Studi S1 di Perancis: Mari Berkenalan dengan Istilah DAP, APB, BTS, DUT dan IUT

2
449

Zahra Medina berbagi pengalaman tentang langkah-langkah yang dilakukan untuk dapat diterima kuliah setingkat S1 di Perancis. Bagi yang berminat untuk melanjutkan studi di Perancis, beberapa tips praktis berikut dapat disimak lebih lanjut, diantaranya mengenai cara mendaftar ke universitas-universitas yang dapat dilakukan dari Indonesia, serta “asyiknya” berkenalan dengan istilah-istilah Prancis sebelum benar-benar menginjakkan kaki di negara cantik tersebut.

Memilih Universitas di Prancis dan Jalur Pendaftaran Yang Harus Dilalui

Ada dua macam sistem pendaftaran bagi mahasiswa asing yang berencana melanjutkan studi S1 di Perancis. Pertama adalah DAP (Demande d’Admission Préalable), merupakan sistem pendaftaran dimana kita mengisi formulir yang bisa kita dapat dari Campus France (perwakilan Prancis di Indonesia dalam bidang pendidikan).

Di dalam formulir tersebut kita akan diminta memilih satu jurusan di tiga universitas berbeda. Selain mengisi formulir,  kita akan diminta memenuhi syarat-syarat pendukung, yaitu: transkrip nilai dan ijazah, akte lahir, surat motivasi, CV yang mengikuti format Eropa, dan yang  terpenting adalah sertifikat kemampuan bahasa Perancis (DELF) level B2. DELF B2 ini merupakan kunci utama untuk mendaftarkan diri di universitas di Perancis.

Jika kita tidak memiliki sertifikat DELF B2 saat melakukan proses DAP, maka kita diwajibkan mengikuti TCF DAP yang  diselenggarakan oleh Campus France. TCF DAP merupakan ujian pengetahuan bahasa Perancis yang terdiri dari tes writing, reading, listening, dan grammar. Kita harus memperoleh score 499 atau lebih untuk setara dengan kemampuan DELF B2.

Setelah formulir diisi dan syarat dilengkapi, kita serahkan kembali ke Campus France dan akan dibantu pengirimannya ke universitas yang kita pilih. Ingat, semua dokumen untuk  melakukan aplikasi ke seluruh universitas di Perancis harus ditranslate ke dalam bahasa Perancis oleh penerjemah tersumpah.

Awal pembukaan pendaftaran untuk DAP adalah 1 Desember hingga 31 Januari, yang kemudian pada bulan Februarinya akan diikuti dengan pelaksanaan ujian TCF DAP bagi  yang tidak memiliki DELF B2.

Sistem DAP sebenarnya sama dengan sistem pendaftaran kuliah di Indonesia, dimana jika kampus pertama menolak, maka  akan dilempar  ke kampus kedua. Jika masih ditolak juga, maka kita akan dilempar ke kampus ketiga. Pengumuman diterima atau ditolak oleh  ketiga kampus dilakukan bertahap. Kampus Pilihan pertama pada bulan April,  kedua bulan Mei, dan terakhir bulan Juni. Dan  jika semuanya menolak,  berarti selesai sudah proses DAP  dan kita belum beruntung melalui jalur ini.

Tapi tenang jangan putus harapan dulu. Masih ada satu lagi sistem pendaftaran yang dapat kita coba, yaitu Admission Post-Bac (APB).

Sistem DAP dan APB berbeda, di DAP kita dibantu oleh Campus France, mulai dari menyediakan formulir, mengisi formulir, memfasilitasi ujian pengetahuan bahasa Perancis, hingga proses pengiriman  dokumen pendaftaran. Sebaliknya di APB kita harus mengerjakan semuanya sendiri. Mulai dari membuat account di website admission-postbac.fr, hanya bisa kita lakukan saat dibukanya pendaftaran (20 Januari – 20 Maret), memilih sekolah, memenuhi syarat-syarat yang diminta serta mengirimkan aplikasi ke sekolah-sekolah yang kita pilih  via pos.

Perbedaan lain antara DAP dan APB adalah pada jenis serta jumlah sekolah yang bisa kita pilih. Di DAP kita hanya bisa mendaftar untuk jenjang S1 di 3 Universitas Negeri berbeda di seluruh kota di Prancis, namun pada sistem APB kita dapat memilih sebanyak mungkin jumlah serta jenis sekolah  (universitas atau Lycee) dengan berbagai jenjang yang kita inginkan (S1 atau BTS/IUT/DUT). Akan tetapi tentu saja harus mengukur kemampuan kita dalam memenuhi syarat yang diminta oleh setiap sekolah, karena kadang kala ada sekolah yang meminta persyaratan khusus. Namun umumnya syarat DAP dan APB sama, hanya saja di APB mereka akan meminta rekomendasi guru dan sekolah kita dahulu.

Bagi yang berkeinginan untuk menuntut ilmu di negeri Prancis, jalur DAP dan APB adalah peluang. DAP dengan keterbatasan pilihan kampus, hanya tiga kampus, kita harus benar-benar jeli memilih  kampus, mana yang benar-benar memberi peluang kita bisa diterima.  Sedangkan jalur APB, seiring dengan bebasnya kita memilih berapapun kampus yang kita inginkan, maka peluang diterima menjadi besar dan banyak. Selain itu, ada dua kali penyaringan pada APB.  Penyaringan pertama bulan Juni, kemudian penyaringan kedua bulan Juli.

Asing dengan istilah BTS/IUT/DUT ?

BTS/IUT/DUT merupakan sistem pendidikan yang hanya dimiliki Prancis, biasa disebut juga dengan bac+2 karena tahun ajarannya yang berlangsung hanya selama 4 semester, dimana umumnya S1 (bac+3) di Perancis berlangsung selama 6 semester. Tapi jangan khawatir, setelah BTS/IUT/DUT kita tinggal menambah 2 semester lagi untuk mendapatkan gelar sarjana.

Apa sih yang membuat S1 dan BTS/IUT/DUT berbeda ? Yang membuat berbeda di antaranya adalah tempat belajarnya. Untuk jenjang S1 kita akan menempuhnya di Universitas, sama seperti di negara-negara lain, tapi untuk BTS/IUT/DUT ada tempat tersendiri, biasanya ‘anak’ dari universitas atau bisa juga di Lycee (yang artinya SMA dalam bahasa Indonesia). Kemudian, di universitas kita akan lebih banyak mendapatkan teori, namun di BTS/IUT/DUT kita akan mendapatkan teori sekaligus praktek berkat adanya program magang (stage).

Pengalaman saya, dimana saya adalah siswi BTS Tourisme di Lycee de Bazeilles, 3 bulan setelah saya belajar teori,  saya diwajibkan untuk melakukan magang  di tempat yang memiliki hubungan dengan pariwisata tentunya (tourisme = pariwisata).

Memang bukan hal mudah mencari tempat magang. Bagi orang Prancis saja sulit, apalagi untuk orang asing seperti saya. Untunngnya, para profesor siap membantu,  di antaranya membantu  membuat CV, surat motivasi yang profesional dan juga memberi informasi tempat-tempat yang sedang mencari siswa magang. Ini menjadi kelebihan BTS, kita mendapatkan pengalaman langsung  berhadapan dengan  dunia nyata dan profesional sebelum kita betul-betul menjadi professional sesungguhnya.

Nothing Worth Having Comes Easily, Ever!

Hari Senin, 17 September 2012. Hari dan tanggal yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Hari dan tanggal dimana untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Prancis. Negara penuh kisah romantik klasik yang menjadi dambaan banyak insan di dunia  untuk menggapai cita-cita atau hanya sekedar menghabiskan waktu libur dan berjalan-jalan.

Awalnya Perancis hanya merupakan angan bagi saya. Angan yang sudah saya ciptakan semenjak duduk di bangku SMP dan mendorong saya mengambil kursus bahasa Prancis di CCF WIJAYA di Jakarta. Angan yang menjadi kenyataan dan  sekarang menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Tidak mudah memang mendapatkanya, apalagi kemudian menjalaninya. Butuh motivasi yang tinggi,  keinginan yang kuat, pantang menyerah, serta keyakinan. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Seribu kali gagal, seribu kali bangkit. Ini  pula kata pepatah, “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.