Perlukah Melanjutkan Kuliah di Luar Negeri?

6
5183

“Kenapa mereka tidak belajar di Indonesia saja? Di Indonesia juga banyak universitas bagus, ilmunya juga lengkap.”

–Marzuki Ali, Ketua DPR RI, membalas kritikan mahasiswa Indonesia di Jerman.

 

Mudah menertawakan ucapan Marzuki Ali di atas, tapi apa sebenarnya yang lucu dari pernyataan itu? Apakah ide bahwa kuliah di Indonesia sama baiknya dengan kuliah di luar negeri adalah ide yang menggelikan?

Saya yakin banyak yang sedang merencanakan masa depan yang bertanya: “Perlukah Saya melanjutkan kuliah di luar negeri?”. Sebelum memilih universitas mana, atau mulai melamar, kita harus memutuskan dulu bahwa kita memang perlu kuliah di luar negeri. Sebelum melanjutkan S2, Saya sendiri sempat bertanya pertanyaan itu. Bagi Saya jawabannya mudah: Saya perlu, bahkan harus, kuliah di luar negeri. Setelah menjalani sendiri kuliah di luar negeri, Saya semakin yakin sudah mengambil keputusan yang tepat. Berikut Saya berbagi tiga alasan pentingnya kuliah di luar negeri.

 

1.    Untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik

Harus diakui bahwa secara objektif, kualitas pendidikan tinggi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan sebagian besar negara di dunia.  Menggunakan ranking apapun (misalnya QS World University Ranking, Times Higher Education), universitas-universitas di Indonesia tidak ada yang masuk 200 terbaik universitas dunia. Laporan OECD juga menyatakan bahwa kualitas pendidikan tinggi di Indonesia masih tertinggal.

Mungkin susah menerima kenyataan ini. Saya sendiri sewaktu kuliah S1 di Universitas Indonesia juga beranggapan UI sudah sangat baik, sedikit sekali yang perlu ditingkatkan. Saat kuliah di Harvard University baru Saya merasakan bahwa beda kualitas pendidikan di UI dan di Harvard bagaikan bumi dan langit. Beberapa aspek di mana universitas di Indonesia masih tertinggal menurut Saya adalah ketersediaan infrastruktur pendidikan, kualifikasi dosen, keterhubungan universitas dengan industri, dan profesionalisme dosen dan mahasiwa.

Jangankan dengan Harvard, dibandingkan dengan universitas di Asia pun universitas di Indonesia masih tertinggal. Jadi, kecuali Anda melanjutkan kuliah di negara yang kurang berkembang dibandingkan Indonesia, kemungkinan besar Anda akan masuk ke universitas yang lebih baik daripada universitas di Indonesia.

Saya merasa semua orang, termasuk orang Indonesia, berhak mendapat pendidikan terbaik. Mengapa pilihan kita terhadap institusi pendidikan terbaik harus dibatasi hanya karena faktor geografis?

 

2.    Untuk memperoleh pengalaman hidup di luar negeri

Bagi Saya, tanpa mempertimbangkan manfaat yang bisa didapat setelah lulus kuliah, pengalaman sewaktu kuliah di luar negeri itu sendiri sudah merupakan alasan yang cukup.

Ada beberapa hal yang membuat pengalaman kuliah di luar negeri akan berbeda. Pertama, teman-teman sekelas akan berasal dari berbagai negara. Hal ini sangat jarang ditemui di universitas di Indonesia di mana proporsi mahasiswa internasional sangat rendah. Kedua, Anda akan tinggal di negara yang berbeda dengan Indonesia dan akan berinteraksi dengan orang-orang dengan latar belakang berbeda. Walaupun terdengar klise, tapi pengalaman tinggal di luar negeri ini penting sekali. Dunia ini sangat luas, ada lebih dari 190 negara. Betapa sempitnya pengalaman dan wawasan kita kalau seumur hidup kita hanya tinggal di Indonesia dan bergaul dengan orang Indonesia.

Dan pengalaman benar-benar tinggal di luar negeri berbeda dengan sekedar liburan atau kunjungan singkat. Saat mulai kuliah di Harvard adalah pengalaman pertama Saya tinggal di luar negeri selama lebih dari dua minggu. Saya terpaksa menggunakan Bahasa Inggris setiap hari, berhubungan dengan warga negara lain dalam melakukan semua urusan hidup Saya, dan menjalin pertemanan yang berarti dengan orang asing. Saya tidak bisa membatasi diri hanya bergaul dengan orang Indonesia seperti saat liburan.

Tinggal di luar negeri menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam hidup Saya. Saya bisa lebih berempati dengan pemikiran yang berbeda dengan Saya karena Saya mengerti orang punya latar belakang berbeda-beda. Saya bisa melihat orang dengan kewarganegaraan, ras, dan agama yang berbeda sebagai manusia seperti Saya, bukan sebagai ‘orang asing’ yang tidak mungkin Saya pahami. Saya bisa mengamati langsung bagaimana hubungan negara dengan masyarakat di negara lain, bentuk pelayanan publik apa yang bisa masyarakat dapatkan, dan apa yang dilakukan masyarakat untuk negaranya.

 

3.    Untuk memperoleh masa depan yang lebih baik

Bagi sebagian orang, faktor penentu terbesar adalah apakah kuliah di luar negeri akan membuat mereka mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tentunya tidak ada jaminan, tapi Saya berani bilang kemungkinan besar lulusan luar negeri akan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Pertama, seperti dibahas di atas, seharusnya universitas di luar negeri memberikan pendidikan yang lebih baik. Sekali lagi, laporan OECD menyebutkan bahwa lulusan universitas di Indonesia kurang memiliki keterampilan yang dibutuhkan industri. Kedua, lulusan luar negeri seharusnya menguasai bahasa asing (dari negara di mana ia tinggal) lebih baik. Ketiga, masih sedikitnya lulusan luar negeri di Indonesia membuat nilai tambah lulusan luar negeri lebih tinggi. Masih ada semacam prestise yang melekat pada lulusan luar negeri. Di sinilah letak keunggulan Anda.

 

Saya mengerti bahwa situasi dan kondisi setiap orang berbeda-beda. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam memutuskan apakah perlu kuliah di luar negeri, seperti keluarga, biaya, dan pekerjaan yang harus ditinggalkan. Secara umum, Saya masihberpendapat bahwa kuliah di luar negeri itu perlu dengan alasan-alasan yang sudah Saya kemukakan. Hal terakhir yang ingin Saya tekankan adalah keputusan berkuliah di luar negeri adalah keputusan besar, salah satu keputusan terbesar dalam hidup Anda. Di mana Anda kuliah adalah identitas yang akan melekat pada diri Anda sampai kapanpun. Karena itu, berilah perhatian yang besar juga dalam mengambil keputusan ini. Jangan sampai Anda melewatkan kesempatan kuliah di luar negeri karena hal-hal yang bisa dihindarkan seperti malas mencari informasi yang cukup, terlewat deadline mendaftar kuliah atau beasiswa, atau menunda-nunda mengambil keputusan  karena ‘sibuk’ dengan kegiatan sehari-hari. Apapun keputusan Anda, pastikan diambil dengan seksama dan tidak lewat mempertimbangkan faktor-faktor yang penting.

Sebagai penutup, Saya berikan pertanyaan sebagai tes perlu tidaknya Anda kuliah di luar negeri: “Siapkah Saya, 10 tahun dari sekarang, tidak menyesal bahwa Saya tidak mengambil kesempatan kuliah di luar negeri?”.

Photo credit: Kit in Wikimedia Commons

SHARE
Previous articleOxford: more than just about Harry Potter
Next articleOpen Curriculum di Brown: Membuka Pikiran dan Mendewasakan
Donny Eryastha
Donny Eryastha is a graduate of the Master of Public Administration in International Development program at the Kennedy School of Government, Harvard University. He currently works as the Advisor to the Minister at the Indonesia Investment Coordinating Board. Previously he has worked in both ends of the financial industry: as an investment banker and as a microfinance analyst. He has also worked pro-bono proliferating parliamentary debating among Indonesian youth under a local NGO and the Ministry of National Education. He received his undergraduate degree in finance from the University of Indonesia, where he was awarded the National Best Student award by the Ministry of National Education in 2005.