Student Exchange ke Jepang: Awal Perjalanan Sampai Tiba di Jepang

Student Exchange ke Jepang: Awal Perjalanan Sampai Tiba di Jepang

Awal mula bagaimana saya bisa sampai di negara yang sangat rapih, bersih, disiplin, praktis, dan canggih, Jepang, adalah dari mimpi. Mimpi yang terkadang Saya yakin bisa capai, namun terkadang tidak yakin juga. Sederhananya optimis dan pesimis dalam mencapai sebuah mimpi itu adalah hal lumrah.

Semenjak SMA saya memiliki mimpi ingin mendapatkan beasiswa ke Jepang. Dan I’M IN JAPAN NOW!

Di Universitas Padjadjaran biasanya akhir Desember sampai awal Januari dibuka kesempatan beasiswa baik ke dalam negeri atau ke luar negeri. Waktu itu ada program student exchange ke Rikkyo University (Tokyo) Jepang. Karena saya mahasiswi jurusan sastra Jepang Saya sangat antusias untuk mendaftar program tersebut.

Di lembaran formulir Saya harus mencantumkan nomor paspor. Tapi, pada saat itu Saya belum punya. Mau tidak mau, Saya harus segera membuat paspor. Walaupun tidak tercantum persyaratan wajib memiliki paspor, namun Saya pikir untuk menyempurnakan isi formulir saya, Saya harus membuat itu.

Ketika membuat paspor ada seorang ibu dari Dinas Sosial tiba-tiba bertanya kepada Saya,

“ Bikin passport untuk apa, De?”

“Untuk mengajukan beasiswa, Bu,” jawab Saya.

“ Oh, beasiswa. Ke mana?” tanyanya lagi.

“Ke Jepang”

“ Wah, bagus tuh. Berangkat kapan?”

Saya… menunduk dan bingung harus menjawab apa. Karena keadaannya pada saat itu Saya membuat paspor hanya untuk persyaratan, belum fixed apakah Saya akan lolos seleksi tahap demi tahap. Tapiii, dengan percaya diri Saya menjawab…

“Insya Allah berangkat awal September, Bu…” diam…

Dan tepat tanggal 1 september 2012 saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Jepang. Luar Biasa!

Memang kekuatan perkataan itu luar biasa. Seminggu kemudian setelah Saya punya paspor, Saya ke bagian KLN (kerjasama luar negeri) Unpad untuk menyerahkan seluruh persyaratan beasiswa ke Rikkyo University ini. Waktu menyerahkan formulir itu bulan Januari tanggal 30. Seharusnya pada bulan itu saya KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa), tapi Saya memilih untuk menundanya terlebih dahulu demi fokus mengikuti seleksi beasiswa ini. Resiko yang termasuk besar untuk Saya ambil, karena Saya sendiri belum tahu apakah Saya akan lolos seleksi ini atau tidak.

Sekitar 3 minggu menunggu, akhirnya Saya dapat sms dari assesor team (tim penyeleksi) bahwa Saya dinyatakan lulus seleksi tahap I, yaitu seleksi berkas. Dari sekitar 100 orang pelamar, sekitar 75 orang yang lolos ke tahap ini. Dan hari Jumat tanggal 24 Februari ada seleksi tahap II, FGD (Focus Group Discussion) atau bahasa lainnya diskusi panel. Harus rapih dan percaya diri. Waktu itu saya cuma mengerahkan seluruh rasa percaya diri saya dan enjoy supaya bisa dengan lancar berbicara dan berdiskusi dengan studi kasus yang diberi waktu itu.

Di tahap II ini, pertama dan terakhir kalinya digunakan Bahasa Indonesia dalam seleksi untuk mendapatkan beasiswa ke Rikkyo University ini. Setelah itu menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Jepang atau boleh kedua-duanya.

Seleksi tahap III adalah wawancara. Dan lagi-lagi Saya harus menunggu dengan sabar apakah keberuntungan akan berpihak kepada Saya atau tidak.

Dan, keberuntungan itu datang. Tanggal 12 Maret 2012 saya dapat sms lagi bahwa Saya dinyatakan lolos seleksi tahap II. Dari 75 orang di tahap II, yang lolos ke tahap ini hanya 20 orang, dan besoknya tanggal 13 maret 2012 seleksi tahap III diselenggarakan. Dan Saya hanya punya waktu semalam saja untuk mempersiapkan diri untuk wawancara. Ada banyak pertanyaan yang diajukan. Segala aspek pertanyaan ditanyakan, dan pastinya menggunakan Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris. Yang bukan anak sastra Jepang, menggunakan bahasa Inggris saja tidak apa-apa. Karena Saya anak sastra Jepang Saya harus menunjukkan bahwa Saya anak sastra Jepang.

Setelah wawancara, kembali menunggu… Dua hari kemudian, dapat kabar lagi lagi lewat sms kalau saya lolos seleksi tahap III (wawancara), dan besoknya ada seleksi tahap IV. Di tahap ini ada 10 orang yang berhasil lolos untuk ke kampus Unpad Dipati Ukur pukul 9 pagi. Jadi Saya harus mempersiapkan materi presentasi kurang dari 24 jam, karena baru dapat kabarnya sore. Materi presentasi waktu itu ditentukan pihak penyeleksi. Materi pertama: manfaat student exchange ke Jepang, dan yang kedua: suatu hal yang perlu diketahui oleh orang asing mengenai Indonesia. Saya memilih yang pertama.

Pada saat presentasi, Saya menggunakan bahasa Jepang dan Inggris. Sedangkan di perintahnya, Saya harus memilih salah satu bahasa. Jadi ini salah satu kecerobohan Saya dalam seleksi ini. Saya tidak begitu yakin apakah Saya akan lolos ke tahap akhir atau tidak. Karena saingan Saya ada dari berbagai macam jurusan, dan mereka pintar-pintar. Bisa dibilang, mereka lebih pintar dibandingkan Saya. Dan pengalaman mereka lebih banyak. Saya hanya bisa pasrah.

Dua hari kemudian, tanpa disangka-sangka Saya mendapat kabar kalau saya lolos ke tahap V (akhir). Kaget, ga percaya dan speechless. Lagi-lagi, keberuntungan memihak kepada saya. Dari 10 orang di tahap IV, di tahap ini hanya tersisa 6 orang.

Di tahap ini kita tidak bisa menggunakan bahasa Jepang, karena tim penyeleksi sudah berubah, dari alumni Rikkyo University dan 2 orang alumni Tenri University, menjadi para petinggi Universitas Padjadjaran, yaitu, Bapak Ramdan Panigoro (Direktur Bidang Kerjasama Luar Negeri Unpad), Bapak Prof. Urip dari Fakultas Psikologi, dan seorang mahasiswa pasca sarjana alumni Chiba University. Bener-bener bikin jantung berdegup cepat dan kalau kaki ini terinjak, saya pikir tidak akan terasa apa pun saking gugupnya.

Akhirnya hari ini berlalu….

Penantian akhir yang hampir tiap hari, tiap jam, tiap detik, penasaran. Sebenarnya antara penasaran, pasrah, dan tidak begitu mau tahu. Karena kalau Saya terlalu berharap banyak dan ternyata tidak terjadi, pasti akan merasakan kekecewaan yang mendalam. Jadi waktu itu saya mempersiapkan diri untuk hal terburuk dari yang terburuk.

Ternyata, empat hari kemudian, tepat tanggal 23 Maret 2012, saya mendapat kabar dari Ibu Offiar (staf KLN Unpad) bahwa saya dinyatakan lulus seleksi beasiswa ini. Dan luar biasanya lagi, Saya mendapat peringkat I, di mana fasilitas beasiswa yang didapat adalah biaya hidup sebesar 80.000 Yen per bulan, ditambah biaya pendidikan. Peringkat II-nya adalah teman saya dari Fakultas Hukum, Farah Fitriani.

Keberuntungan tidak hanya sampai di situ. Sekitar bulan April, pihak Rikkyo University menghubungi Unpad memberitahukan bahwa Saya direkomendasikan ikut beasiswa Sato Yo International Scholarship Foundation (SISF). Saya harus membuat statement of purpose dalam bahasa Jepang.

Setelah menunggu sekitar dua bulan, alhamdulillah, Saya lolos beasiswa itu. Jadi, Saya tidak jadi mendapat beasiswa dari JASSO yang sebesar 80.000 Yen per bulan, melainkan dari SISF. Fasilitas beasiswa yang saya dapat adalah:

  1. Tiket pesawat pulang-pergi
  2. Biaya hidup tiap bulan 100.000 Yen
  3. Biaya transportasi ketika sampai di Jepang sebesar 50.000 Yen.
  4. Dan lain-lain.

Rikkyo University

Tempat Saya kuliah saat ini adalah Rikkyo University, di Tokyo, daerah Ikebukuro. Rikkyo University adalah salah satu universitas unggulan di Tokyo.

Salah satu sahabat terbaik Saya pernah berkata untuk membangkitkan optimisme Saya:

TIDAK ADA KEBERUNTUNGAN TANPA USAHA!

Semoga dengan pengalaman Saya ini, teman-teman bisa menjadi lebih semangat dalam meraih impian dan mengejar apa yang diinginkan.

Pada post Saya selanjutnya, Saya akan mencoba share bagaimana kehidupan di Jepang.

Kredit foto: Volfgang dan ペン太 di Wikimedia Commons.




===========================================
Nurul is a student of Japanese Literature at Padjadjaran University. She is currently on an exchange program at Rikkyo University, Japan.
Posts | Website | Facebook | Twitter