Memanfaatkan sebuah kesempatan – Pengalaman tentang beasiswa kuliah di U.S.

Memanfaatkan sebuah kesempatan – Pengalaman tentang beasiswa kuliah di U.S.

Mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan study di luar negeri dengan beasiswa di negara yang terkenal maju dengan system pendidikannya adalah sebuah kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga. Bukan hanya kekayaan intelektual yang bisa dicari, tapi juga kekayaan budaya dan pengalaman hidup. Ratusan bahkan mungkin ribuan orang melamar untuk mendapatkan berbagai macam beasiswa setiap tahunnya dan mungkin hanya sebagian kecil saja yang beruntung mendapatkan kesempatan tersebut. Bukan masalah pintar atau kurang pintar, tapi banyaknya hal-hal yang harus dipersiapkan, kesempatan yang tersedia, waktu, dan unsur keberuntungan juga lah yang menentukan.

Dalam tulisan ini saya akan mencoba berbagi pengalaman sewaktu saya melamar beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S-2 dan S-3 ke United States. Namun saya tidak akan membahas detail tentang step-by-step how to apply scholarships, karena saya yakin sudah banyak tulisan tentang itu termasuk oleh rekan-rekan di blog ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi motivasi bagi yang masih berusaha mendapatkan beasiswa dan inspirasi bagi yang sedang berpikir-pikir tentang kuliah ke luar negeri.

Ada bermacam-macam cara untuk mendapatkan kesempatan berkuliah di luar negeri, salah satunya adalah melalui bantuan dana atau beasiswa, baik dari institusi di dalam negeri maupun dari institusi di luar negeri. Caranya pun bermacam-macam, ada yang harus kita gali informasinya dan ada juga yang datang dengan sendirinya (diumumkan ke publik). Namun demikian, inisiatif dan motivasi dari sang pelamar menjadi modal yang paling penting.

Di era internet seperti sekarang ini, informasi melimpah. Cukup dengan kemauan dan beberapa ribu rupiah untuk browsing internet, kita bisa terbuka pada informasi yang maha dahsyat yang jika dipergunakan dengan bijak, bisa menuntun kita pada kesuksesan dalam melamar beasiswa.  Namun, untuk saya sendiri ceritanya agak berbeda, karena sewaktu kuliah S-1 di Bandung saya tidak terlintas niat untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S-2 apalagi S-3. Ide untuk melanjutkan kuliah sendiri datang tiba-tiba saja setelah selesai sidang S-1 saat dosen pembimbing saya menanyakan rencana saya ke depan. Di situ beliau menuturkan bermacam pilihan yang mungkin diambil setelah saya lulus termasuk salah satunya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan untuk pilihan yang satu ini, dia punya informasi langsung tentang kesempatan beasiswa di US yang mungkin tidak akan bisa didapat hanya dengan browsing di internet. Saat itu, bagi saya merupakan sebuah option yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Sampai disini, mungkin orang berpikir, ambil saja! Apalagi yang kamu pikirkan? ,…wait a minute, ini hanya sebuah informasi loh, bukan tawaran. Lagi pula saya sudah punya rencana-rencana lain yang sudah saya susun sebelum ide ini muncul.

Saat kita dihadapkan pada sebuah kesempatan tentunya kita juga harus bijak menyikapinya tanpa mengecilkan arti dari kesempatan itu sendiri. Berat bagi saya waktu itu untuk menentukan langkah yang akan diambil, pertama karena tidak ada jaminan dengan segala usaha yang dikeluarkan untuk melengkapi aplikasinya termasuk biaya yang tidak sedikit, lamaran tersebut akan diterima; kedua maukah saya melepaskan kesempatan-kesempatan yang jelas-jelas sudah ada di depan mata (kebetulan saat itu saya sudah diterima di salah satu perusahaan BUMN dan sedang dalam tahap-tahap akhir interview dengan beberapa perusahaan swasta). Saat itulah saya mengambil langkah yang cukup radikal, saya memilih mengorbankan apa yang sudah lama saya kejar dan sudah menjelma di depan saya untuk memilih sebuah “kesempatan” yang hanya berupa sebuah kesempatan. Artinya, saya mungkin bisa dapat tapi saya juga bisa tidak dapat. Di sinilah sebuah “keyakinan” berperan dalam menentukan langkah kita ke depan dan tidak menutup kemungkinan menentukan akan jadi apa kita nanti. Dalam kasus saya, keyakinan itu telah membawa saya mencapai hal-hal yang tidak pernah terpikirkan dan memberi kesempatan untuk melihat dan merasakan sebuah dunia yang berbeda dari yang dulu saya bayangkan.

Seni berburu beasiswa ke luar negeri juga bisa dirasakan melalui usaha dan waktu yang harus dialokasikan. Disini juga kita bicara tentang birokrasi yang rumit, karena melibatkan dua negara dengan berbagai institusinya. Bukan hanya harus meraih nilai diatas standar untuk TOEFL, IELTS, GRE, GMAT, dan surat rekomendasi yang meyakinkan, melainkan banyak hal-hal lain diluar itu yang juga harus diperhatikan termasuk kelengkapan surat-surat dan dokumentasi lainya dan memperhatikan tanggal-tanggal deadline proses aplikasi. Kesabaran dan keuletan serta sikap proaktif sangat diperlukan dalam hal ini.

Apa sih yang terjadi dengan surat aplikasi kuliah dan beasiswa kita? Ulasan ini saya sampaikan khusus bagi yang melamar beasiswa langsung dari sekolah tujuan. Mungkin setiap universitas dan setiap jurusan memiliki mekanisme yang berbeda, disini saya coba menggambarkan setidaknya yang saya amati terjadi di tempat saya kuliah saat ini.

Setelah surat aplikasi sampai di admission office, mereka akan memeriksa kelengkapan administrasi termasuk kecukupan terhadap kriteria yang ditetapkan universitas. Kemudian ditujukan ke jurusan yang dilamar, disini juga kelengkapan administrasi kembali diperiksa sebelum diserahkan ke rapat faculty. Hal ini karena jurusan biasanya memiliki syarat tambahan selain yang ditetapkan oleh universitas. Setelah semua kelengkapan terpenuhi, surat aplikasi tersebut akan diserahkan ke rapat faculty untuk di-review. Disinilah seleksi yang sesungguhnya terjadi, setiap faculty member akan memberikan penilaian dan pandangan terhadap para kandidat. Kesaktian dari letter of intent/research statement, surat-surat rekomendasi, resume, dikombinasikan dengan hasil-hasil tes TOEFL dan GRE serta slot yang tersedia untuk beasiswa akan menentukan diterima atau tidak diterimanya lamaran.  Oleh karena itu betapa pentingnya untuk menginvestasikan waktu dan usaha untuk membuat letter of intent dan resume yang menarik dan kuat serta memilih orang-orang yang tepat untuk kita mintai surat rekomendasi, karena hal-hal tersebutlah yang mewakili diri kita di depan para pembuat keputusan.

Khusus untuk letter of intent atau research statement, ada baiknya jika kita meluangkan waktu untuk mempelajari profil dari setiap profesor di jurusan yang kita tuju, terutama profesor yang kita minati untuk menjadi pembimbing kita, bila perlu jalin networking dengan mereka sebelum mengajukan lamaran. Kemudian buat letter of intent yang dapat menarik perhatian mereka. Mengkonsultasikan tulisan kita pada orang-orang yang berpengalaman di bidang ini (misal: dosen-dosen atau orang-orang yang pernah menerima beasiswa) sebelum kita kirimkan juga merupakan sebuah hal yang positif.

Ada beberapa macam bantuan dana atau beasiswa yang ditawarkan atau biasanya tersedia dari sebuah jurusan, terutama untuk graduate students, diantaranya Teaching Assistantships (TA), Research Assistantships (RA), dan Graduate Fellowships (GF). Teaching Assistantship merupakan beasiswa dimana sang penerima mempunyai kewajiban sebagai asisten pengajar dalam kegiatan mengajar di jurusan tersebut termasuk mengajar di kelas, lab, maupun menilai tugas-tugas dan ujian. Keuntungan menjadi TA diantaranya dapat memberikan pengalaman untuk mengajar dan berinteraksi dengan mahasiswa, dimana ini akan sangat bermanfaat bagi orang yang berniat untuk berkarir di dunia akademik, sedangkan kekurangannya adalah banyaknya energy dan waktu yang harus kita berikan disamping kelas-kelas dan penelitian yang harus kita lakukan. Sedangkan Research Assistantships diberikan pada mahasiswa yang terlibat dalam projek penelitian. Dalam hal ini penerima bekerja dalam projek tertentu, dan biasanya harus bekerja selama kurang lebih 20 jam per minggu untuk regular semester dan sekitar 40 jam per minggu selama summer semester. Nilai lebih dari penerima RA diantaranya adalah pengalaman dan kemungkinan untuk memakai hasil penelitian dalam projek tersebut untuk dijadikan bahan thesis. Kekurangannya adalah banyaknya waktu yang harus dialokasikan untuk kegiatan projek. Sementara itu penerima Graduate Fellowships relative lebih santai dibandingkan penerima TA dan RA karena tidak ada kewajiban seperti TA dan RA. Sehingga dalam hal ini penerima GF bisa lebih fokus pada kelas-kelas dan penelitiannya.

Detail tentang beasiswa-beasiswa tersebut mungkin bervariasi untuk setiap universitas dan pengalaman setiap orang pun begitu unik. Namun demikian informasi ini mudah-mudahan memberi sedikit gambaran tentang beberapa beasiswa yang biasanya tersedia langsung di universitas. Di tempat saya kuliah sendiri (i.e., Department of Mining Engineering, University of Utah) hampir 75% dari total mahasiswanya mendapat financial assistance dari jurusan. Selain itu, puluhan beasiswa juga tersedia setiap tahunnya dari organisasi-organisasi dan perusahaan-perusahaan pertambangan.

Sekilas tentang University of Utah. University of Utah terletak di Salt Lake City, Utah. Berdiri sejak 1850 dan saat ini memiliki sekitar 31,000 mahasiswa dari berbagai penjuru United States dan penjuru dunia. Kampus ini memiliki 72 major untuk undergraduate level dan lebih dari 90 major fields untuk graduate level. Lebih lengkapnya bisa di akses di www.utah.edu.

Sebagai penutup, setiap orang pasti pernah beririsan dengan kesempatan berharga dalam hidupnya. Sebagian akan mengambil kesempatan itu dan sebagian lagi tidak, tapi intinya berikanlah pertimbangan-pertimbangan sebelum mengambil keputusan akan sebuah kesempatan. Karena itu mungkin akan bisa merubah jalan hidup kita dan membuka kesempatan untuk berkontribusi pada kepentingan yang lebih besar. Banyak yang harus berkali-kali gagal dalam memperjuangkan cita-citanya, namun tidak sedikit juga yang berhasil dalam percobaan pertamanya. Jadi jangan takut untuk mencoba dan tetap optimis.

 

Good luck,…!

Photo taken by the author himself




===========================================
Fitra Ismaya is a PhD candidate in mining engineering at the University of Utah. He earned MS degree from the University of Utah in 2010 and undergraduate degree from Institut Teknologi Bandung in 2007.
Posts | Facebook | LinkedIn