United World College: Rumah dari 200 Remaja dengan 80 Kewarganegaraan yang Berbeda

United World College: Rumah dari 200 Remaja dengan 80 Kewarganegaraan yang Berbeda

Sejak dua tahun lalu, pagiku tak pernah sama lagi. Tak ada lagi harum nasi goreng yang memaksaku bangun, atau panggilan lembut ibuku untuk bergegas mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Sekarang, aku bangun 10 menit sebelum kelas, dan duduk mendengarkan guru di kelas mengenakan piyama. Ya, aku bersekolah di sebuah boarding school (asrama) setingkat pre-college, atau SMA, di Montezuma, New Mexico, USA.

Armand Hammer United World College of the American West, atau United World College-USA (www.uwc-usa.org), begitu nama lengkapnya, berlokasi di Montezuma Castle, dengan pemandian air panas, dan berbagai fasilitas lainnya. Hal yang menarik adalah, seperti namanya, sekolah ini merupakan rumah dari 200 orang siswa dengan lebih dari 80 kewarganegaraan. Tergabung dalam United World College movement (www.uwc.org), sekolah berkonsep sama juga tersebar di 12 negara lainnya, termasuk Wales, Bosnia, Belanda, Swaziland, India, Kosta Rika, Kanada, Norwegia, Italia, Hong Kong, dan Singapura.

Sebelum datang ke sini, berbicara, debat, dan berdiskusi hingga jam 4 pagi terkesan mustahil. Tetapi, hal seperti ini bisa benar-benar terjadi, karena keragaman kultur dan latar belakang membuat kamu menghadapi berbagai opini yang tak pernah muncul di pikiranmu sebelumnya. Selain itu, kapan lagi kamu mencicipi masakan dari berbagai negara atau belajar tarian dari belahan dunia lain? Kapan lagi kamu bisa berpuasa Ramadhan dengan puluhan orang lainnya dari berbagai benua yang penasaran dengan rasanya tidak makan dan minum selama 16 jam? Kapan lagi kamu mengadakan pesta piyama dan mengobrol semalaman tentang drama Korea di dayroom bersama temanmu dari Bulgaria, Cina, Meksiko, Kamboja, Belanda, Kongo, dan Filipina? Kapan lagi kamu mendiskusikan bagaimana terhambatnya pertumbuhan negara berkembang dipengaruhi korupsi besar-besaran dengan temanmu dari Tanzania?

Berlokasi di tengah gurun yang hijau dengan pohon pinus sekaligus kaktus, salju tak pernah absen tiap tahunnya. Salju pertama tiap tahunnya selalu ditandai dengan teriakan di penjuru kampus dan anak-anak yang bersorak sorai kegirangan bermain lempar salju dan membuat boneka salju. Bahkan, siswa-siswa dari negeri empat musim pun lebih menikmati salju pertama mereka seperti mereka yang belum pernah melihat salju sebelumnya.

Sekolah ini menawarkan pengalaman berbeda yang tak pernah kamu rasakan sebelumnya. Study hard, work hard, play hard. Selain belajar, kamu juga harus melakukan community service, physical dan creativity activities. Ekstrakurikuler ini sangat bervariasi, mulai dari membuat perhiasan perak, hingga rockclimbing; dari mengajarkan anak-anak sekolah dasar berhitung hingga soup kitchen; dari programming hingga wilderness dan first aid. Sekolah benar-benar memfasilitasi setiap bakat dan hal yang ingin kamu lakukan. Total ekstrakurikuler di sekolahku mencapai 120, dengan waktu yang tersebar antara sepulang sekolah (pukul 15.00), hingga pukul 21.30. Karena menggunakan kurikulum IB, beban pelajaran pun tak kalah beratnya. Slogan seperti, “I need more than 24 hours a day,” atau “You can only choose two things among sleeping, studying, or socializing,” biasa terdengar.

Tak hanya itu, setiap semesternya, sekolah merencanakan berbagai trip yang bisa kamu pilih, namanya project week. Pada bulan September 2010, aku pergi ke Cochise Stronghold di Arizona, tempat yang penuh dengan barisan gunung dan bukit untuk rockclimbing. Bulan Maret tahun lalu, aku pergi ke perbatasan Meksiko dan Amerika Serikat, tepatnya di Agua Prieta, dan menggelar cultural show di sana. Aku bersama 13 temanku yang berasal dari negara yang berbeda saling belajar dan mengajari tari-tarian yang kami punya. Voila! Tari Saman pun dipertunjukkan di Meksiko, bersama temanku dari Denmark, Uganda, Venezuela, Nepal, Singapura, dan Meksiko. Selain itu, kami juga menyusuri pagar perbatasan antara Meksiko dan Amerika Serikat, dan menyaksikan sendiri betapa beratnya imigran ilegal yang melintasi gurun ini demi nasib yang lebih baik di Amerika Serikat.

Salah satu pengalaman yang paling luar biasa adalah mendaki Hermit’s Peak (ketinggian: 3.113 m dpl) saat winter selama dua hari satu malam. Sebagai bagian dari graduation requirement, melakukan setidaknya dua ekspedisi adalah hal yang wajib dilakukan oleh semua siswa. Tetapi, kepenasaran saya membuat saya memilih untuk pergi ke winter expedition. Menyesal? Tentu tidak, walaupun masih segar di ingatan saya bagaimana kaki dan tangan saya mati rasa, karena seperempat trek hiking yang dikubur salju hingga sebetis. Wilderness leaders saya pada saat itu membantu dan mendukung saya, hingga saya mampu mencapai puncak –perasaan yang tak pernah saya lupakan.

Selain itu, setiap tahunnya, konferensi yang diadakan di sekolah ini mengundang pembicara luar biasa. Tahun 2011, selebriti Rosario Dawson, jurnalis Russ Baker, dan penulis Courtney E. Martin memberikan pandangan mereka tentang berbagai aspek dari permasalahan dunia yang mendesak. Kapan lagi kesempatan dibina menjadi agen perubahan oleh motor-motor perubahan itu sendiri bisa datang lagi?

Setelah UWC, ke mana? Sebagian besar alumni UWC melanjutkan pendidikan mereka ke universitas-universitas terbaik di dunia yang tersebar di Amerika Serikat, Eropa, atau Asia. Tidak sedikit juga yang kembali ke negaranya dan melakukan proyek untuk mengubah negara mereka menjadi lebih baik. Berikut ini link untuk melihat ke universitas mana saja alumni UWC-USA Class of 2012 melanjutkan: http://www.uwc-usa.org/uni.

Walaupun berada di kota terpencil, kampus United World College ini menawarkan pelajaran luar biasa baik di dalam dan di luar kelas, pengalaman menarik, serta lokasi yang indah. Selalu ada yang bisa dilakukan setiap weekend-nya, dan selalu ada yang bisa dibicarakan di setiap dinner table-nya dengan orang yang berbeda. Sebagai salah satu alumni di Class of 2012, koneksi yang diberikan sekolah ini tidak terbatas oleh tempat dan waktu. Salah satu teman saya berhasil melakukan Eurotrip hanya dengan budget untuk membeli tiket pesawat saja, sementara untuk akomodasi, dia meminta pertolongan dari teman-temannya yang tinggal di sana. Founder Playfish, Kristian Segerstråle dan Sebastien de Halleux pun sama-sama bertemu di UWC, dan hingga saat ini mereka masih menjadi rekan bisnis social game online.

Tiap tahunnya, sekitar 5 siswa kelas XII SMA (atau setara) mewakili Indonesia di kampus UWC di berbagai negara. Bagi teman-teman yang ingin merasakan pengalaman menjadi world citizen di SMA, UWC bisa memberikan itu semua. Jika kamu tertarik untuk menantang dirimu sendiri dan melihat dunia dari kacamata yang berbeda, cek uwc-indonesia.org untuk informasi lebih lanjut mengenai aplikasi dan tenggat waktu. Greetings from my second home, Montezuma Castle!

Photo credit: Uucp on Wikimedia Commons




===========================================
Noor Titan Hartono merupakan bagian dari United World College-USA Class of 2012, seorang freshman di Massachusetts Institute of Technology, dan ambassador dari One Young World Summit 2012. Hobi menulis dan berbagi, karena itu jangan sungkan untuk bertanya di sini :)
Posts | Website | Twitter