Memilih Jurusan Supply Chain Management di Amerika

Memilih Jurusan Supply Chain Management di Amerika

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman, sebut saja A, yang sudah cukup lama berkarir di sebuah perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) tertarik untuk melanjutkan pendidikannya dengan mengambil master di bidang supply chain management. A ini sudah cukup lama menduduki jabatan manajerial yang bertanggung jawab di bidang distribusi. Gelar dalam bidang supply chain management tentunya akan bisa membuatnya lebih berkontribusi bagi kemajuan perusahaan, sekaligus juga membuatnya lebih kompetitif di antara rekan-rekannya. Ketika A menanyakan, sekolah mana yang terbaik untuknya, saya kembali bertanya: fokus apa dari supply chain management yang ingin dia pelajari? A yang heran bahwa supply chain management masih bercabang-cabang di universitas di Amerika meminta penjelasan tambahan. Hal tersebut akan penulis sampaikan dalam sisa artikel ini. Perlu dicatat bahwa beberapa diantara yang akan penulis sampaikan adalah opini subyektif, berdasarkan pengamatan dan diskusi penulis dengan kolega-kolega yang mengerti tentang subyek ini.

Supply Chain Management

Jadi, apa sebenarnya supply chain management itu? Supply chain didefinisikan sebagai kumpulan perusahaan yang terlibat dalam aktivitas arus produk, servis, informasi, dan keuangan dari hulu ke hilir (Mentzer et al., 2001). Oleh karena itu, supply chain meliputi semua pihak, seperti supplier, produsen, distributor, pengecer dan pelanggan. Karena cakupannya yang luas, konsep SCM bisa dipelajari melalui bermacam pendekatan disiplin dalam ilmu bisnis manajemen. Dari sisi marketing misalnya, SCM dipelajari sebagai sebuah upaya untuk memaksimalkan kepuasan pelanggan. Sebagai contoh, marketing mempelajari perilaku pelanggan untuk bisa memahami kebutuhan pelanggan. Informasi tersebut diteruskan kepada supplier agar bisa bersama-sama mencapai tujuan tersebut, misalnya dengan meningkatkan tingkat ketersediaan produk di toko.

Dari displin ilmu yang lain, SCM juga dititikberatkan pada area yang berbeda. Operations management (OM) melihat SCM dari tingkat hulu, di mana produsen atau perusahaan manufaktur menerapkan SCM untuk mendukung strateginya. Sebagai contoh, strategi just in time (JIT) di mana perusahaan menginginkan material untuk diantar pada saat yang dibutuhkan untuk mengurangi biaya biaya inventori (i.e. carrying costs), mengharuskan sebuah perusahaan untuk menjalin relasi yang baik dengan supplier-nya. Di lain pihak, supplier juga menginginkan kerja sama tersebut untuk kepastian penjualan.

Logistik sebagai disiplin ilmu yang ketiga, melihat SCM dari sisi transportasi, distribusi dan pergudangan. Berbeda dari dua sebelumnya, logistik meliputi area yang lebih panjang dari hulu ke hilir, karena setiap perpindahan barang dari satu titik ke titik berikutnya selalu berkaitan dengan transportasi dan distribusi. Bahkan, seringkali SCM diasosiasikan dengan logistik, walaupun itu adalah dua hal yang berbeda. Pemahaman tentang ilmu logistik memungkinkan sebuah perusahaan untuk menentukan strategi yang tepat untuk proses distribusi barang. Amazon.com, adalah sebuah contoh perusahaan yang berhasil dalam strategi logistiknya. Untuk bisa memenuhi kebutuhan pelanggannya dalam waktu yang singkat, Amazon.com berhitung dengan lokasi, desain, dan kapasitas gudang, sistem inventori, system penerimaan dan pengambilan barang, dan lain-lain. Kecepatan dan minimalisasi biaya memegang peranan penting yang membuat Amazon.com berhasil sukses disbanding pesaingnya.

Terakhir yang tak kalah pentingnya adalah jurusan management information systems (MIS). Sesuai dengan namanya, disiplin ilmu ini berkaitan dengan teknologi dan komputerisasi. Teknologi informasi dipercayai sebagai alat yang memungkinkan terjadinya SCM. Sebagai contoh, tanpa kehadiran komputer, transaksi dan inventori akan dicatat secara manual, yang menyulitkan untuk berbagi informasi dengan partner dalam supply chain. Order yang diterima melalui telepon atau faksimili mempunyai banyak kelemahan dibandingkan dengan order secara online. Dan yang paling penting, teknologi informasi meniadakan batas antara perusahaan, dari sisi waktu dan lokasi, yang memungkinkan relasi dilakukan dengan supplier dan pelanggan mana saja di dunia.

Memilih sekolah

Untuk sekolah terbaik di Amerika dalam bidang supply chain management menurut US News dapat dilihat melalu link berikut: http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/best-graduate-schools/top-business-schools/logistics-rankings

Nah, sekarang pertanyaannya, mana sekolah yang cocok untuk Saya? Untuk pertimbangan lain di luar supply chain management, Indonesia mengglobal punya berbagai tipsnya. Untuk bidang supply chain management, universitas di Amerika ternyata juga memiliki pendekatan yang sama dengan disiplin ilmunya. Pada dasarnya, universitas di Amerika berkembang bersama industri yang maju di daerah tersebut. Industri dan universitas adalah simbiosme mutualisme di mana universitas diuntungkan dari donasi dari perusahaan, di lain pihak perusahaan juga diuntungkan dengan pasokan tenaga kerja yang berkualitas, serta hasil penelitian yang bisa memajukan perusahaan itu secara khusus dan industry di daerah tersebut pada umumnya.

Sesuai dengan latar belakang industri universitas di atas, (sekali lagi, ini subyektif), penulis memberikan saran untuk yang berminat dengan fokus di bidang marketing untuk mempertimbangkan Ohio State University dan University of Tennessee. Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Carnegie Mellon  bisa jadi pertimbangan untuk pelamar yang mempunya minat di bidang manufaktur. Arizona State University, masih terkait dengan operations management, mempunyai kredibilitas yang sangat baik dengan purchasing management. Michigan State University dan juga University of Tennessee adalah pilihan utama untuk yang tertarik dengan bidang logistik. Dan terakhir, Pennsylvania State University bisa menjadi tujuan untuk yang tertarik dengan teknologi informasi.

Photo credit: Hydriz, Vladimir Kirakosyan and Graham Richardson on Wikimedia Commons.




===========================================
Akhadian Sri Harnowo is a PhD student in Logistics and Supply Chain Management, and a doctoral fellow at Georgia Southern University. He previously has worked in MyGallons LLC., and Carrefour Indonesia. He received an MBA from Rowan University and a bachelor degree from Institut Teknologi Bandung.
Posts | Facebook | Twitter | LinkedIn