to experience all of these, so I sincerely hope that you all can too.

Photo Credit: The image used in this article comes from the author.

 




===========================================
Stella is an ordinary Indonesian. Before coming to Japan, she pursued education in Singapore for 4 years under the ASEAN scholarship. Now she is in Japan, pursuing 5 years (language course + undergraduate course) under the Monbukagakusho scholarship. Living almost her whole life on scholarship, being granted all the opportunities and privileges, she feels like experiencing miracles again and again. Anyway, this is what she has been believing: 信を前持って、よく頑張れば、きっとできるよ!(believe, that hard work always pays off) She wishes you all the best and ガンバレ(ganbare)!!
Posts | Facebook