Pengalaman bekerja di Silicon Valley

2
196

Setelah menetap kurang lebih selama 15 tahun di Silicon Valley, saya ingin berbagi pengalaman kerja melalui blog ini. Saya mendapatkan kesempatan bekerja di beberapa perusahaan start-ups, semiconductor, dan perusahaan Internet.

Berikut adalah beberapa observasi selama bekerja/menetap di USA yang saya harap bisa membantu dalam aktivitas kita sehari-hari:

1. Keterbukaan: Perusahaan di Amerika Serikat pada umumnya menghargai keterbukaan imaginasi, intellectual curiosity,  dan sensitivitas terhadap estetika.

2. Kreativitas: Creative-thinking sangat diperlukan dalam problem-solving. Sering kali kita menghadapi problem yang rumit dan challenging dalam pekerjaan kita. Dari sini, kita bisa belajar lebih lanjut mengenai problem itu lewat bacaan, penelitian, explorasi, dan eksperimen. Sebagai contoh, berbekal kreativitas, problem tersebut bisa dipecahbelah dan diambil bagian-bagian tertentu untuk dianalisa secara seksama, lalu digabungkan kembali. Contoh lain adalah thinking outside of the box, berani mencoba metode lain, yang berlawanan dengan yang normal, untuk mencapai hasil yang bagus. Kegagalan adalah suatu hal yang lumrah. Dengan mengalami kegagalan, kita bisa belajar untuk memecahkan problem yang lain dengan lebih baik di kemudian hari.

3. Kultur: Orang Amerika pada dasarnya suka kompetisi; mereka percaya bahwa tim atau individu yang berpartisipasi dalam kompetisi akan menjadi lebih baik. Hal ini juga cukup banyak contohnya di kehidupan sehari-hari, misalnya sporting events (football, basketball, etc.), TV shows (apprentice, american idol, etc.). Di tempat pekerjaan juga ada penghargaan seperti superstar award, employee of the month, teamwork award, etc.

4. Meritokrasi: Ini adalah model umum yang banyak di pakai di perusahaan Amerika, dimana partisipasi pekerja dinilai dari kontribusinya. Modern companies dibidang high tech, memiliki struktur organisasi yang cukup efisien dan flat. Pekerja dari semua level dapat akses ke upper management (CEO, CTO, VP, etc). Meritokrasi ini dicapai lewat pengakuan dari rekan kerja dan rekomendasi dari manajer atau dari pihak luar (customer/partner).

5. Kerjasama Team: Dalam suatu organisasi yang bergerak dengan cepat memang diperlukan tim yang bisa mengorganisasikan diri sendiri. Di sini anggota tim adalah sebuah unit kohesif yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri; pembagian tugas bisa dilakukan secara demokratis dimana anggota tim bisa memilih tugas-tugas yang lebih sesuai dengan keahlian mereka. Sering kali, anggota tim juga merasa tertantang untuk keluar dari comfort zone-nya, dan mengambil tugas yang mengharuskan mereka belajar sesuatu hal yang baru. Di dalam tim yang baik, semua anggota juga saling membantu satu sama lain dan berkolaborasi, serta berbagi pengetahuan. Manajer berperan sebagai wasit jika terjadi konflik dan sebagai decision maker saat tim harus memilih salah satu dari beberapa proposal solusi.

6. Kejujuran: Di tempat pekerjaan, kejujuran adalah sesuatu hal yang sangat berharga. Komunikasi haruslah terbuka dan jujur dengan tidak menutupi kesalahan atau kesulitan dalam melakukan tugas. Misalnya, jika kita tidak bisa mencapai target, lebih baik bilang terus terang daripada disembunyikan (also, say what you mean and mean what you say).

7. Continuous learning: Di abad ke 21, sains & teknologi akan terus berkembang, jadi kita harus terus belajar hal-hal baru. Pilih satu atau dua topik, dan dalami sampai mastery level atau expert level. Perusahaan di Amerika banyak menawarkan kursus dan kelas di kampus. Para pegawai dapat belajar secara tersendiri atau bergabung dengan sebuah kelompok studi. Banyak sumber-sumber di Internet dan universitas lokal pun menawarkan continuous education yang bisa kita ambil. Kita bisa menganggap belajar adalah sesuatu yang memberikan imbalan pribadi.

8. Passion and fun: Dalam bekerja (atau belajar), seyogyanya kita suka dengan apa yang kita lakukan. Kalo bisa, jangan sampai kita membenci pekerjaan, tempat kerja, bos, atau rekan kerja. Berusaha untuk selalu have fun dalam pekerjaan/studi kita. Hal-hal yang sulit akan menjadi lebih mudah. Hal-hal yang impossible akan menjadi possible.

Photo by Elf via Wikimedia Commons